Menerima

Lomba gambar tingkat SD sekota madya, didampingi ayahanda, mewakili SD N Kalicacing 2, Salatiga.

Lomba gambar tingkat SD sekota madya, didampingi ayahanda, mewakili kelas 1 SD N Kalicacing 2, Salatiga.

Narasi besar hidup saya bukanlah tentang mimpi dan pencapaiannya, tetapi lebih tentang penerimaan dan kesetiaan dalam berjuang atas yang terberi.

Namun menerima bukan berarti selalu diberi. Saya hafal dan kenyang dengan penolakan. Penolakan pertama yang saya sadari adalah ketika ibu saya duduk berseberangan meja dengan seorang pria yang katanya abdi negara. Ibu saya tak henti merajuk agar anaknya ini diberi kesempatan untuk “mencicipi” suasana kegiatan belajar di Sekolah Dasar yang diwakili pria itu. Pertimbangan Ibu adalah karena dua anaknya sudah belajar di sana, maka biarlah anak ketiganya ini ada teman berangkat dan pulang.

Tapi pria yang tampak berkuasa itu tak sedikit pun tumbuh kepercayaan bahwa perempuan di depannya–yang sudah nyaris tak punya harga diri itu–sebenarnya menawarkan potensi besar. Tiga puluh tahun berlalu, saya belum lupa wajah pria itu.

Pernah saya tulis dalam blog ini, bahwa guru-guru sekolah negeri yang menolak calon murid adalah perwujudan praktis dari penelantaran oleh Negara terhadap rakyatnya. Sekalipun pemerintah pusat tidak bermaksud begitu, tapi keputusan satu oknum di level terendah pun sudah mewakili prakteknya. Maka sudah selayaknya oknum seperti itu dicabut dari tugas-tugas negara.

Jika memelihara yang terlantar adalah kewajiban, maka menyebabkan keterlantaran adalah pelanggaran.

Menerima juga bukan berarti tidak beranjak. Ibu mengajarkan itu secara demonstratif pada saat itu juga. Ia menggendong saya berpindah ke SD lain. Cerita sama berulang, tapi kecewanya tak sebesar sebelumnya. Tidak ada kakak yang dipisahkan, tak ada kebersamaan yang diceraikan.

Menerima adalah terus mencari hingga bertemu dengan penawaran. Di hari selanjutnya, seorang kepala sekolah menunjukkan betapa kelirunya individu-individu di sekolah lain yang telah menutup pintu buat saya. Penerimaannya ia sampaikan lewat pertanyaan retoris, “Nggak boleh itu kenapa?”

Menerima berarti kemudian memberi. Di satu-satunya sekolah di mana saya bisa mendudukkan pantat itu, saya tunjukkan selama enam tahun bahwa saya bisa mengangkat nama lembaga pendidikan yang rela mengalami sedikit kerepotan.

Menerima itu juga harus berani memilih, yang berarti ada pilihan lain yang tertolak. Saya memilih untuk setia pada karir yang datang sejak awal usia, di tengah berseliwerannya motivasi populer tentang membangun mimpi-mimpi.

Menerima itu terbuka pada kekuatan agung yang tak terjangkau kata-kata, yang terus mengguyurkan keputusan-keputusan indah. Sedangkan mimpi malah sering kali menutup diri dari kekuatan agung tadi, karena mimpi sangat kuat ditunggangi oleh keakuan.

Menerima juga mesti waspada terhadap orang-orang yang datang sambil berlagak seolah sedang mewakili sang kekuatan agung, tapi sebenarnya mengusung agenda egoistiknya sendiri. Karena yang bisa disebut sebagai yang datang dan layak diterima adalah yang dengan cara baik-baik bersama dengan bukti-bukti nyata, bukan dengan paksaan dan tipu daya.

Buat teman-teman yang sedang mengalami kecewa atas penolakan, inilah dinamika kehidupan. Nikmati saja, sebelum berlalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s