Kembalinya Tangan Itu

Dua tanganku sudah meninggalkan badan sejak sebelum terbebas dari kubah ketuban; terlahir dulu dengan terburu-buru. Lalu duka pertama kali dirasakan oleh Ibu; bagaimana kelak dunia bakal menerima? Dengan sedih sesalnya ia berjanji menjadi tangan pengganti.

Tapi Ibu tidaklah bakal selamanya di sisi, seluruh dunia juga mengerti. Maka lama kucari perempuan lain yang menyediakan dua tangannya untukku, selagi Ibu masih ada.

Jangan kau kira pencarian itu mudah; jalannya terjal berliku, kabut menyembunyikan ujung langkah, dan jebakan mengintip di balik tikungan. Sekiranya kau mau percaya, putus asa sempat nyaris menyapa.

Hingga akhirnya titik balik kutemukan lewat kekejaman pada diri sendiri, semacam tekad bahwa hidup tetap sanggup kujalani meski sendiri. Lalu di tempat menetesnya keringat dan air mata terubuslah benih cinta.

Datangnya juga lewat ruang yang tak disangka, meski waktu terbilang sudah terlanjur lama. Namun dengan keterbukaan dan saling menerima semua menjadi sempurna. Waktu pun bicara tentang kesesuaian dengan masa depan. Sehingga masa lalu memang saat untuk berkorban.

Tangan yang dulu hilang, kini telah kutemukan; sedia memenuhi fungsi meski tak menempel di badan. Walau sesungguhnya tak hendak pula maksudku menyandera, tapi saat cinta bicara, badan jiwa sudah tak mendua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s