Putaran Tambahan

Waduk Kedung Ombo sudah tampak dari luar jendela sebelah kiri, melewati hamburan awan putih tipis yang mengapung tenang. Pemandangan indah itu perlahan lenyap ke bawah seiring badan pesawat yang miring ke kanan ketika mengambil putaran balik. Saat tabung besi raksasa itu sudah kembali seimbang, pesawat telah menghadap ke barat. Di depan bawah sana adalah bandara Adi Soemarmo. Tapi kemiringan kembali terasa. Ke kanan. Rupanya pesawat berbelok lagi. Danau biru tadi itu pun kembali menampak dari jendela kiri.

Pikiran para penumpang mulai sibuk bertanya-tanya, kenapa pesawat ini berputar-putar saja di udara, tak segera menghampiri landasannya. Pertanyaan tak terucap ini segera disambut oleh suara kapten pilot yang terdengar lewat speaker di atap kabin. Disampaikanlah pengumuman bahwa lalu lintas di Bandara Adi Soemarmo sedang padat, sehingga pendaratan harus tertunda sekitar sepuluh menit. Penjelasan ini seharusnya cukup menenangkan. Tapi wajah-wajah cemas dan gerutu masih bertahan. Pikiran membangun prasangka, menyakiti diri sendiri.

Orang-orang yang sama, dua puluhan tahun silam, diantar orang tuanya ke pasar malam. Di sana mereka merengek-rengek agar dinaikkan ke atas komidi putar. Kegembiraan memenuhi rongga dada ketika keinginan itu terwujud. Tapi saat bunyi desis panjang yang menandai akhir putaran terdengar, mereka sedih dan berharap akan mendapat putaran tambahan dari operator komidi. Sepuluh putaran sudah setimpal dengan harga tiket yang dibayarkan. Mereka harus turun, atau merajuk lagi pada orang tuanya masing-masing.

Tapi di kabin pesawat ini, ketika sang pilot dengan baiknya memberikan putaran tambahan, penumpang justru menggerutu; kecewa dengan jadwal yang tertunda, cemas jika sebenarnya ada masalah dengan pesawatnya, atau yang lain lagi.

Rupanya yang disebut orang dewasa itu adalah orang yang dibelenggu oleh tujuan-tujuan dan kecemasan-kecemasan. Orang dewasa adalah yang sudah lupa cara untuk menikmati momen saat ini.

***

Dulu kita memaksa orang tua merogoh sakunya dalam-dalam agar kita bisa menambah koleksi mobil-mobilan yang sudah berjejalan di kotak mainan. Lalu kita menggelarnya di seluruh lantai kamar, merasa takjub dengan keindahannya. Kini jajaran mobil kita lihat di jalanan, bergerak pelan menunggu uraian kemacetan. Mobil yang sebenarnya, bukan mainan. Apa kabar kegembiraan yang dulu itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s