Mistisisme Lukisan

Saya tidak hendak bicara tentang lukisan bertema dewa-dewa, atau lukisan berdasar kisah-kisah historis dari al-Kitab. Tidak pula tentang pilihan genre sahabat saya yang melukis demit (makhluk astral) di tempat-tempat seram. Saya hendak bicara sejauh pengalaman saya sendiri.

Ada aspek tidak ilmiah dalam praktek melukis; suatu aspek yang tidak terjangkau oleh analisis logis ataupun pendekatan empiris. Segala kalkulasi tentang dimensi, keseimbangan, dan harmoni itu belum menjangkau wilayah ini. Tidak pula penilaian proporsi, anatomi, dan perspektif.

Melukis adalah praktek penciptaan yang mana jiwa sang pelukis bakal merasuk ke dalam lukisan itu, ke dalam larutan cat pada bentangan kanvas. Lukisan adalah rekaman rasa sang pelukis sepanjang proses penciptaannya. Marah, cinta, nelangsa ataupun gembira bakal ditangkap oleh warna, disimpan, dan bahkan dipancarkan ulang ke ruang di sekitarnya.

Mungkin kita pernah memajang sebuah lukisan yang menggambarkan keceriaan, seperti taman bunga misalnya. Tapi entah kenapa suasana di ruangan itu berubah menjadi murung. Jika kita telusuri pada pelukisnya, kita bakal tahu bahwa bisa saja sang pelukis sedang merasakan kegalauan saat berkarya dulu.

Menyadari ini, saya berusaha menata pikir dan rasa setiap kali hendak dan sedang berkarya. Sebab saya tidak ingin menghembuskan energi negatif ke dalam ruang-ruang pribadi orang lain. Minimal, lukisan itu membawa muatan rasa optimis dan syukur atas kehidupan. Dengan alasan ini pula, saya tidak membuat lukisan atas dorongan sublimasi tekanan batin. Misalnya menumpahkan rasa kecewa atas suatu kegagalan menjadi lukisan. Seandainya pun itu saya lakukan sebagai sebuah terapi, lukisannya akan saya simpan sendiri dan tidak untuk dijual.

Bukti Pengalaman

Saya pernah menggelar pameran bersama di galeri saya yang menampilkan karya-karya dari sepuluh pelukis. Karena orientasnya adalah penjualan, saya membebaskan tema lukisan yang hendak dipajang. Tak bisa dihindari, tema-tema yang laris pun banyak dipilih, seperti panen raya. Dua lukisan yang menggambarkan petani memanen padi di sawah dari dua pelukis berbeda dipajang bersebelahan. Secara teknis tidak jauh berbeda, materialnya pun sama: cat akrilik. Pada malam pembukaan, satu dari dua lukisan panen itu dibeli pengunjung, sedang yang satu tetap bertengger di dinding itu hingga pameran usai. Belakangan saya tahu bahwa lukisan panen yang tidak laku itu dilukis dengan semangat balas dendam atas masalah pribadi sang pelukis.

Di ruang galeri saya, puluhan lukisan yang saya ciptakan digantung di dinding. Pengunjung datang silih berganti, dan saya mengamati aktivitas mereka saat berjalan perlahan, bergeser dari satu lukisan ke lukisan yang lain. Ada satu lukisan yang selalu membuat langkah pengunjung itu terhenti, dan kemudian terpaku di depannya. Lalu saya melakukan kilas balik atas pengalaman lampau ketika membuat lukisan-lukisan itu. Ternyata memang ada muatan rasa yang lebih kuat ketika menciptakan lukisan yang membuat langkah terhenti tadi. Saya ingat bagaimana saya bersemangat mengumpulkan objek-objek untuk referensi, seperti daun kering di pinggir jalan. Saya ingat bagaimana saya lupa dengan banyak aktivitas lain sebab merasuk ke dalam goresan-goresannya. SAya ingat pengalaman ekstasis (keluar dari diri sendiri) itu. Saya ingat bagaimana saya membangun harapan akan tersampaikannya makna yang saya sisipkan lewat gambarnya.

Lukisan auratik, demikian istilahnya, seperti memancarkan aura dan sanggup berbicara mewakili dirinya sendiri tanpa kehadiran sang pelukis dan pendampingan narasi panjang lebar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s