Mata Besar

Menjadi pelukis itu tidak pernah sekedar urusan popularitas ataupun kekayaan. Ada nilai-nilai yang turut diperjuangkan, utamanya kejujuran.

Margaret Keane akhirnya menyadari itu, meski kesadarannya ini membawa konsekuensi harus berpisah dari kemewahan hidup yang sudah lama ia nikmati, tapi sekaligus membebaskannya dari tekanan jiwa.

Putri semata wayangnya, Jane, sudah dewasa dan tak bisa lagi dobohongi. Gadis remaja ini harus tahu bahwa semua lukisan yang begitu dikenal publik sebagai karya ayah tirinya, Walter Keane /:wolter kin:/, sebenarnya dilukis oleh ibu kandungnya, Margaret.

Suatu pagi, Jane memaksa masuk ke dalam kamar yang selalu rapat terkunci, di mana ibunya berjam-jam bermukim di sana tanpa pernah keluar, dan ia pun dilarang masuk. Betapa kagetnya Jane ketika mendapati tubuh ibunya terbaring kelelahan di depan lukisan yang masih basah di ruang rahasia itu. Lukisan itu, gambar anak-anak bermata lebar, sudah lama membawa nama besar bagi sang ayah tiri.

“Aku tahu semuanya, Ibu,” katanya menolak upaya penjelasan Margaret tentang penipuan yang dilakukan orang tuanya. Demi kebahagiaan anak yang menginginkan kebenaran, Margaret membuat keputusan untuk meninggalkan suaminya; menghentikan persekongkolan itu. Ia sendiri sejak awal tidak pernah suka dengan skenario yang dilakukan Walter. Tapi ia selalu merasa terintimidasi di bawah tekanan suami yang piawai berdusta itu.

Setelah memastikan diri bahwa kedua perempuan ini selamat dari ancaman fisik yang bisa dilakukan Walter, Margaret dan putrinya mulai bicara ke media, memaparkan yang sebenarnya. Polemik pun terjadi di koran-koran, karena tentu saja seorang penipu tidak akan mau mengakui dustanya.

Seorang penipu adalah orang yang piawai mengukir topeng kepribadian. Personanya ceria, ramah, dan ucapan mulutnya memukau. Banyak orang merasa nyaman dalam perjumpaan pertama. Penipu jarang bersikap menyebalkan pada awal masa pertemanan karena ia perlu memancing mangsa masuk perangkapnya. Sedang orang jujur sejak awal mungkin menyebalkan karena ia tidak hendak menyembunyikan apa pun. (Walaupun bukan berarti bahwa semua orang yang menyenangkan itu penipu.) Seiring lamanya pertemanan, dua kutub ini akan terbalik pada akhirnya.

Setinggi-tingginya celoteh seorang penipu, hanya akan sebatas layak ditampung media gossip. Diskusinya tak jauh beda dari kebisingan di terminal atau lampu merah. Sebelum konflik terjadi, Margaret pernah membahas pandangan keseniannya dengan seorang jurnalis, dan mulai menyebut nama Modigliani–pelukis Italia awal abad XX. Tapi Walter buru-buru memotong diskusi itu dengan alasan tak perlu serius. Sesungguhnya di sini Walter merasa tidak nyaman jika harus memasuki wilayah di luar pengetahuannya. Ini bertolak belakang dengan sesumbarnya yang pernah belajar di Beaux-Art, Paris.

Maka terhadap pengakuan Margaret di media tentang kejahatan pemalsuan yang dilakukan Walter, Walter membela diri. Ia bahkan menuding balik istrinya sebagai pembohong. Kegaduhan seperti ini tidak akan membawa untung bagi siapa pun, kecuali pemilik media gossip yang oplahnya meningkat. Margaret–disarankan oleh putrinya–membawa kasus ini ke ranah hukum.

Dan lagi, topeng persona dikenakan Walter di hadapan hakim yang mulia serta para juri di sidang pengadilan. Walter dengan rasa percaya diri yang tinggi menjalani sidangnya tanpa pengacara. Hakim yang baik, yang menginginkan kebenaran, akan melampaui lapisan topeng apa pun yang dikenakan terdakwa. Mulut yang tersenyum dan berceloteh sudah tidak ada artinya lagi di sidang yang terhormat ini. Hakim menyuruh sepasang suami istri yang berseteru itu–Margaret dan Walter–menunjukkan kemampuannya masing-masing dalam melukis. Segeralah terungkap bahwa Walter tak pernah bisa menggoreskan warna. Maka segala pengakuannya yang muluk-muluk, yang katanya pernah belajar di Beaux-Arts, Paris, terbukti tak punya dasar faktual. Apa lagi nama besarnya sebagai pelukis the lost children with the big eyes.

Akhir dari konflik ini adalah bercerainya pasangan Keane itu. Sementara Walter tidak pernah mau mengakui penipuannya, ia tetap tak bisa menunjukkan satu pun karya yang baru. Ia menjalani sisa hidupnya sebagai orang yang bangkrut hingga kematiannya–sebuah imbalan yang sepadan untuk sebuah keserakahan. Sedang Margaret memperoleh kembali kehidupannya yang bahagia bersama suami lain, dan tetap setia dengan dunia lukis.

***

Lewat film berjudul Big Eyes ini mata penonton diajak untuk terbuka lebar-lebar atas setiap karya lukis yang dilihatnya. Benarkah itu hasil kerja keras orang yang tengah tersenyum lebar mengakuinya? Atau jangan-jangan ada tangan lain yang sesungguhnya bekerja di sana?

Film berdasar kisah nyata ini membintangkan Christoph Waltz sebagai Walter Keane, dan Amy Adams sebagai Margaret. Christoph Waltz sekali lagi memukau penonton lewat aktingnya. Perannya sebagai Walter berhasil membuat penonton geram terhadap karakter yang dimainkannya itu. Sebelumnya, peran antagonis yang ia mainkan di film Inglourious Basterds–sebagai kolonel SS, Hans Landa–mengagetkan jagad perfilman. Ternyata dunia memiliki aktor sehebat itu. Di mana saja sebelumnya? Kenapa Mr. Waltz seolah tiba-tiba muncul setelah umur paruh baya?

Amy Adams juga cukup luwes bermain peran sebagai pelukis; tidak mengecewakan. Saya berkali-kali menyaksikan akting yang canggung dalam adegan menggoreskan kuas pada kanvas. Tidak jarang pula tampak adanya tangan pengganti untuk adegan ini di film-film lain. Tapi rupanya tangan pengganti di dunia sinema beda urusan dengan dunia lukis. Sebuah lukisan yang di dalam prosesnya melibatkan tangan lain (artisan) di samping tangan seniman aslinya, mestinya dinyatakan sebagai karya kolaborasi–sebagaimana juga dalam dunia sastra. Sedang jika penyandang nama (credit taker) ternyata tak sedikit pun berpartisipasi di dalam proses melukis itu, maka itulah kejahatan seperti yang dilakukan oleh Walter Keane. Di Indonesia, berdasar pasal 380 KUHP, tindakan seperti ini dianggap sebagai perbuatan curang dan dapat dikenai hukuman penjara maksimal selama dua tahun delapan bulan.

Seni itu bertitik berat pada proses, bukan hasil semata.

Dari film yang disutradarai Tim Burton ini kita bisa belajar mengidentifikasi penipu di sekitar kita. Adegan dan dialog yang dilakoni tokoh bernama Walter Keane mewakili ciri-ciri yang perlu kita kenali. Namun terlepas dari semua itu, ada inspirasi yang bisa diambil dari tokoh antagonis ini, yaitu usahanya untuk membawa konten karya lukis ke publik melalui reproduksi berupa poster. Tidak ada yang salah dengan tindakan ini, hanya saja kredit dan royalti tetap harus diberikan kepada pelukis yang sesungguhnya. Sedang Walter Keane mengambil semuanya dari yang berhak, dari Margaret.

Plagiarisme adalah masalah klasik dalam dunia seni, namun agaknya tak kunjung usang juga.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s