Membaca Buku

Scripta manent, verba volant –demikian bunyi sebuah kutipan dari jaman Romawi kuno. Apa yang tercatat akan selalu lekat, sedang yang sekedar terucap mungkin bakal lenyap. Secara empiris saya melihat kebenarannya, dengan membandingkan tradisi di jaman ini terhadap tradisi lampau yang belum terlalu jauh.

Saya masih ingat di suatu malam yang mulai merambat naik, saya bersama dua kakak belum juga diserang kantuk, sedang nenek ada bersama kami. Perempuan yang melahirkan Bapak itu mulai menuturkan satu dongeng untuk menghibur cucu-cucunya yang akan merasa gembira dengan kisah apa saja. Sampai dongeng itu selesai, tiga cucunya ini belum juga tidur. Sial bagi Nenek. Esoknya kami minta didongengi lagi, bahkan dengan cerita yang sama.

Sekarang jika saya bertanya pada dua kakak saya tentang isi dongeng masa kecil itu, keduanya tidak lagi ingat. Sayang sekali, dan lebih patut disayangkan adalah kebiasaan mendongeng itu tidak diteruskan, di keluarga mana pun. Maka jika kita hitung, berapa banyak dongeng lisan sudah hilang dari kebudayaan kita? Di sinilah kita merasa perlu adanya budaya menulis, sebagai upaya pengabadian cipta pikir manusia.

Namun di saat yang sama sebuah ironi sedang terjadi. Media untuk menulis dibuka lebar. Setiap orang kini bisa dengan mudah menumpahkan isi pikirannya dalam tulisan yang juga mudah dibaca orang lain. Ada praktek pengabadian pikiran secara massive. Tapi dampak yang muncul justru kesementaraan yang semakin nyata terasa. Apa yang sudah ditulis bakal segera diabaikan karena mengantisipasi apa yang akan ditulis lagi kemudian. Sedang tulisan yang mempunyai buntut panjang hanyalah yang berperkara hukum dan membuat kegaduhan. Setidaknya itulah yang saya dapati di media sosial.

Buku memiliki fenomena yang berbeda.

Buku akan mengajak pembacanya meresap ke dalam waktu. Ia tidak mendorong orang terburu-buru. Ia akan semakin bersahabat ketika dibawa ke sudut yang sunyi. Setiap tema akan menempati sampul yang berbeda, sehingga menandai keunikannya masing-masing, seperti pribadi setiap manusia yang juga berbeda.

Pembaca buku memang tidak bisa serta merta memberikan respon langsung kepada penulisnya. Jika memang respon bisa disampaikan, ada penundaan dari waktu pembacaan. Pernah saya katakan, penundaan adalah ruang misteri di mana kita bisa turut mengisinya sendiri secara bebas. Penundaan itu justru memerdekakan. Keberadaan penulis yang tersembunyi atau tak dikenali itu memberi kesempatan pada pembaca untuk tidak terikat pada konteks pemikiran penulis. Pembaca dapat mereproduksi arti dari teks yang dibacanya sesuai pemahaman pembaca.

Usai membaca buku, kita bisa mengambil waktu untuk menelaah isinya. Kita tidak dikejar oleh kedatangan buku berikutnya, sebab terbitnya sebuah buku juga membutuhkan waktu yang panjang. Jeda-jeda ini memberi kesempatan setiap pemikiran untuk dicerna hingga terhisap sari patinya. Atau, pembaca dapat mengolah lebih jauh isi buku itu tanpa membuat kegaduhan di sekitarnya.

Membolak-balik halaman buku, kita serasa dituntun mewujudkan kasih sayang lewat belaian yang lembut. Lembar-lembar tipis itu mengingatkan kita akan hari-hari yang kita hidupi, sedang huruf-huruf yang tercetak di dalamnya seperti nafas yang kita hirup dan hembuskan setiap saat. Ada, penting, tapi sering terabaikan. Lalu kita jadi ingat dan menghargainya. Dengan bergumul bersama buku kita akan merasa hidup kita sendiri yang bersinar, bukan melulu apa yang ada dalam genggaman tangan.

Fisik buku yang sudah terbaca tidak membuat kita merasa risau atas keberadaannya. Dinding rumah yang menjemukan dapat dihias menjadi cantik dengan jilid-jilid buku dalam rak bertingkat. Buku bekas tidak pernah menjadi bangkai. Pemilik berikutnya pun akan sangat senang menyimpannya. Bahkan satu buku dapat berkelana antar banyak pemilik. Sehingga setiap buku itu sendiri dapat menjadi sebuah cerita, di samping cerita yang tertulis di dalamnya.

Memusnahkan buku tidak pernah semudah menekan tombol. Ada energi besar dibutuhkan, yang kemungkinan dibarengi oleh perlawanan. Sementara itu isi buku yang terlanjur musnah masih akan bisa ditulis ulang oleh yang pernah membacanya.

Scripta manent, yang tertulis itu lebih abadi. Saya kira buku menjadi media paling tepat untuk mewujudkan prinsip pengabadian cipta pikir manusia.

***

Memperingati hari buku internasional ini, ada satu catatan masam perlu saya tambahkan. Ternyata, bagaimanapun juga, buku lebih dicintai daripada manusia. Ini terjadi ketika Anda meminjamkan buku pada orang lain, maka tidak butuh waktu lama Anda akan segera dilupakan, karena buku itu tidak akan direncanakan untuk kembali. Oh, kecuali si peminjam itu benar-benar bertanggung jawab, yang tentu saja langka adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s