Coretan Pikiranku dalam Pandemi #3 Teori Kritis

Modernitas yang dihayati di Barat telah menciptakan generasi yang sakit. Perombakan cara berpikir pun dilakukan. Ilmu pengetahuan yang objektif dan netral dianggap tidak berkontribusi pada kehidupan masyarakat. Lahirlah mazhab Frankfurt pada tahun 1930-an dengan teori-teori kritisnya.

Teori kritis menyatakan ketidakpuasan pada objektifitas ilmu pengetahuan yang seolah hanya bertindak sebagai deskripsi sosial dalam bentuk tanpa isi, ilmu yang berkembang demi ilmu itu sendiri. Teori kritis menghasrati ilmu yang memiliki kontribusi praktis untuk mengubah keadaan ‘saat ini’ menjadi semakin lebih baik. Dengan demikian teori kritis juga akan merombak struktur pemikirannya sendiri suatu saat nanti. Tak ada yang abadi di luar sana.

Dunia pendidikan kita masih dibanjiri ilmu-ilmu objektif. Pelajar bertanya-tanya kenapa mereka diajari ini dan itu, yang tampaknya tak akan pernah mereka gunakan dalam hidup ke depan, sampai mati sekalipun. Sarjana berbelok arah, menekuni pekerjaan yang tidak ada relasinya dengan gelar akademis yang dirampungkan. Saya bertanya-tanya, sejak kapan saya butuh menganalisis klausa dan frasa pada tiap kalimat setiap kali membaca buku, sementara kerepotan menggubris bentuk semacam itu menjadi kewajiban kurikuler.

Indonesia masih belum mentas dari modernisme, belum menghayati teori-teori kritis, belum siap berubah, masih ingin mapan dalam objektifitas ilmu pengetahuan, masih menggumuli sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. Sampai akhirnya virus menyebar ke tengah masyarakat dan menantang semua kemapanan, sambil mempertanyakan ulang segala ilmu yang ada.

Zona nyaman berupa komunalitas di luar sana sedang diobrak-abrik, berapa banyak cabang ilmu telah dipatahkan? Transaksi tidak berjalan, pembeli tidak mendatangi penjual, berapa banyak skema berpikir harus direkonstruksi?

Teori kritis berlanjut dengan pemikir-pemikir yang mengajarkan metode berpikir lateral dan kreatif. Yang terakhir ini yang sekarang kita butuhkan untuk menggagas suatu struktur kemapanan baru, yang sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan.

Di luar sana memang banyak yang harus siap berubah, seperti air bersedia menyesuaikan bentuknya dengan yang mewadahi. Dan jika semua itu melelahkan–meski itu keniscayaan–maka mungkin kita bisa melangkah ke dalam, menuju yang mutlak. Berdamai di sana saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s