Coretan Pikiranku dalam Pandemi #17 Melawan Spekulan

Awal bulan Mei netizen dihebohkan oleh kabar tentang meruginya penimbun masker, yang terpaksa menjual dengan harga di bawah harga beli. Terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, seandainya memang benar, apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini?

Dunia modern telah berhasil membagi-bagi fungsi sosial; satu orang cukup mengerjakan satu bidang saja. Sedangkan bidang lain tak perlu merepotkan hidupnya, kecuali dia membayar dengan alat tukar untuk bidang yang tidak dikuasai itu saat membutuhkannya. Seorang pegawai yang tak menguasai ilmu kesehatan, bisa datang ke dokter dan apotek untuk menyudahi sakitnya. Dokter itu pun tak perlu repot memanjat atap ketika gentingnya bocor, sebab ada tukang yang bisa ditugasi untuk pekerjaan itu dengan ongkos yang sesuai. Demikian seterusnya.

Modernitas memang berhasil menciptakan para spesialis. Tapi keretakan sosial sekaligus tercipta di sana. Keretakan itu kemudian dimanfaatkan oleh spekulan. Pedagang nakal ini paham betul dalam memainkan harga komoditi. Mereka bisa membaca kapan konsumen akan menyerbu produk tertentu secara masif. Dengan itu mereka mendahului memborong semua barang sampai tak bersisa, lalu menjualnya lagi dengan harga selangit kepada konsumen yang tak bisa membuat produk tersebut sebab bukan spesialisasinya; bukan bidangnya. Inilah terjadi dengan kelangkaan masker pada awal masa pandemi ini.

Satu-satunya cara untuk melawan kelakuan spekulan semacam itu adalah dengan membongkar modernitas. Pembagian tugas harus diterabas, spesialisasi harus mejadi generalisasi. Maka menghadapi langka dan mahalnya masker tersebut, rumah tangga dari latar belakang profesi apa pun mulai mengoperasikan mesin jahitnya. Masing-masing secara mandiri menciptakan sendiri masker yang dibutuhkan. Bila ada sisa, bolehlah dijual ke teman atau pemesan dengan harga terjangkau. Dan seketika timbunan masker di gudang spekulan itu pun menjadi usang tak berharga.

~o()o~

Saya pernah menulis catatan kaki pada salah satu tulisan saya di blog ini, bahwa sebagian pola hidup pos-modern layak dihayati. Inilah contohnya, yaitu pengaburan batas-batas fungsi. Seorang pelukis boleh saja memiliki kemampuan menjahit dan sekaligus marketing untuk menjual karyanya. Petani perlu juga menguasai ilmu pertukangan sehingga tak mati ketika musim paceklik.

Dengan adanya multi-fungsi dan multi-talenta pada satu individu semacam itu, kita mempunyai ketahanan hidup yang lebih tinggi, dan tak akan gamang di depan permainan spekulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s