Coretan Pikiranku dalam Pandemi #14 Berdamai dengan Diri Sendiri

Pertentangan pasti setua usia alam semesta. Sejak energi yang berkepadatan tinggi sebesar sub-atom itu meledak dalam dentuman agung yang melahirkan materi, maka sejak itu tercipta pula ruang dan waktu, serta segala struktur dualitas lainnya. Hingga satu bintang yang dikelilingi planet-planet yang salah satunya memiliki atmosfir melahirkan organisme terkecilnya, mulailah terbentuk kesadaran dalam kapasitas yang masih sangat lemah. Singkat cerita, adalah kemudian manusia dengan kompleksitasnya.

Kompleksitas manusia ini meliputi kesadaran akan ada dirinya, bahkan sadar akan struktur kesadarannya itu sendiri. Dualitas yang dikandung alam semesta juga turut dibawa dalam jiwa manusia. Dimulai dari hasrat, yang kemudian terbentur oleh hasrat liyan dalam kesepakatan dan nilai-nilai sebagai hambatan. Lalu lahirlah ketegangan internal, yang sering kali disembunyikan, namun bisa juga meledak keluar dalam ekspresinya yang bermacam-macam.

Dalam skala kolektif, kelompok individu bisa juga memiliki hasrat bersama yang disebut ideologi. Lalu berupaya mewujudkan bersama gagasan abstrak itu menjadi materi. Namun ideologi lain juga dimiliki kelompok individu lain, yang juga berupaya mewujudkannya. Lahirlah perang yang merentang dalam sejarah peradaban manusia.

Begitulah singkatnya, dualitas berujung pada konflik.

~o()o~

Wabah adalah sebentuk hambatan yang menghadang manusia (individu maupun kolektif) dalam rangka merespon hasrat-hasratnya. Wabah memberi jarak manusia dari tujuan yang hendak dicapai. Yang terjadi kemudian adalah pertentangan internal sebab energi batin itu tidak menemukan jalan pelepasannya.

Kedamaian jelas terkoyak, tapi ini kedamaian di dalam jiwa. Bukan damai antara hidup manusia di samping organisme tak berjiwa. Maka dalam upaya mewujudkan kembali damai itu, tawar menawar oleh akal mesti dilakukan untuk menakar hasrat dan hambatan. Hasrat selalu menjadi biang penderitaan. Hambatan melipatgandakannya.

Kita terlalu lama diajari oleh ceramah motivasi bahwa segala sesuatu itu pasti bisa diwujudkan. “Tak ada yang mustahil.” katanya. Sehingga kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada yang harus dipupus di dalam alur hidup. Belum ada satu contoh besar yang meyakinkan orang bahwa membatalkan sesuatu itu baik-baik saja. Apalagi jika pembatalan itu demi kelestarian hidup spesies manusia.

Ketiadaan contoh dan motivasi terbalik ini membuat masyarakat menjadi apatis di tengah pandemi. “Di sana bergerak ke luar, kenapa aku diam saja?” begitulah suara hati masing-masing orang. Semua memburu pelepasan hasrat-hasratnya, dari mulai merayapi jalanan aspal, hingga memadati tempat perbelanjaan sambil membawa angan-angan bahwa esok hari akan tampil mentereng di hadapan liyan. Tidak ada yang mengajari bahwa tanpa itu, hidup juga baik-baik saja.

Berdamai dengan diri sendiri adalah merasa cukup dengan apa yang ada, bergembira dengan apa yang tersaji di rumah. Memenuhi kebutuhan secukupnya, tak ada yang perlu dikejar, sebab semua memang sedang tiarap bersama-sama. Prinsip ini tidak pernah terdengar dari siapa pun sejak awal pandemi.

Kecuali satu contoh besar tentang kerelaan untuk mewujudkan hidup damai yang hanya didemonstrasikan oleh dokter dan tenaga medis. Sedang yang lain masih dalam penantian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s