Coretan Pikiranku dalam Pandemi #4 Cara Betah

Satu-satunya jalan menuju luar adalah masuk.

Karena meninggalkan rumah beresiko terpapar virus yang mungkin saja diusung orang yang tampak sehat, maka cara menjelajahi luasnya dunia adalah dengan masuk ke dalam kanvas.

Teman-teman pelukis pasti mengerti pengalaman serupa ini, yaitu saat kesadaran meninggalkan tubuh dan mengembara bersama objek yang sedang dilukis. Ada istilah untuk menandainya: ekstasis.

Sebab ekstasis yang bisa dialami ini, beberapa lukisan meminta waktu lebih lama untuk dirampungkan. Jangan pernah usai bila perlu, sebab setiap goresan mengantar sejauh puluhan kilo meter. Dan setelah kuas diletakkan, seketika ruang studio menjelma, mengingatkan himpitan dinding di empat penjuru dengan bahaya wabah yang mengintai di seberangnya.

Tapi setiap kanvas tentu memiliki akhir episodenya sendiri. Dan lebih ekonomis jika cat yang tersedia digunakan pada kanvas yang baru. Karena itu lukisan lain pun tercipta lagi dengan kenikmatan proses seperti sebelumnya.

Piknik yang menemukan bentuk alternatifnya ini berdampak positif pada produktifitas. Dan ini konsisten dengan apa yang telah lama saya nyatakan di media sosial, bahwa kerja dan liburannya pelukis itu terjadi serempak.

Pandemi tentu saja membawa perbedaan, yaitu terenggutnya kesempatan presentasi seni ke tengah publik. Gelar pameran atau demonstrasi melukis tak akan mengundang orang yang harus menjaga jarak. Tapi ini pun masih bisa disiasati dengan media online. Video proses melukis yang dihias musik instrumental yang bisa diunduh gratis di youtube, bisa menarik perhatian kawan-kawan dalam jaring pertemanan. Citra karya dan proses pembuatannya pun tersampaikan ke publik.

Tujuh pekan sudah saya bertahan di dalam rumah. Jumlah korban terinfeksi di kota kecil ini terus bertambah. Terakhir kali saya cek, ada 11 orang yang dinyatakan positif, tujuh di antaranya berhasil disembuhkan. Empat korban meninggal justru dari pasien yang dinyatakan negatif. Hasrat keluar pun semakin ditekan. Tapi jalan aspal yang melintang di depan sudah dirayapi kendaraan yang mengangkut orang-orang bosan. Saya memilih untuk tetap di sini, sebab masih banyak untuk dikerjakan dengan gerak tubuh maupun pikiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s