Obituari

SAM_5306

Kematian orang tua, sesiap apa pun antisipasinya, ketika momen itu tiba tetap saja rasa mendominasi. Pikiran menyerah dan lebih banyak berkelana ke belakang; ingatan menggali-gali peristiwa lama, seperti hendak menyangkal realita.

Ketika itu, saya belum kokoh di atas kaki–bahkan juga sekarang–dan tubuh saya menempel di haribaan laki-laki paruh baya itu dengan lilitan selendang yang basah karena saya gigiti. Bus antar kota tampak muncul dari tikungan jalan, berhenti di depan kami. Sejenak saja saya sudah berada di bawah atap bus itu, tanpa repot melangkah sedikit pun. Sebuah perjalanan rutin, sepekan sekali, seperti sebuah tanda bahwa hidup akan terus dijalani bersama di bawah atap yang sama.

Atap ini sesekali bocor, memasukkan air hujan yang menggigit kehidupan keluarga. Tapi ketiadaannya kini membungkam ingatan tentang panas dingin, karena kehangatan selalu menempati ruang-ruang memori, dan narasi-narasi untuk diceritakan nanti.

Saya hanya bisa menarasikan hidup, jiwa bebal ini tak tahu menahu tentang mati. Setelah ini apa? Mungkin daun gugur bisa membantu jawab, kalau akhir yang dialami sesungguhnya untuk awal dari yang lain.

Awal apa pun yang tengah engkau jelang, semoga hanya bahagia yang engkau rasa, Bapak.


Berakhir untuk Bermula (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s