Hasratmu, Deritamu

Apa yang menjadi keinginanmu itu adalah apa yang bakal menjadi bebanmu.

Saya tidak hendak menganjurkan orang agar memberangus asa dan cita-citanya. Saya tidak mengajak orang agar memilih hidup asketis di hutan-hutan, sehingga absen dari peradaban.  No, not at all.

Tapi saya hendak mengingatkan bahwa hasrat, cita-cita, asa, atau apa pun istilahnya (sekarang disebut mimpi, saya bingung dengan istilah ini), adalah tanggung jawab dari yang menumbuhkannya sendiri di rongga kepala dan dadanya. Dialah yang wajib berjuang untuk pertama kali, dengan segala kerepotan dan susah payahnya, agar cita-citanya itu terwujud.

Jika tiba-tiba muncul keinginan pada diri saya untuk menyeberangi kali yang melintang di depan, maka sayalah yang harusnya terbebani oleh rasa ingin itu. Saat itu pilihan saya ada dua, segera bersusah payah menyeberangi kali dengan cara apa pun–kesot, jalan terpincang-pincang, meloncat-loncat–hingga tiba di seberang sesuai keinginan itu; atau saya memupus hasrat itu dan bertahan saja di tempat semula; toh di sini baik-baik saja.

Pilihan kedua itu lebih bijak jika ternyata langkah awal saya adalah meneriaki orang yang tidak berkepentingan agar menggendong tubuh saya ke seberang.

***

Alfred Adler menyarankan orang untuk bersikap realistis atas kenyataan dirinya, di antara kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Wujud sikap realistis ini adalah kerja sama di antara makhluk sosial itu, sebab tidak ada manusia super yang menyelesaikan urusan hidupnya seorang diri. Kerja sama bagi saya mengisyaratkan adanya keuntungan dua arah (mutual benefit).

Maka dalam contoh kasus menyeberangi sungai tadi, pertanyaan saya adalah “Apa yang bisa saya berikan pada orang lain yang mau membawa saya ke seberang?” Tentu bukan semata-mata materi jawabnya, bisa apa saja sejauh kemampuan yang ada pada diri saya. Tapi yang jelas, mengalirkan keringat liyan untuk memenuhi hasrat sendiri bagi saya tidak elok. Apa lagi saya belum menunjukkan–paling tidak pada diri sendiri–satu upaya apa pun.

Bagaimana Anda sendiri menyikapi hasrat yang muncul dalam diri Anda?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s