Author: Sabar Subadri

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #19 Pekerja Seni

Secara teknis praktek berkesenian adalah produksi tanda, yaitu menciptakan wujud-wujud empiris yang membedakan diri dari liyan. Itulah mengapa 12 tube warna bisa menghasilkan jutaan lukisan, atau tujuh nada sanggup menghasilkan jutaan lagu, yang masing-masing berbeda.

Dalam semiotika, atau ilmu tanda, disebutkan bahwa suatu tanda memperoleh nilainya sebab bisa dibedakan dari sesama tanda lainnya. Kata bang memiliki maknanya sendiri dari kata bank, sebab ada satu morfem yang berbeda di antara keduanya. Demikian pula kesenian. Setiap seniman akan berjuang untuk membangun keunikannya masing-masing. Berkesenian adalah membangun identitas.

Tapi bagaimana jika identitas mendasar dari seniman–dan semua orang–malah ditutupi oleh masker?

Persoalan ini bisa dijawab dengan menitikberatkan perhatian pada karya. Identitas seniman ada pada karya yang dihasilkannya, bukan semata pada wajah yang diterima dari Tuhan sejak lahir. Tugas seniman adalah menciptakan, bukan sekedar menunjukkan apa yang sudah ada pada diri. Seni adalah bagaimana manusia melakukan pengolahan.

Tapi, pernahkah ada karya seni yang dirayakan pecintanya tanpa identitas sang seniman? Nama-nama seniman dengan semua foto dan biografinya adalah satu paket yang tak terpisahkan. Identitas seniman adalah narasi tersendiri yang memberi alasan mengapa karyanya patut dirayakan. Bunuhlah pelukis dari lukisannya, sebagaimana pos-modernisme membunuh para penulis dari karya tulis, maka lukisan akan menjadi hambar.

Pandemi yang menyembunyikan identitas ini menelan korban paling banyak dari kalangan seniman.

Kado Ulang Tahun Buat Istriku

Tangan yang Menyusul

Sekiranya di bilangan hari ini
tiga dasa warsa berkurang tiga
tahun yang dulu telah terlewati
tiada bayi melongok pada dunia

Jika saja tak pernah ada
penyalur data dalam gelombang tak kasat mata
meringkas jarak di punggung bumi
agar manusia dengan sesama saling berbagi

Seandainya tak kuberanikan rasa
mengikuti kehendak untuk tahu
dari sekedar sapa lewat aksara
sebab cemas dan malu membelenggu

Maka tak akan ada satu kisah baru
memenuhi episode hidupku
menghentikan sendiri yang sepi
untuk menjadi hari-hari berseri.

Tak akan kembali tangan yang hilang
dipersembahkan dengan kasih sayang
melalui tubuh perempuan mulia
istriku Sakuna tercinta.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #18 New Normal: Psiko-Analisis

Kata new atau baru di hati kita begitu lekat terasosiasi dengan kesan positif. Baru itu konotasinya menyenangkan karena telah terjadi perubahan menuju yang lebih baik. Tapi new normal tidak seperti itu. New normal adalah baru dalam kemerosotan, dan manusia diharap merasa biasa-biasa saja, atau normal. Merosot yang berterima.

Dalam upaya menerima itu, ego membuat mekanisme pertahanannya dengan rasionalisasi, “Nggak ada yang beda, kok. Cuma mengenakan masker, cuci tangan dan jaga jarak. Selebihnya tetap sama.” Agar lebih berterima lagi, analisis konsekuensi dari melakukan ujaran tersebut tidak dilakukan. Tak ada pertanyaan, berapa banyak nilai akan hilang dari pemakaian masker di muka, dari menjaga jarak, dsb. Dengan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, maka jiwa tidak terlalu tertekan. Dan ruang publik pun dijelajahi dengan ringan. Dalam prakteknya, pertanyaan tadi memang benar-benar muncul, bahwa ada yang direnggut dari kehidupan oleh masker dan jaga jarak. Tapi ego kemudian kembali membuat pertahanannya, “Ah, aku tidak sendirian. Semua juga mengalami ini.”

Sebagian individu memilih mekanisme lain, dengan bereaksi sesuai keadaan sambil mengalihkan sikapnya yang wajar. Karena di luar sana masih ada bahaya, maka keperluan untuk menuju ruang publik ditangguhkan, dan rumah sebagai perlindungan harus disusun sedemikian nyaman. Mekanisme ini akan mewujudkan semboyan rumahku istanaku. Lalu keasyikan diciptakan setiap hari dengan berbagai cara. Bila perlu, keasyikan itu dibagikan ke publik lewat media sosial. Jempol yang diterima menambah kegembiraan. Orang-orang yang memilih mekanisme ini sudah ditopang oleh kekuatan ekonomi dan internal rumah tangga yang solid. Sampai ketika tabungan habis, mungkin mekanisme pertama akan diambil juga. Tapi jika sumber daya ekonomi itu melimpah, tak mustahil mereka akan mengalami fiksasi dalam situasi pandemi. Mereka akan melanjutkan pola hidup ini seterusnya.

Di seberangnya adalah mereka yang melakukan penyangkalan hingga apatis, yang menolak fakta adanya wabah. Dengan mekanisme ini, seseorang akan menjelajahi ruang-ruang publik seolah tak ada bahaya yang mengintai di luar pengetahuannya. Ia tak akan merasa bersalah untuk tidak mengenakan masker, bahkan membuang ludah dan ingus di ruang terbuka. Tantangan juga dilontarkan dalam rangka membuktikan keyakinannya bahwa wabah itu tidak ada, seperti pada seorang selebriti nasional yang menghebohkan itu.

Sama-sama tidak terpengaruh dengan wabah, adalah asketis yang tidak melakukan tindakan konyol yang membahayakan liyan seperti para apatis tadi. Seorang asketis memang sudah mengambil jarak dari dunia, maka apa pun yang dinikmati dan diderita umumnya orang tidak akan memberi dampak sedikit pun pada hidupnya. Mereka sanggup bertahan di ruang privatnya dengan kedamaian batin yang tak goyah. Namun yang ini sedikit sekali bisa dijumpai di lingkungan kita.

Yang banyak adalah yang memilih mekanisme pelemparan kesalahan, atau proyeksi. Alih-alih mencari solusi atau berkelit dalam kesulitan, orang-orang ini bergerak mundur mencari pihak untuk ditimpai hukuman sebab telah menimbulkan penderitaan. Ketika biang kerok tidak ditemukan, mereka membangun teori untuk menghibur diri atau menyasar sosok publik tertentu. Mekanisme ini tidak mengurangi sedikitpun beban derita itu, tapi mengobarkannya ke segala arah.

Mekanisme mana pun yang diplih tetap saja tidak menghapus kenyataan bahwa masalah itu tetap ada di ruang kehidupan. Mekanisme pertahanan diri muncul karena ada kesenjangan antara kondisi ideal dengan kenyataan. Itu dipilih oleh masing-masing individu tanpa bisa dikontrol oleh pihak-pihak lain, penguasa sekalipun. Bahkan individu bersangkutan juga tidak sadar mengapa memilih mekanisme tertentu. Semua adalah korban keadaan, dan sedang mengalami tekanan jiwa–terasa ataupun tidak.

Kondisi ideal yang diharapkan saat ini, bagaimanapun juga, dicapai kembali dengan penciptaan vaksin yang teruji dan obat bila mungkin, agar tidak perlu ada new (worse) normal itu, melainkan keep normal.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #17 Melawan Spekulan

Awal bulan Mei netizen dihebohkan oleh kabar tentang meruginya penimbun masker, yang terpaksa menjual dengan harga di bawah harga beli. Terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, seandainya memang benar, apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini?

Dunia modern telah berhasil membagi-bagi fungsi sosial; satu orang cukup mengerjakan satu bidang saja. Sedangkan bidang lain tak perlu merepotkan hidupnya, kecuali dia membayar dengan alat tukar untuk bidang yang tidak dikuasai itu saat membutuhkannya. Seorang pegawai yang tak menguasai ilmu kesehatan, bisa datang ke dokter dan apotek untuk menyudahi sakitnya. Dokter itu pun tak perlu repot memanjat atap ketika gentingnya bocor, sebab ada tukang yang bisa ditugasi untuk pekerjaan itu dengan ongkos yang sesuai. Demikian seterusnya.

Modernitas memang berhasil menciptakan para spesialis. Tapi keretakan sosial sekaligus tercipta di sana. Keretakan itu kemudian dimanfaatkan oleh spekulan. Pedagang nakal ini paham betul dalam memainkan harga komoditi. Mereka bisa membaca kapan konsumen akan menyerbu produk tertentu secara masif. Dengan itu mereka mendahului memborong semua barang sampai tak bersisa, lalu menjualnya lagi dengan harga selangit kepada konsumen yang tak bisa membuat produk tersebut sebab bukan spesialisasinya; bukan bidangnya. Inilah terjadi dengan kelangkaan masker pada awal masa pandemi ini.

Satu-satunya cara untuk melawan kelakuan spekulan semacam itu adalah dengan membongkar modernitas. Pembagian tugas harus diterabas, spesialisasi harus mejadi generalisasi. Maka menghadapi langka dan mahalnya masker tersebut, rumah tangga dari latar belakang profesi apa pun mulai mengoperasikan mesin jahitnya. Masing-masing secara mandiri menciptakan sendiri masker yang dibutuhkan. Bila ada sisa, bolehlah dijual ke teman atau pemesan dengan harga terjangkau. Dan seketika timbunan masker di gudang spekulan itu pun menjadi usang tak berharga.

~o()o~

Saya pernah menulis catatan kaki pada salah satu tulisan saya di blog ini, bahwa sebagian pola hidup pos-modern layak dihayati. Inilah contohnya, yaitu pengaburan batas-batas fungsi. Seorang pelukis boleh saja memiliki kemampuan menjahit dan sekaligus marketing untuk menjual karyanya. Petani perlu juga menguasai ilmu pertukangan sehingga tak mati ketika musim paceklik.

Dengan adanya multi-fungsi dan multi-talenta pada satu individu semacam itu, kita mempunyai ketahanan hidup yang lebih tinggi, dan tak akan gamang di depan permainan spekulan.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #16 New Normal: Psiko-Sosial

Saya sempat keluar satu kali dalam masa pandemi untuk keperluan yang tak bisa diwakilkan. Pengalaman itu sungguh terasa berbeda. Berdasar itu saya mencoba membayangkan seperti apa interaksi kita nanti dalam pandemi yang belum benar-benar tuntas, yang dinamai new normal itu.

Setiap individu dihadirkan kembali ke dalam interaksi sosial, dengan batasan protokol kesehatan. Masing-masing mengenakan masker di wajah. Objek kecil dari bahan tekstil seluas tak lebih dari 50 cm persegi ini secara praktis mendirikan dinding sosial yang tinggi. Dia membisukan hampir seluruh mediasi antar-personal.

Berapa banyak perasaan dan pikiran itu terekspresikan di dalam wajah? Bahkan ada ilmu khusus yang mempelajarinya, yang disebut mikro-ekspresi. Dengan masker, setiap individu akan mengalami ambuguitas dalam interaksinya dengan sesama. Ia tak bisa menemukan senyum ataupun cibir pada lawannya. Mata memang ikut bicara, tapi tak selugas bibir yang mudah dilengkungkan.

Dengan kesulitan membaca dan mengevaluasi ekspresi lawan, kita akan mengalami ambivalensi dalam menentukan suatu respon, dan lebih jauh: keputusan. Maka praktek komunikasi pun kembali dipercayakan pada bahasa verbal, agar tak berhenti dalam dugaan-dugaan. Perasaan agaknya harus turut diucapkan dengan kosa kata yang tersedia: saya marah, saya gembira, saya kecewa, saya terharu, dll. Kecuali tawa yang cukup didemonstrasikan, dan lawan pun sudah mengerti. Tapi senyum itu tak bisa diwakili oleh kata-kata.

Ambiguitas komunikasi dan ambivalensi penilaian itu pada puncaknya membawa kita pada sikap masa bodoh; apatis. “Di tengah keramaian ini, aku cukup mengerjakan bagianku, lalu selesai.” Liyan akan disikapi sebagai objek-objek bergerak namun dingin, tanpa memancarkan daya tarik sosial. Pertemanan lambat dalam perkembangannya, sebab identitas visual untuk diingat sedang disembunyikan. Kita ragu untuk menyapa orang di sebelah, sebab tidak tahu apakah sudah pernah berkenalan ataukah masih perlu berkenalan dulu. Semua akan terasa canggung. Ditambah kecemasan akan penularan virus, maka ciri-ciri individualisme akan semakin kentara.

Kita akan sangat merindukan kehidupan lama sembari menunggu vaksin itu ada. Sementara dunia maya masih akan menjadi mediasi komplementer yang sangat membantu. Bahkan bisa jadi sebentar lagi akan muncul teori psikologi sosial digital.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #15 Tak Ada yang Mustahil?

Sejarah pemikiran manusia sudah lama tiba pada pragmatisme, setelah ribuan tahun lamanya berkembang dari teosentrisme hingga phonosentrisme. Dalam pragmatisme, orang mengembangkan teori untuk memperoleh keuntungan secepatnya, semudahnya, dan sebanyak-banyaknya. Retorika dibangun semerdu mungkin untuk mempengaruhi pikiran orang agar bergerak begitu saja tanpa berhenti sejenak untuk melakukan oto-kritik.

Satu retorika yang diintrodusir ke tengah publik dan dicaplok dengan lahap berbunyi ‘tak ada yang mustahil’. Dengan ini orang kemudian melayani hasrat-hasratnya tanpa sempat berpikir untuk membongkar klausa tersebut secara semantik. Asal rasa dangkal sudah tersentuh, terpukau, maka dianggap benarlah itu dan tak perlu digagas ulang.

Mari kita mulai mempertanyakan dan menjawab.

“Tak ada yang mustahil’ di dalamnya mengandung paradoks yang menyangkal dirinya sendiri. Klausa tersebut bisa diubah ke dalam bentuk positif menjadi ‘segalanya mungkin’. Segalanya, jika kita mau jujur, berarti meliputi ketidakmungkinan. Maka hadirnya yang tidak mungkin itu pun mungkin di dalam alur hidup setiap orang. Tak ada yang mustahil berarti kemustahilan itu sendiri tidak mustahil adanya. Mustahil itu pun mungkin.

Dengan demikian kita dihadapkan pada perhitungan probabilitas yang variabelnya tidak jelas. Tapi bisa saja antara mungkin dan tidak mungkin itu punya nilai rasio 50-50. Bukankah segalanya mungkin?

~o()o~

Pandemi ini adalah kesempatan bagi siapa pun yang menggenggam kuat prinsip tersebut untuk mewujudkannya secara aktual. Mungkin semangat ‘tak ada yang mustahil’ bisa didemonstrasikan dengan melakukan penelitian mandiri untuk penciptaan vaksin corona, terlepas dari latar belakang keilmuan dan profesi yang dijalani.

Bukankah tak ada yang muistahil? Monggo.

The Rainmaker (1997)

Setiap klaim asuransi pasti akan segera ditolak. Begitulah prosedurnya, sebab dengan cara itu perusahaan bisa menggaruk kekayaan melimpah.

Tapi Rudy Baylor yang masih berstatus mahasiswa hukum dan belum resmi menyandang gelar sarjana harus mendobrak prosedur keserakahan itu demi satu keluarga miskin yang baru saja ditinggal mati putranya sebab penyakit leukemia. Donny Ray Black gagal melakukan operasi transplantasi darah sebab biaya yang katanya ditanggung asurransi ternyata tidak dicairkan.

John Grisham yang menulis kisah fiksi ini dalam bentuk novel mengaku menuliskan narasinya dalam nada jenaka. Banyak adegan dipaparkan secara konyol dan ironis. Tapi keseluruhan ceritanya adalah tragedi. Akhir yang manis memang disediakan, tapi kematian satu tokoh secara mengenaskan memantik rasa iba.

Menjadi tantangan bagi aktor Matt Damon untuk menghidupkan tokoh Rudy Baylor ke dalam film layar lebar yang diproduksi oleh Constellation Entertainment. Berada di seberang Matt Damon adalah aktor kawakan John Voight yang selalu piawai memerankan tokoh antagonis. Mr. Voight memerankan pengacara sadis bernama Leo F. Drummond yang akan melakukan apa pun demi klien bisa mempertahankan kekayaan. Perusahaan asuransi Great Benefit hanya mau mengeluarkan secuil uang kepada nasabah, tapi siap menghamburkannya untuk pengacara yang sudah kaya raya.

Di belakang Rudy ada Bruiser Stone (Mickey Rourke), pengacara bermasalah yang tetap bersedia memberi informasi dan saran strategis. Ada pula Deck Shifflet (Danny DeVito)  asosiate tak resmi yang ‘gesit’ untuk mengerjakan tugas-tugas kotor, seperti mencuri alat bukti, dan melakukan praktek litigasi tanpa ijin. Agaknya John Grisham sebagai penulis cerita secara tidak langsung mengamanatkan penggunaan pragmatisme untuk melawan garong yang licik. Sebab dengan cara itu, hak yang dirampas bisa didapatkan kembali.

Keseluruhan cerita ini seolah juga mengingatkan kita bahwa janji-janji sales asuransi itu dusta dan harus diabaikan sejak di muka sebelum kecewa dalam penipuan pada akhirnya. Sebab memang begitu sistemnya. Lagi pula pada kenyataannya, perang litigasi di ruang sidang dengan kemenangan protagonis sebagai happy ending hanya ada dalam kisah-kisah fiksi.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #14 Berdamai dengan Diri Sendiri

Pertentangan pasti setua usia alam semesta. Sejak energi yang berkepadatan tinggi sebesar sub-atom itu meledak dalam dentuman agung yang melahirkan materi, maka sejak itu tercipta pula ruang dan waktu, serta segala struktur dualitas lainnya. Hingga satu bintang yang dikelilingi planet-planet yang salah satunya memiliki atmosfir melahirkan organisme terkecilnya, mulailah terbentuk kesadaran dalam kapasitas yang masih sangat lemah. Singkat cerita, adalah kemudian manusia dengan kompleksitasnya.

Kompleksitas manusia ini meliputi kesadaran akan ada dirinya, bahkan sadar akan struktur kesadarannya itu sendiri. Dualitas yang dikandung alam semesta juga turut dibawa dalam jiwa manusia. Dimulai dari hasrat, yang kemudian terbentur oleh hasrat liyan dalam kesepakatan dan nilai-nilai sebagai hambatan. Lalu lahirlah ketegangan internal, yang sering kali disembunyikan, namun bisa juga meledak keluar dalam ekspresinya yang bermacam-macam.

Dalam skala kolektif, kelompok individu bisa juga memiliki hasrat bersama yang disebut ideologi. Lalu berupaya mewujudkan bersama gagasan abstrak itu menjadi materi. Namun ideologi lain juga dimiliki kelompok individu lain, yang juga berupaya mewujudkannya. Lahirlah perang yang merentang dalam sejarah peradaban manusia.

Begitulah singkatnya, dualitas berujung pada konflik.

~o()o~

Wabah adalah sebentuk hambatan yang menghadang manusia (individu maupun kolektif) dalam rangka merespon hasrat-hasratnya. Wabah memberi jarak manusia dari tujuan yang hendak dicapai. Yang terjadi kemudian adalah pertentangan internal sebab energi batin itu tidak menemukan jalan pelepasannya.

Kedamaian jelas terkoyak, tapi ini kedamaian di dalam jiwa. Bukan damai antara hidup manusia di samping organisme tak berjiwa. Maka dalam upaya mewujudkan kembali damai itu, tawar menawar oleh akal mesti dilakukan untuk menakar hasrat dan hambatan. Hasrat selalu menjadi biang penderitaan. Hambatan melipatgandakannya.

Kita terlalu lama diajari oleh ceramah motivasi bahwa segala sesuatu itu pasti bisa diwujudkan. “Tak ada yang mustahil.” katanya. Sehingga kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada yang harus dipupus di dalam alur hidup. Belum ada satu contoh besar yang meyakinkan orang bahwa membatalkan sesuatu itu baik-baik saja. Apalagi jika pembatalan itu demi kelestarian hidup spesies manusia.

Ketiadaan contoh dan motivasi terbalik ini membuat masyarakat menjadi apatis di tengah pandemi. “Di sana bergerak ke luar, kenapa aku diam saja?” begitulah suara hati masing-masing orang. Semua memburu pelepasan hasrat-hasratnya, dari mulai merayapi jalanan aspal, hingga memadati tempat perbelanjaan sambil membawa angan-angan bahwa esok hari akan tampil mentereng di hadapan liyan. Tidak ada yang mengajari bahwa tanpa itu, hidup juga baik-baik saja.

Berdamai dengan diri sendiri adalah merasa cukup dengan apa yang ada, bergembira dengan apa yang tersaji di rumah. Memenuhi kebutuhan secukupnya, tak ada yang perlu dikejar, sebab semua memang sedang tiarap bersama-sama. Prinsip ini tidak pernah terdengar dari siapa pun sejak awal pandemi.

Kecuali satu contoh besar tentang kerelaan untuk mewujudkan hidup damai yang hanya didemonstrasikan oleh dokter dan tenaga medis. Sedang yang lain masih dalam penantian.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #13 Bawang Merah

Harga bawang merah merangkak naik di pasar tradisional. Satu hari yang lalu, per kilogramnya meminta 56 ribu rupiah untuk pertukarannya. Saya sempat merasa bersyukur, sekiranya selisih harga itu benar-benar tiba di kantong petani. Mereka berhak sejahtera juga.

Bawang merah tiba-tiba menjadi objek wajib di keseharian saya. Musim penghujan yang belum usai, dan sedang memasuki peralihan, biasanya mendorong manusia ke dalam penyakit rutin: influenza. Tapi di masa pandemi covid-19, saya melarang diri sendiri dan keluarga untuk sakit.

Flu biasa bisa saja diperlakukan berlebihan di masa ini, suhu badan di atas 37 derajat sudah diprasangkai, ini semua sebab kecemasan suda menguasai publik. Dan upaya pengobatan ke pelayanan medis juga beresiko berinteraksi dengan pembawa virus corona. Maka pencegahan segala penyakit adalah protokol dasar yang saya tetapkan sendiri sejak di dalam rumah.

Bawang merah berperan dalam hal ini. Ketika rasa gatal mulai terasa di pangkal rongga mulut dan tenggorokan, satu butir bawang merah segera saya kunyak-kunyah dengan bibir tertutup rapat. Aromanya yang menyengat itu saya tuntun untuk menerobosi ronga hidung dengan hembusan nafas, dan ke dalam paru-paru dengan tarikan nafas. Satu butir saja, rasa gatal itu sirna.

Cara ini saya temukan baru saja, lewat dorongan instingtif. Gejala gatal itu membuat saya ingin menggaruk ke dalam saluran nafas. Harus ada sesuatu yang dimasukkan ke sana. Dan entah dari mana, yang terpikir adalah bawang merah. Hingga saat ini, saya belum disapa pilek yang rutin itu.

Mungkin pembaca bisa turut mencobanya, tapi tetap dengan memperhatikan kondisi tubuh masing-masing terutama dalam kesehatan saluran pencernaan.

Selamat mencoba, sambil mencegah penyakit kita membantu perekonomian petani.