Film

Mata Besar

Menjadi pelukis itu tidak pernah sekedar urusan popularitas ataupun kekayaan. Ada nilai-nilai yang turut diperjuangkan, utamanya kejujuran.

Margaret Keane akhirnya menyadari itu, meski kesadarannya ini membawa konsekuensi harus berpisah dari kemewahan hidup yang sudah lama ia nikmati, tapi sekaligus membebaskannya dari tekanan jiwa.

Putri semata wayangnya, Jane, sudah dewasa dan tak bisa lagi dobohongi. Gadis remaja ini harus tahu bahwa semua lukisan yang begitu dikenal publik sebagai karya ayah tirinya, Walter Keane /:wolter kin:/, sebenarnya dilukis oleh ibu kandungnya, Margaret.

Suatu pagi, Jane memaksa masuk ke dalam kamar yang selalu rapat terkunci, di mana ibunya berjam-jam bermukim di sana tanpa pernah keluar, dan ia pun dilarang masuk. Betapa kagetnya Jane ketika mendapati tubuh ibunya terbaring kelelahan di depan lukisan yang masih basah di ruang rahasia itu. Lukisan itu, gambar anak-anak bermata lebar, sudah lama membawa nama besar bagi sang ayah tiri.

“Aku tahu semuanya, Ibu,” katanya menolak upaya penjelasan Margaret tentang penipuan yang dilakukan orang tuanya. Demi kebahagiaan anak yang menginginkan kebenaran, Margaret membuat keputusan untuk meninggalkan suaminya; menghentikan persekongkolan itu. Ia sendiri sejak awal tidak pernah suka dengan skenario yang dilakukan Walter. Tapi ia selalu merasa terintimidasi di bawah tekanan suami yang piawai berdusta itu.

Setelah memastikan diri bahwa kedua perempuan ini selamat dari ancaman fisik yang bisa dilakukan Walter, Margaret dan putrinya mulai bicara ke media, memaparkan yang sebenarnya. Polemik pun terjadi di koran-koran, karena tentu saja seorang penipu tidak akan mau mengakui dustanya.

Seorang penipu adalah orang yang piawai mengukir topeng kepribadian. Personanya ceria, ramah, dan ucapan mulutnya memukau. Banyak orang merasa nyaman dalam perjumpaan pertama. Penipu jarang bersikap menyebalkan pada awal masa pertemanan karena ia perlu memancing mangsa masuk perangkapnya. Sedang orang jujur sejak awal mungkin menyebalkan karena ia tidak hendak menyembunyikan apa pun. (Walaupun bukan berarti bahwa semua orang yang menyenangkan itu penipu.) Seiring lamanya pertemanan, dua kutub ini akan terbalik pada akhirnya.

Setinggi-tingginya celoteh seorang penipu, hanya akan sebatas layak ditampung media gossip. Diskusinya tak jauh beda dari kebisingan di terminal atau lampu merah. Sebelum konflik terjadi, Margaret pernah membahas pandangan keseniannya dengan seorang jurnalis, dan mulai menyebut nama Modigliani–pelukis Italia awal abad XX. Tapi Walter buru-buru memotong diskusi itu dengan alasan tak perlu serius. Sesungguhnya di sini Walter merasa tidak nyaman jika harus memasuki wilayah di luar pengetahuannya. Ini bertolak belakang dengan sesumbarnya yang pernah belajar di Beaux-Art, Paris.

Maka terhadap pengakuan Margaret di media tentang kejahatan pemalsuan yang dilakukan Walter, Walter membela diri. Ia bahkan menuding balik istrinya sebagai pembohong. Kegaduhan seperti ini tidak akan membawa untung bagi siapa pun, kecuali pemilik media gossip yang oplahnya meningkat. Margaret–disarankan oleh putrinya–membawa kasus ini ke ranah hukum.

Dan lagi, topeng persona dikenakan Walter di hadapan hakim yang mulia serta para juri di sidang pengadilan. Walter dengan rasa percaya diri yang tinggi menjalani sidangnya tanpa pengacara. Hakim yang baik, yang menginginkan kebenaran, akan melampaui lapisan topeng apa pun yang dikenakan terdakwa. Mulut yang tersenyum dan berceloteh sudah tidak ada artinya lagi di sidang yang terhormat ini. Hakim menyuruh sepasang suami istri yang berseteru itu–Margaret dan Walter–menunjukkan kemampuannya masing-masing dalam melukis. Segeralah terungkap bahwa Walter tak pernah bisa menggoreskan warna. Maka segala pengakuannya yang muluk-muluk, yang katanya pernah belajar di Beaux-Arts, Paris, terbukti tak punya dasar faktual. Apa lagi nama besarnya sebagai pelukis the lost children with the big eyes.

Akhir dari konflik ini adalah bercerainya pasangan Keane itu. Sementara Walter tidak pernah mau mengakui penipuannya, ia tetap tak bisa menunjukkan satu pun karya yang baru. Ia menjalani sisa hidupnya sebagai orang yang bangkrut hingga kematiannya–sebuah imbalan yang sepadan untuk sebuah keserakahan. Sedang Margaret memperoleh kembali kehidupannya yang bahagia bersama suami lain, dan tetap setia dengan dunia lukis.

***

Lewat film berjudul Big Eyes ini mata penonton diajak untuk terbuka lebar-lebar atas setiap karya lukis yang dilihatnya. Benarkah itu hasil kerja keras orang yang tengah tersenyum lebar mengakuinya? Atau jangan-jangan ada tangan lain yang sesungguhnya bekerja di sana?

Film berdasar kisah nyata ini membintangkan Christoph Waltz sebagai Walter Keane, dan Amy Adams sebagai Margaret. Christoph Waltz sekali lagi memukau penonton lewat aktingnya. Perannya sebagai Walter berhasil membuat penonton geram terhadap karakter yang dimainkannya itu. Sebelumnya, peran antagonis yang ia mainkan di film Inglourious Basterds–sebagai kolonel SS, Hans Landa–mengagetkan jagad perfilman. Ternyata dunia memiliki aktor sehebat itu. Di mana saja sebelumnya? Kenapa Mr. Waltz seolah tiba-tiba muncul setelah umur paruh baya?

Amy Adams juga cukup luwes bermain peran sebagai pelukis; tidak mengecewakan. Saya berkali-kali menyaksikan akting yang canggung dalam adegan menggoreskan kuas pada kanvas. Tidak jarang pula tampak adanya tangan pengganti untuk adegan ini di film-film lain. Tapi rupanya tangan pengganti di dunia sinema beda urusan dengan dunia lukis. Sebuah lukisan yang di dalam prosesnya melibatkan tangan lain (artisan) di samping tangan seniman aslinya, mestinya dinyatakan sebagai karya kolaborasi–sebagaimana juga dalam dunia sastra. Sedang jika penyandang nama (credit taker) ternyata tak sedikit pun berpartisipasi di dalam proses melukis itu, maka itulah kejahatan seperti yang dilakukan oleh Walter Keane. Di Indonesia, berdasar pasal 380 KUHP, tindakan seperti ini dianggap sebagai perbuatan curang dan dapat dikenai hukuman penjara maksimal selama dua tahun delapan bulan.

Seni itu bertitik berat pada proses, bukan hasil semata.

Dari film yang disutradarai Tim Burton ini kita bisa belajar mengidentifikasi penipu di sekitar kita. Adegan dan dialog yang dilakoni tokoh bernama Walter Keane mewakili ciri-ciri yang perlu kita kenali. Namun terlepas dari semua itu, ada inspirasi yang bisa diambil dari tokoh antagonis ini, yaitu usahanya untuk membawa konten karya lukis ke publik melalui reproduksi berupa poster. Tidak ada yang salah dengan tindakan ini, hanya saja kredit dan royalti tetap harus diberikan kepada pelukis yang sesungguhnya. Sedang Walter Keane mengambil semuanya dari yang berhak, dari Margaret.

Plagiarisme adalah masalah klasik dalam dunia seni, namun agaknya tak kunjung usang juga.

Titik Balik

Tampaknya tak ada yang bisa membuat Benjamin Mee merasa cemas. Semua tantangan dan petualangan ia sambut dengan gembira. Ia merasakan adanya kenikmatan ketika memapar diri ke tengah bahaya. Dan demi itu, ia harus mengabaikan banyak hal; keluarganya, masa depan mereka, termasuk masa depannya sendiri. Sampai ketika suatu peristiwa tak terduga terjadi, ia harus tergagap-gagap menyambut perubahan. Istrinya mati muda, meninggalkannya beserta dua anak mereka.

Duka yang membuntuti berpengaruh pada kinerja Benjamin. Perusahaan tempat ia meniti karir dan mendapatkan petualangan memutuskan untuk tidak mempekerjakannya lagi. Putra sulungnya yang menginjak usia remaja dan sudah berpikir kritis tidak mudah diajak bicara, karena selama ini mereka berdua memang jarang bertemu. Sang ayah lebih sering meninggalkan rumah. Sedang si putri bungsu masih lebih mudah dikendalikan, karenanya gadis kecil ini justru mempunyai kuasa lebih besar untuk mempengaruhi keputusan-keputusan ayahnya. Termasuk salah satunya adalah keputusan untuk berpindah rumah, meninggalkan rumah lama yang tetangganya suka gaduh itu.

Rumah di luar kota yang hendak mereka beli ternyata bukan sekedar tempat tinggal, tapi sebuah komplek kebun binatang yang tak beroperasi lagi. Jika Benjamin benar-benar membelinya, itu berarti ia bertanggung jawab untuk menghidupkan kembali kebun binatang itu dengan sisa koleksi satwa dan kru yang masih bertahan. Tanggung jawab–apa pun bentuknya–nyaris tidak ada dalam kamus kehidupan Benjamin. Ia berniat untuk membatalkan keputusan membeli kebun binatang itu ketika putrinya tampak riang bermain-main bersama kerumunan burung merak. Pemandangan menggemaskan itu akhirnya memaksa Benjamin untuk menyambut sebuah tanggung jawab besar.

Mengelola kebun binatang sama sekali hal baru bagi Benjamin. Ia tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Jika ada kesamaan antara pekerjaan barunya dengan kebiasaan lama hanyalah rasa petualangan, yaitu menempuh proses tanpa pengetahuan pasti tentang apa yang bakal dijumpai. Terikat di satu tempat juga bukan kesukaannya. Belum lagi perlawanan putra sulung yang merasa diabaikan dan dipisahkan dari teman-teman lama di kota. Jika semua itu belum cukup menyempurnakan masalah, masih ada lagi kerepotan dari seorang birokrat yang sangat cerewet soal teknis perkebunbinatangan. Standar minimum yang ditetapkan undang-undang tak mungkin dipenuhi oleh Benjamin yang hanya punya dana cekak.

Kisah nyata ini diangkat ke layar lebar, dengan tokoh utamanya diperankan oleh aktor Matt Damon. We Bought a Zoo, demikian judul film ini, berakhir dengan cerita bahagia. Kebun binatang itu berhasil dihidupkan kembali dengan memenuhi standar yang ditetapkan, dan diberi nama Dartmoor Zoological Park. Masyarakat berbondong-bondong bertandang di hari pembukaan. Bahkan sebelum kredit akhir muncul di film itu, dituliskan bahwa kebun binatang Dartmoor sempat memperoleh penghargaan sebagai kebun binatang dengan sistem terbaik, dan dikagumi di seluruh dunia. Prestasi ini mengejutkan, mengingat Benjamin tidak memiliki dasar pengetahuan tentang manajemen maupun zoologi, apalagi rasa suka.

Titik perubahan tergambarkan dari bagaimana putri bungsu tampak sangat menyukai hidup di tengah-tengah satwa, sementara Benjamin menyadari sisa hidupnya adalah bagi kedua anaknya, bukan untuk dirinya sendiri lagi. Berkat kesadaran ini ia bersedia bersusah payah mengikuti kesenangan putrinya. Sedang perubahan pada putra sulung yang sempat memberontak adalah dengan menemukan kenyamanan dalam lingkungan barunya, yaitu teman gadis yang sangat perhatian, dan karya sketsanya, berupa gambar wajah harimau, dipilih Benjamin untuk dijadikan logo Dartmoor Zoological Park. Remaja laki-laki itu merasa sangat dihargai.

Masalah dana yang sebelumnya membelenggu, terurai dengan ditemukannya simpanan uang pada tabungan mendiang istri. Inilah keberuntungan Benjamin terbesar dalam menikahi istrinya. Jalan hidupnya selama ini sesungguhnya rapuh. Ia teledor dalam berbagai hal karena menghabiskan waktu untuk petualangan. Sang istri yang menyadari betul potensi petaka dalam rumah tangganya segera mempersiapkan perahu sekoci untuk penyelamatan di hari naas. Tapi sayang, perempuan cerdas itu harus lebih dahulu meninggalkan bahtera kehidupan, yang justru mengantar suaminya menjadi orang yang lebih baik.

***

Terperosok ke dalam lingkungan kerja yang baru, tanpa diharapkan, tanpa rasa suka, tanpa dasar ketrampilan maupun pengetahuan, inilah masalah terbesar bagi Benjamin Mee dalam film We Bought a Zoo ini. Entah diakui atau tidak, kita barangkali juga pernah–atau malah sedang–berada dalam situasi yang sama. Tapi Benjamin berhasil melewati masalahnya. Ia mengalami titik balik di mana ia menjadi terpikat oleh pekerjaan barunya itu, dan kemudian bersedia menguasai segala pengetahuan yang diperlukan. Lebih dari itu, ia bahkan meraih prestasi di sana. Sedangkan kita mungkin belum cukup meyakinkan diri bahwa titik balik bakal mendatangi kita juga. Ketidakyakinan ini membuat kita menyerah sejak dari awal; menghindari satu jenis pekerjaan semata-mata karena tidak suka.

Setiap orang tentunya mengharapkan jalan hidup yang mudah, pekerjaan yang menyenangkan, sesuai hobi, memikat sejak dari kesan pertama, dan mendapat bayaran yang banyak. Itu adalah mimpi, dan kita berhak punya mimpi. Tapi mimpi juga sering memaksa datang ke dalam tidur tanpa diharapkan, lalu membuat hidup resah sepanjang hari. Pada saat kita bermimpi, kita sebenarnya sedang kehilangan diri. Pikiran mengkhianati badan dengan berkelana di tempat lain, meninggalkan kenyataan yang dihadapi.

Benjamin Mee, sejak kematian istrinya, terbangun dari mimpi petualangannya. Ia dipaksa menghadapi kenyataan, bahwa ia punya dua anak yang harus dibesarkan. Ia memutuskan untuk lebih mendengarkan anaknya, alih-alih tetap bertahan mencari petualangan di luar sana. Dan ia juga menyambut keterikatan pada sebuah tanggung jawab untuk menghidupkan kebun binatang yang nyaris tutup itu. Keputusan-keputusan ini sebenarnya di luar kesukaan dia. Tapi ia bersedia berpisah dari kesukaan, dan lalu memeluk kenyataan, yang meski baginya getir.

Di masyarakat Jawa ada ungkapan witing trisnà jalaran sàkà kulinà. Rasa suka tidak mesti datang sejak dari mula, tapi terbangun perlahan-lahan bersama proses panjang. Dalam proses itu, satu per satu kesenangan ditemukan, dan kemudian ditegaskan lagi dengan pikiran. Dalam teori psikologi, mungkin ini termasuk mekanisme pertahanan diri yang disebut reaction formation, atau pembentukan reaksi. Ego yang terhimpit tuntutan super-ego akhirnya membuat keputusan untuk menuruti saja tuntutan itu, hanya saja–dalam konteks ini–dengan sikap positif. Sehingga lambat laun, apa yang semula dirasa membebani akhirnya dirasa menyenangkan.

Kebanyakan dari kita, berakhir di tempat kerja yang sekarang ini–entah sebagai karyawan, buruh, guru, dll.–pada mulanya bukan karena cita-cita. Kita bekerja di suatu tempat sering kali bukan karena kita mengidam-idamkannya sejak masih kecil. Mungkin dulu kita bekerja hanya karena untuk menghentikan tangis anak-anak dan omelan istri. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang salah, menurut saya, adalah ketika kita sudah bekerja dan mendapat bayaran, kita tidak kunjung mencintai pekerjaan itu, dan masih saja membiarkan mimpi menyandera kesadaran. Sedangkan titik balik bakal datang setelah adanya kesadaran itu.

Benjamin Mee membuktikan, bahwa melewati rasa tidak suka yang sudah menghadang sejak di depan, menyadari dan memeluk kenyataan, pada akhirnya memberi dia kebahagiaan dan prestasi.

Karaboudjan

Nama yang terdengar merdu itu tertulis dengan huruf kapital pada lambung kapal yang megah; mudah terbaca dan menggambarkan kebanggaan sang kapten atas apa yang dipimpinnya. Kapal itu sendiri tampak anteng, tak bergolak oleh debur ombak, dan tak berhasil merebut perhatian dari hiruk-pikuk pelabuhan serta cecuit burung camar. Tapi di balik ketenangannya, sebuah drama pemberontakan tengah terjadi. A mutiny.

Kapten kapal yang gemar mabuk telah dilumpuhkan dan dikurung di dalam palka; sendirian dan frustrasi. Sementara pimpinan pemberontak sudah siap membawa kapal itu pada perjalanan yang tak terjadwal, yang akan mengawali petualangan panjang hingga benua seberang. Semua rencana tinggal dijalankan untuk sebuah tujuan jahat, kecuali bahwa seorang wartawan muda berambut kuncung, ditemani anjing kecil berjenis terrier, bakal menggagalkan semuanya.

Dalam versi komik dan film animasi serialnya, petualangan Tintin di atas ada di bawah judul Kepiting Bercapit Emas, atau The Crab with the Golden Claws. Ini adalah episode–yang masih berangkai dengan dua episode berikutnya–yang membawa perkenalan pertama saya dengan tokoh Tintin, lewat buku komik yang dipinjam oleh kakak saya dari temannya. Dan setelah menyaksikan keseluruhan episode dalam bentuk film serialnya beberapa tahun kemudian, saya dapati Kepiting Bercapit Emas adalah yang paling menarik; adegannya seru, alurnya cepat, dan setting-nya kaya.

Ketertarikan saya pada episode ini agaknya tidak sendirian. Steven Spielberg memilihnya untuk dibuat ulang dalam bentuk layar lebar, di mana ceritanya sekaligus menggabungkan tiga episode yang berangkaian, yaitu bersama The Secret of the Unicorn, dan Red Rackham’s Treasure. Menyaksikan kisah ini lagi, dalam versi layar lebar dengan teknologi animasi yang jauh lebih canggih, serentak menjadi nostalgia. Dan setiap nostalgia punya nilai meraih kembali konteks kemasaduluan, yang masih serba terbatas dalam pengetahuan. Saat dulu itu, ketika sebuah buku komik menghadirkan wajah-wajah belahan dunia lain kepada seorang anak yang terisolir dari sumber informasi, yang lebih hadir padanya adalah imajinasi, bukan afirmasi.

***

Setelah bertolak dari pelabuhan itu–yang bisa diasumsikan berlokasi di Belgia–kapal Karaboudjan mengalami kehebohan dalam pelayarannya di tengah lautan. Sang kapten yang tersandera berhasil meloloskan diri bersama Tintin dan anjingnya dengan menggunakan kapal sekoci. Upaya pengejaran oleh pemberontak dengan pesawat justru memberi ketiga jagoan itu alat transportasi baru. Perjalanan Tintin berikutnya, yang menggunakan pesawat itu, juga diwarnai ketegangan. Pesawat dipaksa menembus badai, dan akhirnya mendarat dengan sangat tidak layak di gurun Sahara. Latar cerita segera berpindah di lokasi dengan kondisi geografis dan budaya berbeda.

Di Maroko, tak jauh dari gurun tempat Tintin dan sang kapten terdampar, kapal Karaboudjan berlabuh. Namanya telah diganti dengan nama lokal; tertulis besar di lambung kapal. Tapi, selang beberapa hari kemudian, sang kapten yang mendapati kapal itu tertambat di pelabuhan segera bisa mengenalinya, semudah ia sendiri bisa dikenali lewat sumpah serapahnya; “Sejuta topan badai! Itu kapalku!”

Ini soal esensi yang bertahan dalam kulit eksistensi yang dipaksa berganti. Perubahan pada tampilan luar tak cukup berhasil merubah apa yang ada di dalam; “Kau masih yang dulu.” Beda dari sebaliknya, yaitu ketika esensi itu yang diganti, walau kulit eksistensinya dipertahankan, semua akan ikut berubah. Misal, jika sang kapten menjual Karaboudjan kepada perompak, maka semua atribut Karaboudjan beserta seluruh struktur dan awak kapal yang masih sama tak akan lagi sanggup memaksa dua mata sang kapten untuk melirik, “Sudah bukan yang dulu lagi.”

***

Karaboudjan dan kaptennya adalah hubungan esensial yang tak terpisahkan, meski sudah dipaksa lewat pemberontakan.

Yang Tak Berhak

Penonton bersorak riuh, terpukau, nasionalisme mereka membuncah. Dengan sisa pemain tetap bertahan di panggung, mereka menuntut ditampilkannya sosok sang penulis, sosok yang layak dipuja-puja untuk karya drama seagung itu. Penulis yang asli tak akan pernah menunjukkan diri; ini soal pertarungan politik, ia harus tetap tersamar. Dalam ketidaksabaran penonton, William Shakespeare menyeruak dari belakang panggung, membentangkan tangan yang memegang lembaran naskah dan pena bulu, dengan sedikit noda tinta di jarinya. Ia lalu menikmati semburan pujian–yang penuh keraguan–dari kerumunan di bawah sana.

Film berjudul Anonymous yang memuat adegan di atas diawali dengan monolog yang menjadi semacam peringatan bagi pemirsa bahwa film ini bakal membongkar fakta yang mengagetkan banyak orang. Kemegahan nama Shakespeare, yang begitu lekat dengan kisah Romeo and Juliet, di sini tiba-tiba runtuh menjadi seorang oportunis yang tidak mempunyai kompetensi. Ia digambarkan hanya sebagai seorang aktor drama yang setengah buta huruf; bisa membaca tapi tak bisa menulis. Ia bahkan sempat mengotori tangannya dengan darah karena popularitas palsunya terancam dibongkar. Dan untuk popularitas itu pula ia menuntut bayaran kepada orang yang telah meminjam namanya. Sisa hidupnya pun–disebutkan dalam epilog–ia jalani bukan sebagai seniman teater ataupun penulis, melainkan pedagang.

Lalu, drama-drama memukau itu, siapa punya kuasa atasnya?

Di balik karya-karya besar itu adalah kisah hidup yang rumit, penuh intrik, pengkhianatan, perselingkuhan, dan bahkan perkawinan sedarah. Edward De Vere, bangsawan di Oxford, sejak kecil diasuh oleh William Cecil yang puritan dan mengharamkan karya sastra. Tapi ada darah seniman mengalir pada diri Edward, entah dari siapa, sehingga larangan pun tak menahannya dari kreativitas. Konflik dengan ayah asuh berlangsung lama, hingga puncaknya, Edward dipaksa menikah dengan putri ayah asuhnya itu. Menderita dengan pasangan yang tidak ia cintai, karena serasa adik sendiri, Edward merayu sang Ratu, yang sama-sama menggemari dunia sastra. Perselingkuhan mereka ini menghasilkan seorang putra.

William Cecil, sang ayah mertua, memiliki rencana politiknya sendiri, yaitu mempersiapkan Raja James dari Skotlandia untuk kelak menggantikan sang Ratu. Edward yang mengetahui ini melakukan perlawanan, bukan dengan pedang melainkan kata-kata. Ia ciptakan tak sedikit naskah drama untuk dipentaskan di panggung teater kota, agar disaksikan banyak warga dari kelas menengah. Dalam drama itulah ia sisipkan propaganda yang mengikis kehormatan para lawan politik di mata rakyat. Untuk itu ia perlu seseorang yang bersedia menyandang nama bagi karya-karyanya, agar cerita dalam drama itu seolah dari kehendak rakyat adanya. Penyandang nama ini semula dipercayakan pada Ben Jonson, penulis berbakat yang dramanya sudah banyak dipentaskan, sebelum tiba-tiba William Shakespeare merebut posisi membanggakan itu. Namun demi keberhasilan rencananya menjadikan karya sastra sebagai senjata politik, Edward terpaksa membiarkan William Shakespeare terus memegang kredit atas karya-karya berikutnya.

Menjelang akhir cerita diketahuilah dari mana Edward mewarisi darah senimannya. Dengan ekspresi sedih, menyesal, tak percaya, dan mungkin jijik, ia sadari bahwa Ratu Elizabeth yang pernah ia cumbui, yang sama-sama penikmat drama itu ternyata ibunya sendiri. Dan kesadaran ini terjadi setelah upaya perlawanan politiknya melalui sastra itu kandas semua. Tak ada lagi yang tersisa, kecuali dua hal: anak haramnya diampuni dari hukuman mati, dan nama William Shakespeare tetap melekat pada seluruh karya Edward De Vere.

***

Drama-drama tragedi yang kadung kita kenal sebagai buah karya William Shakespeare ternyata–menurut versi film Anonymous ini–membawa kisah tragedinya sendiri. Di samping dilatarbelakangi kehidupan yang suram, karya itu juga dilekatkan pada nama seseorang yang tak memiliki bukti kemampuan untuk mencipta. Terlepas dari kontroversi yang mungkin terjadi, setidaknya ini sekarang menyentak pikiran kita lebih jauh. Dalam dunia lukis bisa saja ada kejadian yang sama. Mungkin beberapa lukisan yang pernah kita lihat tidak sesungguhnya dilukis oleh ia yang membubuhkan tanda tangan di sana. Mungkin nama yang tertulis kecil di pojok bawah lukisan itu dibuat oleh seorang pencari untung yang ingin ikut merasakan kehormatan dan kebanggaan dari akhir suatu proses penciptaan, namun tanpa susah payah usaha letih untuk menguasai keterampilan artistiknya.

Satu-satunya upaya pembuktian, selagi si penyandang nama masih bisa dijumpai, seperti yang dilakukan Ben Jonson terhadap Shakespeare adalah memintanya untuk mendemonstrasikan ketrampilan artistik itu, dengan disaksikan orang banyak. Kegagalan untuk membuat karya yang setara kualitasnya dengan yang sudah diaku, adalah bukti kepalsuannya.

Inner Peace

Kung Fu Panda 2
Berhasil menjadi pendekar naga bukan berarti Po selesai dalam belajarnya. Hidup masih berlangsung, masih banyak yang mesti dipahami dan dilakukan. Kali ini Po harus belajar dan berjuang mengalahkan musuh terbesarnya: dirinya sendiri.

Po adalah pendekar yang periang; perwujudan kontras dari gurunya yang anteng dan pendiam. Ia gemar menari-nari, bercanda, atau berpolah jenaka. Tapi di balik keriangannya itu ternyata tersimpan kecemasan dahsyat yang mengintai, yang bisa muncul setiap saat untuk merenggut senyum dari wajahnya.

Saat Po membela desanya dari gerombolan perampok, Po secara tak sengaja dalam waktu sekejap melihat gambar pada atribut yang dikenakan perampok. Gambar itu berupa lingkaran merah berlapis dengan garis-garis di luarnya yang tegak lurus terhadap pusat lingkaran, seperti gambar mata yang melotot lebar lengkap dengan bulu-bulunya. Entah bagaimana, Po tiba-tiba kehilangan fokus pikirannya, dan akibatnya ia gagal membela harta benda milik desa dari perampokan. Ada perasaan cemas yang seketika menghunjam di rongga dada Po, yang diantar oleh gambar itu dari masa yang sangat lalu.

Po menyadari ada misteri pada diriya yang harus diungkap, ada masalah kejiwaan yang mesti dituntaskan.

Peristiwa di masa balita sedikit, atau hampir tidak ada, yang masih bisa diingat oleh kebanyakan manusia. Kita tidak tahu lagi bagaimana pengalaman kita dulu saat menyusu pada ibu, atau meringkuk dalam pelukannya. Tapi kita tahu ada perasaan yang masih tersisa dari pengalaman itu; rasa nyaman atau terlindungi setiap kali bersama ibu. Rasa nyaman dan rasa terlindungi ini adalah pengalaman yang mengendap dalam alam-bawah-sadar, yang bekerja dalam jiwa kita tanpa kendali kesadaran. Ia menyundul-nyundul perasaan, hingga akhirnya kita berupaya melakukan penyelidikan dari perasaan itu, baru kemudian tahu dari mana datangnya.

Rasa cemas yang tiba-tiba menyergap Po hingga melumpuhkan daya nalarnya tidak diketahui dari mana datangnya. Hanya diketahui bahwa sebuah gambar simbol sederhana menyebabkan semua itu. Sementara sekian banyak gambar lain tidak menimbulkan efek yang sama. Gambar mata merah itu menyusup ke dalam alam-bawah-sadar Po, dan mengakses pengalaman buruk di masa lalu yang sudah terlupakan. Pengalaman buruk itu bagaimana tepatnya belum diketahui, tapi efek rasanya sudah lebih dulu muncul. Yang perlu dilakukan Po adalah menyelidiki pengalaman buruk apa yang terjadi di masa lalunya itu.

Setelah proses penyelidikan yang seru dan penuh petualangan serta pertarungan, Po akhirnya tahu bahwa gambar itu adalah simbol yang dibuat oleh seorang penjahat politik yang telah memusnahkan seluruh ras Po. Waktu itu Po masih bayi yang baru merangkak. Oleh kedua orang tuanya, ia dibawa lari untuk diselamatkan dari pembantaian. Dalam gendongan erat orang tuanya, Po sempat melihat pada setiap batang pohon di hutan itu terlukisi gambar mata berwarna merah, yang adalah logo dari rejim pembantai itu. Setelah pelarian yang melelahkan, orang tua Po menyerah. Tapi Po berhasil disembunyikan di suatu tempat, hingga terdampar di rumah penjual mi, dan lalu diadopsi. Dengan demikian diketahui pula bahwa ayah Po selama ini, pria tua baik hati yang bekerja di warung mi itu, bukanlah ayah kandungnya.

Agaknya, pengetahuan dari hasil penyelidikan itu menambah beban perasaan bagi Po. Untuk itulah gurunya, Master Shifu, mengajarkan ilmu kedamaian batin, atau inner peace.

Fakta bahwa ayahnya bukanlah ayah kandung, dan kemungkinan ayah kandung serta ibu kandung telah lama tewas di tangan penjahat, bagi Po terasa seperti kerikil dalam sepatu, atau debu di bola mata (klilip). Beban-beban jiwa itu, entah yang masih dalam alam-bawah-sadar, insting, ataupun yang telah disadari harus dibuang untuk meraih kedamaian. Proses pembuangannya membutuhkan saluran, yang disebut katarsis. Oleh Master Shifu, katarsis itu dipilihkan dalam bentuk sikap yang lentur seperti air, dinamis mengikuti keadaan, bersahabat dengan kenyataan.  Sebagaimana yang diajarkan oleh Lao Tzu pada abad keenam S.M.

Dengan mematuhi ajaran gurunya, Po dapat menerima ayah angkatnya yang berbeda ras itu sebagai ayah kandungnya sendiri. Kemajemukan dalam keluarga ia sadari sebagai keindahan. Po berhasil menang atas dirinya sendiri.

Sementara, jauh di kaki langit sana, ada seorang pria tua yang merasa bangga dengan tindakan putranya.

Bertahan

Penyesalan Letnan Kolonel Frank Slade pastilah tak tertanggungkan akibat kelakuan gila-gilaannya meledakkan granat cahaya di depan muka sendiri. Penglihatannya kian buruk, karir militernya berakhir, sedang umurnya belum terlalu tua untuk menjadi purnawirawan. Apa lagi yang bisa ia kerjakan di sisa hidup yang masih panjang itu, sebagai tuna netra?

Ia berencana untuk bunuh diri.

Tapi sebelum hari yang ia pilih, ia perlu mengerjakan beberapa PR hidup yang belum tuntas. Ia hendak merasakan kenikmatan duniawi untuk terakhir kalinya sebagai salam perpisahan. Uang tabungannya sanggup untuk memenuhi harga yang mesti dibayarkan. Pertanyaannya, bagaimana ia bisa melakukan itu dengan dua mata yang tak berfungsi? Ia perlu seorang asisten yang mesti mengantarnya menuntaskan PR itu.

Seorang pelajar SMA yang mendapat libur dari sekolah menerima pekerjaan itu demi bekal untuk biaya mudik. Tugasnya tidak terlalu sulit, hanya memastikan sang Kolonel tidak kerepotan membawa diri. Ia justru mendapat sesuatu yang lebih dari pria paruh baya itu: kawan diskusi yang unik untuk permasalahan yang menunggu di kampus sekolah.

Tiga hari waktu yang dibutuhkan sang Kolonel untuk bersenang-senang. Menginap dalam presidential suite di sebuah hotel berbintang di kota New York, menyewa limousine lengkap dengan sopirnya, menemui famili yang lama tak diajak bicara, berdansa tango dengan gadis asing yang tak sengaja dijumpa, mencumbui kekasih lama, dan yang paling gila adalah kebut-kebutan di gang-gang sepi kota dengan mata buta, dengan mobil Ferrari yang disewa dari sebuah dealer mobil lewat pramuniaga yang cemberut muka. Polisi yang akhirnya datang menghentikan tak pernah tahu jika si pelanggar itu tidak sanggup menatap balik pandangannya.

Kolonel Slade merasa puas dengan PR yang tuntas. Saatnya telah tiba. Seragam perwira militer dikenakannya, dan pistol kaliber .45 diisi dengan peluru seperlunya. Tinggal menarik pelatuk dengan moncong dilekatkan di kepala, selesai semua derita.

Tapi bocah itu menjadi penghalang. Remaja pria ini tak sanggup melihat darah mengucur di depan mata, dan kemungkinan dijadikan tersangka. Ia harus bergumul dengan orang yang sudah putus asa itu, menaklukkan hasrat yang menyeruak di luar nalar. Ia mesti mengantar logika kembali menuju saluran yang dilewati oleh insting kematian. Ia berikan alasan mengapa hidup masih baik bagi sang Kolonel untuk dilanjutkan, meski harus dilewati dengan kegelapan. Alasannya sederhana: karena sang Kolonel bisa berdansa tango, dan mengendarai Ferrari dengan sangat piawai.

Tapi sungguhkah dua alasan itu sesederhana tampaknya?

Keputusan Frank Slade untuk bunuh diri mengisyaratkan adanya kecemasan akan derita dalam hidup jika dilanjutkan. Derita yang dicemaskan itu kemungkinan muncul karena hasrat-hasrat tidak bisa dipertemukan dengan pemenuhnya karena kendala inderawi, sebab matanya tidak berfungsi. Dan baginya mengakhiri hidup berarti mengakhiri derita, sebab dalam kematian hasrat tidak ada lagi. Bukankah hasrat itu tumbuh dari tubuh yang hidup?

Lalu ada apa dengan dansa tango dan mengendarai Ferrari? Mengapa keduanya praktis membunuh hasrat kematian Frank?

Freud merumuskan bahwa insting hidup didominasi oleh hasrat seksual. Dengan hasrat seksual manusia bisa mempertahankan keberadaannya sebagai spesies. Hasrat seksual ini oleh ego diupayakan untuk bertemu dengan objek pemenuh yang real, berupa orang lain dari lawan jenis. Ketika Frank Slade diberi tahu bahwa ia masih bisa berdansa tango, ia sadar bahwa hasrat seksualnya masih mungkin terpenuhi. Dalam pengalaman sebelumnya, ia berhasil memikat seorang gadis muda cantik, yang beraroma wangi dan sudah punya pacar, untuk berdansa bersama. Pengalaman itu menunjukkan bahwa Frank masih mempunyai kemampuan dan kesempatan membangun hubungan asmara dengan perempuan, yang merupakan objek rasional dari hasrat seksualnya.

Selain hasrat seksual, Freud juga menyebutkan hasrat makan sebagai bagian dari insting hidup. Dengan hasrat makan manusia mempertahankan keberadaannya sebagai individu. Hasrat ini oleh ego dipenuhi dengan objek real berupa makanan. Tapi masalah yang dicemaskan oleh Frank adalah dengan kendala visualnya dia akan sulit untuk menjumpai makanan. Kehidupan modern di Vermont, Amerika Serikat–sebagaimana di tempat lain–ditandai dengan pembagian fungsi-fungsi sosial yang tegas. Pembagian fungsi ini mengisyaratkan satu individu untuk menekuni satu fungsi sosial saja, atau satu bidang pekerjaan saja. Untuk dapat menikmati fungsi lain yang bukan bidangnya, seseorang perlu memiliki alat tukar berupa uang. Dan uang adalah yang dibutuhkan Frank untuk berjumpa dengan makanan. Sedang uang itu sendiri diperoleh dari menjalankan fungsi sosial tadi. Artinya, Frank harus memiliki pekerjaan untuk bisa makan selama sisa hidupnya. Yang menjadi kecemasannya adalah, bagaimana ia dapat bekerja dengan kondisi tuna netra? Mengendarai Ferrari dengan sangat piawai tanpa kemampuan melihat itulah jawaban dari kecemasan itu.

Dansa tango dan mengendarai Ferrari adalah simbol dari upaya ego untuk memenuhi hasrat seksual dan hasrat makan. Keduanya adalah perwakilkan dari objek pemenuh insting hidup, yang ketika dikemukakan dalam kesadaran menyebabkan insting kematian tersingkir. Eros menang atas Thanatos.

Frank Slade pada akhirnya dapat bersahabat dengan kebutaannya. Ia mungkin seperti seseorang yang baru saja terlahir kembali. Dan dalam kehidupan barunya ia mengawali tindakan heroik balasan dengan membebaskan bocah itu dari ancaman institusi sekolah yang akan mengetok palu drop-out. Di sana pula Frank menjumpai seorang perempuan beraroma wangi yang diam-diam mengaguminya.

Malena, Derita Sempurna

Perempuan tercantik di desa pesisir itu pada puncak penderitaannya harus menerima siksaan fisik dan dipermalukan di depan orang banyak. Mengapa? Apakah ia telah berdosa kepada orang-orang itu secara sengaja yang mengakibatkan kerugian tak terbayarkan? Ataukah ia telah melakukan perbuatan yang tak dapat diterima oleh lingkungan barunya?

Malena, yang nama lengkapnya Maddalena Scordia ini, mulai dihampiri penderitaan ketika suaminya, Letnan Nino Scordia, harus mengabdi pada negara, meninggalkannya demi tugas militer pada Perang Dunia II. Tinggal di rumah suami dalam lingkungan yang belum dikenal membuatnya benar-benar merasa terasing. Hanya ada satu keluarga yang sama-sama tinggal di desa itu, yaitu ayahnya yang nyaris tuli tapi masih mengajar di sebuah sekolah menengah, dan tinggal di sisi lain dari desa itu, jauh dari kediaman Malena yang berada di bibir pantai laut Mediterania.

Derita dalam kesendirian ini sama sekali tak mengundang simpati dari orang-orang desa. Hanya ada dua sikap jelas tertuju pada Malena: hasrat untuk mengeksploitasi secara seksual, yang diwakili oleh kaum pria; dan kebencian yang lahir dari rasa iri atas kecantikan yang tak berpadan, tentu saja dari pihak perempuan desa.

Sikap buruk itu kian meruncing setiap kali Malena harus melintas di tengah keramaian, di mana kecantikannya terpapar nyata. Sementara ia sendiri tak sedikit pun bermaksud memamerkan kelebihan itu, menggoda kaum pria, ataupun menghina perempuan desa yang kalah cantik darinya. Malena sendiri punya masalah dalam hidup, punya urusan untuk diselesaikan, untuk apa menambahnya dengan semua kerepotan tadi?

Keributan yang kemudian muncul bukan bersumber dari Malena, melainkan masyarakat yang hanya bisa menyangka bahwa Malena berbahagia dalam hari-harinya. Namun siapa yang mau mengerti derita perempuan cantik itu? Malena harus sendirian menanggung kesunyian dan bahkan kelaparan. Ia terseok-seok dalam upaya bangkit dari derita, tanpa ada yang bersedia menjadi tangan ke tiga. Upaya itu gagal. Ia bahkan kian terpuruk, justru disebabkan oleh kelakuan orang-orang yang seharusnya datang menolong.

Dalam penderitaan yang tak bertara, dan diperparah oleh kecamuk perang, kematian ayah akibat bombardir sekutu, serta kabar buruk tentang kematian sang suami –yang ternyata membungahkan hati kaum pria, Malena membuat keputusan radikal. Ia mengamini suara-suara sinis dari perempuan-perempuan desa yang menghujatnya. Ia menceburkan diri dalam kenistaan, toh selama ini ia–yang sebenarnya baik-baik saja–sudah dianggap nista. Ia lalu berkencan dengan tentara Jerman yang masih bercokol di pulau Sisilia itu. Hidupnya mulai membaik, perut laparya sudah terganjal makanan, dan senyum ceria pun terlahir di bibir sensualnya. Semua ini adalah hasil dari usahanya sendiri, tanpa uluran tangan dari siapa pun.

Tetapi kebahagiaan itu tak bertahan lama, karena tangan-tangan perempuan desa sudah gatal untuk mengoyak-koyak tubuh indah Malena. Tepat setelah sekutu berhasil mengusir Jerman dan pendukung Mussolini dari pulau, perempuan tercantik itu dihakimi, bukan karena ia bersalah, tapi semata-mata sebagai objek pelampiasan dari naluri untuk merusak.

***

Menderita karena dieksploitasi atau sekedar ditelantarkan, berusaha bangkit tanpa bantuan, dan akhirnya dihukum setelah sejenak berbahagia adalah drama pahit kehidupan yang kerap terjadi di muka bumi, tak hanya di pulau Sisilia, tapi dalam setiap lingkungan sosial di mana hipokrisi masih dibiarkan bercokol. Sementara terlihat jelas, hipokrisi mencegah manusia untuk datang menolong, namun mendorong mereka untuk datang menghukum. Pasti pada akhirnya akan terlahir ‘penjahat’ tak berdosa, yang tak sedikit pun dihargai segala upaya mandirinya.