Liputan 6 Awards SCTV 2015

Dalam penerbangan dari bandara Adi Soemarmo itu, saya seperjalanan dengan ibu Rusmiyati. Hanya saja saya baru bertemu dengannya setelah tiba di bandara Halim. Pada acara makan malam yang singkat di seberang terminal kedatangan, saya berkesempatan untuk berbincang. Ibu Rusmiyati adalah seorang yang menggerakkan perempuan-perempuan di lereng Merapi untuk lebih berdaya guna. Ia mengajarkan teknik pengolahan hasil bumi di lingkungan sekitar menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah, seperti membuat aneka kue dari sayur dan buah.

Dari bandara Halim kami dijemput oleh tim dari SCTV menuju penginapan, di Best Western Hotel. Seketika saya masuk kamar hotel, saya tidak keluar lagi hingga esok paginya. Setelah sarapan, saya berkenalan dengan bapak Muarif yang berjalan menggunakan tongkat penyangga untuk menambah kekuatan pijak bagi kaki kanannya yang cacat. Senyumnya lebar dan lepas, dan pelukan tangannya terasa bersahabat di punggung saya. Pak Muarif, menjawab beberapa pertanyaan saya, hanyalah lulusan SMA. Tak ada proses belajar di perguruan tinggi yang ia jalani. Ia tidak mengerti teori. Tapi ia menjadi guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang umumnya disisihkan oleh institusi pendidikan formal. (Dalam ungkapan saya: tidak dipelihara oleh negara*.) Pak Muarif merintis sendiri sekolah khususnya ini. Ia kelola sendiri manajemennya, ia ajar sendiri murid-muridnya, ia kepalai sendiri lembaga pendidikannya, bahkan ia jemput dan antar pulang murid-murid itu dari rumah mereka masing-masing.

“Kalau tidak dijemput, mereka tidak akan belajar.”

Untuk akomodasi antar-jemput itu, pak Muarif menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa ia operasikan sesuai kondisi tubuhnya. Perlahan-lahan datanglah bantuan dari pemerintah dan orang-orang yang hendak mengabdi secara suka rela menjadi tenaga pengajar. Saya bertanya kemudian tentang karakter anak didiknya. Seperti apakah yang paling menguras energi? Dijawabnya tentang seorang anak hiperaktif, yang selang waktu sebentar sudah berdiri di atas meja, ditinggal berpaling sebentar lagi tiba-tiba sudah nangkring di atas lemari. Para tenaga pengajar yang turut bekerja di bawah kepemimpinan pak Muarif tidak sanggup mengatasi anak hiperaktif ini, bahkan sekalipun mereka jebolan perguruan tinggi, menyandang gelar sarjana, dan hafal banyak teori. Lalu bagaimana pak Muarif sanggup mengatasi anak hiperaktif?

“Saya menggunakan hati. Saya yakin setiap orang pada tingkatan hati itu semua sama. Tubuh dan pikiran beda, tapi hati sama. Saya menyejajarkan gelombang hati saya dengan anak itu. Biarpun dia lagi usil, kalau saya sudah datang dia langsung nurut.”

Pada akhir percakapan, pak Muarif mengaku belum pantas untuk mendapatkan penghargaan apa pun, karena ia merasa masih bergerak di tahap awal. Ia baru membangun lembaga pendidikannya di dua kecamatan, sementara targetnya adalah seluruh kabupaten Mojokerto, dan lebih luas lagi. Ia benar. Ia belum memenangkan Liputan 6 Awards ini, tapi ia memenangkan hati saya. Di akhir acara, saya memberikan penghargaan saya sendiri.

***

Kegiatan di tanggal 20 itu sungguh padat. Kami semua, para kandidat peraih penghargaan, ada 30 orang disertai pendamping masing-masing. Tak banyak waktu untuk bisa berkenalan satu per satu. Setelah usai acara Liputan 6 Siang, kami makan bersama di sebuah ruang di lantai sembilan gedung SCTV Tower. Saya menyapa seorang pria paruh baya yang tampaknya dari kalangan intelektual. Saya tidak salah. Ia adalah Profesor Agus Pakpahan yang pernah mengajar di IPB. Sambil menyantap makanan ia menceritakan buah karyanya. Ia beternak lalat untuk dijadikan petelur. Telur-telur itu kelak setelah menetas menjadi larva akan digunakan sebagai pengolah limbah organik, yang selama ini tidak mendapat penanganan khusus.

“Jadi sisa-sisa makanan seperti ini,” Prof. Agus menunjuk ke makanan yang sedang ia santap, “yang akan dikonsumsi oleh larva tadi.” Tidak tampak sedikitpun adanya perubahan selera makan di wajahnya, meski sedang bercerita tentang ulat-ulat pemakan limbah.

“Apakah lalat bukan serangga yang berbahaya bagi kesehatan manusia?” tanya saya berikutnya. Lalat yang diternak Prof. Agus adalah jenis lalat yang bersih. Tubuh lalat jenis ini pipih dan memiliki bagian-bagian mulut yang berbeda. Tentu hanya yang berpengalaman yang tahu lalat mana yang dimaksud. Lalu larva yang telah membersihkan limbah organik itu sendiri juga memberikan banyak manfaat.

“Kalau kita bisa beternak larva ini dalam skala besar, kita tidak perlu menjaring ikan di laut. Karena kebutuhan protein dan lemak sudah dipenuhi oleh larva-larva ini,” demikian Prof. Agus menjelaskan dengan semangat.

Turut dalam diskusi yang asyik ini adalah pak Asriyadi dari Kalimantan Barat. Pak Asriyadi sendiri berjuang memberdayakan masyarakat di sekitarnya agar melek informasi, dan mengurangi hingga menghentikan sepenuhnya kegiatan perambahan hutan. Dulunya pak Asriyadi pernah menjadi jurnalis. Ia menyaksikan adanya kepunahan suku-suku asli yang diakibatkan justru oleh campur tangan modernitas. Ia menuturkan tragedi suku Sawang di Babel yang dulunya adalah penghuni laut. Mereka membangun pemukimannya di atas lalut. Sejak industrialisasi muncul di sana, orang-orang suku Sawang didaratkan, dipaksa tinggal di atas tanah. Karena menempati habitat yang bukan asli milik mereka, orang-orang ini tidak bisa bertahan hidup lama. Umurnya hanya mencapai kisaran empat atau lima puluh tahun saja.

***

Kegiatan di Tower SCTV telah usai, dan kami dibawa ke studio di Jalan Daan Mogot. Tenda-tenda telah dibangun di pelataran parkir. Satu tenda disiapkan untuk ruang transit, berganti pakaian atau berdandan. Saya belum bisa bersahabat dengan suhu udara Jakarta. Bahkan duduk di depan kipas pendingin di dalam tenda itu pun tak mencegah keringat merembes dari pori-pori kulit. Seketika ada pengumuman bahwa studio acara bisa dimasuki, saya bergegas ke sana. Udara dingin itu saya dapatkan kembali.

Di sela-sela acara gladi bersih, saya bercakap-cakap dengan pak Limin Buntung. Kata Buntung sebagai nama belakang itu saya kira adalah sebuah penanda tambahan yang semula disematkan oleh orang-orang, dan akhirnya terinstitusionalisasi pada diri pak Limin. Pak Limin tidak memiliki dua kaki, sedang tangan kanannya sebatas siku saja. Ia adalah pimpinan dari sebuah grup lenong yang mempekerjakan tiga puluh orang seniman. Salah satu skenario pertunjukannya, yang selanjutnya ditampilkan di panggung, menggambarkan perjalanan karir keseniannya, dan sekaligus proses pembalikan olok-olok yang sering diterimanya menjadi bahan guyonan untuk menghibur pengolok-olok itu. Ia menyublimasikan tekanan yang ia terima menjadi karya lewat sikap penerimaan atas realita.

Usai gladi bersih di studio, kami dijamu makan malam di tenda. Sembari menunggu antrian prasmanan, saya disapa oleh Syarif, pemuda dari Kalimantan Barat yang mengembangkan sarana pembantu para penyandang buta warna agar dapat melihat objek lebih jelas. Prinsip teknologi yang ia kembangkan adalah penambahan intensitas gradasi pada jenis-jenis warna tertentu, yang bagi penyandang buta warna tampak sama semua. Dengan lensa yang telah dibubuhi zat organik tertentu, seorang buta warna dapat membedakan warna lewat skala gradasi yang dimunculkan lensa itu. Syarif bersama dua rekannya mengembangkan alat ini karena ada dua orang di lingkungannya yang menyandang buta warna, dan mereka berniat membantu mengurangi keterbatasan itu.

***

Untuk kembali memasuki studio, kami harus melewati metal detektor yang dijaga oleh Paspampres. Wakil Presiden, Bp. Jusuf Kalla dijadwalkan hadir dan menganugerahkan salah satu penghargaan. Beberapa menteri dan pejabat juga akan turut menyaksikan malam penganugerahan ini.

Kembali di dalam, saya duduk di samping Safrina Rovasita. Ia bicara pelan-pelan untuk mengatur artikulasinya agar lebih jelas terdengar. Ada masalah dengan syaraf motoriknya akibat cerebral palsy yang ia sandang. Safrina sudah lama menamatkan studi S1-nya, dan sekarang sedang sibuk dengan tesis masternya di bidang pendidikan. Karena itu ia belum sempat menulis cerpen lagi, sedang sisa waktu yang ada tetap ia gunakan untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di Yogyakarta. Tulisan-tulisan non-fiksinya telah berkali-kali terbit di majalah Diffa, tapi cerpen yang ia kirim ke sebuah harian belum mendapat respon. Jika memang tidak diterima oleh harian itu, saya mau menerbitkannya bersama tulisan teman-teman komunitas Narata Karia dalam sebuah antologi, lewat self publishing.

Di sebelah kiri saya adalah pak Mulyana, peraih gelar juara dunia paralympic cabang renang. (Dilahirkan tanpa tangan kanan dan kaki kanan.) Ia membawa semua medali yang ia raih, dan semuanya berwarna kuning, tak ada yang putih atau kemerah-merahan. Saya mencoba memegang salah satunya, dan untuk pertama kalinya saya tahu bahwa medali emas itu memang berat. Pak Mulyana memiliki alur hidup seperti saya; mencapai keberhasilan lewat bentukan eksternal. Mulyana kecil pernah diceburkan ayahnya ke sebuah danau di Purwakarta sana, dipaksa bertahan hidup dan berenang. Suatu penderitaan bagi anak-anak yang dihantar oleh orang yang harus mengasihi. Dan sering kali kasih sayang itu memang memiliki muka seram dan membencikan. Orang-orang seperti saya dan pak Mulyana hanya bisa menerima apa yang diberikan Sang Kehidupan; tak perlu repot mencari-cari, tapi harus setia pada apa yang telah dijatahkan itu. Dan hanya kesetiaan yang bisa mengantar menuju pencapaian.

***

Acara penganugerahan dimulai dengan penampilan band Kotak dan penari legendaris Didik Nini Thowok. Setengah jam kemudian saya sudah duduk di pojok panggung untuk menyelesaikan lukisan yang akan dilelang di akhir acara, bersama dua lukisan lain yang saya bawa dari rumah. Tiga orang penting di republik ini akhirnya memberikan penghargaan yang tinggi untuk tiga lukisan itu, yaitu Bapak Henry Yosodiningrat (anggota DPR RI), Bapak Gandjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), dan Bapak Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta). Sebagian hasil lelang itu saya sumbangkan untuk program Jembatan Asa SCTV, dan sebagian lagi saya hadiahkan khusus kepada Yayasan Fajar Sidik Muarif yang dipimpin pak Muarif, pria bertopang tongkat dan bersenyum lebar itu. Semoga lembaga pendidikan yang dibangunnya terus berkembang di Kabupaten Mojokerto, dan perjuangannya menginspirasi Muarif-Muarif baru di daerah lain.

Sepanjang acara itu saya tidak bisa memberikan banyak perhatian pada apa yang terjadi di panggung karena fokus pada kanvas di depan saya. Begitu banyak kandidat disebutkan, dan saya tidak hapal masing-masingnya, terlebih jika belum berkesempatan untuk berbincang-bincang.

Pada penutup acara, lima orang penyandang disabilitas dengan prestasi di bidang yang berbeda-beda dihadirkan ke tengah panggung untuk masing-masing mendapatkan anugerah penghargaan yang sama. Kelimanya adalah Getun, gadis cilik tanpa tangan dengan banyak kemampuan; Limin Buntung, pemimpin grup lenong; Mulyana, jawara renang di tingkat dunia; Safrina Rovasita, penyandang cerebral palsy yang mendidik anak-anak berkebutuhan khusus, dan saya sendiri. Penyampaian penghargaan dilakukan oleh Menkominfo, Bapak Rudi Antara, mewakili Presiden Republik Indonesia. Saya ucapkan terima kasih pada tiga orang yang telah mengapresiasi karya saya dengan bersedia mengoleksinya. Terima kasih juga terhatur untuk dua orang tua saya, Ibu dan almarhum Bapak, pada guru-guru di sekolah dan guru privat, serta para reporter, wartawan, jurnalis dan awak media lainnya. Mereka membentuk jalan hidup saya menjadi pelukis. Dan terima kasih sebesar-besarnya pada AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artists) dengan seluruh publishernya di berbagai negara di dunia, yang telah secara nyata menjadikan saya sebagai pribadi yang mandiri dan mencapai aktualisasi diri. Last but not least, terima kasih pada Liputan 6 SCTV yang telah melihat kegiatan rutin saya sebagai sesuatu yang bernilai perjuangan dan inspirasi.

***

Esok pagi, di hotel Best Western pada acara makan pagi, kami masih memiliki sedikit kesempatan untuk saling bertegur sapa sesama orang-orang hebat itu, bertukar nomor, memberi ucapan selamat, atau foto bersama. Husnul, kandidat dari Aceh menghampiri saya dan mengajak foto bareng. Ia membangun komunitas belajar di lingkungan tempat tinggalnya. Sedangkan Aprillyani dari Pati memiliki prestasi dengan mengolah kulit buah randu menjadi obat pembasmi jamur pada tumbuhan cabe. Pak Sumbodo Malik cukup mengherankan bagi saya. Pekerjaan sehari-harinya menatap layar monitor, tapi ia tidak mengenakan kaca mata. Ia merintis kampung blogger di Magelang. Dan kejutan terbesar bagi saya adalah hadirnya Arfian Fuadi yang tidak lain tetangga saya sendiri dalam satu kota. Arfian pernah menghebohkan negeri ini karena mengalahkan insinyur jebolan Oxford University dengan memenangkan lomba “3D Printing Challange” yang digelar oleh General Electric. Dengan demikian ada dua warga Salatiga yang ikut ajang Liputan 6 Awards SCTV ini. Saya agak getun (menyesal) karena belum menyapa Getun yang struktur fisiknya mirip saya; tanpa dua tangan itu.

Perjalanan pulang dijadwalkan pada tengah hari dengan pesawat Citilink. Dan saya kembali seperjalanan dengan Ibu Rusmiyati yang didampingi suaminya, Bapak Gunarhadi. Solo masih berjarak puluhan kilometer dari Salatiga. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil. Dua hari itu sangat melelahkan. Tapi saya masih memaksa diri untuk membuat tulisan ini, sebelum semua keindahan di sana itu rontok satu per satu dari ingatan.


__________
* Negara yang saya maksud termasuk seluruh representasinya seperti guru-guru sekolah negeri.

4 comments

  1. salam buat mas muarif dari saya mas .. hehee .. selamat ya atas anugerah yang didapat, semoga terus berkarya dan berbagi untuk sesama .

    salam, eka

    1. Terima kasih atas apresiasinya. Meski demikian sering kali pencapaian itu bukan karena mimpi dan keinginan, melainkan sekedar setia dan tekun pada yang dijatahkan. Saya bukan pemimpi. Saya menikmati saja apa yang ada, termasuk profesi yang datang pada saya sejak masih kanak-kanak.
      Salam berkarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s