Art Statement by Sabar Subadri

Why I Paint

I paint mainly to give meaning in life; life in personal and general context. Personally, my life is limited in many aspects. Many things are beyond my reach. But I need to get through my life as a successful person, and not end up being in vain. There should be at least one thing I do proudly and passionately before I die. That is painting, that had been historically chosen for me by my beloved ones.

With painting I also make an effort to give meaning to life in broader context. Life is a space where thoughts are created and exchanged. With low capacity of my mind, I try to find meaning of life through encountering nature. Some times I feel like finding the other parts of my self in the rocks, water, and trees out there. As if they said some things to me that life I live may be like those they have. There were such similar structure between mine and theirs. Once I receive the “messages”, I bring the picture of them on to canvas.

Based on this purpose, I often paint the neglected natural objects, which are absent from human attention. In my view, mosses and water ripples are actually worth exaltation. Their existence may be representing my own way of life. Nevertheless, I do not demand agreement to the audience towards my thinking I put on the picture on the canvas. One single painting remains a huge space of dialectics.

Painting is also my mechanism to redeem my yearn for vastness. Yearn is born from distance, while my reach is limited. That is why, I bring the distant objects and phenomena to my heart through the visual representation. I paint them so I feel close to them.

Last but not least, painting should support my life. Art is done by human and intended for human with all the level of needs. With painting I should be able to fulfill my need of surviving until self actualization. In my humble opinion, it’s not taboo to think and commit art commodification. On the contrary, it is absurd if art can not support the artist themselves.


Mengapa Aku Melukis

Melukis bagiku yang utama adalah untuk memberi arti dalam hidup. Ini memiliki dua pengertian. Pertama adalah bahwa hidup pribadiku yang serba terbatas dalam gerak dan waktu ini harus kujalani dengan tidak sia-sia hingga usai nanti. Paling tidak harus ada satu hal yang kukerjakan dengan gairah dan kebanggaan sebelum aku mati. Dan itu adalah melukis, yang dalam sejarah hidupku dipilihkan kepadaku oleh orang-orang tercinta di sekelilingku.

Pengertian kedua adalah tentang memberi arti kehidupan ini secara luas. Hidup adalah ruang kesadaran yang dinamis di mana pemikiran-pemikiran ditumbuhkan dan saling dipertukarkan. Dengan daya mentalku yang tidak seberapa, aku mencoba mengartikan hidup lewat perjumpaanku dengan alam. Pohon, batu, air, binatang, hingga manusia yang bisa kutemui di luar sana aku semati makna-makna, sehingga seolah semuanya itu datang membawa pesan rahasia. Lalu wujud rupa dari objek-objek itu aku gelar ke atas kanvas bersama “pesan-pesannya”.

Berdasar tujuan ini, tak jarang aku melukis objek-objek alam yang sering tersisih dari perhatian manusia. Gerumbul lumut dan riak air bagiku layak diagungkan dengan memberi mereka tempat terhormat pada kanvas. Karena kehadiran objek-objek itu bisa jadi mewakili laku kehidupanku sendiri. Namun meski demikian, belum tentu apa yang terpikirkan dan terlukis olehku mesti sejalan dengan pemikiran publik penikmat. Di sinilah dialektika dapat berlangsung.

Melukis juga merupakan upaya pelepas kerinduan. Rasa rindu selalu tercipta oleh jarak. Sedang ruang di sekitar kita tak cukup luas untuk menampung segalanya. Maka menciptakan lukisan dari objek-objek tak terjangkau itu sanggup mendekatkannya ke dalam batinku, meski hanya lewat perwakilan gambar.

Dan akhirnya, melukis yang prosesnya dilakukan oleh manusia itu hasil akhirnya mesti juga untuk manusia; manusia dengan segala tingkat kebutuhannya, dari bertahan hidup hingga aktualisasi diri. Maka bicara keekonomian dalam lukisan bukanlah hal tabu bagiku. Justru menjadi absurd jika lukisan tak dapat mendukung kehidupan si pelukis.

Tulisanku yang lain tentang seni lukis:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s