Coretan Pikiranku dalam Pandemi #7 Tunai

Masyarakat kita jika sudah benar-benar merasa terancam oleh krisis pangan akan meraih cangkulnya dan mulai melumat tanah di halaman, meski hanya secuil pun. Seperti semangat sebuah lirik lagu, sebatang kayu bisa berkembang menjadi tanaman dan akhirnya bisa dimakan.

Mungkin ini yang sedang terjadi secara serempak di tingkat bawah. Work from home memaksa orang lebih mengakrabi keadaan rumahnya, dan bisa melihat sisi-sisi yang selama ini terabaikan. Waktu luang bertambah. Dan kecemasan akan kebutuhan melengkapi dorongan untuk menciptakan sendiri bahan-bahan pangan, sejauh batas kemampuan. (Saya pun ikut merelakan bak mandi menjadi medium pemeliharaan ikan lele.)

Sementara itu petani di desa-desa tak terlalu mencemaskan persebaran virus ketika turun ke sawah ladangnya. Panen satu petak sawah bisa dikerjakan tak lebih dari lima orang. Mereka juga yakin tak ada di antara sesamanya yang terinveksi. Pekerjaan mereka tak terhenti oleh kecemasan orang kota.

Semua ini berpengaruh di pasar tradisional. Harga-harga kebutuhan pokok jenis tertentu justru menurun karena ada over supply, penawaran meningkat. Bulan lalu saya sempat membeli seekor ayam ras (masih hidup) seharga Rp 15.000,- per kilogramnya, padahal biasanya bisa mencapai Rp 30.000,- per kilogram. Sehingga setidaknya untuk ekonomi tingkat bawah, krisis yang kita hadapi bukanlah ketiadaan supply dan demand secara bersamaan. Namun hanya ketiadaan demand.

Bagaimana itu terjadi? Orang enggan mengeluarkan isi dompet karena takut tak bisa mengisinya kembali. Tiba-tiba uang terasa sangat langka, terlebih ketika tagihan-tagihan tak ditangguhkan, sementara pekerjaan sudah tidak beroperasi. Maka anggaran belanja rumah tangga mulai disusun dalam skala prioritas. Bahan pangan pun diupayakan sendiri dari halaman rumah agar tagihan tidak berubah menjadi ancaman terhadap ketenteraman.

Dengan segala batas pengetahuan saya tentang ekonomi, saya mencoba berpikir bahwa yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah bantuan tunai. Untuk jelasnya saya akan menggunakan contoh sederhana berikut. Haryadi adalah seorang pemilik toko sembako, yang juga memiliki hutang untuk segera dilunasi. Dan Haryanti adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki uang untuk membeli sembako, sehingga terancam oleh kelaparan. Solusi satu langkah untuk kedua masalah ini sekaligus adalah bantuan uang kepada Haryanti agar bisa membeli sembako dari Haryadi. Maka Haryadi pun bisa melunasi hutangnya setelah bertransaksi dengan Haryanti. Tetapi bagaimana jika solusi yang dilakukan adalah bantuan sembako untuk Haryanti? Tentu saja ia segera terlepas dari masalah kelaparan. Tetapi Haryadi tak pernah mendapatkan transaksi yang ia harapkan dan akhirnya tidak bisa membayar hutangnya. Kecuali jika bahan sembako untuk membantu Haryanti dibeli dari Haryadi, tapi ini bukan solusi satu langkah.

Nah, sekarang mari kita bayangkan Haryadi dan Haryanti bukanlah sepasang individu semata, melainkan kelompok masyarakat ekonomi yang luas. Maka bantuan uang kontan pada warga tak mampu berarti menggerakkan perekonomian di tingkat bawah. Rantai transaksi terjalin dengan meningkatnya demand sehingga tercapai kembali equilibrium, sebab supply bahan untuk bertahan hidup tetap ada di pasar.

Bagaimana jika ada pemikiran yang menilai bahwa bantuan tunai semacam ini tidak mendidik? Kita bisa balik bertanya, bukankah bahkan sekolah yang merupakan lembaga paling bertanggung jawab dengan urusan pendidikan pun sedang ditutup? Pandemi memaksa peradaban kembali pada naluri dasar; bertahan hidup. Jika kita bisa lepas dari pandemi ini dalam kondisi utuh pun kita sudah berprestasi sebab memiliki pengalaman yang sangat berharga, kita mampu selamat dari masalah besar. Bukankah itu pendidikan yang mahal?

Tapi, ah, seberapa sih yang saya mengerti? Ini hanya lamunan selama staying at home.

Istri saya sedang mengolah halaman untuk ditanami sayur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s