Tak Lelah

Tak Lelah (2012)

Tidak terbayang jika air bisa bicara, seperti apa keluh kesahnya. Mungkin gemuruh yang tertangkap telinga itu cara ia menyampaikan pesan letih yang ia rasa. Jauhnya jarak yang sudah ditempuh belum menandai dekatnya pada akhir perjalanan. Bahkan akhir itu mungkin tak pernah ada. Ia akan kembali di titik bermulanya.

Tapi air agaknya bukan pengeluh. Ceruk-ceruk berliku yang sudah pernah ia lalui ia tempuhi lagi. Berkali-kali. Ia seperti terikat sumpah untuk tak pernah membiarkan dasar-dasar kali terpapar langsung sinar matahari. Segurat ruang di bumi yang telah memberinya tempat mengalir itu tak akan ia biarkan menderita dalam kering retak menganga.

Ke mana tujuan alirannya, air tak pernah risau, tak sibuk memimpikannya. Bagian lain dari semesta yang bersama-sama menentukan, dan air menerima saja. Apakah ia harus terjun dari ketinggian, dibelokkan ke persawahan, dikucurkan dari mulut keran-keran, membelai kulit indah perempuan mandi, menggenang di selokan-selokan bau, ataukah segera membumbung ke langit menjadi mendung, baginya adalah peran sama untuk dilakoni.

Orang bilang laut akan menjadi tempat terakhir perjalanan jauhnya. Tapi ternyata di sana air tetap tak henti bekerja. Ia masih harus menampari batu karang yang pongah di tepian, membuktikan bahwa yang keras itu pun takluk pada kelembutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s