Bukan Ulat Lagi

Bukan Ulat Lagi

Once touched, they never get off the ground

Jangan sentuh sayap kupu-kupu dengan tangan usilmu itu. Hasrat pikiran dalam rongga kepalamu hanya akan merusaknya. Sepasang membran tipis penuh warna mencolok memang telah memikatmu, tapi kau rupanya tak puas dengan memandangnya saja. Kepakan sayap yang pelan saat hinggap pada bunga kauhentikan dengan jari-jarimu, kaujepit hingga lumpuhlah kekuatan terbang makhluk rapuh itu.

Kau tidak mau tahu penderitaannya dulu sewaktu menjadi ulat bulu; dicengkeram oleh kerakusan, keinginan, dan mimpi-mimpi yang tak pernah terpuaskan. Kamu abaikan saja segala upaya dahsyatnya untuk berubah menjadi keindahan lewat pertapaan di ruang pengap, sempit, dan jemu. Kau baru jumpai dia setelah semua warna cemerlang itu menampak di matamu.

Padahal di sebelah itu, ada sisa kulit kepompong yang sudah melompong, ada daun kering penuh dengan bolong-bolong, tanda-tanda dari masa lalu. Tapi kau tak sedikitpun sanggup menghimpun serpihan yang ada menjadi suatu pengetahuan yang utuh. Kau hanya mau tahu kalau kupu-kupu pastilah selalu bahagia; dulu, sekarang, dan nanti, bahkan jika tanganmu itu sudah menghancurkan sayapnya.

Jangan sentuh sayap kupu-kupu, ia tak akan bisa terbang lagi. Bergegaslah belajar, Nak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s