Mengalami Langsung

Dogen muda, dalam perjalanan kembaranya mencari ilmu ke negeri China, bertemu seorang pria renta yang memanggul beban bertumpuk di punggung. Dogen yang kelak menjadi master Zen ini sejak muda memang memiliki jiwa welas asih. Ia menawarkan bantuan kepada pria renta itu untuk membawakan bebannya.

Tapi pria renta itu menolak tawaran baik Dogen. Ia menjawab bahwa pekerjaannya adalah seorang juru masak di sebuah wihara. Dan belanja bahan makanan ke pasar yang jauh, dengan melewati gurun pasir, adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai juru masak itu.

“Jika tugas-tugas memasak ini saya pasrahkan kepada orang lain, lalu bagaimana saya bisa membuat hidup saya berarti?” demikian pria renta itu mempertahankan bebannya di punggung.

Dalam dunia moderen, manusia yang populasinya membludak ini saling berbagi tugas. Seorang chef di dapur dapat mendelegasikan tugas belanja bahan makanan kepada orang lain, sementara ia sendiri bisa berfokus pada urusan memasak saja. Efisiensi adalah ciri utama modernitas.

Tapi sesungguhnya ada yang hilang di sini. Setiap individu kemudian terasing dari dunia luas. Chef yang hanya menunggu kiriman bahan makanan di ruang dapurnya tidak pernah mengalami suasana pasar tempat bahan makanan itu dipertukarkan, tidak tahu hawa udara perkebunan tempat sayur mayur ditumbuhkan.

Pria renta yang ditemukan Dogen di padang gersang itu jelas tidak mau tercerai dari luasnya dunia. Dan lebih dari itu, ia ingin hidupnya tetap berarti, meski–dalam pandangan mata orang moderen–tampak menderita.

~o()o~

Membuat lukisan adalah cara saya memberi arti dalam hidup. Banyak aspek yang harus saya delegasikan kepada orang lain. Namun seperti pria renta juru masak wihara yang dijumpai Dogen itu, saya akan merasa tak berarti jika sebagian tugas-tugas seorang pelukis harus ditangani orang lain, terutama yang berkenaan dengan proses pemwujudan lukisan.

Saya berbagi tugas dalam hal di luar proses pembuatan lukisan, seperti pemasaran dan pengorganisasian kegiatan. Namun urusan ide dan dalamnya kanvas, itu adalah otoritas saya. Meski di jaman sekarang dibenarkan adanya artisan, tapi bagi saya berkesenian itu seperti memainkan sendiri sebuah permainan, bukan menitipkannya ke pemain lain. (Jika saya mau lemak di tubuh ini terbakar, saya sendiri yang harus berolah raga, bukan menonton orang lain yang sedang senam.) Sedang berkarya secara kolaboratif tentu harus diikuti konsekuensi jujur dengan menunjukkan nama-nama yang terlibat di dalam karya itu.

Dalam pencarian referensi objek penunjang ide, jika memang bisa saya dapatkan secara langsung, saya akan hadir di sana. Saya perlu tahu seperti apa candi Borobudur tampak dari ketinggian itu. Maka ratusan anak tangga curam Suroloyo harus saya taklukkan. Jantung yang berdetak kencang, kepala yang pusing, dan akhirnya mual di rongga perut menyadarkan saya bahwa perjalanan separuh saja sudah cukup mewakili rasa dan pengalaman yang dibutuhkan. Karena toh, di puncak tertinggi sana, lensa kamera tele yang dibawa tetap tak menjangkau objek yang hendak dilihat.

Dan akhirnya di bukit Punthuk Setumbu, candi Buddha terbesar di dunia itu tampak jelas di kejauhan. Jika nanti saya melukisnya di dalam studio yang nyaman, saya tidak merasa terlalu asing dengan objek yang saya lukis itu. (Ini juga bagian dari eskalasi kesulitan sebagaimana pernah saya tulis dalam blog ini sebelumnya.)


Baca juga:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s