Hidup Mandiri

Kembalinya Tangan Itu

Dua tanganku sudah meninggalkan badan sejak sebelum terbebas dari kubah ketuban; terlahir dulu dengan terburu-buru. Lalu duka pertama kali dirasakan oleh Ibu; bagaimana kelak dunia bakal menerima? Dengan sedih sesalnya ia berjanji menjadi tangan pengganti.

Tapi Ibu tidaklah bakal selamanya di sisi, seluruh dunia juga mengerti. Maka lama kucari perempuan lain yang menyediakan dua tangannya untukku, selagi Ibu masih ada.

Jangan kau kira pencarian itu mudah; jalannya terjal berliku, kabut menyembunyikan ujung langkah, dan jebakan mengintip di balik tikungan. Sekiranya kau mau percaya, putus asa sempat nyaris menyapa.

Hingga akhirnya titik balik kutemukan lewat kekejaman pada diri sendiri, semacam tekad bahwa hidup tetap sanggup kujalani meski sendiri. Lalu di tempat menetesnya keringat dan air mata terubuslah benih cinta.

Datangnya juga lewat ruang yang tak disangka, meski waktu terbilang sudah terlanjur lama. Namun dengan keterbukaan dan saling menerima semua menjadi sempurna. Waktu pun bicara tentang kesesuaian dengan masa depan. Sehingga masa lalu memang saat untuk berkorban.

Tangan yang dulu hilang, kini telah kutemukan; sedia memenuhi fungsi meski tak menempel di badan. Walau sesungguhnya tak hendak pula maksudku menyandera, tapi saat cinta bicara, badan jiwa sudah tak mendua.

Berpulang Orang Hebat


Gajah mati meninggalkan gading … ~kata pepatah.

“I am always amazed with your art works. I wonder how you’ve made the branches of the trees, so detail,” kata saya pada satu kesempatan di Singapura.

Sebelumnya, waktu itu saya sedang sibuk dengan kuas pada kanvas, melukis model boneka yang disiapkan oleh tutor workshop. Bersama di dalam ruang Gemini di hotel Marina Mandarin itu ada sekitar selusin pelukis tanpa tangan angggota AMFPA lainnya–dari Indonesia dan Filipina–yang juga sibuk melukis.

Lalu seorang pria berkursi roda elektrik, yang jelas tidak berwajah Asia, menghampiri posisi saya, menengok isi kanvas yang saya garap. Saya pun menurunkan kuas agar bisa menyapa dan berkenalan dengan pria itu. Setelah ia menyebutkan nama, betapa terkejutnya saya. Terkejut karena memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pelukis naturalis-realis tanpa tangan–yang menggunakan mulut–yang reputasinya sudah menancap kuat di hati saya.

Ia adalah Trevor C. Wells, dari Inggris, seniman dan anggota pengurus AMFPA Internasional.

Saya sudah lama mengagumi gambar dalam kartu-kartu hasil reproduksi lukisannya, yang selalu tampak cantik dengan ranting-ranting pohon yang dibikin dengan sangat detil. Pantulan objek di atas permukaan air juga begitu hidup. Saya pikir pelukisnya pastilah satu dari seribu orang.

Maka dalam pertemuan yang tak terduga itu, tak perlu ditahan-tahan lagi, saya segera mengungkapkan kekaguman saya pada pelukisnya langsung.

Namun ternyata reputasi sebesar itu ia sikapi dengan rendah hati. Apresiasi saya dijawab dengan humble, “I made the branches of the trees because I cannot paint human.”

Saya kira Mr. Wells pasti bisa melukis orang juga.

Kini saya terkejut lagi. Ia meninggal pada September tahun ini. Setiap kematian orang hebat adalah kerugian bagi penghuni planet ini, sebab tak akan lagi dihiasi oleh karya-karya indahnya.

Selamat berpulang Mr. Wells, semoga jiwamu berbahagia, dan karya-karyamu pasti abadi di hati penikmatnya.


Eskalasi Kesulitan

tdg

Sebelumnya saya sudah merampungkan suatu pekerjaan dengan tingkat kesulitan yang belum pernah saya alami. Ternyata berhasil, dan wujud empirisnya disaksikan banyak orang dengan penilaian positif.

Terus apa?

Saya bisa kembali ke pekerjaan dengan skala kesulitan reguler. Tapi itu saja tidak membuat saya merasa ada perkembangan dalam hidup. Saya akan menantang diri saya sendiri dengan kesulitan yang ditingkatkan.

Jika sebelumnya sulit ada pada detil, sekarang ditambah pada ukuran. Besok mungkin pada aspek lain lagi. Begitu seterusnya. Dan begitulah doktrin profesi saya. Bukan “kalau bisa dibikin mudah, ngapain susah-susah?”

Setiap tantangan itu atas inisiatif saya sendiri, dan saya pula yang harus menuntaskan. Saya perlu tahu sampai batas mana kemampuan ini, sebelum tibanya masa kerapuhan fisik nanti.

Menerima

Lomba gambar tingkat SD sekota madya, didampingi ayahanda, mewakili SD N Kalicacing 2, Salatiga.

Lomba gambar tingkat SD sekota madya, didampingi ayahanda, mewakili kelas 1 SD N Kalicacing 2, Salatiga.

Narasi besar hidup saya bukanlah tentang mimpi dan pencapaiannya, tetapi lebih tentang penerimaan dan kesetiaan dalam berjuang atas yang terberi.

Namun menerima bukan berarti selalu diberi. Saya hafal dan kenyang dengan penolakan. Penolakan pertama yang saya sadari adalah ketika ibu saya duduk berseberangan meja dengan seorang pria yang katanya abdi negara. Ibu saya tak henti merajuk agar anaknya ini diberi kesempatan untuk “mencicipi” suasana kegiatan belajar di Sekolah Dasar yang diwakili pria itu. Pertimbangan Ibu adalah karena dua anaknya sudah belajar di sana, maka biarlah anak ketiganya ini ada teman berangkat dan pulang.

Tapi pria yang tampak berkuasa itu tak sedikit pun tumbuh kepercayaan bahwa perempuan di depannya–yang sudah nyaris tak punya harga diri itu–sebenarnya menawarkan potensi besar. Tiga puluh tahun berlalu, saya belum lupa wajah pria itu.

Pernah saya tulis dalam blog ini, bahwa guru-guru sekolah negeri yang menolak calon murid adalah perwujudan praktis dari penelantaran oleh Negara terhadap rakyatnya. Sekalipun pemerintah pusat tidak bermaksud begitu, tapi keputusan satu oknum di level terendah pun sudah mewakili prakteknya. Maka sudah selayaknya oknum seperti itu dicabut dari tugas-tugas negara.

Jika memelihara yang terlantar adalah kewajiban, maka menyebabkan keterlantaran adalah pelanggaran.

Menerima juga bukan berarti tidak beranjak. Ibu mengajarkan itu secara demonstratif pada saat itu juga. Ia menggendong saya berpindah ke SD lain. Cerita sama berulang, tapi kecewanya tak sebesar sebelumnya. Tidak ada kakak yang dipisahkan, tak ada kebersamaan yang diceraikan.

Menerima adalah terus mencari hingga bertemu dengan penawaran. Di hari selanjutnya, seorang kepala sekolah menunjukkan betapa kelirunya individu-individu di sekolah lain yang telah menutup pintu buat saya. Penerimaannya ia sampaikan lewat pertanyaan retoris, “Nggak boleh itu kenapa?”

Menerima berarti kemudian memberi. Di satu-satunya sekolah di mana saya bisa mendudukkan pantat itu, saya tunjukkan selama enam tahun bahwa saya bisa mengangkat nama lembaga pendidikan yang rela mengalami sedikit kerepotan.

Menerima itu juga harus berani memilih, yang berarti ada pilihan lain yang tertolak. Saya memilih untuk setia pada karir yang datang sejak awal usia, di tengah berseliwerannya motivasi populer tentang membangun mimpi-mimpi.

Menerima itu terbuka pada kekuatan agung yang tak terjangkau kata-kata, yang terus mengguyurkan keputusan-keputusan indah. Sedangkan mimpi malah sering kali menutup diri dari kekuatan agung tadi, karena mimpi sangat kuat ditunggangi oleh keakuan.

Menerima juga mesti waspada terhadap orang-orang yang datang sambil berlagak seolah sedang mewakili sang kekuatan agung, tapi sebenarnya mengusung agenda egoistiknya sendiri. Karena yang bisa disebut sebagai yang datang dan layak diterima adalah yang dengan cara baik-baik bersama dengan bukti-bukti nyata, bukan dengan paksaan dan tipu daya.

Buat teman-teman yang sedang mengalami kecewa atas penolakan, inilah dinamika kehidupan. Nikmati saja, sebelum berlalu.

Tikungan

Tikungan

Melukis itu seperti menyusuri jalan penuh tikungan. Sebenarnya kita sudah melihat tujuan akhir di sana seperti apa. Tapi panorama luas itu tampak lamat-lamat saja, tak menunjukkan rinci di tiap sisinya. Lalu tikungan di depan sini menyembunyikan perkembangan sambil menyodorkan tebakan tentang keadaan di sebaliknya. Akan ada apa? Apakah jalanannya berubah, apakah bakal lebih sulit, ataukah lebih mudah?

Gambar samar-samar dari hasil akhir sebuah lukisan sudah terlihat di kepala saya sejak goresan warna yang pertama, bahkan sebelumnya. Tapi tidak perlu saya tegaskan dulu detilnya dalam imajinasi. Biar tiap goresan kuas yang mengambil peran itu, seperti tiap langkah yang mengantar kita menemui ruang di balik tikungan.

Sering kali sebelum melewati tikungan kita menjumpai rasa yang jarang hadir di tempat lain. Ada misteri yang pengungkapannya tergantung keputusan kita sendiri. Mau atau tidak, bertindak atau diam. Misteri yang tabirnya hanya berupa ambivalensi.

Kadang membiarkan jawaban tetap berada di seberang pengetahuan malah memberi ketenangan, daripada menjumpai jawaban itu secara langsung. Ignorance is a bliss, begitu kata sebagian. Kini kita mengerti, mengapa ada orang yang enggan bertandang ke dokter meski diganggu gejala penyakit jasmaniah. Lebih baik bagi mereka tidak mengetahui penyakitnya, agar jiwanya tidak ikut sakit. Toh semua tubuh bakal mati. Maka dalam sisa waktu yang ada, mereka lewati saja dengan gembira.

Bicara tentang tikungan adalah bicara tentang pengetahuan yang tertunda. Pengetahuan yang baik datangnya ketika dibutuhkan, bukan yang jauh-jauh waktu dijejalkan dalam benak, lalu mengendap menjadi kegaduhan jiwani. Sedangkan gadget dalam genggaman tangan Anda itu menyorokkan informasi sampai ke ruang pribadi, tak peduli apakah Anda memerlukannya atau tidak. Lebih parah lagi, Anda lalu merasa bergantung pada benda itu. Agar tak ketinggalan, alasannya. Ketinggalan apa?

Jalan kehidupan ini banyak tikungannya. Itu bukannya tanpa arti; agar kita selalu punya kesempatan untuk menghargai apa yang sedang tersaji tepat di depan sini, tidak melulu menerawang jauh. Bukankah yang di sini ini adalah yang dulu kita tunggu-tunggu kehadirannya, dengan hasrat yang penuh itu? Mengapa ketika sudah bertemu, malah berpaling lagi? Buat apa menunggu jika hanya untuk mengabaikan?

***

Sebelum goresan warna saya tambahkan, saya tidak tahu seperti apa lukisan saya akan terlihat. Setiap warna tambahan adalah langkah menuju pengungkapan. Sedangkan letih yang menghampiri badan dan kantuk yang menyandera kesadaran di ujung hari adalah tikungan yang menyembunyikan perkembangan. Sekali lagi, melukis itu seperti mengembara menyusuri punggung pegunungan dengan jalan berkelok-kelok. Saya kira jenis pekerjaan lain tak jauh berbeda. Karena itu, mestinya, kegembiraan bekerja terletak pada prosesnya, bukan semata-mata pada mimpi tentang hasil nanti.

***

Tikungan jalan kehidupan terjumpa di mana-mana. Hidup ini berliku-liku. Bukankah di situ indahnya?

Berlibur

Berlibur adakalanya tidak mesti dengan mengatasi jarak ruang yang panjang. Sudut-sudut rumah yang jarang terinjak kaki seringnya menyimpan pemandangan baru yang mencengangkan. Menghampirinya lalu bermukim sesaat di sana sudah dapat membebaskan kita dari rutin yang jemu.

Jika pikiran belum juga mengalami lompatan, mungkin rangsangan dari narasi-narasi para pujangga sanggup membantu. Barisan huruf-huruf kecil pada lembaran kertas sebuah novel bakal secara ajaib melukiskan pemandangan terasing dari belahan bumi lain di rongga kepala. Dan juga menuturkan peristiwa-peristiwa yang takkan pernah bersinggungan dengan alur kehidupan kita sendiri.

Seteguk kopi hangat memberi jeda, mengembalikan kita ke ruang ini, menambatkan pada realita. Menuju huruf-huruf tadi lagi segera mengantar pengembaraan berlanjut, tepat di tempat sebelumnya sempat terhenti.

***

Sekedar menempuh cara sederhana untuk mengatakan pada diri sendiri, “Aku sedang berlibur.” Mungkin cara ini yang memang menjadi jatah kita, sebelum cara lain tiba mengambil masanya. Bukankah setiap manisnya buah menempati wujudnya masing-masing?

Di antara pilihan-pilihan yang ada, masih ada satu pilihan menarik, yaitu sublimasi hasrat mengatasi jarak menjadi citra warna-warni indah pada kanvas. Berlibur bisa saja dengan tetap berkarya secara gembira.

Ibu

Click to see the video.

Pada jarak yang terpaksa terentang, ia berjuang menaklukkan. Jutaan langkah ia lakoni demi bahagia anaknya, jutaan langkah ia batalkan sebab tak mau anaknya tertinggal. Sejak ada yang terlahir, aku-nya nyaris tiada; semua tinggal bagaimana yang baru tiba ke dunia dengan rapuh ini sanggup bertahan. Senang ia relakan, sedih siap ia tanggungkan. “Makanlah dengan kenyang, hisaplah habis air susuku, biar aku yang kelaparan.”

Dengan pikir, rasa dan raga ia sedia mengantarkan senyum, meski dalamnya sendiri getir pahit. Kemewahan serasa tak pernah pantas ia sandang, sebab anaknya harus selalu tercukupi. Sekedarnya saja ia penuhi kebutuhan diri, rengek rewel anak menghalangi bangkit pongahnya. “Sudah cukup hangat kubaluti badanku dengan baju tahun-tahun lalu, tapi kamu harus kelihatan manis, Nak.”

Ia sadar anaknya beda, mungkin bakal dicela di dunia. Tapi ia percaya ada mutiara dalam cangkang yang rapat kuat terkatup. Ia percaya akan tiba waktu ketika cangkang bakal terbuka, dan ia sedia menyertai seluruh penantian dan perjuangan.

Aku ingat duka-duka itu, aku tahu tangis yang disembunyikan, aku saksikan letih perjuangan. Aku bukan pelupa, percayalah. Dan kini telah berhembus angin perubahan. Pelan, semilir saja, tapi ajeg tak pernah jeda. Dan aku berjanji semua ini untuk menggantikan yang lalu.

***

Hari ibu dirayakannya pada 22 Desember, tapi tak sesiapa pun membatasi penghargaan pada ibu hanya dalam satu hari saja dari 365 yang tersedia. Hari ini pun sama, apa yang membedakannya?

 

Bed Rest

Di awal tahun ini, yang belum lama berselang, saya sempat menyatakan pada diri sendiri bahwa saya rindu dengan situasi dilanda sakit demam. Bukan sakitnya yang saya inginkan, tapi alasan untuk bisa berbaring berlama-lama di kasur tanpa rasa bersalah. Sebab, dalam kondisi sehat saya akan marah jika melewatkan satu hari tanpa memegang kuas, mengguratkan warna pada kanvas. Dengan alasan masuk angin saya bisa berpaling dari lukisan tanpa beban moral.

Tapi benarkah bisa demikian?

Tiga malam ini saya lewatkan tidur dengan badan dipenuhi pegal dan nyeri. Kepala penat menyebabkan pikiran di dalamnya kacau tak beraturan. Ah, saya punya alasan untuk bermanja-manja di kasur, sembari mengabaikan pekerjaan. Tapi itu tidak bisa saya wujudkan. Tetap saja saya mencuri waktu istirahat itu untuk duduk di depan lukisan yang masih meringis karena objek utamanya belum tergarap. Melihat lukisan yang belum rampung itu saya marah pada penyakit ini, dan bersumpah untuk melawan serta mengusirnya segera.

Seletih dan sejemu apa pun badan dan pikiran yang disebabkan oleh kerja, adalah lebih baik ketimbang mencari alasan untuk bermalas-malasan.

***

Tulisan ini saya buat sebagai bagian dari upaya untuk mengusir demam, yang demam itu justru akan berjingkrak-jingkrak ketika saya merebahkan badan.

Setelah ini, saya akan memegang kuas lagi!

Kaki Ini

Kaki ini bahkan tak bisa disebut sepasang,
Lihat saja langkahnya yang selalu timpang,
Meski menyusuri tanah datar nan lapang,
Yang bebas dari segala kerikil maupun lobang.

Kaki yang tak genap ini menanggung tugas ganda,
Menyambut pekerjaan si tangan yang tak pernah ada,
Untuk melahirkan karya-karya cantik rupa,
Bukan tempat mengalirnya air mata duka.

Kaki mesti di bawah, begitu kesepakatan orang,
Tapi kubawa sejajar kepala bukan karena lancang,
Tak hendak kusandera tanganmu seluruh waktu,
Demi tindakan yang aku sendiri masih mampu.

Pada tebing curam kaki ini sungguh merindukan,
Menapaki, merayapi, menaklukkan hingga ketinggian,
Tapi pasrah saat tak sanggup penuhi kehendak angan,
Letih sudah menyapa hanya ketika menopang badan.

Kaki yang tak pernah berkawan tangan,
Tertatih sepanjang jalan kehidupan.