Coretan Pikiranku dalam Pandemi #5 Kritik Kebudayaan

Sering kali praktek kebudayaan telah tereduksi menjadi sekedar ritus presentasi seni di tengah publik, dianggap semacam pertunjukan atraktif di mana penonton secara otonom menangkap sendiri bagian menarik yang dikehendaki dan mengabaikan lainnya. Tingkat kesadaran dan pengetahuan penonton sangat berpengaruh pada sejauh mana presentasi itu tersampaikan. Dalam durasi dan ruang yang terbatas, kehadiran pengantar kuratorial sering kali tidak memungkinkan. Bahkan buku-buku katalog pameran lukisan oleh pembaca hanya dilihat gambarnya saja. Teks kuratorial yang susah payah dihadirkan selalu diabaikan.

Penanda-penanda budaya itu merentang dalam spektrum jaman; dari yang tradisional hingga yang pos-modern. Kebudayaan tradisional sering dikategorikan sebagai yang mendalam dan luas, yaitu penanda-penandanya merujuki nilai-nilai yang terus dihayati dalam keseharian. Sedang kebudayaan pos-modern* sudah terang-terangan menyatakan supremasi penanda; tak usah digali maksudnya, yang penting saat ini gembira. Publik audien agaknya terbiasa dalam paparan jenis yang belakangan ini. Mereka tidak mau repot dengan kedalaman. Dan itu berpengaruh pada jenis yang pertama. Presentasi kebudayaan tradisional diperlakukan dengan respon yang sama.

Maka bagi masyarakat awam, praktek kebudayaan kemudian hanya merupakan tindakan menangkap penanda-penanda dari presentasi kesenian yang mereka jumpai. Tak ada kesadaran yang terakses dari wujud-wujud yang kentara itu, sebab mereka pun tidak mau dipusingkan dengan narasi yang mengutarakan maksud. Mereka hanya mau disentuh rasa dangkalnya lewat penanda yang memukau indera. Ini seperti dua orang yang keluar dari gedung bioskop, salah satu bertanya pada yang lain, “Tadi filmnya tentang apa, sih?” Dijawab, “Mana aku tahu?”

~o()o~

Virus mewabah, memaksa semua orang mundur ke dalam ruang-ruang aman, menjauhi sesamanya. Presentasi kebudayaan ditangguhkan hingga mengalami hibernasi. Penanda-penanda budaya itu tak lagi dijumpai. Jika penanda selama ini dipenggal dari petanda dan sekaligus realitanya, maka tak ada lagi yang tersisa dalam masa pandemi ini.

Di masa-masa wajar, manusia telah merasa puas hanya oleh kulit. Di masa sulit saat kulit itu harus disembunyikan, manusia kesepian dalam kebudayaan sebab tak pernah menggenggam isi. Gejalanya bisa dikenali dari tidak betahnya mereka untuk bertahan di dalam rumah, dan mulai memadati lagi ruas-ruas jalan aspal, memapar diri pada resiko dengan berbagai dalih yang sebenarnya untuk melepas rasa haus akan penanda-penanda.

Kecuali mereka yang menjangkarkan penanda-penanda itu pada nilai-nilai idealis dan fakta-fakta realis, akan bertahan dengan sibuk merakit kembali penanda-penanda baru, dan mempresentasikannya dalam medium yang berbeda. Idea itu permanen, sedang kulit boleh terus disusun ulang. Dengan keutuhan penanda dan petanda, tanda dan realita, kulit dan isi, sekaligus pikir dan rasa, maka hakikat bisa dicapai.

Mereka yang menggenggam hakikat akan selalu merasa penuh dalam kesendirianya.

__________
*Tidak semua kebudayaan pos-modern saya prasangkai, banyak pula yang layak diapresiasi bahkan dihayati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s