Muncar

Mungkin hanya faktor geografis saja yang mengidentifikasi Muncar sebagai desa. Tapi tidak demikian dengan masyarakatnya. Kemajuan tampak dihayati dalam keseharian di sana, sambil tetap dipertahankannya kearifan lokal yang lama diwarisi.

Mau ke mana kehidupan desa Muncar dibawa ke depannya? Mereka sudah mengantongi jawaban pertanyaan itu. Kopi adalah hasil bumi yang akan terus dibudidayakan. Tanah tempat akar-akar pohon kopi itu menghunjam juga akan dipertahankan. Tinggal bagaimana pengemasan penjualannya dapat melahirkan budaya yang lebih maju.

Pariwisata, itulah kuncinya. Tidak semua biji kopi harus berkelana jauh meninggalkan tempat tumbuhnya. Tapi biarkan para penikmatnya datang mengunjungi untuk menyisip kenikmatan itu langsung di sebelah panggangan yang berputar, sambil berbincang atau membaca buku. Kemasan biji dan bubuk kopi dalam aneka takaran disediakan untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Biji-biji yang masih dijemur pun bisa dilihat di atas geladak rumah warga.

Sementara itu, pengunjung yang ingin berlama-lama menyaksikan matahari terbenam dan terbit esoknya lagi di balik bukit dapat menginap di wisma-wisma tamu yang juga telah disiapkan.

~o()o~

Sawah membentang rata di dataran terendah, diapit oleh deretan bukit di seluruh penjuru. Rumah-rumah penduduk menepi persis di kaki-kaki bukitnya, seperti memberi sawah itu kesempatan untuk mengada. Pada punggung bukit itulah pepohonan kopi tumbuh tanpa merenggut bukit dari haknya untuk menumbuhkan vegetasi lain. Pohon-pohon besar pun tetap kokoh berdiri di sela-sela kebun kopi. Ekonomi tak hendak menyerobot alam.

Bila dana sedikit lagi tersedia, jalan setapak yang halus bisa dibangun untuk mengantar pengunjung menjumpai air terjun landai, bernama Curug Lawe di balik bukit. Airnya tidak jatuh bebas dari ketinggian, melainkan meluncur deras pada tebing yang miring. Di dasarnya, kali sedalam satu meter bisa mengobati letih akibat menempuh jarak yang terjal berliku. Bagi yang tak kuat melanjutkan langkah, selalu ada saung untuk beristirahat. Bahkan perjalanan menuju dasar pun sudah bisa dinikmati.

Disebutkan pula tentang sebuah jembatan gantung, tempat orang bisa menyaksikan kerbau dan sapi dimandikan di dalam kali, jauh di bawahnya. Mungkin itu untuk kunjungan berikutnya, sebab satu hari memang tak cukup untuk mengunjungi Muncar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s