Melukis On The Spot

Tubuh bergumul langsung dengan cuaca; kulit marasai suhu tinggi yang dibawa oleh partikel-partikel cahaya, atau dalam kesempatan lain, pori-pori terpaksa mengerucut demi membendung dingin agar tidak merasuki organ dalam tubuh.

Plototan cat di papan palet menyerah pada sinar matahari, hingga mengkristal lebih cepat. Di kala hujan, air dari langit kerap kali melunturkan kembali susunan warna akrilik yang sudah indah di kanvas.

Tidak ada lagi temperatur normal sebagaimana di dalam kamar. Sementara pikiran harus segera mengurai paparan alam yang luas dan rumit ke dalam bentuk-bentuk sederhana. Batin mencerap rasa dan menyalurkannya melalui kuas bersama warna-warna. Lalu disatukan dalam kanvas selama tak lebih dari tiga atau empat jam.

Melukis alam langsung di tempatnya berarti membangun studio portabel tanpa dinding. Prinsip kesementaraan nyata sekali di sini. Pengaruhnya hingga ke dalam lukisan. Goresan yang terwujud bukanlah goresan halus dan detil, yang menyiratkan proses yang stabil dan konstan. Namun goresan-goresan spontan yang tampak sekali sedang berpacu dengan waktu.

Cahaya bergerak, bayangan berpindah. Setiap penundaan goresan hanya akan melewatkan kesempatan indah. Dalam pacu seperti itu pelukis hanya menangkap kesan-kesan sekilas dari apa yang dilihatnya. Maka hasilnya adalah lukisan impresionistik. Kelak penontonnya akan merasakan keindahannya lewat susunan warna-warna dalam garis-garis tak sempurna. Di situlah, lukisan benar-benar terasa sebagai lukisan.

***

Melukis on the spot bukanlah sekedar melukis di luar ruangan. Tapi menentukan objek nyata lalu melukisnya berdasar kontak mata langsung terhadap objek itu. Dan biasanya, objek terpilihnya adalah objek-objek natur atau kultur yang terbentang di luar sana (meski bisa juga objeknya ditata dalam studio sekiranya berukuran kecil seperti objek still life).

Dengan melukis di ruang terbuka, maka interaksi dengan publik pun niscaya terjadi. Mereka akan datang berkerumun, mengobati rasa ingin tahunya; bagaimana sebuah lukisan bisa dibuat. Respon yang kemudian mereka sampaikan pun tak terhalang dari penerimaan pelukis. Baik atau buruk, memuji atau mencemooh, akan langsung diterima.

Di sinilah pelukis berlatih dengan kekuatan morilnya; yang itu tak akan pernah terjadi hanya dengan bertahan di dalam studio yang nyaman.

Baca juga:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s