Coretan Pikiranku dalam Pandemi #16 New Normal: Psiko-Sosial

Saya sempat keluar satu kali dalam masa pandemi untuk keperluan yang tak bisa diwakilkan. Pengalaman itu sungguh terasa berbeda. Berdasar itu saya mencoba membayangkan seperti apa interaksi kita nanti dalam pandemi yang belum benar-benar tuntas, yang dinamai new normal itu.

Setiap individu dihadirkan kembali ke dalam interaksi sosial, dengan batasan protokol kesehatan. Masing-masing mengenakan masker di wajah. Objek kecil dari bahan tekstil seluas tak lebih dari 50 cm persegi ini secara praktis mendirikan dinding sosial yang tinggi. Dia membisukan hampir seluruh mediasi antar-personal.

Berapa banyak perasaan dan pikiran itu terekspresikan di dalam wajah? Bahkan ada ilmu khusus yang mempelajarinya, yang disebut mikro-ekspresi. Dengan masker, setiap individu akan mengalami ambuguitas dalam interaksinya dengan sesama. Ia tak bisa menemukan senyum ataupun cibir pada lawannya. Mata memang ikut bicara, tapi tak selugas bibir yang mudah dilengkungkan.

Dengan kesulitan membaca dan mengevaluasi ekspresi lawan, kita akan mengalami ambivalensi dalam menentukan suatu respon, dan lebih jauh: keputusan. Maka praktek komunikasi pun kembali dipercayakan pada bahasa verbal, agar tak berhenti dalam dugaan-dugaan. Perasaan agaknya harus turut diucapkan dengan kosa kata yang tersedia: saya marah, saya gembira, saya kecewa, saya terharu, dll. Kecuali tawa yang cukup didemonstrasikan, dan lawan pun sudah mengerti. Tapi senyum itu tak bisa diwakili oleh kata-kata.

Ambiguitas komunikasi dan ambivalensi penilaian itu pada puncaknya membawa kita pada sikap masa bodoh; apatis. “Di tengah keramaian ini, aku cukup mengerjakan bagianku, lalu selesai.” Liyan akan disikapi sebagai objek-objek bergerak namun dingin, tanpa memancarkan daya tarik sosial. Pertemanan lambat dalam perkembangannya, sebab identitas visual untuk diingat sedang disembunyikan. Kita ragu untuk menyapa orang di sebelah, sebab tidak tahu apakah sudah pernah berkenalan ataukah masih perlu berkenalan dulu. Semua akan terasa canggung. Ditambah kecemasan akan penularan virus, maka ciri-ciri individualisme akan semakin kentara.

Kita akan sangat merindukan kehidupan lama sembari menunggu vaksin itu ada. Sementara dunia maya masih akan menjadi mediasi komplementer yang sangat membantu. Bahkan bisa jadi sebentar lagi akan muncul teori psikologi sosial digital.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s