Dua Guru

Sebatang pohon telah rampung saya lukiskan pada sisi kanvas sebelah kiri. Pohon itu berhasil menambah dimensi ruang pada lukisan pemandangan yang tengah saya garap. Saya berharap ada apresiasi dari guru saya yang akan datang keesokan harinya.

Tapi guru yang baik tak akan murah memberikan pujian pada pekerjaan si murid. Ia akan terus mendorong murid untuk mengembangkan diri dengan mengeksplorasi potensi-potensi yang belum tersentuh. Gambar pohon itu tak memuaskan hatinya, “Wah, Sabar kalau melukis pohon kok lurus-lurus saja. Coba bikin pohon yang cabangnya berkelok-kelok.”

Ia lalu melanjutkan dengan membahas filosofi lukisnya. Salah satu tujuan melukis–menurut dia–adalah untuk merangsang rasa penonton, dan itu kurang bisa dilakukan dengan melulu menampilkan objek-objek yang sudah kerap dijumpai di sekitar. Kanvas adalah ruang kebebasan, tempat seniman dapat menghadirkan imajinasi yang selama ini terperangkap saja di rongga kepala.

Sejak itu, setiap kali saya bertemu pohon banyan, pandangan saya tak lepas melekat pada sulur-sulur akar hawa yang bergelantungan, yang sebagian lagi melilit batang utama, atau bahkan menjadi batang yang baru itu. Pohon banyan–yang selalu tampak melenggok bak penari–menjadi representasi tepat dari petuah sang guru.

***

Guru adalah seseorang yang terus mengalirkan inspirasi, di mana murid bebas menyerap dan mengembangkannya lagi tanpa ketergantungan permanen atas keberadaan sosoknya. Karena inspirasi adalah benih bagi setiap praktek berkesenian, maka penting untuk selalu menemukan guru di saat kapan pun. Sekalipun setiap guru mengusung prinsipnya yang berbeda-beda, seperti guru saya berikutnya yang justru banyak menaruh perhatian pada objek yang biasa-biasa saja.

Ia melukis dengan kata-kata. Apa bedanya? Apakah ketika kita menggambar sesuatu dengan kata-kata, lantas beda dengan warna? Kata dan warna adalah sama-sama perwakilan yang keduanya merujuk dulu ke kesadaran yang tersimpan di kepala, lalu melesat lagi menuju objek nyatanya di dunia.

Dengan kata-kata, guru saya menyodorkan hal-hal biasa, yang karena saking biasanya, mereka cenderung luput dari perhatian. Ternyata menghadirkan kembali debu, lalat, atau sarang laba-laba ke tengah perhatian sanggup mengaduk-aduk perasaan. Kita seperti tersentak sadar, bahwa kita telah terlalu abai dengan kehidupan. Bahwa seremeh apa pun objek-objek itu, keberadaan kita tak luput dari mereka. Bahkan ada mereka di dalam kita.

Di antara dua guru, dengan prinsip yang berlawanan, apakah membingungkan bagi saya? Satu kata kunci masih saya pegang: sintesis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s