Coretan Pikiranku dalam Pandemi #6 Jericho

Awan cendawan muncul di cakrawala, tampak dari sebuah kota kecil di negara bagian Kansas. Bom nuklir telah saja meledak di arah barat, kemungkinan di kota Denver, negara bagian Colorado.

Kepanikan muncul di kota kecil bernama Jericho ini. Terlebih setelah badai datang dari arah ledakan itu menuju timur. Hujan yang membawa radiasi akan menggulung kota dalam dua jam ke depan. Orang-orang segera membuat lobang-lobang perlindungan, ruang-ruang yang tidak boleh ada celah masuknya radiasi nuklir. Mereka akan bertahan di sana, sampai bahaya yang mengancam nyawa itu berlalu.

Untuk berapa lama?

Pertanyaan ini melahirkan kepanikan. Toko-toko diserbu. Bahan makanan diborong. Perkelahian sempat muncul sebelum akhirnya dilerai oleh yang berwenang. Kabar buruk datang; bus sekolah yang mengantar anak-anak TK sejak pagi belum kembali hingga petang. Ibu-ibu yang terpisah dari si kecil melabrak pejabat kota, mendesak agar bus rombongan itu ditemukan. Dua mobil patroli polisi segera diutus untuk tugas tersebut.

Jika semua kepanikan ini belum cukup menegangkan, masih ada lagi satu bus pengangkut narapidana terdampar di pinggiran kota, membuat dua penjahat kejam berhasil kabur, dan lalu membunuh dan membajak identitas polisi yang sedang mencari rombongan anak-anak TK tadi.

Demikianlah penulis cerita suspen sering menjadikan lolosnya tahanan sebagai klimaks dari kengerian cerita fiksi, seperti yang dikerjakan oleh Stephen Chbosky pada film serial berjudul Jericho ini. Penonton dibuat gemas sekaligus cemas, menunggu bagaimana akhir dari setiap kengerian itu. Tetapi terhadap semua fiksi, penonton cukup duduk diam untuk terus mengikuti alurnya. Akhir yang baik sudah disediakan.

Tetapi tidak dengan kengerian faktual. Di negeri ini beberapa waktu silam, cerita serupa ini bukan sekedar fiksi. Pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya ini sudah memaksa orang mencemaskan segala hal: kesehatan, ekonomi dan masa depan keluarga. Itu semua belum cukup memyempurnakan penderitaan. Narapidana pun dilepas ke tengah masyarakat yang sedang dilanda kesulitan.

Di saat yang sama tiba-tiba orang tak dikenal disebar ke tengah publik di malam hari, entah oleh siapa. Mereka yang tertangkap dan diinterogsi di berbagai tempat berbeda menunjukkan persona sebagai orang gila. Respon yang seragam, seperti sudah terprogram. Spekulasi pun berkembang bahwa ada sindikat kejahatan yang menunggangi situasi, menggaruk di air keruh. Masyarakat menanggapi semua ini dengan peningkatan kewaspadaan. Ronda malam dirutinkan, gang-gang ditutup bagi akses orang tak dikenal. Xenophobia menjadi pandemi virus baru. Inikah sasarannya?

~o()o~

Anjuran untuk menjaga jarak fisik demi memutus rantai penyebaran virus corona dimentahkan sendiri dengan kebijakan lain. Bagaimana bisa warga yang meronda di ujung gang, yang sedang mencemaskan keamanan lingkungan, harus tetap menjaga jarak dari sesamanya? Bisakah ronda malam disebut sebagai work from home? Haruskah virus yang katanya bertahan hidup di suhu dingin itu dijemput lewat ronda malam? Keselamatan siapa yang katanya diutamakan?

Saya tiba-tiba tidak mengerti dengan negeri ini.

20200509_221139

Saya menghampiri peronda malam yang mencoba mengejar orang yang dicurigai sebagai pencuri motor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s