Berlibur

Berlibur adakalanya tidak mesti dengan mengatasi jarak ruang yang panjang. Sudut-sudut rumah yang jarang terinjak kaki seringnya menyimpan pemandangan baru yang mencengangkan. Menghampirinya lalu bermukim sesaat di sana sudah dapat membebaskan kita dari rutin yang jemu.

Jika pikiran belum juga mengalami lompatan, mungkin rangsangan dari narasi-narasi para pujangga sanggup membantu. Barisan huruf-huruf kecil pada lembaran kertas sebuah novel bakal secara ajaib melukiskan pemandangan terasing dari belahan bumi lain di rongga kepala. Dan juga menuturkan peristiwa-peristiwa yang takkan pernah bersinggungan dengan alur kehidupan kita sendiri.

Seteguk kopi hangat memberi jeda, mengembalikan kita ke ruang ini, menambatkan pada realita. Menuju huruf-huruf tadi lagi segera mengantar pengembaraan berlanjut, tepat di tempat sebelumnya sempat terhenti.

***

Sekedar menempuh cara sederhana untuk mengatakan pada diri sendiri, “Aku sedang berlibur.” Mungkin cara ini yang memang menjadi jatah kita, sebelum cara lain tiba mengambil masanya. Bukankah setiap manisnya buah menempati wujudnya masing-masing?

Di antara pilihan-pilihan yang ada, masih ada satu pilihan menarik, yaitu sublimasi hasrat mengatasi jarak menjadi citra warna-warni indah pada kanvas. Berlibur bisa saja dengan tetap berkarya secara gembira.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s