Da Vinci

Bicara tentang Leonardo da Vinci dominannya bicara tentang kejeniusan sang maestro. Kisah hidupnya berkali-kali dituturkan, bahkan dengan bumbu-bumbu mitos dan konspirasi. Karya-karyanya dijadikan sumber inspirasi karya seni dalam berbagai genre berbeda; tak jarang pula direproduksi–sebagaimana saya juga pernah merepro Monalisa pada tahun 2002 silam untuk koleksi pribadi. Monalisa bahkan menjadi ikon dari dunia seni di tingkat global. Tapi di sini saya mau menyoroti satu kelemahan Da Vinci, bukan untuk mencemoohnya, atau menganggap diri saya lebih hebat, melainkan mengambil pelajaran agar tidak terjebak dalam masalah yang sama. Tulisan ini saya buat tetap dengan rasa kekaguman yang besar pada sang maestro dari Italia itu. Dan saya tetap menyadari, saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. (Apa lagi jika mengingat Verocchio–sang guru–yang memutuskan untuk tak pernah lagi memegang kuas setelah mendapati goresan muridnya jauh lebih indah dari goresannya!)

Kelemahan Da Vinci yang saya maksud adalah tentang begitu seringnya ia tidak merampungkan karya yang telah ia mulai. Dalam sebuah serial fiktif yang ditulis oleh David S. Goyer, berjudul Da Vinci’s Demons, ada satu dialog antara Lorenzo de Medici dengan sang seniman enerjik itu, di mana Da Vinci mengakui beberapa alasan mengapa banyak pekerjaan yang tidak selesai. “Aku terlalu bergulat dengan detil, mudah bosan. Ya, sebut saja sebagai cacat sifat,” demikian bunyi dialog itu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Serial ini sejak awal diakui sebagai fiksi, karenanya saya tidak akan menjadikannya sebagai bahan rujukan yang serius.

Salah satu analisis yang cukup mendalam dibuat oleh Sigmund Freud, tertulis dalam bukunya berjudul Leonardo da Vinci, A Memory of His Childhood, tahun 1910. Jika saya rekonstruksi analisis Freud atas permasalahan Da Vinci tersebut, kira-kira begini: Da Vinci sering tidak menyelesaikan karyanya karena ia terseret oleh hasrat penelitian ilmiah atas objek-objek dari lukisannya. Saya bayangkan, jika sang maestro sedang melukis pohon, ia akan berhenti karena merasa perlu tahu apa itu pohon. Lalu ia pun pergi ke luar sana, menjumpai pohon yang sebenarnya, lalu “membedahnya”. Ia akan amati tekstur kulit pohon itu, ia amati lapisan kambium di dalam batangnya, ia teliti struktur tulang-tulang daunnya, dan seterusnya. Lalu tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya jatuh di batang pohon itu. Ia mendapati cahaya itu memiliki peran penting atas adanya si pohon. Maka ia akan mulai meneliti cahaya. Ia akan temukan spektrum yang membentang dari merah hingga ungu, ia akan perhatikan bagaimana cahaya dapat dipantulkan, bagaimana dibiaskan, dan seterusnya. Pada saat meneliti cahaya, Da Vinci menganggap masih sedang meneliti pohon. Pada saat meneliti pohon ia menganggap masih sedang melukis. “He no longer able to tear it out from that great connection of which he knew it formed part,” –ia tidak sanggup mencopot proses melukis itu dari segala yang berkaitan, yang proses melukis itu hanyalah satu bagian kecil saja–kurang lebih begitu simpulan Freud.

Saya mengerti perlunya seorang pelukis untuk mengenali objek yang ia lukis. Keperluan itu pun saya penuhi dalam praktek berkesenian saya. Akan ada semacam kesiapan bertanggung jawab secara intelektual atas karya sebab pelukis memahami objek lukisannya. Pelukis juga dapat menambahkan narasi yang relevan di seputar lukisan itu, sebagai bagian dari proses pengenalannya nanti ke publik. Tapi dalam kasus Da Vinci, hasrat penelitian itu sudah kebablasan. Kegiatan penelitiannya telah mengambil alih tugas melukis. Perannya sebagai keran air yang mestinya sibuk mencari ember penampung, berubah menjadi spon tebal yang menghisap cairan apa pun. Pengetahuannya yang terus bertambah tidak dibarengi satu pengetahuan lain, yaitu tahu kapan merasa cukup, berhenti, dan kembali pada pekerjaan.

Untuk menghindari sikap kebablasan ini, mungkin seorang pelukis–khususnya yang beraliran naturalis-realis–perlu membuat batasan sejauh apa pengetahuan dibutuhkan untuk mendukung gambar yang akan dituangkan di atas selembar kanvas. Ketika batas itu telah tersentuh, pelukis mesti kembali kepada kanvasnya. Setiap penelitian dilakukan sembari terus mengingat bahwa ujung capaiannya adalah karya lukis.

Dilihat dengan perspektif pemikiran Kant–dan pemikiran para filsuf selanjutnya hingga post-modern–upaya memburu pemahaman objektif itu bisa dianggap nyaris sia-sia. Menurut Kant, manusia tidak dapat memahami suatu objek an-sich, kecuali melibatkan dirinya ke dalam objek itu. Selalu ada partisipasi subjek dalam upaya pemahaman. Dalam dunia lukis, partisipasi subjek terbesar tidak lain adalah melukis itu sendiri. Lewat tindakan melukis, subjek merekonstruksi objek berdasar minat, rasa, dan pemikiran lain menurut tujuannya.

Bahkan di dalam lukisan, saya pikir, tetap perlu ada ruang yang tersisa untuk kehadiran misteri; tempat di mana pelukis itu sendiri tidak merepotkan diri untuk tahu, ataupun memberi tahu. Pada sedikit ruang ini nanti penonton masih akan dapat bermain-main dengan imajinasinya, berpartisipasi untuk membangun lukisan itu lebih lanjut di dalam pikirannya. Itulah mengapa dalam corak lukisan oriental (Tiongkok dan Jepang) selalu ada bidang-bidang yang dibiarkan tak tersentuh oleh kuas.

Dengan energi besar untuk melakukan riset seperti yang dimiliki Da Vinci, ditambah kebijaksanaan Kant, saya yakin bisa terlahir seniman hebat yang lebih produktif. Da Vinci tercatat hanya menciptakan tiga puluhan lukisan jadi, yang dikerjakan sendirian oleh sang maestro (termasuk yang hilang). Dan beberapa lagi adalah karya kolaborasi.1 Agaknya memang terlalu sedikit. Padahal yang sedikit itu selalu memukau siapa pun yang memandangnya.

Bagi Da Vinci, tidak merampungkan banyak lukisan mungkin tidak begitu menjadikan masalah pada dirinya. Proses melukis yang terseret ke dalam penelitian objek setidaknya dapat disublimasikan menjadi karya ilmiah. Da Vinci masih bisa menghasilkan sesuatu dari gangguan yang ia alami–jika boleh saya sebut gangguan. Karir berkeseniannya pun ditapaki dalam berbagai patronase. Ia berpindah dari patron pertama–yaitu keluarga Medici–ke patron berikutnya, hingga beberapa kali.

Leonardo da Vinci memang tidak bisa diatributkan secara khusus ke dalam dunia lukis saja, tapi ia adalah keseluruhannya; ya pelukis, ya peneliti, ya penemu itu. Hidupnya telah tuntas. Ia bermukim dalam sejarah. Artinya, ia tidak bisa diandai-andaikan lagi. Pengandaian yang relevan adalah pada pelukis yang masih hidup. Karenanya saya patut bertanya, bagaimana jika pelukis sekarang–yang tidak dalam sebuah patronase–mengalami masalah tidak bisa merampungkan karya? Sedangkan gangguan yang umum terjadi sekarang ini bukanlah karena ada hasrat penelitian ilmiah yang bermanfaat itu, melainkan lebih berupa gangguan yang remeh sifatnya namun besar dampaknya, seperti rasa malas dan mampetnya inspirasi. Padahal hidup sebagai pelukis itu seperti petani; tidak merampungkan karya itu sama dengan panen yang gagal.

Sedang pelukis dalam patronase di jaman ini pun dapat dihinggapi gangguan dalam bentuk lain. Ia bisa saja keasyikan menikmati honor yang diterima, atau malah bermain-main dengan honor itu untuk bisnis pribadi yang menyita seluruh waktu, alih-alih berkarya sesuai kewajiban yang disepakati.

Akhirnya masalah ini kembali pada pribadi masing-masing individu. Siapa yang hidupnya didorong oleh prinsip kesenangan (principle of lust) semata, dan siapa yang hendak mencapai aktualisasi diri. Kita baru saja melihat diri aktual seorang Da Vinci yang unik dan kompleks itu. Dan tidak selayaknya kita menjadikannya alasan dari tidak produktifnya kita. Da Vinci itu beda.


__________

1 http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_works_by_Leonardo_da_Vinci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s