The Rainmaker (1997)

Setiap klaim asuransi pasti akan segera ditolak. Begitulah prosedurnya, sebab dengan cara itu perusahaan bisa menggaruk kekayaan melimpah.

Tapi Rudy Baylor yang masih berstatus mahasiswa hukum dan belum resmi menyandang gelar sarjana harus mendobrak prosedur keserakahan itu demi satu keluarga miskin yang baru saja ditinggal mati putranya sebab penyakit leukemia. Donny Ray Black gagal melakukan operasi transplantasi darah sebab biaya yang katanya ditanggung asurransi ternyata tidak dicairkan.

John Grisham yang menulis kisah fiksi ini dalam bentuk novel mengaku menuliskan narasinya dalam nada jenaka. Banyak adegan dipaparkan secara konyol dan ironis. Tapi keseluruhan ceritanya adalah tragedi. Akhir yang manis memang disediakan, tapi kematian satu tokoh secara mengenaskan memantik rasa iba.

Menjadi tantangan bagi aktor Matt Damon untuk menghidupkan tokoh Rudy Baylor ke dalam film layar lebar yang diproduksi oleh Constellation Entertainment. Berada di seberang Matt Damon adalah aktor kawakan John Voight yang selalu piawai memerankan tokoh antagonis. Mr. Voight memerankan pengacara sadis bernama Leo F. Drummond yang akan melakukan apa pun demi klien bisa mempertahankan kekayaan. Perusahaan asuransi Great Benefit hanya mau mengeluarkan secuil uang kepada nasabah, tapi siap menghamburkannya untuk pengacara yang sudah kaya raya.

Di belakang Rudy ada Bruiser Stone (Mickey Rourke), pengacara bermasalah yang tetap bersedia memberi informasi dan saran strategis. Ada pula Deck Shifflet (Danny DeVito)  asosiate tak resmi yang ‘gesit’ untuk mengerjakan tugas-tugas kotor, seperti mencuri alat bukti, dan melakukan praktek litigasi tanpa ijin. Agaknya John Grisham sebagai penulis cerita secara tidak langsung mengamanatkan penggunaan pragmatisme untuk melawan garong yang licik. Sebab dengan cara itu, hak yang dirampas bisa didapatkan kembali.

Keseluruhan cerita ini seolah juga mengingatkan kita bahwa janji-janji sales asuransi itu dusta dan harus diabaikan sejak di muka sebelum kecewa dalam penipuan pada akhirnya. Sebab memang begitu sistemnya. Lagi pula pada kenyataannya, perang litigasi di ruang sidang dengan kemenangan protagonis sebagai happy ending hanya ada dalam kisah-kisah fiksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s