Humaniora

Didi Kempot

Dari lagu-lagu Didi Kempot saya sempat mengerti–secara satire–bahwa asmara itu berbanding lurus dengan derita; setidaknya itu yang saya rasakan selama hidup melajang dan dalam pencarian. Asmara selalu berurusan dengan perpisahan dan kekecewaan, sehingga melodi-melodinya disusun sendu mendayu. Lagu-lagu ini mungkin hasil sublimasi, tapi bukan mesti dari pencipta dan penyanyinya sendiri. Setidaknya sublimasi dari tekanan jiwa kolektif; semua orang memilikinya.

Oleh karena itu lagu-lagu Didi Kempot yang berkarakter etnik itu menjadi populer, yang artinya sangat berterima dengan khalayak ramai, khususnya masyarakat Jawa. Konser amalnya lewat media online yang sukses menggalang dana besar dan rencana konser di GBK November nanti menunjukkan bahwa lagu-lagunya sudah menembus batas etnisitas. Masyarakat penutur bahasa selain Jawa bisa turut menikmati.

Dengan demikian Didi Kempot secara tidak langsung membuktikan bahwa ada struktur pusat dalam kebudayaan yang dari sana terhubunglah penanda-penanda yang beragam dan individual itu. Seperti digambarkan oleh Carl G. Jung dengan pulau-pulau yang seolah terpisah oleh air laut namun sebenarnya menyatu di kedalamannya.

~o()o~

Rencana konser di ibu kota itu tak pernah terwujud. Didi harus berpulang lebih cepat dari rencananya. Seniman selalu lebih nyaring dalam karya justru setelah kematiannya. Mungkin ini yang terbaik bagi alur hidup sang legenda; meninggal pada saat-saat ia dicinta sedemikian besarnya.

Dan ijinkan saya sedikit mengekspresikan rasa kehilangan ini dengan melukis potret Almarhum, untuk menyatakan bahwa ada yang abadi darinya.

Dibungkam

Jika pada postingan sebelumnya saya sebutkan bahwa dunia akademis diasingkan dari penghayatan hidup sehari-hari, kini saya mau mengungkapkan secara lebih blak-blakan tentang fakta sosial di sekitar saya.

Upaya emansipasi penyandang cacat dimandulkan.

Telah cukup lama saya bersikap kritis terhadap istilah “penyandang disabilitas” dan “difabel” yang disematkan untuk orang-orang dengan tubuh tidak genap. Saya berargumen bahwa dua istilah yang telah dilembagakan oleh negara tersebut justru merugikan kami, sebab ada prasangka bahwa kami adalah orang-orang yang dilekati oleh ketidakmampuan. Kami tidak pecus.

Atas dua istilah yang stigmatis ini saya melakukan pembuktian terbalik. Saya melatih diri menembus ketidakmampuan, sehingga saya patut bertanya, apa yang disable di sini?

Lebih jauh dengan menggunakan dalil-dalil filosofi Habermas tentang komunikasi kesetaraan, saya menuntut agar penyandang cacat benar-benar diperlakukan sebagai subjek. Dalam konteks dua istilah stigmatis tadi, saya minta agar penyandang cacat diberdayakan terlebih dahulu dengan berbagai disiplin ilmu, seperti linguistika, epistemologi, dan semiologi, untuk kemudian ditanya apakah bersedia menyandang istilah disabilitas. Sehingga istilah itu bukan sekedar pemberian yang tak bisa direspon secara aktif, seolah kami ini bayi yang tidak bisa memilih namanya sendiri.

Sikap dan tuntutan saya berujung tuduhan dan kecurigaan bahwa saya sedang mencari panggung sendiri. Tuduhan tersebut dilontarkan justru oleh aktivis bertubuh normal yang mengurusi para penyandang cacat. Sementara saya adalah subjek yang berada di seberangnya, yang bersama subjek lain yang biasa dia urusi. Semestinya dia mendengar dan mengakomodir pemikiran dari perspektif kami, bukan berlagak sudah tahu apa yang kami butuhkan. You are not me, in fact.

Sementara penyandang cacat lain, karena sikap mereka yang manis dan menerima, akan dijunjung-junjung. Sikap menerima itu tidak lain adalah konsekuensi dari ketidakberdayaan yang melekat permanen.

Jadilah tetap lemah dan tak berdaya agar terus disayang. Dan yang disayang itu adalah objek yang menyenangkan.

Saya memilih menjadi subjek. Karenanya saya menolak menjadi lemah.

Kampus Masih Dijauhkan dari Kehidupan

Saya sempat merasa kasihan pada mahasiswa. Mereka demikan bersemangat mempelajari teori-teori hasil pemikiran orang-orang cerdas di berbagai masa; mencermati perkembangan cara pandang atas kehidupan yang berubah dan berganti di setiap jaman.

Mereka di kampusnya mempelajari, misalnya, klasifikasi kesadaran dalam teori kritis yang pada tingkat tertinggi harus memiliki kesadaran kritis dan transformatif, yaitu untuk menemukan yang tidak beres dari apa yang sedang terjadi, dan lalu berupaya melakukan perubahan. Mereka mengiyakan dan mengamini kata-kata Jurgen Habermas bahwa setiap individu mesti menjadi subjek yang aktif, agar jangan sampai diobjekkan oleh liyan hingga hanya bisa diam menerima. Demikian juga sebaliknya.

Lalu ada di antara mahasiswa itu yang yakin dapat mengubah dunia setelah keluar dari kampus nanti dengan ilmu yang sudah dimiliki, sebab mereka sudah lama melihat ada yang tidak beres di lingkungan hidupnya yang luas.

Tapi apa yang kemudian mereka jumpai?

Teori-teori itu tiba-tiba menjadi tumpul dan tak berlaku di lapangan kehidupan. Cita-cita mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah susah payah dicari pun binasa seketika. Ilmu itu lumpuh di hadapan bias-bias kekuasaan, birokrasi, dan mayoritas.

Kesadaran kritis mereka berhenti di situ tanpa beranjak menuju transformasi, sebab perubahan akan dicurigai sebagai subversi. Perubahan dianggap penentangan atas kesepakatan lembaga-lembaga negara, yang sesungguhnya belum tentu benar dan mengerti. Upaya mereka untuk menjadi subjek tak terwujud barang secuil, sebab kewajiban mereka adalah patuh menerima dengan punggung yang tertekuk.

Lalu para mahasiswa yang telah menjadi sarjana itu pun melakukan refleksi ke masa lalunya yang belum begitu jauh. Ilmu, teori, metode yang diajarkan di kampus dulu ternyata hanya sebagai barang mewah yang dipajang dalam etalase megah, dengan kaca pelindung yang tebal. Semuanya bisa dilihat, menggoda, mengagumkan, tapi tak bisa dimiliki untuk diwujudkan; sebab kebenaran di lapangan kehidupan tetap saja milik kekuasaan.

Mereka pun bertanya, apa gunanya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Cukup Aku Saja

Saya pernah berdoa, semoga saya menjadi manusia terakhir yang terlahir cacat di muka bumi ini.

Doa ini tidak pernah terkabul. Hingga kini masih saja ada bayi-bayi terlahir dengan struktur biologis tidak sewajarnya, yang sekaligus mengurangi fungsi-fungsi motorik bahkan mentalnya. Apakah saya kurang serius dan tulus dalam berdoa?

Ini masalah misterius kehidupan yang masuk ranah kepercayaan. Maka saya tidak akan berlam-lama di sana. Beda agama, menyajikan beda narasi. Satu bicara takdir, satu lagi tentang perputaran. Ini soal kecocokan pribadi.

Tapi yang ingin saya tekankan adalah, saya benar-benar dengan sepenuh hati berharap tidak ada orang melanjutkan/menggantikan situasi yang saya alami. Maka saya tidak setuju dengan model perjuangan untuk menuntut kemudahan aksesibilitas melalui penanaman pikiran bahwa siapa pun bisa menjadi cacat.

Orang Jawa punya istilah ngalup, yaitu pengharapan buruk untuk terjadi di masa depan. Kata ini hanya bisa dipahami lewat rasa. Dan siapa pun yang menjumpai rasa itu akan berhati-hati dengan pikiran dan kata terucap maupun tertulisnya.

“Kalau aku tidak kamu tolong, kamu akan mengalami seperti aku.” Betapa dunia ini penuh kekerasan dengan diplomasi seperti ini. Saya tetap bertahan dengan doa yang tak terkabul itu, “Semoga tidak ada lagi bayi terlahir cacat, ataupun orang yang mengalami kecelakaan dan harus diamputasi. Akhirnya, biarkan saya sendirian dalam kondisi ini, dan bahkan menjadi minoritas dalam minoritas.”

Hasratmu, Deritamu

Apa yang menjadi keinginanmu itu adalah apa yang bakal menjadi bebanmu.

Saya tidak hendak menganjurkan orang agar memberangus asa dan cita-citanya. Saya tidak mengajak orang agar memilih hidup asketis di hutan-hutan, sehingga absen dari peradaban.  No, not at all.

Tapi saya hendak mengingatkan bahwa hasrat, cita-cita, asa, atau apa pun istilahnya (sekarang disebut mimpi, saya bingung dengan istilah ini), adalah tanggung jawab dari yang menumbuhkannya sendiri di rongga kepala dan dadanya. Dialah yang wajib berjuang untuk pertama kali, dengan segala kerepotan dan susah payahnya, agar cita-citanya itu terwujud.

Jika tiba-tiba muncul keinginan pada diri saya untuk menyeberangi kali yang melintang di depan, maka sayalah yang harusnya terbebani oleh rasa ingin itu. Saat itu pilihan saya ada dua, segera bersusah payah menyeberangi kali dengan cara apa pun–kesot, jalan terpincang-pincang, meloncat-loncat–hingga tiba di seberang sesuai keinginan itu; atau saya memupus hasrat itu dan bertahan saja di tempat semula; toh di sini baik-baik saja.

Pilihan kedua itu lebih bijak jika ternyata langkah awal saya adalah meneriaki orang yang tidak berkepentingan agar menggendong tubuh saya ke seberang.

***

Alfred Adler menyarankan orang untuk bersikap realistis atas kenyataan dirinya, di antara kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Wujud sikap realistis ini adalah kerja sama di antara makhluk sosial itu, sebab tidak ada manusia super yang menyelesaikan urusan hidupnya seorang diri. Kerja sama bagi saya mengisyaratkan adanya keuntungan dua arah (mutual benefit).

Maka dalam contoh kasus menyeberangi sungai tadi, pertanyaan saya adalah “Apa yang bisa saya berikan pada orang lain yang mau membawa saya ke seberang?” Tentu bukan semata-mata materi jawabnya, bisa apa saja sejauh kemampuan yang ada pada diri saya. Tapi yang jelas, mengalirkan keringat liyan untuk memenuhi hasrat sendiri bagi saya tidak elok. Apa lagi saya belum menunjukkan–paling tidak pada diri sendiri–satu upaya apa pun.

Bagaimana Anda sendiri menyikapi hasrat yang muncul dalam diri Anda?

 

Tumbuh Saja

Jika harus berpikir pragmatis, untuk apa buah nangka kecil ini memaksa tumbuh di ranting yang rapuh? Nanti ketika buahnya membesar, tidakkah ia akan membebani pohon yang belum sanggup menopang bobotnya? Bisa diduga bahkan, bakal buah ini akan gugur sebelum sempat masak.

Ternyata dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak terikat oleh tujuan. Sesuatu tumbuh karena memang perlu tumbuh. Proses itu sendiri bergeser menempati posisi hasil.

Sedang umumnya manusia cenderung tidak sanggup menanggung rasa kehampaan, bahwa suatu kejadian tidak harus memiliki tujuan. Fakta bahwa ada yang memang harus sia-sia itu sangat membebani rasa.

Tapi jika kita ingat dulu pernah berlarian di bawah derasnya guyuran hujan, tanpa bermaksud pada apa-apa, kita tidak merasa nelangsa. Jadi seharusnya kita tidak apa-apa juga jika sekarang dihadapkan pada ketidakjelasan proyeksi masa depan.

Namun ingatan lama itu tadi rupanya tidak cukup mengobati. “Itu kan dulu, waktu masih kanak-kanak, serba belum tahu.”

Lalu kita membuat tujuan-tujuan kita sendiri, untuk menutupi beban rasa tadi. Dan agar lebih menghibur serta dramatis, kita beri istilah merdu: “mimpi”. Dan lelaplah kita dalam hidup yang tidak senyatanya.

***

Ketika kita percaya pola sebab-akibat sebagai narasi besar kehidupan, kita bisa merasa cukup dengan berbuat di saat ini. Berbuat adalah mengelola sebab-sebab. Sebab adalah dimensi di mana kita punya kuasa di dalamnya. Kita berkuasa atas tindakan kita, sebelum kita dikuasai oleh akibat-akibatnya.

Maka sekedar tumbuh saja, atau berproses saja, tidaklah serta-merta itu hampa akan tujuan. Tujuan sejati itu bukan dari kita, tapi dari Kuasa Agung. Ia punya agenda besar yang melingkupi banyak pihak. Demi pihak lain, kadang kita perlu merelakan hasrat-hasrat kita sendiri. Sementara itu, kita tidak henti dari berbuat baik, sebab kelak Kuasa Agung akan mengirimkan akibat-baiknya pada kita, sesuai skema-waktu-Nya sendiri.

Menyerahkan akibat itu bukan meminta-minta. Setiap permintaan selalu diawali oleh hasrat yang intinya adalah keakuan. Sering kali kita sejatinya mengedepankan keakuan, tapi lalu membalutnya dengan selimut religius. Yaitu saat kita menyerukan hasrat-hasrat, lalu menyebut nama Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang dibebani untuk mewujudkan hasrat itu. Sesungguhnya kita telah memperalat Tuhan untuk ego kita sendiri. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!” begitu retorikanya.

Sedang orang yang benar-benar percaya akan kuasa Tuhan, justru tidak banyak menghitung-hitung akibat nanti, tapi menyerahkan itu di luar kuasa pribadinya. Sebab tanggung jawabnya adalah berbuat baik dalam dimensi sebab. “Biarlah Tuhan yang mengirim akibatnya, jika aku memang berhak.”

Bersyukur itu menghargai dan menikmati apa yang sedang tersaji, alih-alih menghasrati apa yang tidak dimiliki.

***

Harus saya akui bahwa bicara seperti ini dalam tataran intelek sangatlah mudah. Tapi manakala saya diceburkan dalam praktek atau pengalaman, mungkin saya akan terseok-seok juga menjalaninya. Ketika saya harus menyesuaikan diri dengan skema waktu Tuhan, ketika saya bertanya-tanya apakah layak untuk balasan atas tindakan yang dulu, semua ini menguras energi karena jawabannya bertahan lama dalam misteri.

Namun hidup yang nyata itu toh tidak di mana-mana, kecuali di sini saat ini. Dan saat ini selalu ada yang untuk dikerjakan dengan gembira, di samping getir-getir yang ada. Setidaknya, memperhatikan buah nangka tadi cukup menggembirakan dan dapat membawa pada perenungan panjang ini. Dengan demikian buah nangka itu akhirnya tiba pada tujuannya, yaitu untuk menjadi inspirasi yang mencerahkan.

Buah nangka kecil yang bakal segera gugur itu tidak sia-sia juga.


SAM_4735

Membaca Buku

Scripta manent, verba volant –demikian bunyi sebuah kutipan dari jaman Romawi kuno. Apa yang tercatat akan selalu lekat, sedang yang sekedar terucap mungkin bakal lenyap. Secara empiris saya melihat kebenarannya, dengan membandingkan tradisi di jaman ini terhadap tradisi lampau yang belum terlalu jauh.

Saya masih ingat di suatu malam yang mulai merambat naik, saya bersama dua kakak belum juga diserang kantuk, sedang nenek ada bersama kami. Perempuan yang melahirkan Bapak itu mulai menuturkan satu dongeng untuk menghibur cucu-cucunya yang akan merasa gembira dengan kisah apa saja. Sampai dongeng itu selesai, tiga cucunya ini belum juga tidur. Sial bagi Nenek. Esoknya kami minta didongengi lagi, bahkan dengan cerita yang sama.

Sekarang jika saya bertanya pada dua kakak saya tentang isi dongeng masa kecil itu, keduanya tidak lagi ingat. Sayang sekali, dan lebih patut disayangkan adalah kebiasaan mendongeng itu tidak diteruskan, di keluarga mana pun. Maka jika kita hitung, berapa banyak dongeng lisan sudah hilang dari kebudayaan kita? Di sinilah kita merasa perlu adanya budaya menulis, sebagai upaya pengabadian cipta pikir manusia.

Namun di saat yang sama sebuah ironi sedang terjadi. Media untuk menulis dibuka lebar. Setiap orang kini bisa dengan mudah menumpahkan isi pikirannya dalam tulisan yang juga mudah dibaca orang lain. Ada praktek pengabadian pikiran secara massive. Tapi dampak yang muncul justru kesementaraan yang semakin nyata terasa. Apa yang sudah ditulis bakal segera diabaikan karena mengantisipasi apa yang akan ditulis lagi kemudian. Sedang tulisan yang mempunyai buntut panjang hanyalah yang berperkara hukum dan membuat kegaduhan. Setidaknya itulah yang saya dapati di media sosial.

Buku memiliki fenomena yang berbeda.

Buku akan mengajak pembacanya meresap ke dalam waktu. Ia tidak mendorong orang terburu-buru. Ia akan semakin bersahabat ketika dibawa ke sudut yang sunyi. Setiap tema akan menempati sampul yang berbeda, sehingga menandai keunikannya masing-masing, seperti pribadi setiap manusia yang juga berbeda.

Pembaca buku memang tidak bisa serta merta memberikan respon langsung kepada penulisnya. Jika memang respon bisa disampaikan, ada penundaan dari waktu pembacaan. Pernah saya katakan, penundaan adalah ruang misteri di mana kita bisa turut mengisinya sendiri secara bebas. Penundaan itu justru memerdekakan. Keberadaan penulis yang tersembunyi atau tak dikenali itu memberi kesempatan pada pembaca untuk tidak terikat pada konteks pemikiran penulis. Pembaca dapat mereproduksi arti dari teks yang dibacanya sesuai pemahaman pembaca.

Usai membaca buku, kita bisa mengambil waktu untuk menelaah isinya. Kita tidak dikejar oleh kedatangan buku berikutnya, sebab terbitnya sebuah buku juga membutuhkan waktu yang panjang. Jeda-jeda ini memberi kesempatan setiap pemikiran untuk dicerna hingga terhisap sari patinya. Atau, pembaca dapat mengolah lebih jauh isi buku itu tanpa membuat kegaduhan di sekitarnya.

Membolak-balik halaman buku, kita serasa dituntun mewujudkan kasih sayang lewat belaian yang lembut. Lembar-lembar tipis itu mengingatkan kita akan hari-hari yang kita hidupi, sedang huruf-huruf yang tercetak di dalamnya seperti nafas yang kita hirup dan hembuskan setiap saat. Ada, penting, tapi sering terabaikan. Lalu kita jadi ingat dan menghargainya. Dengan bergumul bersama buku kita akan merasa hidup kita sendiri yang bersinar, bukan melulu apa yang ada dalam genggaman tangan.

Fisik buku yang sudah terbaca tidak membuat kita merasa risau atas keberadaannya. Dinding rumah yang menjemukan dapat dihias menjadi cantik dengan jilid-jilid buku dalam rak bertingkat. Buku bekas tidak pernah menjadi bangkai. Pemilik berikutnya pun akan sangat senang menyimpannya. Bahkan satu buku dapat berkelana antar banyak pemilik. Sehingga setiap buku itu sendiri dapat menjadi sebuah cerita, di samping cerita yang tertulis di dalamnya.

Memusnahkan buku tidak pernah semudah menekan tombol. Ada energi besar dibutuhkan, yang kemungkinan dibarengi oleh perlawanan. Sementara itu isi buku yang terlanjur musnah masih akan bisa ditulis ulang oleh yang pernah membacanya.

Scripta manent, yang tertulis itu lebih abadi. Saya kira buku menjadi media paling tepat untuk mewujudkan prinsip pengabadian cipta pikir manusia.

***

Memperingati hari buku internasional ini, ada satu catatan masam perlu saya tambahkan. Ternyata, bagaimanapun juga, buku lebih dicintai daripada manusia. Ini terjadi ketika Anda meminjamkan buku pada orang lain, maka tidak butuh waktu lama Anda akan segera dilupakan, karena buku itu tidak akan direncanakan untuk kembali. Oh, kecuali si peminjam itu benar-benar bertanggung jawab, yang tentu saja langka adanya.

Putaran Tambahan

Waduk Kedung Ombo sudah tampak dari luar jendela sebelah kiri, melewati hamburan awan putih tipis yang mengapung tenang. Pemandangan indah itu perlahan lenyap ke bawah seiring badan pesawat yang miring ke kanan ketika mengambil putaran balik. Saat tabung besi raksasa itu sudah kembali seimbang, pesawat telah menghadap ke barat. Di depan bawah sana adalah bandara Adi Soemarmo. Tapi kemiringan kembali terasa. Ke kanan. Rupanya pesawat berbelok lagi. Danau biru tadi itu pun kembali menampak dari jendela kiri.

Pikiran para penumpang mulai sibuk bertanya-tanya, kenapa pesawat ini berputar-putar saja di udara, tak segera menghampiri landasannya. Pertanyaan tak terucap ini segera disambut oleh suara kapten pilot yang terdengar lewat speaker di atap kabin. Disampaikanlah pengumuman bahwa lalu lintas di Bandara Adi Soemarmo sedang padat, sehingga pendaratan harus tertunda sekitar sepuluh menit. Penjelasan ini seharusnya cukup menenangkan. Tapi wajah-wajah cemas dan gerutu masih bertahan. Pikiran membangun prasangka, menyakiti diri sendiri.

Orang-orang yang sama, dua puluhan tahun silam, diantar orang tuanya ke pasar malam. Di sana mereka merengek-rengek agar dinaikkan ke atas komidi putar. Kegembiraan memenuhi rongga dada ketika keinginan itu terwujud. Tapi saat bunyi desis panjang yang menandai akhir putaran terdengar, mereka sedih dan berharap akan mendapat putaran tambahan dari operator komidi. Sepuluh putaran sudah setimpal dengan harga tiket yang dibayarkan. Mereka harus turun, atau merajuk lagi pada orang tuanya masing-masing.

Tapi di kabin pesawat ini, ketika sang pilot dengan baiknya memberikan putaran tambahan, penumpang justru menggerutu; kecewa dengan jadwal yang tertunda, cemas jika sebenarnya ada masalah dengan pesawatnya, atau yang lain lagi.

Rupanya yang disebut orang dewasa itu adalah orang yang dibelenggu oleh tujuan-tujuan dan kecemasan-kecemasan. Orang dewasa adalah yang sudah lupa cara untuk menikmati momen saat ini.

***

Dulu kita memaksa orang tua merogoh sakunya dalam-dalam agar kita bisa menambah koleksi mobil-mobilan yang sudah berjejalan di kotak mainan. Lalu kita menggelarnya di seluruh lantai kamar, merasa takjub dengan keindahannya. Kini jajaran mobil kita lihat di jalanan, bergerak pelan menunggu uraian kemacetan. Mobil yang sebenarnya, bukan mainan. Apa kabar kegembiraan yang dulu itu?

Ruang Tunggu

Di ruang tunggu, orang lebih dibatasi dalam waktu meski dinding turut merapat di empat sisi. Kata ‘belum’ menjelaskan semua tindakan yang pasif saja itu. ‘Belum’ artinya apa yang diharapkan terjadi dibatasi dari saat sekarang. Lalu ada penantian; sebuah kebebasan yang justru meresahkan.

Gadget mendominasi tangan-tangan orang di sana. (Tak ada lagi lembaran koran yang dibentang di depan muka, sebagaimana pemandangan satu dasawarsa silam.) Benda-benda bersinar segenggaman tangan itu diberi kuasa untuk membawa pikiran pergi dari ruang yang sedang dihuni, tak lagi peduli dengan betapa mengkilapnya dinding kaca yang terus dijaga oleh petugas cleaning service. Kebersihan dihadirkan rupanya hanya untuk diabaikan, dan baru dicari-cari setelah kotor datang.

Dalam penantian ada yang melempar pandangan jauh-jauh, seperti hendak menyegerakan waktu dengan melompati ruang. Apakah berhasil? Banyak yang mulai menguap, dan sebagiannya menyerah dalam dengkur dengan volume yang sanggup memalingkan kepala orang-orang di sekitarnya.

Anak-anak lebih cerdik dalam mempertahankan senyum mereka. Gang-gang di antara deretan kursi adalah sirkuit menyenangkan untuk dikelilingi dengan tawa yang tak peduli akan dengkur yang terhenti karenanya. Setelah gravitasi mempertemukan tubuh mungil mereka dengan lantai yang keras, resah baru dirasakan anak-anak itu.

Di ruang tunggu–sayang tidak kita akui–kesadaran ternyata menjadi beban. Di sana kita ingin membunuh waktu, yang sebenarnya kita ingin membunuh kesadaran kita sepanjang penantian itu. Cara yang gampang kemudian adalah tidur. Banyak juga yang masih mempertahankan kesadarannya tapi tidak mau menyadari penantian itu sendiri. Sebab itulah pikiran dilempar jauh-jauh melalui gadget.

Saya juga di ruang tunggu itu; mengamati penantian.

Amben Kayu Lapuk

Bapak bukan tukang kayu, tapi ia tahu bagaimana merangkai kayu-kayu bekas menjadi balai-balai. Lembaran papan tipis ia jajarkan di atas rangka usuk. Lalu tikar mendong ia beri tugas untuk sedikit mengempukkan sekaligus menghias permukaannya. Tangguhkan dulu pertanyaan soal kenyamanan. Yang penting kelima anggota keluarga bisa hinggap di atasnya untuk mengerubuti nasi, sayur gori, dan sambal terasi bikinan emak. Begitu bertahun-tahun lamanya.

Petang hari adalah kesempatan anak-anak menguasai balai-balai itu. Kakak menjepitkan ujung selimut pada celah dinding kayu, dan membentangkan sisanya sedemikian rupa seperti layar perahu. Belum selesai ia mengembangkan layarnya, saya yang duduk di ujung balai-balai sudah tiba di tengah lautan. Debur ombak terdengar di rongga kepala, meredam derik jangkrik di seberang jendela. Ini tengah lautan, buat apa ada suara jangkrik? Geladak perahu mulai berayun-ayun diterjang gelombang, seiring bergoyangnya balai-balai itu–bukan karena ada mekanisme hidrolik, tapi karena salah satu kakinya lapuk dimakan rayap.

Kakak meraih dayungnya, mengayuh perahu menentukan arah. Lihat purnama dan bintang-bintang di angkasa hitam, cari tempat di mana ikan berkerumun. Saya melempar kail, dan satu per satu ikan terkumpul di dalam palka. Tapi hasil tangkapan itu hilang seketika, karena kakak perempuan menyalakan radio yang mulai menyiarkan sandiwara Saur Sepuh, dan bakwan goreng bikinan emak dihidangkan. Perahu itu lenyap digantikan balai-balai kayu lapuk, bulan purnama kembali mewujud lampu petromak, dan laut menjelma ruang berantakan di samping pawon penuh jelaga.

***

Balai-balai kayu lapuk harganya mungkin belum setara dengan timbunan rongsokan. Tapi sanggup mengantar saya ke ruang mana pun di dunia. Ia seolah memiliki daya magis, yang bahkan tak bisa ditandingi oleh sofa lembut di sebelah komputer tempat saya menulis blog ini. Dan komputer ini sendiri–meski bisa mensimulasikan rupa-rupa kehidupan–tetap tak sanggup menghantarkan romantika jaman balai-balai itu.

Balai-balai ataupun sofa keduanya benda mati. Tak ada kuasa pada mereka. Kecuali pikiran saya sendiri yang aktif bereaksi dan berpartisipasi atas keberadaan benda-benda itu. Ruang lingkup yang melatarbelakangi munculnya pikiran itulah yang berbeda. Balai-balai murahan dinikmati pada kondisi ignorant, lugu tanpa banyak pengetahuan. Pikiran lebih kuat untuk membuat gambar-gambar samar di kepala, yang tidak direcoki oleh pembanding fakta-fakta. Sedang sofa ini hadir bersamaan dengan berjejalnya pengetahuan, termasuk pengetahuan bahwa masih ada banyak sofa yang jauh lebih nyaman di toko-toko sana.

Di sini analogi gelas diisi air masih relevan. Seberapa pun air dituangkan ke dalam gelas, segitulah jatahnya. Ada yang harus dibuang untuk menampung yang baru. Pengetahuan tentang hidup datang menggantikan indahnya fantasi bebas tanpa beban. Ada kecerdasan yang menyingkir sebab datangnya pengetahuan, yaitu kecerdasan untuk ‘”membohongi” diri sendiri, untuk mengalahkan kenyataan pahit. Saya sekarang tidak bisa lagi berada di tengah lautan, kecuali harus benar-benar datang ke sana dengan seluruh raga. Apakah saya lebih pintar dari yang dulu, ataukah malah merugi?

Seperti anak-anak lain pada umumnya, saya dulu digiring orang tua ke sekolah untuk menjemput pengetahuan. Harapannya, dengan dipunyainya pengetahuan itu dunia akan bisa dikuasai. Namun sesungguhnya paradoks sedang diperagakan di sini, dunia yang hendak dikuasai itu justru bakal menguasai saya. Dunia dijemput sebagai permainan yang justru bakal memainkan pemainnya. Inilah benih lahirnya absurditas di tingkat individu. Atlas-Atlas kecil sedang dicetak untuk memanggul beban dunianya masing-masing. Semakin dewasa anak itu, semakin besar beban dunia di punggungnya. Hingga usia dewasa, tubuh yang dulu tegak akan membungkuk di bawah beban hidup.

Ada segelintir orang yang sanggup melihat absurdnya hidup ini, lalu menentukan pilihan lumrah. Mereka memilih jalan hidup asketis, yaitu para sufi, biarawan, atau bhiksu. Atau, mereka yang sudah kasep memanggul beban dunia akan menggidikkan pundak, hingga beban itu tergelincir. Lalu badannya bisa tegak kembali.

***

Saya masih berada bersama milyaran Atlas-Atlas bungkuk; sibuk menggubris dunia, nyeri dengan bebannya, sambil mencoba menangkap angin semilir untuk mengeringkan peluh. Memang pernah ada satu periode di mana muncul keinginan untuk menjalani hidup asketis, tapi bola dunia di punggung ini sudah kadung disematkan jauh sebelum keinginan itu, selagi masih kanak-kanak. Dan bobot massanya melampaui yang biasa disunggi oleh anak kebanyakan.

Saya sadar absurditasnya, tapi saya belum hendak menggidikkan pundak. Saya akan masih menjejalkan pengetahuan ke dalam pikiran–biarpun tumpah-tumpah juga–karena saya kadung menjadi pengharapan agar tak ada lagi saudara yang harus duduk di balai-balai kayu lapuk. Tunggu sebentar, hei… kesunyian di lereng Merbabu itu menggoda sekali.