Momen Indah Lukisan

Saat seperti ini, jika saja lukisan-lukisan bisa bersaksi, adalah saat menggembirakan bagi mereka. Yaitu saat berpasang-pasang mata manusia menelusuri detil wajahnya yang mengekspresikan beragam pesan atau cerita. Lukisan kodratnya untuk dilihat, sehingga sebelum perjumpaannya dengan pandangan mata, mereka belum ada.

Tapi adanya lukisan tak pernah disadari oleh dirinya sendiri. Keindahan yang mereka bawa-bawa tak dirasakannya sendiri. Mereka ‘perlu’ manusia untuk memungkasi proses mengadanya.

Sebutlah satu lukisan yang sangat indah, sudah agak berapa lama usai dinamai senimannya. Ia tergulung tanpa bingkai, terkunci rapat dalam peti baja yang dikubur di kepadatan tanah. Tak lama kemudian, senimannya meninggal. Saya tidak tahu bagaimana keindahan–yang dalam kategori objektif itu–bisa disebut ada, sebab tak ada interaksi dengan subjek penikmat.

Lukisan terkubur itu mungkin–jika bisa bersaksi–akan menyesal kenapa pernah dibuat, tapi tak pernah punya kesempatan menampakkan diri.

Maka ruang-ruang presentasi mutlak diperlukan bagi karya rupa ini. Tak mesti sebuah galeri megah. Sekedar bengkel tempat bekerja pun cukup bila bisa menghadirkan tamu untuk bertandang dan memandang. Dan di saat itu, lukisan akan memancarkan segala perasaan seniman sewaktu berkarya dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s