Dibungkam

Jika pada postingan sebelumnya saya sebutkan bahwa dunia akademis diasingkan dari penghayatan hidup sehari-hari, kini saya mau mengungkapkan secara lebih blak-blakan tentang fakta sosial di sekitar saya.

Upaya emansipasi penyandang cacat dimandulkan.

Telah cukup lama saya bersikap kritis terhadap istilah “penyandang disabilitas” dan “difabel” yang disematkan untuk orang-orang dengan tubuh tidak genap. Saya berargumen bahwa dua istilah yang telah dilembagakan oleh negara tersebut justru merugikan kami, sebab ada prasangka bahwa kami adalah orang-orang yang dilekati oleh ketidakmampuan. Kami tidak pecus.

Atas dua istilah yang stigmatis ini saya melakukan pembuktian terbalik. Saya melatih diri menembus ketidakmampuan, sehingga saya patut bertanya, apa yang disable di sini?

Lebih jauh dengan menggunakan dalil-dalil filosofi Habermas tentang komunikasi kesetaraan, saya menuntut agar penyandang cacat benar-benar diperlakukan sebagai subjek. Dalam konteks dua istilah stigmatis tadi, saya minta agar penyandang cacat diberdayakan terlebih dahulu dengan berbagai disiplin ilmu, seperti linguistika, epistemologi, dan semiologi, untuk kemudian ditanya apakah bersedia menyandang istilah disabilitas. Sehingga istilah itu bukan sekedar pemberian yang tak bisa direspon secara aktif, seolah kami ini bayi yang tidak bisa memilih namanya sendiri.

Sikap dan tuntutan saya berujung tuduhan dan kecurigaan bahwa saya sedang mencari panggung sendiri. Tuduhan tersebut dilontarkan justru oleh aktivis bertubuh normal yang mengurusi para penyandang cacat. Sementara saya adalah subjek yang berada di seberangnya, yang bersama subjek lain yang biasa dia urusi. Semestinya dia mendengar dan mengakomodir pemikiran dari perspektif kami, bukan berlagak sudah tahu apa yang kami butuhkan. You are not me, in fact.

Sementara penyandang cacat lain, karena sikap mereka yang manis dan menerima, akan dijunjung-junjung. Sikap menerima itu tidak lain adalah konsekuensi dari ketidakberdayaan yang melekat permanen.

Jadilah tetap lemah dan tak berdaya agar terus disayang. Dan yang disayang itu adalah objek yang menyenangkan.

Saya memilih menjadi subjek. Karenanya saya menolak menjadi lemah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s