Tumbuh Saja

Jika harus berpikir pragmatis, untuk apa buah nangka kecil ini memaksa tumbuh di ranting yang rapuh? Nanti ketika buahnya membesar, tidakkah ia akan membebani pohon yang belum sanggup menopang bobotnya? Bisa diduga bahkan, bakal buah ini akan gugur sebelum sempat masak.

Ternyata dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak terikat oleh tujuan. Sesuatu tumbuh karena memang perlu tumbuh. Proses itu sendiri bergeser menempati posisi hasil.

Sedang umumnya manusia cenderung tidak sanggup menanggung rasa kehampaan, bahwa suatu kejadian tidak harus memiliki tujuan. Fakta bahwa ada yang memang harus sia-sia itu sangat membebani rasa.

Tapi jika kita ingat dulu pernah berlarian di bawah derasnya guyuran hujan, tanpa bermaksud pada apa-apa, kita tidak merasa nelangsa. Jadi seharusnya kita tidak apa-apa juga jika sekarang dihadapkan pada ketidakjelasan proyeksi masa depan.

Namun ingatan lama itu tadi rupanya tidak cukup mengobati. “Itu kan dulu, waktu masih kanak-kanak, serba belum tahu.”

Lalu kita membuat tujuan-tujuan kita sendiri, untuk menutupi beban rasa tadi. Dan agar lebih menghibur serta dramatis, kita beri istilah merdu: “mimpi”. Dan lelaplah kita dalam hidup yang tidak senyatanya.

***

Ketika kita percaya pola sebab-akibat sebagai narasi besar kehidupan, kita bisa merasa cukup dengan berbuat di saat ini. Berbuat adalah mengelola sebab-sebab. Sebab adalah dimensi di mana kita punya kuasa di dalamnya. Kita berkuasa atas tindakan kita, sebelum kita dikuasai oleh akibat-akibatnya.

Maka sekedar tumbuh saja, atau berproses saja, tidaklah serta-merta itu hampa akan tujuan. Tujuan sejati itu bukan dari kita, tapi dari Kuasa Agung. Ia punya agenda besar yang melingkupi banyak pihak. Demi pihak lain, kadang kita perlu merelakan hasrat-hasrat kita sendiri. Sementara itu, kita tidak henti dari berbuat baik, sebab kelak Kuasa Agung akan mengirimkan akibat-baiknya pada kita, sesuai skema-waktu-Nya sendiri.

Menyerahkan akibat itu bukan meminta-minta. Setiap permintaan selalu diawali oleh hasrat yang intinya adalah keakuan. Sering kali kita sejatinya mengedepankan keakuan, tapi lalu membalutnya dengan selimut religius. Yaitu saat kita menyerukan hasrat-hasrat, lalu menyebut nama Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang dibebani untuk mewujudkan hasrat itu. Sesungguhnya kita telah memperalat Tuhan untuk ego kita sendiri. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!” begitu retorikanya.

Sedang orang yang benar-benar percaya akan kuasa Tuhan, justru tidak banyak menghitung-hitung akibat nanti, tapi menyerahkan itu di luar kuasa pribadinya. Sebab tanggung jawabnya adalah berbuat baik dalam dimensi sebab. “Biarlah Tuhan yang mengirim akibatnya, jika aku memang berhak.”

Bersyukur itu menghargai dan menikmati apa yang sedang tersaji, alih-alih menghasrati apa yang tidak dimiliki.

***

Harus saya akui bahwa bicara seperti ini dalam tataran intelek sangatlah mudah. Tapi manakala saya diceburkan dalam praktek atau pengalaman, mungkin saya akan terseok-seok juga menjalaninya. Ketika saya harus menyesuaikan diri dengan skema waktu Tuhan, ketika saya bertanya-tanya apakah layak untuk balasan atas tindakan yang dulu, semua ini menguras energi karena jawabannya bertahan lama dalam misteri.

Namun hidup yang nyata itu toh tidak di mana-mana, kecuali di sini saat ini. Dan saat ini selalu ada yang untuk dikerjakan dengan gembira, di samping getir-getir yang ada. Setidaknya, memperhatikan buah nangka tadi cukup menggembirakan dan dapat membawa pada perenungan panjang ini. Dengan demikian buah nangka itu akhirnya tiba pada tujuannya, yaitu untuk menjadi inspirasi yang mencerahkan.

Buah nangka kecil yang bakal segera gugur itu tidak sia-sia juga.


SAM_4735

2 comments

  1. wah, hebat bener, kesempatan melihat nangka dan punya pikiran ini datangnya dari mana?
    kan tidak setiap melihat sesuatu lalu idenya muncul jelas. Mungkin munculnya ide ini adalah kiriman dari masa depan, suatu tanda bahwa jalan sudah dilalui dan tracknya memang mengarah ke sana. Bagian praktek tak segampang menjalani, sungguh benar dan betul, seringkali pengalaman nyata akan membuat orang yang tahu secara akal terdiam di hadapan para parktisi, utamanya praktisi dalam memikul beban hidup. sip tenan.

    1. Sebenarnya nulis seperti ini bisa dibilang ‘terlalu berani’, mengingat bagaimana masih terseok-seoknya jiwa ketika menjalani hidup. Tapi kalau orientasinya ke depan, semoga bisa menjadi track, seperti pak Wahyu bilang. Kalau melihat kondisi saat ini sih, tetap ini masuk wilayah sok-sokan. Tapi paling tidak ada kejujuran untuk mengakui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s