Coretan Pikiranku dalam Pandemi #18 New Normal: Psiko-Analisis

Kata new atau baru di hati kita begitu lekat terasosiasi dengan kesan positif. Baru itu konotasinya menyenangkan karena telah terjadi perubahan menuju yang lebih baik. Tapi new normal tidak seperti itu. New normal adalah baru dalam kemerosotan, dan manusia diharap merasa biasa-biasa saja, atau normal. Merosot yang berterima.

Dalam upaya menerima itu, ego membuat mekanisme pertahanannya dengan rasionalisasi, “Nggak ada yang beda, kok. Cuma mengenakan masker, cuci tangan dan jaga jarak. Selebihnya tetap sama.” Agar lebih berterima lagi, analisis konsekuensi dari melakukan ujaran tersebut tidak dilakukan. Tak ada pertanyaan, berapa banyak nilai akan hilang dari pemakaian masker di muka, dari menjaga jarak, dsb. Dengan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, maka jiwa tidak terlalu tertekan. Dan ruang publik pun dijelajahi dengan ringan. Dalam prakteknya, pertanyaan tadi memang benar-benar muncul, bahwa ada yang direnggut dari kehidupan oleh masker dan jaga jarak. Tapi ego kemudian kembali membuat pertahanannya, “Ah, aku tidak sendirian. Semua juga mengalami ini.”

Sebagian individu memilih mekanisme lain, dengan bereaksi sesuai keadaan sambil mengalihkan sikapnya yang wajar. Karena di luar sana masih ada bahaya, maka keperluan untuk menuju ruang publik ditangguhkan, dan rumah sebagai perlindungan harus disusun sedemikian nyaman. Mekanisme ini akan mewujudkan semboyan rumahku istanaku. Lalu keasyikan diciptakan setiap hari dengan berbagai cara. Bila perlu, keasyikan itu dibagikan ke publik lewat media sosial. Jempol yang diterima menambah kegembiraan. Orang-orang yang memilih mekanisme ini sudah ditopang oleh kekuatan ekonomi dan internal rumah tangga yang solid. Sampai ketika tabungan habis, mungkin mekanisme pertama akan diambil juga. Tapi jika sumber daya ekonomi itu melimpah, tak mustahil mereka akan mengalami fiksasi dalam situasi pandemi. Mereka akan melanjutkan pola hidup ini seterusnya.

Di seberangnya adalah mereka yang melakukan penyangkalan hingga apatis, yang menolak fakta adanya wabah. Dengan mekanisme ini, seseorang akan menjelajahi ruang-ruang publik seolah tak ada bahaya yang mengintai di luar pengetahuannya. Ia tak akan merasa bersalah untuk tidak mengenakan masker, bahkan membuang ludah dan ingus di ruang terbuka. Tantangan juga dilontarkan dalam rangka membuktikan keyakinannya bahwa wabah itu tidak ada, seperti pada seorang selebriti nasional yang menghebohkan itu.

Sama-sama tidak terpengaruh dengan wabah, adalah asketis yang tidak melakukan tindakan konyol yang membahayakan liyan seperti para apatis tadi. Seorang asketis memang sudah mengambil jarak dari dunia, maka apa pun yang dinikmati dan diderita umumnya orang tidak akan memberi dampak sedikit pun pada hidupnya. Mereka sanggup bertahan di ruang privatnya dengan kedamaian batin yang tak goyah. Namun yang ini sedikit sekali bisa dijumpai di lingkungan kita.

Yang banyak adalah yang memilih mekanisme pelemparan kesalahan, atau proyeksi. Alih-alih mencari solusi atau berkelit dalam kesulitan, orang-orang ini bergerak mundur mencari pihak untuk ditimpai hukuman sebab telah menimbulkan penderitaan. Ketika biang kerok tidak ditemukan, mereka membangun teori untuk menghibur diri atau menyasar sosok publik tertentu. Mekanisme ini tidak mengurangi sedikitpun beban derita itu, tapi mengobarkannya ke segala arah.

Mekanisme mana pun yang diplih tetap saja tidak menghapus kenyataan bahwa masalah itu tetap ada di ruang kehidupan. Mekanisme pertahanan diri muncul karena ada kesenjangan antara kondisi ideal dengan kenyataan. Itu dipilih oleh masing-masing individu tanpa bisa dikontrol oleh pihak-pihak lain, penguasa sekalipun. Bahkan individu bersangkutan juga tidak sadar mengapa memilih mekanisme tertentu. Semua adalah korban keadaan, dan sedang mengalami tekanan jiwa–terasa ataupun tidak.

Kondisi ideal yang diharapkan saat ini, bagaimanapun juga, dicapai kembali dengan penciptaan vaksin yang teruji dan obat bila mungkin, agar tidak perlu ada new (worse) normal itu, melainkan keep normal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s