Tikungan

Tikungan
Melukis itu seperti menyusuri jalan penuh tikungan. Sebenarnya kita sudah melihat tujuan akhir di sana seperti apa. Tapi panorama luas itu tampak lamat-lamat saja, tak menunjukkan rinci di tiap sisinya. Lalu tikungan di depan sini menyembunyikan perkembangan sambil menyodorkan tebakan tentang keadaan di sebaliknya. Akan ada apa? Apakah jalanannya berubah, apakah bakal lebih sulit, ataukah lebih mudah?

Gambar samar-samar dari hasil akhir sebuah lukisan sudah terlihat di kepala saya sejak goresan warna yang pertama, bahkan sebelumnya. Tapi tidak perlu saya tegaskan dulu detilnya dalam imajinasi. Biar tiap goresan kuas yang mengambil peran itu, seperti tiap langkah yang mengantar kita menemui ruang di balik tikungan.

Sering kali sebelum melewati tikungan kita menjumpai rasa yang jarang hadir di tempat lain. Ada misteri yang pengungkapannya tergantung keputusan kita sendiri. Mau atau tidak, bertindak atau diam. Misteri yang tabirnya hanya berupa ambivalensi.

Kadang membiarkan jawaban tetap berada di seberang pengetahuan malah memberi ketenangan, daripada menjumpai jawaban itu secara langsung. Ignorance is a bliss, begitu kata sebagian. Kini kita mengerti, mengapa ada orang yang enggan bertandang ke dokter meski diganggu gejala penyakit jasmaniah. Lebih baik bagi mereka tidak mengetahui penyakitnya, agar jiwanya tidak ikut sakit. Toh semua tubuh bakal mati. Maka dalam sisa waktu yang ada, mereka lewati saja dengan gembira.

Bicara tentang tikungan adalah bicara tentang pengetahuan yang tertunda. Pengetahuan yang baik datangnya ketika dibutuhkan, bukan yang jauh-jauh waktu dijejalkan dalam benak, lalu mengendap menjadi kegaduhan jiwani. Sedangkan gadget dalam genggaman tangan Anda itu menyorokkan informasi sampai ke ruang pribadi, tak peduli apakah Anda memerlukannya atau tidak. Lebih parah lagi, Anda lalu merasa bergantung pada benda itu. Agar tak ketinggalan, alasannya. Ketinggalan apa?

Jalan kehidupan ini banyak tikungannya. Itu bukannya tanpa arti; agar kita selalu punya kesempatan untuk menghargai apa yang sedang tersaji tepat di depan sini, tidak melulu menerawang jauh. Bukankah yang di sini ini adalah yang dulu kita tunggu-tunggu kehadirannya, dengan hasrat yang penuh itu? Mengapa ketika sudah bertemu, malah berpaling lagi? Buat apa menunggu jika hanya untuk mengabaikan?

***

Sebelum goresan warna saya tambahkan, saya tidak tahu seperti apa lukisan saya akan terlihat. Setiap warna tambahan adalah langkah menuju pengungkapan. Sedangkan letih yang menghampiri badan dan kantuk yang menyandera kesadaran di ujung hari adalah tikungan yang menyembunyikan perkembangan. Sekali lagi, melukis itu seperti mengembara menyusuri punggung pegunungan dengan jalan berkelok-kelok. Saya kira jenis pekerjaan lain tak jauh berbeda. Karena itu, mestinya, kegembiraan bekerja terletak pada prosesnya, bukan semata-mata pada mimpi tentang hasil nanti.

***

Tikungan jalan kehidupan terjumpa di mana-mana. Hidup ini berliku-liku. Bukankah di situ indahnya?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s