Coretan Pikiranku dalam Pandemi #2 Bertahan

Tinggal di rumah dalam jangka waktu lama menjadi ujian bagaimana kita mewujudkan semboyan “rumahku istanaku”. Sejauh mana ruang kita berteduh ini menjadi perlindungan tubuh dan jiwa, yang ketika setiap lantai, dinding dan atapnya menghimpit di enam sisi, kita tidak menghasrati ruang lain di seberangnya.

Rumah bertambah fungsinya menjadi benteng pertahanan; satu tambahan tugas dibebankan padanya: menahan datangnya sesuatu yang tak kasat mata, yang menunggangi manusia sebagai kendaraan. Maka orang lain di luar rumah itulah yang dihadang. Kodrat sosial dipertahankan dengan moda interaksi berbeda. Saluran komunikasi pun diupayakan melalui jaringan internet. Benteng itu hanya akan membatasi tubuh biologis.

Gerak jasmaniah yang menjadi syarat interaksi sosial berkurang. Banyak orang mulai mencemaskan massa tubuhnya yang berkembang. Di saat yang sama saya justru mendapati angka-angka pada timbangan digital itu menurun. Ada beberapa ons yang hilang.

Social distancing ini secara praktis mengurangi berbagai bentuk distraksi yang tidak perlu. Dengan pikiran yang fokus, saya lebih produktif dalam berkarya. Jadwal perkuliahan yang sejak semester pertama dulu dilakukan secara online juga sedang berlangsung di semester keempat. Energi mental turut diperas. Sebuah tantangan dari Asosiasi untuk memvideokan proses melukis juga saya sambut dengan gembira. Melukis yang direkam membutuhkan tambahan energi fisik dan psikis demi keindahan sinematik, selain kindahan lukisannya.

Covid-19 itu sendiri adalah barang baru yang untuk menempatkannya di luar pengetahuan bakal beresiko pada keselamatan jiwa. Paling tidak, cara kerja virus ini pada tubuh manusia dan cara persebarannya harus diketahui dalam pemahaman yang cukup. Orang biasa cemas berada di zona ketidaktahuan. Satu lagi energi mental perlu dialokasikan.

Waktu luang seperti dihadiahkan bagi warga negara. Tapi bagi saya sama saja. Seniman selalu menentukan sendiri kapan mau bekerja, dan kapan beristirahat. Ketika masa presentasi seni ke publik sedang ditangguhkan, inilah saatnya menggenjot produktifitas, seperti petani yang semakin rajin turun ke ladang sampai panen tiba. Dan jika hasil panen itu masih belum bisa dikirim ke pembeli, masih ada lumbung untuk menyimpan dengan aman.

Saat wabah ini nanti berakhir, saya mau keluar sebagai pemenang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s