Pemajuan Kebudayaan

Saya patur bersyukur sebagai pelaku seni yang tinggal di kota Salatiga, sebab kota ini berusaha memajukan kebudayaannya dengan merancang peraturan daerah atas inisiatif DPRD tentang pemajuuan budaya daerah.

Secara garis besar penyelenggaraan pemajuan kebudayaan ini dilaksanakan dalam empat langkah penting, yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan, yang masing-masing diuraikan lebih rinci.

Yang patut saya apresiasi lebih dari rancangan Perda ini adalah disebutkannya beberapa term seperti: kebebasan berekspresi, reinterpretasi, pengayaan keberagaman, inovasi, dan adaptasi menghadapi perubahan.

Sebagai pelaku seni, saya memahami berdasar pengalaman bahwa proses utama dari kebudayaan adalah produksi tanda. Di sini, entah disadari atau tidak, disiplin yang digunakan adalah semiotika. Tanda-tanda diciptakan oleh pelaku budaya yang dalam prosesnya membutuhkan kebebasan berekspresi. Tanda tersebut diupayakan memiliki kekhasan. Kekhasan tanda oleh Saussure dinyatakan dalam rumus bahwa kebernilaian tanda itu sebab pembedaannya dari tanda yang lain. Sifat distingtif ini secara logis melahirkan konsekuensi adanya keberagaman. Semakin produktif seniman berproses, semakin kaya keberagaman itu.

Tanda itu kemudian dipertukarkan kepada sesama. Pihak penerima berupaya mengurainya dalam upaya memahami agar komunikasi berjalan efektif. Di sini disiplin ilmu berkembang lagi dalam hermeneutika. Penerima tanda bisa saja memiliki pemahaman lain atas tanda itu, berbeda dari maksud si pembuat dan atau si pengirim tanda. Pergeseran makna sangat mungkin terjadi karena penerima tanda juga sudah memiliki pengalaman kognititfnya sendiri, yang menjadi konteks baru dalam proses pemaknaan tanda itu. Maka tidak bisa tidak, reinterpretasi atas produk kebudayaan pasti terjadi.

Suatu teks boleh saja dipahami berbeda di antara dua individu. Perbedaan lebih mungkin terjadi antar generasi. Bermunculannya perangkat sehari-hari yang baru dan berkembangnya infrastruktur pasti berpengaruh terhadap cara pandang atas kehidupan. Dengan perspektif yang berbeda, maka pemaknaan atas suatu tanda budaya pasti bergeser pula. Karena itu adaptasi atas perubahan harus disiapkan. Termasuk di antaranya kerelaan generasi terdahulu untuk diproduksinya wacana baru oleh generasi yang datang sesudahnya. Pengoperasi android tentu memiliki wacana sendiri dalam praktek kehidupan yang berbeda dari pengoperasi mesin ketik.

Ketidakrelaan diproduksinya wacana yang mengikuti perkembangan jaman, patut dicurigai sebagai upaya mempertahankan hegemoni kekuasaan. Hanya saja kekuasaan dalam konteks ini adalah senioritas. Michel Foucault menengarai bahwa mereka yang sudah menduduki kekuasaan (baca: senior) akan selalu berupaya memproduksi imu pengetahuannya sendiri demi tetap dalam posisinya. Sebanding dengan itu, produksi ilmu pengetahuan baru dari kalangan tak berkuasa (baca: generasi muda) juga akan dihambat. Lalu pan optikon atau mata-mata pengawas yang mencemaskan akan dipasang menyoroti generasi baru tadi, agar tidak mencoba memproduksi ilmu pengetahuannya sendiri (jangan sembarangan, durhaka, nanti kualat). Jadilah kemudian kemandegan budaya. Agar ini tidak terjadi, saya mendukung rancangan peraturan daerah tersebut untuk disyahkan menjadi Perda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s