Berbagi Gagasan dan Semangat

Undangan yang saya terima dari Politeknik Negeri Bali tahun 2015 lalu tidak bisa saya hadiri karena semua penerbangan ke Denpasar dari Jogjakarta dibatalkan bersamaan dengan meletusnya gunung Raung. Sedang pada undangan tahun ini, saya bertekad untuk menghadirkan diri ke tengah-tengah mahasiswa yang pasti sudah lebih bersemangat untuk menyambut saya.

“Motivasi dan Pelatihan Minat Bakat #2”, demikian acara yang saya hadiri sebagai narasumber pada 23 Juli itu. Saya berkeyakinan bahwa audiens yang saya hadapi telah memiliki semangatnya masing-masing. Sehingga apa yang saya sampaikan di atas panggung itu bukan untuk mendorong-dorong mereka, tapi sekedar memantik sekilas cahaya kecil di depan jalan kehidupan mereka, agar bisa untuk menambah laku meski satu langkah saja.

Minat dan bakat mungkin belum terungkap bahkan hingga bilangan usia sudah tidak bisa lagi dibilang sedikit. Ini seperti menyusuri lorong tanpa cahaya–tak tahu mau ke mana. Dalam situasi seperti ini yang diperlukan adalah cahaya yang menerangi ruang di depan untuk ditapaki, bukan sekedar dorongan dari belakang.

Terhambatnya pengungkapan minat sering kali karena seseorang sudah terlanjur digerujug dengan fasilitas. Ia mengira apa yang membuatnya senang adalah minatnya. Tapi jika kesenangan itu tidak bisa disublimasikan menjadi karya, itu hanya hura-hura. Fasilitas yang memudahkan hidup juga berpotensi membutakan seseorang dari kekuatan yang dibawanya sejak lahir, yaitu bakatnya.

Mengingat generasi sekarang begitu dimanjakan dengan sarana kemudahan hidup yang canggih, saya menantang para peserta seminar untuk–dalam satu hari saja, entah kapan–menjalani hidup rutinnya dengan tiga pilihan keterbatasan. Pertama, mengikat kedua tangan di punggung untuk menghambat fungsinya, kedua menutup dua mata hingga tak bisa melihat, dan terakhir menekuk lutut dan berjalan dengan dua tangan. Pilihan keterbatasan ini harus dilakukan dalam waktu seharian penuh dengan kegiatan rutin seperti biasa.

Dengan bentuk tantangan ini saya bermaksud agar seseorang bisa membongkar rutin yang mudah menjadi sulit, hingga tercetus gagasan untuk menciptakan cara atau alat bagi mereka yang hidupnya memang benar-benar terbatas. Kemudian muncul rasa syukur akan keadannya yang selama ini sudah dijalani. Tantangan seperti ini akan saya ajukan pada siapa pun yang ingin mendobrak tembok pembatas.

***

Konon sepeda roda dua tercipta akibat letusan gunung Tambora yang nyaris melumpuhkan kehidupan penghuni planet bumi. Langit di benua Eropa tertutup abu vulkanik hingga berbulan-bulan. Rerumputan tak bisa tumbuh. Kuda-kuda penarik kereta mati kehabisan bahan pangan. Sementara manusia masih butuh perpindahan ruang; mobilitas. Lalu terpikirlah oleh Baron Carl von Drais untuk membuat ‘kuda elok’ berupa dua roda yang dipasang pada kerangka yang ditumpangi manusia dan dikayuh dengan kaki.

Tanpa letusan gunung Tambora yang kejam itu, mungkin planet ini belum akan segera diperkenalkan pada sepeda roda dua. Demikianlah, penemuan dan gagasan cemerlang itu sering kali terpercik dari keterhimpitan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s