Kolaborasi

Musim liburan kali ini saya jalani dengan kerja, karena kerja tak ubahnya liburan juga.

Sempat saya menulis bahwa ruang di dalam kanvas adalah otoritas senimannya. Dalam tulisan yang sama, juga saya singgung tentang kolaborasi yang mesti diikuti kejelasan informasi tentang siapa saja yang turut berkarya di dalamnya.

Untuk pertama kalinya, saya membuat lukisan kolaborasi bersama pelukis lain. Ini bukan tentang satu kanvas yang dibagi dalam ruang-ruang kecil, lalu masing-masing dilukisi dengan tema berbeda. Ini tentang satu tema yang dibuat bersama-sama.

Harus saya akui, ini bukan pekerjaan mudah. Untuk menjelaskan kesulitannya, saya perlu mengisahkan peristiwa yang terjadi pada setengah milenium lalu, di Italia, sebagai ilustrasinya.

Adalah Andrea del Verrocchio, seorang seniman dan guru lukis yang saat itu sedang membuat lukisan pembaptisan Kristus. Karena sibuknya, Verrocchio harus memberi instruksi pada salah satu muridnya untuk melanjutkan bagian yang belum rampung. Seorang bocah yang masih berumur belasan tahun, bernama Leo, melaksanakan tugas itu. Leo melukis sosok malaikat berjubah biru dengan wajah yang manis dan ekspresif.

Melihat hasil pekerjaan muridnya, Verrocchio tercengang, karena ternyata muridnya itu jauh lebih piawai daripada ia sendiri. Efek ketakjubannya tidak berhenti di situ. Ia merasa sudah tidak pantas lagi menjadi guru dari muridnya, dan bahkan ia merasa sudah tidak layak lagi menjadi pelukis. Semenjak itu ia tak pernah menyentuh cat lagi! Itu gara-gara ia telah berkolaborasi dengan Leo, yang nama lengkapnya Leonardo da Vinci.

Dalam kolaborasi seperti itu, ada pertarungan ego antar seniman yang berpartisipasi dalam satu karya. Demi keberhasilan, masing-masing seniman harus meredam egonya; merelakan sisa pekerjaannya dilanjutkan seniman lain. Entah jadinya nanti seperti apa. Jika kurang bagus, harus terima. Jika lebih bagus, mungkin akan seperti Verrocchio.

Kesulitan kedua adalah penyeimbangan teknis. Setiap pelukis memiliki corak goresannya sendiri-sendiri. Corak yang berbeda akan menghasilkan satu karya yang janggal, yang tidak konsisten pada bagian-bagiannya. Karenanya kemudian masing-masing pelukis perlu menjajaki corak goresan kolaboratornya. Ini berarti juga diperlukan adanya kesediaan untuk sejenak meninggalkan kebiasaan, dan lalu menempuh cara liyan.

***

Kolaborasi yang baru saja saya lakukan adalah dengan pelukis Salatiga yang sudah cukup beken, Isworo. Kesempatannya dilakukan dalam acara pameran dan demo bersama di Laras Asri Resort and Spa, Salatiga, pada penghujung tahun 2015 kemarin, selama enam hari. Masing-masing mengawali lukisannya di dua kanvas terpisah, dari bagian atas. Setelah hari ketiga, dua lukisan yang setengah jadi itu ditukar untuk dilanjutkan di bagian bawahnya. Satu lukisan lagi dikerjakan bergantian, sebagai respon dari goresan Wali Kota Salatiga dalam acara pembukaan.

Proses awal Proses lanjutan

Kami berhasil merampungkan pekerjaan ini hingga membubuhkan nama masing-masing pada pojok lukisan bagian bawah. Satu lukisan dua nama. Dan hasilnya–masih dengan segala kekurangan yang ada karena pengalaman pertama kali–kemudian dilelang pada malam tahun baru untuk disumbangkan ke panti asuhan.

Dari pengalaman ini, bertambahlah pengetahuan saya tentang menata pikir, rasa, dan gaya dalam praktek berkarya yang lebih kompleks. Sebuah pelajaran yang sangat berharga. Usai semuanya, saya kembali pada otoritas penuh atas setiap kanvas yang saya lukisi.

Saya mrengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung. Pak Isworo kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bagian bawah.

Saya mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung.
Pak Isworo kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bawahnya.

Pak Isworo mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung. Saya kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bagian bawah.

Pak Isworo mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung.
Saya kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bawahnya.

2 comments

  1. I read the article and the wisdom of separating the artist ego from his canvas for the purpose for a worthy cause which was to assist orphans, That really was a wonderful way to get insight into the artist mind. I did a similar project whilst in Cambodia were one artist painted four children onto the canvases and I put in the backgrounds. The result was good,

    1. Yup, and it is never an easy job to do. But I did the collaboration for certain events only, not for my whole works. I keep holding the authority in my canvases, hehehe…
      Thank you for commenting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s