Bukan di Menara Gading

Objek-objek alam sejak dulu dipinjam untuk dijadikan penanda dari maksud seorang seniman. Citra wujudnya diambil untuk mewakili suatu pesan, atau sekedar dicipta ulang sebagaimana tampak apa adanya. Sedang keberadaan mereka tetap terhampar di luar sana; merunduk lesu di bawah terik matahari atau bergembira ketika berhias embun sisa malam. Sebagian lagi telah kehabisan waktu dan akhirnya lebur ke dalam debu.

Sementara itu di manakah senimannya berada?

Seniman sering dikira bermukim saja pada puncak menara gading; hanya bermain dengan warna dan bayangan indah di rongga kepala. Pengetahuan dan inspirasinya dicomot dari sumber lain, atau lewat input dari tim yang bekerja terpisah. Ia sendiri tetap bekerja di ruang sejuk, lalu hadir ke tengah publik untuk menerima sambutan histeris dan hujan pujian. Sejenak saja di sana, lalu kembali ke zona nyamannya. Mungkin dengan ditambah dugaan seperti ini, Plato akan menyebut seniman sebagai penjiplak kelas tiga, atau bahkan empat, dan seterusnya.

Seniman tidak selamanya begitu. Ia tidak hendak bercerai dari alam yang menjadi mahagurunya. Kerinduannya lekas hadir dalam jarak yang tak jauh. Dalam sua itu, seniman akan menyerap eksistensi alam lewat rasa, dan juga pemahaman struktur materialnya. (Yang belakangan ini dipraktekkan sungguh-sungguh oleh Leonardo da Vinci.) Pada saat seperti itu seniman rela bergumul dengan debu, lumpur, dan duri; menyapa serangga yang malu berada di bawah paparan langit. Ia hendak menyatu bukan berjarak, sebab jarak ada gilirannya sendiri.

Jarak mewujud ketika karya seorang seniman telah dikoleksi orang; yaitu jarak ruang antara seniman dengan karyanya–bukan jarak emosional. Saat ini sang seniman justru tidak dikenali lagi. Kemunculannya ke tengah publik tak ubahnya daun-daun semak, yang terlihatnya dari ujung mata saja. Tapi ia menikmati situasi seperti itu, sebab segala ketenaran sudah ia titipkan untuk karyanya; seperti orang tua yang duduk di deret bangku belakang sedang menyaksikan anaknya dalam barisan wisuda. Sambil mulutnya terkatup rapat, batinnya mengucapkan harapan agar karyanya selalu baik-baik saja.

***

Catatan di Hari Pendidikan Nasional ini: mendidik diri itu bukan sekedar menjejalkan pengetahuan ke dalam rongga kepala, tapi juga dengan berlatih lewat laku di luar sana.


Baca juga:

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s