Seniman di Bawah Ancaman Revolusi Industri 4.0

Perkembangan teknologi, khususnya infotek, telah mencapai revolusi yang mencengangkan. Setiap individu terintegrasi dengan segala hal melalui infotek. Zaman baru yang datang menggempur ini ditandai dengan istilah Revolusi Industri 4.0. Istilah ini pun menjadi mantra untuk diucapkan setiap orang agar tampak tidak tertinggal dalam arus zaman. Tak jarang dalam setiap pidato dan ceramah selalu diperdengarkan istilah Revolusi Industri 4.0 agar terkesan forum tersebut berkemajuan dan visioner.

Benarkah kesan kemajuan yang dibalut 4.0 (four point O) ini mengusung substansi yang juga berkemajuan? Kita perlu sejenak melongok sejarah yang belum terlalu lampau.

Pada dekade 60-an, para pemikir Jerman berkumpul di Frankfurt untuk mengembangkan gagasan kritis yang mengungkap penyakit sosial di Barat–dan dunia–akibat dua revolusi industri sebelumnya, sebagai hasil dari penemuan mesin uap, alat-alat produksi massal sarana transportasi dan telekomunikasi. Penyakit sosial tersebut diidentifikasi oleh Herbert Marcuse dengan istilah manusia satu dimensi. Karakteristiknya adalah manusia menjadi terasing dari dunianya, bahkan dari dirinya sendiri. Manusia melebur ke dalam sistem total untuk hanya ditempatkan sebagai elemen-elemen kecil. Ilmu pengetahuan tidak membawa pada kesadaran, sebab demi objektivitasnya, ilmu mesti berkembang tanpa unsur kepentingan manusia. Kebutuhan bukan lagi soal keberlangsungan hidup dan pemberdayaan melainkan demi terjualnya barang produksi. Bahasa sebagai alat komunikasi dan akses pada kebenaran juga dibatasi agar manusia tidak berkelit dari situasinya yang diatur oleh dunia industri. Media turut mengkampanyekan benda-benda tadi agar seolah menjadi barang wajib demi keberlangsungan hidup melalui citra-citranya yang memukau.

Gerakan intelektual yang disebut mazhab Frankfurt ini hanya berhasil dalam mendeskripsikan masalah manusia modern, tanpa bisa menawarkan obatnya. Namun tiba-tiba revolusi datang lagi dalam gelombang ketiga dengan dikembangkannya mode komunikasi internet dan seluler mulai dekade 70-an. Dan kini alat-alat komunikasi itu melekat pada diri setiap individu untuk revolusi keempat.

Agaknya, perkembangan infotek tidak akan cukup berhenti sebagai alat. Infotek akan dikembangkan hingga memiliki kecerdasannya sendiri. Potensi-potensi yang dimiliki manusia, dari kecerdasan hingga emosi, akan dikodekan ke dalam algoritma yang kemudian ditanam ke dalam mesin. Maka saat itu mesin akan merenggut tugas-tugas manusia. Sebuah software yang dinamai EMI (Experiments in Musical Intelligence) yang ditulis oleh David Cope, Profesor Musikologi Unversitas California, telah sanggup menggubah lagu tanpa campur tangan seniman. Lagu hasil ciptaan mesin yang bebas dari unsur manusia ini diperdengarkan ke publik yang seketika merasakan keindahannya, tanpa menyadari bahwa lagu tersebut ciptaan mesin.

Jika software telah berhasil menggubah lagu, maka tidak mustahil dia juga akan menciptakan lukisan. Pelukis jelas dalam ancaman besar, bahkan sebelum teknologi sempat ditanami kecerdasan buatan sekalipun. Pelukis poster bioskop kehilangan pekerjaan ketika poster bisa dicetak dengan cepat dan berbiaya murah. Bisnis kartu ucapan gulung tikar, setelah orang merasa cukup dengan mengirim pesan pendek lewat ponsel. Buku-buku cetak kehilangan peminat karena soft copy-nya sudah beredar di smartphone. Dan dengan ditanamnya kecerdasan buatan, aktor dan aktris terancam menganggur karena citra animasi bisa menghadirkan sosok Bruce Lee yang sudah lama meninggal, dan software bisa melafalkan/membunyikan huruf menjadi dialog.

Konsekuensi berikutnya adalah menjelmanya individu-individu sebagai organisme tak berguna, sebab kualitasnya telah dilampaui oleh mesin. Banyak pekerjaan akan direbut dari kuasa manusia, hingga manusia kehilangan satu metode penting dalam aktualisasi diri. Teori Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan menyatakan bahwa aktualisasi diri menempati puncak dari segala kebutuhan. Kebutuhan ultimat ini pasti datang kepada setiap manusia, untuk menjadi penegas akan eksistensinya sebagai subjek berkesadaran. Namun dengan terenggutnya pekerjaan oleh mesin beralgoritma maka manusia akan gagal, atau paling tidak terhambat, dalam penegasan eksistensi. Krisis psiko-sosial pasti akan muncul sebagai konsekuensinya, entah dalam bentuk apa.

Sisa nilai yang masih dikandung manusia saat itu hanyalah sebagai konsumen. Maka kritik Jean Baudrillard tentang manusia konsumsi menjadi semakin relevan, yaitu manusia menciptakan kelas-kelasnya lewat barang-barang yang dikonsumsi. Namun pertanyaan besarnya adalah dari mana konsumen memperoleh alat tukarnya untuk barang konsumsi itu jika mereka tidak lagi bekerja. Siapa yang sanggup membeli produk-produk artifisial itu? Atau, untuk siapa barang-barang tadi diciptakan? Jika untuk semua kalangan, apakah mode ekonomi turut berubah? Jika jawabnya iya, maka pasti akan muncul revolusi gelombang kelima, keenam, dan seterusnya hingga manusia dibuat terseok-seok melayani perubahan-perubahan mendadak yang tidak perlu. Hidup kita akan dihabiskan hanya untuk mengejar dunia.

Dengan asumsi masyarakat pada umumnya menjadi pengangguran setelah pekerjaannya dirampas oleh mesin-mesin berkecerdasan, dan barang-barang teknologi tinggi hanya bisa dibeli elit tertentu, maka polarisasi sosial pasti muncul. Di satu ujung adalah kaum elit yang dilayani oleh mesin-mesin, merasa terpesona oleh benda seni tanpa jiwa, dan tidak butuh layanan dari sesama manusianya. Di sisi lain adalah para pengangguran yang akan kembali pada mode ekonomi pra-modern dengan melayani sesamanya tanpa kehadiran teknologi yan telah berkhianat. Polaritasnya akan tampak mencolok secara kasat mata.

Pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020 ini patut dicurigai sebagai akselerasi pelucutan kualitas manusia itu, entah oleh siapa. Manusia dipaksa segera mencicipi suatu kondisi terasing dari sesamanya lewat social distancing yang dikukuhkan sebagai protokol jika hidupnya mau selamat. Selanjutnya mesin-mesin beralgoritma segera disorokkan ke ruang-ruang privat untuk mengambil peran dalam interaksi. Manusia dipaksa bersentuhan dengan mesin untuk menjaga keutuhan sosialnya.

Sebagai seniman saya selalu menyatakan hidup kita ini adalah seni. Hidup itu seni, terutama karena ada proses yang dikerjakan. Namun ketika pekerjaan tidak lagi tersedia, tak ada lagi apa-apa untuk diproses, maka hidup ini akan menjadi tidak layak dijalani. Apa lagi jika pekerjaan seni secara spesifik turut direnggut oleh algoritma, sebagaimana EMI bisa menggubah lagu. Maka pertanyaan besarnya adalah apa yang bisa diupayakan oleh seniman dalam menyikapi revolusi ini.

Strategi Bertahan dalam Gempuran Revolusi 4.0

Pemikiran kritis ini tidak saya harapkan berhenti pada diagnosis masalah belaka, namun saya mencoba mengusulkan gagasan strategis. Kedatangan revolusi ini tak bisa dibendung, mesin-mesin infotek telah merambahi kehidupan sehari-hari. Saya pun turut membeli smartphone dan memasang jaringan internet. Perubahan saya ikuti namun dengan tetap membuka wawasan kritis, bukan semata-mata latah tergopoh-gopoh memberi sambutan hangat. Arus revolusi ini bukan sama sekali kabar gembira, melainkan bencana.

Dunia seni ke depan bukan lagi semata-semata tentang proses penciptaan, melainkan akan pula disusupi upaya kompetisi melawan kekuatan yang melampaui kemampuan manusia.

Dalam rangka bertahan dari ancaman ini, yang bisa dilakukan seniman adalah menguatkan narasi tentang keunggulan manusia. Lukisan yang digores oleh tangan pasti lebih bernilai dibanding hasil print-out. Nilai lebihnya adalah sebab lukisan itu sanggup merekam jiwa sang seniman saat berkarya. Perasaan suka ataupun duka yang menemani proses penyaluran cat ke atas kanvas akan turut bersemayam ke dalam lukisan itu, dan selanjutnya dipancarkan ke ruang sekelilingnya. Perekaman emosi ini tidak akan terjadi jika penghantar cat itu adalah mesin yang nir-jiwa.

Manusia diciptakan dengan kelengkapannya: tubuh, perasaan dan pikiran. Ketiga-tiganya harus dikembangkan sebagai bukti apresiasi dan rasa syukur terhadap Pencipta. Mesin beralgoritma hendak menumpulkan daya fisik kita, dengan memaksa kita mendekam statis di satu tempat tanpa beranjak demi interaksi sosial. Jika ini terjadi maka evolusi manusia ke depan akan mengalami pengembangan/pembesaran di bagian kepala, dengan tubuh yang menyusut, sebab hanya otak yang difungsikan untuk bekerja, tanpa perlu menggerakkan badan. Robot sudah mengambil alih tugas fisik itu. Dalam situasi seperti itu, spesies manusia sedang menuju ke ambang kepunahannya.

Narasi-narasi semacam ini harus digaungkan seluas-luasnya ke tengah publik. Seperti film Terminator 2 yang mengisahkan penghancuran perusahaan bernama Cyberdyne System yang memproduksi mesin-mesin berkecerdasan lewat projek Skynet. Cyberdine diledakkan karena di masa mendatang mesin-mesin ciptaannya itulah yang akan memusnahkan spesies manusia. Sebagai sebuah alegori atau kiasan, fiksi ilmiah ini layak direnungkan.

Kemudian terhadap kehadiran tak terbendung dari perangkat-perangkat cerdas itu seniman harus mampu menungganginya untuk menghasilkan karya yang lebih bernilai, sambil terus mengkampanyekan kualitas kemanusiaan. Seperti yang saat ini saya lakukan: memanfaatkan infotek untuk menyuarakan kebernilaian manusia.

Alih wahana, atau saya lebih suka istilah multi-wahana sebab tidak berkonotasi meninggalkan wahana sebelumnya, merupakan satu strategi yang layak dilakukan. Sebongkah emas boleh diusung dengan gerobak ataupun mobil ataupun pesawat, tapi emas itu tidak boleh diganti. Emas dalam metafora ini saya maksudkan sebagai nilai-nilai luhur kemanusiaan yang diwariskan dari nenek moyang. Nilai itu harus lestari meski situasi, peradaban, dan perangkat-perangkat telah berubah dan berkembang beraneka ragam.

Multi-wahana mengisyaratkan bahwa seorang seniman tidak cukup menggunakan satu medium saja untuk menumpahkan pikir dan rasa, sebab kandungan pikir dan rasa itu selalu melimpah dan terus berkembang dalam substansi dan bentuknya. Bentuk yang beraneka ragam ini mungkin tidak bisa diwadahi oleh medium jenis tertentu, namun bisa dengan medium lain. Dalam praktek multi-wahana ini misalnya saya menjadikan media sosial sebagai ruang presentasi kesenian alternatif secara virtual, di samping ruang pameran yang konvensional. Saya bisa berkunjung ke situs wisata secara jasmaniah untuk melukis pemandangan di sana, namun saya juga membuat siaran langsung via facebook ataupun direkam dalam video untuk diunggah di youtube. Pada momen saya melukis on the spot, situasi mungkin sepi dari perhatian publik sebab pandemi. Sedang di dalam media sosial, perhatian itu riuh. Meski demikian perlu tetap dicatat bahwa mengapresiasi lukisan paling efektif adalah berdiri langsung di hadapan lukisan itu, bukan lewat kaca bersinar.

Prinsip multi-wahana juga mendorong saya untuk merambahi dunia sastra, sebab gagasan saya atas kehidupan sering kali tidak cukup disalurkan secara visual. Medium verbal sanggup menyalurkannya, sebelum medium lain bisa dipertimbangkan. Namun pada akhirnya nanti, sekeras apa pun seniman meluaskan medium ekspresinya, mesin-mesin berkecerdasan juga akan melakukan hal serupa dengan kemampuannya yang lebih canggih. Karena itu, seniman harus mempertahankan hirarkinya di atas mesin-mesin berkecerdasan. Seniman harus bisa menempatkan pesaingnya itu dalam posisi pelengkap yang mendukung, bukan sebagai sentra presentasi.

Pada akhirnya kita semua harus bersepakat bahwa mesin, secerdas apa pun nantinya, hanyalah instrumen, alat untuk memudahkan hidup manusia, tanpa boleh diprioritaskan setara atau bahkan lebih mulia dari manusia. Sebab dalam jiwa manusia, sifat-sifat Tuhan bersemayam. Kemudahan hidup juga harus dalam keterukuran. Jika seluruh proses kehidupan menjadi mudah–bahkan instan–maka hidup ini pasti tidak layak dijalani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s