Buku Karya Sabar Subadri

Mitologi Sela Tiga

50 tahun setelah desa Hampra ditetapkan sebagai sima perdikan oleh Raja, kehidupan yang tenteram di wilayah ini sempat terusik oleh suatu prahara. Serbuan dari desa yang jauh memporak-porandakan peradaban yang sudah dibangun indah itu, hingga berhasil merebut kepemimpinannya. Upaya meraih kembali tanah swarganya menyadarkan warga sima Hampra tentang arti penting pertahanan untuk memastikan langgengnya ketenteraman, dan bahwa kesejahteraan itu bukanlah semata-mata warisan yang tak meminta bayaran. Fiksi mitologis ini ditulis dalam alur dramatis menuju kemunculan tiga bongkah batu besar yang kemudian menjadi penanda wilayah Salatiga. Buku ini juga dilengkapi kajian historis dan semiologis untuk mendukung alur ceritanya.

$5.00

Tanpa Mimpi

Sepuluh cerpen dalam antologi ini hendak membawa pembaca sejenak berdiri di sudut yang sedikit tak terjamah dalam memandang peristiwa hidup sehari-hari. Apa yang biasa dituturkan sebagai penyandang kebaikan, bisa saja menyimpan keburukan yang terselimuti oleh keengganan untuk mengungkapkannya. Dan apa yang selalu dibenamkan dalam kubangan lumpur, seketika bisa menjadi pahlawan hanya karena diberi kesempatan dan kepercayan. Dengan sejenak menghayati hidup dengan tanpa mimpi, untuk selalu terjaga, nyatalah sesuatu melampaui yang tampak di mata dan terlanjur bersemayan dalam keyakinan bersama.

$5.00

Memoar Seorang Pelukis Kaki

Terlahir tanpa tangan, tetap harus menghadapi dunia, Sabar Subadri menempuh karir di dunia lukis justru sejak usia dini, umur 10 tahun. Seperti mengikuti teori psikolog Alfred Adler, Sabar Subadri memilih jalan hidup realistis, bukan bermimpi yang mengingkari kenyataan. Dengan sikap realistis, Sabar mempercayai banyak orang untuk membantu jalan hidupnya. Siapa saja mereka, dan bagaimana mereka menuntun Sabar hingga meraih banyak pencapaian? Pencapaian apa sajakah yang bisa diraih tanpa dua tangan?

$5.00