Galeri Sabar Subadri

Seperti bingkai yang mewadahi setiap lembar lukisan, galeri mewadahi koleksinya.

Saya hidup di saat ini, bukan kemarin atau esok. Tapi sesekali mengingat masa lalu itu perlu untuk menegaskan rasa syukur atas apa yang sedang dirasakan saat ini. Untuk menyadarkan diri bahwa telah ada perkembangan dalam hidup, sehingga lakon ini tidak sia-sia. Melongok masa depan yang kabur dalam bayangan, juga perlu untuk sedikit membantu menentukan arah.

Galeri, tempat lukisan-lukisan bertengger menunggu dipandang orang, sebenarnya sekaligus memperagakan aliran waktu dalam kesadaran kita. Apa yang sudah terekam dalam gambar, mengingatkan masa-masa lalu yang terlalu berharga untuk dilupakan. Sebagian gambar itu juga membicarakan harapan-harapan akan masa depan yang lebih baik.

Sedang kumpulan semua lukisan itu sendiri tetap bertahan dalam saat ini; menjembatani dua kutub waktu (yang sebenarnya cuma ilusi itu). Lukisan adalah upaya menangkap gerak waktu, dengan bahasa yang selalu relevan di jaman mana pun.

Pada sebuah galeri, gagasan dipertukarkan. Sebelum menyeberang ke rongga kepala orang lain, lukisan menjembataninya; menambah kaya ide yang sudah ada dengan gagasan-gagasan lain yang mungkin baru terpikirkan oleh penontonnya, lewat gambaran objek yang memancing objek lain lagi.

Pertukaran gagasan itu adakalanya tak perlu dengan perwakilan kata-kata terucap. Cukup menghadapi yang terpapar, sambil mengalirkan sedikit kafein dalam pembuluh darah.

Galeri Sabar Subadri telah diresmikan pada 4 Agustus 2015 oleh Wali Kota Salatiga, untuk mengajak warga memperkaya hidup dengan khasanah budaya. Selain galeri lukisan, ruang perpustakaan juga tersedia di lantai dua, dan galeri lukisan untuk para perupa lain di Salatiga.

Sebuah hadiah disampaikan pada kesempatan itu, dalam bentuk sebuah puisi oleh seorang dosen sastra, yang dalam tulisan lain di blog ini saya sebut sebagai guru. Inilah hadiah pertama untuk saya:

Galeri Sabar Subadri
Wahyu Seno Aji, 4 Agustus 2015

Larut malam, saat gerimis menahanku pulang,
Antara tegukan kopi, meluncur cerita peri dan nabi-nabi
Relung-relung rasa purba, menghampiri pikiranmu, lalu terbang-
Ke telingaku, seperti kupu-kupu meloncati bunga pagi.

Aneh sekali bahwa cerita lama itu kini memakai kata-kata kita,
Berbaur dengan suara hujan dan aroma kopi di galerimu,
Nenek-nenek dan kupu-kupu di kanvasmu, tak bertambah tua,
Sedang kita selalu tahu, siapa yang sebenarnya terbunuh waktu.

Hal-hal yang kita bicarakan dan kau gambar,
Suatu hari akan bermalam di pikiran dan kanvas orang.
Kita betul-betul cuma sebuah penginapan,
Kata-idea singgah, lalu bergegas meneruskan perjalanan.

Di masa depan, cerita dan goresan itu,
Mungkin, tak akan pernah mengaku,
Kala dulu mereka butuh berteduh,
Menempati ruang waktu rintik hujan.

Di galerimu; kanvas, kertas dan rak buku,
Di obrolan kita, atap bagi persoalan usang,
Yang lelah melewati jauh waktu-waktu,
Merangkak dari jaman ke jaman.

Galeri Sabar Subadri

Credits:

Terima kasih kepada Bp. Eddy Supangkat, Direktur CV. Griya Media, yang telah menjadi event organizer acara peresmian GSS. Terima kasih kepada Wali Kota Salatiga, Bp. Yulianto, yang telah berkenan meresmikan GSS. Terima kasih kepada AMFPA Internasional yang telah memberi saya pekerjaan sejak 24 tahun lalu.

2 comments

Leave a Reply to Lauchlan Campbell Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s