Humaniora

Kampus Masih Dijauhkan dari Kehidupan

Saya sempat merasa kasihan pada mahasiswa. Mereka demikan bersemangat mempelajari teori-teori hasil pemikiran orang-orang cerdas di berbagai masa; mencermati perkembangan cara pandang atas kehidupan yang berubah dan berganti di setiap jaman.

Mereka di kampusnya mempelajari, misalnya, klasifikasi kesadaran dalam teori kritis yang pada tingkat tertinggi harus memiliki kesadaran kritis dan transformatif, yaitu untuk menemukan yang tidak beres dari apa yang sedang terjadi, dan lalu berupaya melakukan perubahan. Mereka mengiyakan dan mengamini kata-kata Jurgen Habermas bahwa setiap individu mesti menjadi subjek yang aktif, agar jangan sampai diobjekkan oleh liyan hingga hanya bisa diam menerima. Demikian juga sebaliknya.

Lalu ada di antara mahasiswa itu yang yakin dapat mengubah dunia setelah keluar dari kampus nanti dengan ilmu yang sudah dimiliki, sebab mereka sudah lama melihat ada yang tidak beres di lingkungan hidupnya yang luas.

Tapi apa yang kemudian mereka jumpai?

Teori-teori itu tiba-tiba menjadi tumpul dan tak berlaku di lapangan kehidupan. Cita-cita mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah susah payah dicari pun binasa seketika. Ilmu itu lumpuh di hadapan bias-bias kekuasaan, birokrasi, dan mayoritas.

Kesadaran kritis mereka berhenti di situ tanpa beranjak menuju transformasi, sebab perubahan akan dicurigai sebagai subversi. Perubahan dianggap penentangan atas kesepakatan lembaga-lembaga negara, yang sesungguhnya belum tentu benar dan mengerti. Upaya mereka untuk menjadi subjek tak terwujud barang secuil, sebab kewajiban mereka adalah patuh menerima dengan punggung yang tertekuk.

Lalu para mahasiswa yang telah menjadi sarjana itu pun melakukan refleksi ke masa lalunya yang belum begitu jauh. Ilmu, teori, metode yang diajarkan di kampus dulu ternyata hanya sebagai barang mewah yang dipajang dalam etalase megah, dengan kaca pelindung yang tebal. Semuanya bisa dilihat, menggoda, mengagumkan, tapi tak bisa dimiliki untuk diwujudkan; sebab kebenaran di lapangan kehidupan tetap saja milik kekuasaan.

Mereka pun bertanya, apa gunanya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Cukup Aku Saja

Saya pernah berdoa, semoga saya menjadi manusia terakhir yang terlahir cacat di muka bumi ini.

Doa ini tidak pernah terkabul. Hingga kini masih saja ada bayi-bayi terlahir dengan struktur biologis tidak sewajarnya, yang sekaligus mengurangi fungsi-fungsi motorik bahkan mentalnya. Apakah saya kurang serius dan tulus dalam berdoa?

Ini masalah misterius kehidupan yang masuk ranah kepercayaan. Maka saya tidak akan berlam-lama di sana. Beda agama, menyajikan beda narasi. Satu bicara takdir, satu lagi tentang perputaran. Ini soal kecocokan pribadi.

Tapi yang ingin saya tekankan adalah, saya benar-benar dengan sepenuh hati berharap tidak ada orang melanjutkan/menggantikan situasi yang saya alami. Maka saya tidak setuju dengan model perjuangan untuk menuntut kemudahan aksesibilitas melalui penanaman pikiran bahwa siapa pun bisa menjadi cacat.

Orang Jawa punya istilah ngalup, yaitu pengharapan buruk untuk terjadi di masa depan. Kata ini hanya bisa dipahami lewat rasa. Dan siapa pun yang menjumpai rasa itu akan berhati-hati dengan pikiran dan kata terucap maupun tertulisnya.

“Kalau aku tidak kamu tolong, kamu akan mengalami seperti aku.” Betapa dunia ini penuh kekerasan dengan diplomasi seperti ini. Saya tetap bertahan dengan doa yang tak terkabul itu, “Semoga tidak ada lagi bayi terlahir cacat, ataupun orang yang mengalami kecelakaan dan harus diamputasi. Akhirnya, biarkan saya sendirian dalam kondisi ini, dan bahkan menjadi minoritas dalam minoritas.”

Hasratmu, Deritamu

Apa yang menjadi keinginanmu itu adalah apa yang bakal menjadi bebanmu.

Saya tidak hendak menganjurkan orang agar memberangus asa dan cita-citanya. Saya tidak mengajak orang agar memilih hidup asketis di hutan-hutan, sehingga absen dari peradaban.  No, not at all.

Tapi saya hendak mengingatkan bahwa hasrat, cita-cita, asa, atau apa pun istilahnya (sekarang disebut mimpi, saya bingung dengan istilah ini), adalah tanggung jawab dari yang menumbuhkannya sendiri di rongga kepala dan dadanya. Dialah yang wajib berjuang untuk pertama kali, dengan segala kerepotan dan susah payahnya, agar cita-citanya itu terwujud.

Jika tiba-tiba muncul keinginan pada diri saya untuk menyeberangi kali yang melintang di depan, maka sayalah yang harusnya terbebani oleh rasa ingin itu. Saat itu pilihan saya ada dua, segera bersusah payah menyeberangi kali dengan cara apa pun–kesot, jalan terpincang-pincang, meloncat-loncat–hingga tiba di seberang sesuai keinginan itu; atau saya memupus hasrat itu dan bertahan saja di tempat semula; toh di sini baik-baik saja.

Pilihan kedua itu lebih bijak jika ternyata langkah awal saya adalah meneriaki orang yang tidak berkepentingan agar menggendong tubuh saya ke seberang.

***

Alfred Adler menyarankan orang untuk bersikap realistis atas kenyataan dirinya, di antara kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Wujud sikap realistis ini adalah kerja sama di antara makhluk sosial itu, sebab tidak ada manusia super yang menyelesaikan urusan hidupnya seorang diri. Kerja sama bagi saya mengisyaratkan adanya keuntungan dua arah (mutual benefit).

Maka dalam contoh kasus menyeberangi sungai tadi, pertanyaan saya adalah “Apa yang bisa saya berikan pada orang lain yang mau membawa saya ke seberang?” Tentu bukan semata-mata materi jawabnya, bisa apa saja sejauh kemampuan yang ada pada diri saya. Tapi yang jelas, mengalirkan keringat liyan untuk memenuhi hasrat sendiri bagi saya tidak elok. Apa lagi saya belum menunjukkan–paling tidak pada diri sendiri–satu upaya apa pun.

Bagaimana Anda sendiri menyikapi hasrat yang muncul dalam diri Anda?

 

Tumbuh Saja

Jika harus berpikir pragmatis, untuk apa buah nangka kecil ini memaksa tumbuh di ranting yang rapuh? Nanti ketika buahnya membesar, tidakkah ia akan membebani pohon yang belum sanggup menopang bobotnya? Bisa diduga bahkan, bakal buah ini akan gugur sebelum sempat masak.

Ternyata dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak terikat oleh tujuan. Sesuatu tumbuh karena memang perlu tumbuh. Proses itu sendiri bergeser menempati posisi hasil.

Sedang umumnya manusia cenderung tidak sanggup menanggung rasa kehampaan, bahwa suatu kejadian tidak harus memiliki tujuan. Fakta bahwa ada yang memang harus sia-sia itu sangat membebani rasa.

Tapi jika kita ingat dulu pernah berlarian di bawah derasnya guyuran hujan, tanpa bermaksud pada apa-apa, kita tidak merasa nelangsa. Jadi seharusnya kita tidak apa-apa juga jika sekarang dihadapkan pada ketidakjelasan proyeksi masa depan.

Namun ingatan lama itu tadi rupanya tidak cukup mengobati. “Itu kan dulu, waktu masih kanak-kanak, serba belum tahu.”

Lalu kita membuat tujuan-tujuan kita sendiri, untuk menutupi beban rasa tadi. Dan agar lebih menghibur serta dramatis, kita beri istilah merdu: “mimpi”. Dan lelaplah kita dalam hidup yang tidak senyatanya.

***

Ketika kita percaya pola sebab-akibat sebagai narasi besar kehidupan, kita bisa merasa cukup dengan berbuat di saat ini. Berbuat adalah mengelola sebab-sebab. Sebab adalah dimensi di mana kita punya kuasa di dalamnya. Kita berkuasa atas tindakan kita, sebelum kita dikuasai oleh akibat-akibatnya.

Maka sekedar tumbuh saja, atau berproses saja, tidaklah serta-merta itu hampa akan tujuan. Tujuan sejati itu bukan dari kita, tapi dari Kuasa Agung. Ia punya agenda besar yang melingkupi banyak pihak. Demi pihak lain, kadang kita perlu merelakan hasrat-hasrat kita sendiri. Sementara itu, kita tidak henti dari berbuat baik, sebab kelak Kuasa Agung akan mengirimkan akibat-baiknya pada kita, sesuai skema-waktu-Nya sendiri.

Menyerahkan akibat itu bukan meminta-minta. Setiap permintaan selalu diawali oleh hasrat yang intinya adalah keakuan. Sering kali kita sejatinya mengedepankan keakuan, tapi lalu membalutnya dengan selimut religius. Yaitu saat kita menyerukan hasrat-hasrat, lalu menyebut nama Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang dibebani untuk mewujudkan hasrat itu. Sesungguhnya kita telah memperalat Tuhan untuk ego kita sendiri. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!” begitu retorikanya.

Sedang orang yang benar-benar percaya akan kuasa Tuhan, justru tidak banyak menghitung-hitung akibat nanti, tapi menyerahkan itu di luar kuasa pribadinya. Sebab tanggung jawabnya adalah berbuat baik dalam dimensi sebab. “Biarlah Tuhan yang mengirim akibatnya, jika aku memang berhak.”

Bersyukur itu menghargai dan menikmati apa yang sedang tersaji, alih-alih menghasrati apa yang tidak dimiliki.

***

Harus saya akui bahwa bicara seperti ini dalam tataran intelek sangatlah mudah. Tapi manakala saya diceburkan dalam praktek atau pengalaman, mungkin saya akan terseok-seok juga menjalaninya. Ketika saya harus menyesuaikan diri dengan skema waktu Tuhan, ketika saya bertanya-tanya apakah layak untuk balasan atas tindakan yang dulu, semua ini menguras energi karena jawabannya bertahan lama dalam misteri.

Namun hidup yang nyata itu toh tidak di mana-mana, kecuali di sini saat ini. Dan saat ini selalu ada yang untuk dikerjakan dengan gembira, di samping getir-getir yang ada. Setidaknya, memperhatikan buah nangka tadi cukup menggembirakan dan dapat membawa pada perenungan panjang ini. Dengan demikian buah nangka itu akhirnya tiba pada tujuannya, yaitu untuk menjadi inspirasi yang mencerahkan.

Buah nangka kecil yang bakal segera gugur itu tidak sia-sia juga.


SAM_4735

Membaca Buku

Scripta manent, verba volant –demikian bunyi sebuah kutipan dari jaman Romawi kuno. Apa yang tercatat akan selalu lekat, sedang yang sekedar terucap mungkin bakal lenyap. Secara empiris saya melihat kebenarannya, dengan membandingkan tradisi di jaman ini terhadap tradisi lampau yang belum terlalu jauh.

Saya masih ingat di suatu malam yang mulai merambat naik, saya bersama dua kakak belum juga diserang kantuk, sedang nenek ada bersama kami. Perempuan yang melahirkan Bapak itu mulai menuturkan satu dongeng untuk menghibur cucu-cucunya yang akan merasa gembira dengan kisah apa saja. Sampai dongeng itu selesai, tiga cucunya ini belum juga tidur. Sial bagi Nenek. Esoknya kami minta didongengi lagi, bahkan dengan cerita yang sama.

Sekarang jika saya bertanya pada dua kakak saya tentang isi dongeng masa kecil itu, keduanya tidak lagi ingat. Sayang sekali, dan lebih patut disayangkan adalah kebiasaan mendongeng itu tidak diteruskan, di keluarga mana pun. Maka jika kita hitung, berapa banyak dongeng lisan sudah hilang dari kebudayaan kita? Di sinilah kita merasa perlu adanya budaya menulis, sebagai upaya pengabadian cipta pikir manusia.

Namun di saat yang sama sebuah ironi sedang terjadi. Media untuk menulis dibuka lebar. Setiap orang kini bisa dengan mudah menumpahkan isi pikirannya dalam tulisan yang juga mudah dibaca orang lain. Ada praktek pengabadian pikiran secara massive. Tapi dampak yang muncul justru kesementaraan yang semakin nyata terasa. Apa yang sudah ditulis bakal segera diabaikan karena mengantisipasi apa yang akan ditulis lagi kemudian. Sedang tulisan yang mempunyai buntut panjang hanyalah yang berperkara hukum dan membuat kegaduhan. Setidaknya itulah yang saya dapati di media sosial.

Buku memiliki fenomena yang berbeda.

Buku akan mengajak pembacanya meresap ke dalam waktu. Ia tidak mendorong orang terburu-buru. Ia akan semakin bersahabat ketika dibawa ke sudut yang sunyi. Setiap tema akan menempati sampul yang berbeda, sehingga menandai keunikannya masing-masing, seperti pribadi setiap manusia yang juga berbeda.

Pembaca buku memang tidak bisa serta merta memberikan respon langsung kepada penulisnya. Jika memang respon bisa disampaikan, ada penundaan dari waktu pembacaan. Pernah saya katakan, penundaan adalah ruang misteri di mana kita bisa turut mengisinya sendiri secara bebas. Penundaan itu justru memerdekakan. Keberadaan penulis yang tersembunyi atau tak dikenali itu memberi kesempatan pada pembaca untuk tidak terikat pada konteks pemikiran penulis. Pembaca dapat mereproduksi arti dari teks yang dibacanya sesuai pemahaman pembaca.

Usai membaca buku, kita bisa mengambil waktu untuk menelaah isinya. Kita tidak dikejar oleh kedatangan buku berikutnya, sebab terbitnya sebuah buku juga membutuhkan waktu yang panjang. Jeda-jeda ini memberi kesempatan setiap pemikiran untuk dicerna hingga terhisap sari patinya. Atau, pembaca dapat mengolah lebih jauh isi buku itu tanpa membuat kegaduhan di sekitarnya.

Membolak-balik halaman buku, kita serasa dituntun mewujudkan kasih sayang lewat belaian yang lembut. Lembar-lembar tipis itu mengingatkan kita akan hari-hari yang kita hidupi, sedang huruf-huruf yang tercetak di dalamnya seperti nafas yang kita hirup dan hembuskan setiap saat. Ada, penting, tapi sering terabaikan. Lalu kita jadi ingat dan menghargainya. Dengan bergumul bersama buku kita akan merasa hidup kita sendiri yang bersinar, bukan melulu apa yang ada dalam genggaman tangan.

Fisik buku yang sudah terbaca tidak membuat kita merasa risau atas keberadaannya. Dinding rumah yang menjemukan dapat dihias menjadi cantik dengan jilid-jilid buku dalam rak bertingkat. Buku bekas tidak pernah menjadi bangkai. Pemilik berikutnya pun akan sangat senang menyimpannya. Bahkan satu buku dapat berkelana antar banyak pemilik. Sehingga setiap buku itu sendiri dapat menjadi sebuah cerita, di samping cerita yang tertulis di dalamnya.

Memusnahkan buku tidak pernah semudah menekan tombol. Ada energi besar dibutuhkan, yang kemungkinan dibarengi oleh perlawanan. Sementara itu isi buku yang terlanjur musnah masih akan bisa ditulis ulang oleh yang pernah membacanya.

Scripta manent, yang tertulis itu lebih abadi. Saya kira buku menjadi media paling tepat untuk mewujudkan prinsip pengabadian cipta pikir manusia.

***

Memperingati hari buku internasional ini, ada satu catatan masam perlu saya tambahkan. Ternyata, bagaimanapun juga, buku lebih dicintai daripada manusia. Ini terjadi ketika Anda meminjamkan buku pada orang lain, maka tidak butuh waktu lama Anda akan segera dilupakan, karena buku itu tidak akan direncanakan untuk kembali. Oh, kecuali si peminjam itu benar-benar bertanggung jawab, yang tentu saja langka adanya.

Putaran Tambahan

Waduk Kedung Ombo sudah tampak dari luar jendela sebelah kiri, melewati hamburan awan putih tipis yang mengapung tenang. Pemandangan indah itu perlahan lenyap ke bawah seiring badan pesawat yang miring ke kanan ketika mengambil putaran balik. Saat tabung besi raksasa itu sudah kembali seimbang, pesawat telah menghadap ke barat. Di depan bawah sana adalah bandara Adi Soemarmo. Tapi kemiringan kembali terasa. Ke kanan. Rupanya pesawat berbelok lagi. Danau biru tadi itu pun kembali menampak dari jendela kiri.

Pikiran para penumpang mulai sibuk bertanya-tanya, kenapa pesawat ini berputar-putar saja di udara, tak segera menghampiri landasannya. Pertanyaan tak terucap ini segera disambut oleh suara kapten pilot yang terdengar lewat speaker di atap kabin. Disampaikanlah pengumuman bahwa lalu lintas di Bandara Adi Soemarmo sedang padat, sehingga pendaratan harus tertunda sekitar sepuluh menit. Penjelasan ini seharusnya cukup menenangkan. Tapi wajah-wajah cemas dan gerutu masih bertahan. Pikiran membangun prasangka, menyakiti diri sendiri.

Orang-orang yang sama, dua puluhan tahun silam, diantar orang tuanya ke pasar malam. Di sana mereka merengek-rengek agar dinaikkan ke atas komidi putar. Kegembiraan memenuhi rongga dada ketika keinginan itu terwujud. Tapi saat bunyi desis panjang yang menandai akhir putaran terdengar, mereka sedih dan berharap akan mendapat putaran tambahan dari operator komidi. Sepuluh putaran sudah setimpal dengan harga tiket yang dibayarkan. Mereka harus turun, atau merajuk lagi pada orang tuanya masing-masing.

Tapi di kabin pesawat ini, ketika sang pilot dengan baiknya memberikan putaran tambahan, penumpang justru menggerutu; kecewa dengan jadwal yang tertunda, cemas jika sebenarnya ada masalah dengan pesawatnya, atau yang lain lagi.

Rupanya yang disebut orang dewasa itu adalah orang yang dibelenggu oleh tujuan-tujuan dan kecemasan-kecemasan. Orang dewasa adalah yang sudah lupa cara untuk menikmati momen saat ini.

***

Dulu kita memaksa orang tua merogoh sakunya dalam-dalam agar kita bisa menambah koleksi mobil-mobilan yang sudah berjejalan di kotak mainan. Lalu kita menggelarnya di seluruh lantai kamar, merasa takjub dengan keindahannya. Kini jajaran mobil kita lihat di jalanan, bergerak pelan menunggu uraian kemacetan. Mobil yang sebenarnya, bukan mainan. Apa kabar kegembiraan yang dulu itu?

Ruang Tunggu

Di ruang tunggu, orang lebih dibatasi dalam waktu meski dinding turut merapat di empat sisi. Kata ‘belum’ menjelaskan semua tindakan yang pasif saja itu. ‘Belum’ artinya apa yang diharapkan terjadi dibatasi dari saat sekarang. Lalu ada penantian; sebuah kebebasan yang justru meresahkan.

Gadget mendominasi tangan-tangan orang di sana. (Tak ada lagi lembaran koran yang dibentang di depan muka, sebagaimana pemandangan satu dasawarsa silam.) Benda-benda bersinar segenggaman tangan itu diberi kuasa untuk membawa pikiran pergi dari ruang yang sedang dihuni, tak lagi peduli dengan betapa mengkilapnya dinding kaca yang terus dijaga oleh petugas cleaning service. Kebersihan dihadirkan rupanya hanya untuk diabaikan, dan baru dicari-cari setelah kotor datang.

Dalam penantian ada yang melempar pandangan jauh-jauh, seperti hendak menyegerakan waktu dengan melompati ruang. Apakah berhasil? Banyak yang mulai menguap, dan sebagiannya menyerah dalam dengkur dengan volume yang sanggup memalingkan kepala orang-orang di sekitarnya.

Anak-anak lebih cerdik dalam mempertahankan senyum mereka. Gang-gang di antara deretan kursi adalah sirkuit menyenangkan untuk dikelilingi dengan tawa yang tak peduli akan dengkur yang terhenti karenanya. Setelah gravitasi mempertemukan tubuh mungil mereka dengan lantai yang keras, resah baru dirasakan anak-anak itu.

Di ruang tunggu–sayang tidak kita akui–kesadaran ternyata menjadi beban. Di sana kita ingin membunuh waktu, yang sebenarnya kita ingin membunuh kesadaran kita sepanjang penantian itu. Cara yang gampang kemudian adalah tidur. Banyak juga yang masih mempertahankan kesadarannya tapi tidak mau menyadari penantian itu sendiri. Sebab itulah pikiran dilempar jauh-jauh melalui gadget.

Saya juga di ruang tunggu itu; mengamati penantian.

Amben Kayu Lapuk

Bapak bukan tukang kayu, tapi ia tahu bagaimana merangkai kayu-kayu bekas menjadi balai-balai. Lembaran papan tipis ia jajarkan di atas rangka usuk. Lalu tikar mendong ia beri tugas untuk sedikit mengempukkan sekaligus menghias permukaannya. Tangguhkan dulu pertanyaan soal kenyamanan. Yang penting kelima anggota keluarga bisa hinggap di atasnya untuk mengerubuti nasi, sayur gori, dan sambal terasi bikinan emak. Begitu bertahun-tahun lamanya.

Petang hari adalah kesempatan anak-anak menguasai balai-balai itu. Kakak menjepitkan ujung selimut pada celah dinding kayu, dan membentangkan sisanya sedemikian rupa seperti layar perahu. Belum selesai ia mengembangkan layarnya, saya yang duduk di ujung balai-balai sudah tiba di tengah lautan. Debur ombak terdengar di rongga kepala, meredam derik jangkrik di seberang jendela. Ini tengah lautan, buat apa ada suara jangkrik? Geladak perahu mulai berayun-ayun diterjang gelombang, seiring bergoyangnya balai-balai itu–bukan karena ada mekanisme hidrolik, tapi karena salah satu kakinya lapuk dimakan rayap.

Kakak meraih dayungnya, mengayuh perahu menentukan arah. Lihat purnama dan bintang-bintang di angkasa hitam, cari tempat di mana ikan berkerumun. Saya melempar kail, dan satu per satu ikan terkumpul di dalam palka. Tapi hasil tangkapan itu hilang seketika, karena kakak perempuan menyalakan radio yang mulai menyiarkan sandiwara Saur Sepuh, dan bakwan goreng bikinan emak dihidangkan. Perahu itu lenyap digantikan balai-balai kayu lapuk, bulan purnama kembali mewujud lampu petromak, dan laut menjelma ruang berantakan di samping pawon penuh jelaga.

***

Balai-balai kayu lapuk harganya mungkin belum setara dengan timbunan rongsokan. Tapi sanggup mengantar saya ke ruang mana pun di dunia. Ia seolah memiliki daya magis, yang bahkan tak bisa ditandingi oleh sofa lembut di sebelah komputer tempat saya menulis blog ini. Dan komputer ini sendiri–meski bisa mensimulasikan rupa-rupa kehidupan–tetap tak sanggup menghantarkan romantika jaman balai-balai itu.

Balai-balai ataupun sofa keduanya benda mati. Tak ada kuasa pada mereka. Kecuali pikiran saya sendiri yang aktif bereaksi dan berpartisipasi atas keberadaan benda-benda itu. Ruang lingkup yang melatarbelakangi munculnya pikiran itulah yang berbeda. Balai-balai murahan dinikmati pada kondisi ignorant, lugu tanpa banyak pengetahuan. Pikiran lebih kuat untuk membuat gambar-gambar samar di kepala, yang tidak direcoki oleh pembanding fakta-fakta. Sedang sofa ini hadir bersamaan dengan berjejalnya pengetahuan, termasuk pengetahuan bahwa masih ada banyak sofa yang jauh lebih nyaman di toko-toko sana.

Di sini analogi gelas diisi air masih relevan. Seberapa pun air dituangkan ke dalam gelas, segitulah jatahnya. Ada yang harus dibuang untuk menampung yang baru. Pengetahuan tentang hidup datang menggantikan indahnya fantasi bebas tanpa beban. Ada kecerdasan yang menyingkir sebab datangnya pengetahuan, yaitu kecerdasan untuk ‘”membohongi” diri sendiri, untuk mengalahkan kenyataan pahit. Saya sekarang tidak bisa lagi berada di tengah lautan, kecuali harus benar-benar datang ke sana dengan seluruh raga. Apakah saya lebih pintar dari yang dulu, ataukah malah merugi?

Seperti anak-anak lain pada umumnya, saya dulu digiring orang tua ke sekolah untuk menjemput pengetahuan. Harapannya, dengan dipunyainya pengetahuan itu dunia akan bisa dikuasai. Namun sesungguhnya paradoks sedang diperagakan di sini, dunia yang hendak dikuasai itu justru bakal menguasai saya. Dunia dijemput sebagai permainan yang justru bakal memainkan pemainnya. Inilah benih lahirnya absurditas di tingkat individu. Atlas-Atlas kecil sedang dicetak untuk memanggul beban dunianya masing-masing. Semakin dewasa anak itu, semakin besar beban dunia di punggungnya. Hingga usia dewasa, tubuh yang dulu tegak akan membungkuk di bawah beban hidup.

Ada segelintir orang yang sanggup melihat absurdnya hidup ini, lalu menentukan pilihan lumrah. Mereka memilih jalan hidup asketis, yaitu para sufi, biarawan, atau bhiksu. Atau, mereka yang sudah kasep memanggul beban dunia akan menggidikkan pundak, hingga beban itu tergelincir. Lalu badannya bisa tegak kembali.

***

Saya masih berada bersama milyaran Atlas-Atlas bungkuk; sibuk menggubris dunia, nyeri dengan bebannya, sambil mencoba menangkap angin semilir untuk mengeringkan peluh. Memang pernah ada satu periode di mana muncul keinginan untuk menjalani hidup asketis, tapi bola dunia di punggung ini sudah kadung disematkan jauh sebelum keinginan itu, selagi masih kanak-kanak. Dan bobot massanya melampaui yang biasa disunggi oleh anak kebanyakan.

Saya sadar absurditasnya, tapi saya belum hendak menggidikkan pundak. Saya akan masih menjejalkan pengetahuan ke dalam pikiran–biarpun tumpah-tumpah juga–karena saya kadung menjadi pengharapan agar tak ada lagi saudara yang harus duduk di balai-balai kayu lapuk. Tunggu sebentar, hei… kesunyian di lereng Merbabu itu menggoda sekali.

Mencuci Kuas

Ada yang usai, meski mungkin bukan hasil karya, tapi kesadaran yang telah disapa kantuk atau bilangan penanda waktu yang berganti. Badan menuntut rehatnya dan pikiran menggagas perayaan. Tapi ada yang lebih mesti diperhatikan.

Kuas tak pernah mengeluh atas kerjanya. Saat bulu-bulunya kian tergerus dan tercerabut, tak ada juga pemberontakan. Hanya gumpalan cat saja yang membuatnya tak bersahabat untuk kerja, tapi itu bukan salah dia. Kuas juga mesti disayang, dimandikan agar tetap lembut, sehingga sanggup mengantar warna secemerlang gagasan di kepala, mengadakan lukisan bernilai tak bertara. Hingga kelak saat bulu telah tak bersisa, kuas akan mewariskan gagangnya untuk kerajinan rupa-rupa.

Adanya kita hingga di sini seperti sebuah lukisan. Berapa juta bulu kuas telah berjasa mengantar? Ada satu helai pribadi yang hanya mengirim senyum, yang lainnya mengemudikan mesin memindahkan badan, merubah beras menjadi nasi hingga terhidang di depan mulut, ada yang membencah pikiran menuai inspirasi, yang mencaci dan memuji, dan masih banyak lagi. Tapi seberapa peduli kita untuk mencuci semuanya?

Kita mungkin lupa bahwa yang paling berjasa adalah yang paling tidak kentara, dan adanya justru di depan mata.

Shugyosha

Pengembaraan Musashi telah lama dikuntit, sejak sebelum pertarungannya dengan Haiken. Langkah penguntit itu ringan tapi rikat, menandakan langkah milik seorang bocah. Musashi tak menggubrisnya seandainya tak ada topeng seram yang dibawa bocah itu. Bahkan duel dengan Haiken juga tak banyak menyita waktu dan energi. Pengembaraan itu nyaris tak terjeda, kecuali oleh seorang Bhiksu tua yang sanggup membuat Musashi berlutut sepenuh hati. Bhiksu itu menunjuk dengan telak di mana titik kelemahan Musashi, cukup dengan kata-kata; bukan pedang.

Sejak itu Musashi bertekad untuk selamanya menjadi shugyosha, seorang murid abadi, pencari ilmu, tanpa membatasi siapa yang bakal menjadi guru; tidak pula berhasrat menjadi samurai. Musashi yang ini telah mengalami proses pembelajaran yang lama. Tiga tahun sudah ia dikurung dalam kamar sempit di istana Himeji bersama teks-teks kebijaksanaan yang telah terjilid dalam buku-buku. Adalah pendeta Buddha bernama Takuan yang telah berjasa mengantar Musashi ke sana lewat jebakan yang manis. Tiga tahun itu, Musashi harus melewati hari-harinya hanya bersama lembaran tulisan, terpisah dari pedang dan lawan. Dan ia keluar dengan pribadi yang telah tertransformasi. Karena itu, nasehat Bhiksu tua di pinggir jalan bukanlah sekedar bunyi derau yang layak diabaikan.

Ketika kembara dilanjutkan, bocah penguntit itu memaksa mengajak bicara. Jotaro, demikian bocah itu memperkenalkan diri, telah ditinggal mati orang tuanya dalam perang besar. Ia lalu bertekad untuk menjadi samurai dalam sisa hidupnya yang masih panjang. Untuk itu ia perlu belajar ilmu pedang. Seorang guru telah ia tetapkan: Musashi dari Miyamoto, yang tak terkalahkan itu.

Bagaimana tanggapan Musashi? Mempunyai murid adalah sebuah godaan besar. Seseorang bisa saja berbangga diri dan menuntut kredit dari siapa pun atas pencapaian itu, “Hei, aku sudah menjadi guru! Aku seorang yang hebat!” Dan lalu proses belajar pun tersudahi, tak peduli berapa banyak ilmu masih belum terkuasai. Musashi agaknya sadar betul atas bahaya kepongahan semacam itu. Ia menolak Jotaro–dan siapa pun juga–untuk menjadi muridnya. Ia sendiri masih perlu banyak belajar.

Namun pada akhirnya Musashi menjadi guru juga, bukan semasa ia masih hidup, tapi setelah kematiannya. Ia menginspirasi banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan profesi lewat kitab lima gulungan yang sempat ia tulis. Kita mendapati paradoks di sini, bahwa seorang yang menolak menjadi guru justru menjadi guru besar sepanjang masa.

***

Menetapkan diri menjadi shugyosha (murid) berarti rela untuk tidak menyandang atribut kehormatan, rela tak menikmati privilese yang ada pada guru. Guru adalah orang yang bisa memandang murid-muridnya berada di level lebih bawah, demi adanya selisih pengalaman dan pengetahuan. Dan atas situasi seperti ini, guru justru berada pada kondisi yang rawan. Ia bisa merasa telah sampai pada puncak pencapaian, yang pada kenyataannya murid kelak malah bisa melesat lebih jauh melampaui gurunya. Menetapkan diri selamanya sebagai shugyosha saja, bagi Musashi adalah menghindari bahaya seperti ini.

Dalam sistem pendidikan modern, kita diperkenalkan pada atribut pencapaian akademis berupa gelar kesarjanaan. Saya menghindari gelar ini, sebab saya melihat bahwa gelar sarjana sering kali lebih menunjukkan akhir dari proses pencarian ilmu, alih-alih tanda dari terkuasainya ilmu. Kita bisa membuktikannya dengan bergaul cukup jenak bersama seorang penyandang gelar sarjana. Jika kita tidak mendapatkan pengetahuan lebih setelah pergaulan itu, kita tahu apa artinya.

***

Tiga tahun terkurung di istana Himeji bersama buku-buku mengantar Musashi pada transformasi diri. Seperti ini pulalah mestinya tugas mahasiswa dan sarjana di jaman sekarang. Empat tahun berkubang dalam teks seharusnya lebih dari cukup untuk menyulap diri menjadi lebih baik dan siap menghadapi dunia. Buku adalah kehidupan yang dipadatkan oleh para penulisnya. Mengutip dan menggunakan pemikiran mereka: Abraham Maslow, Alfred Adler, Ferdinand deSaussure, Levi Strauss, Ronggo Warsito, Joyo Boyo, dan lain-lain, adalah ikhtiar untuk menjalani hidup yang progressif, bukan sekedar pamer gudang pengetahuan. Teori-teori yang telah dipelajari mestinya bisa digunakan untuk membaca, memperbaiki, dan mengembangkan kehidupan, serta mengatasi masalahnya.

Adalah sungguh memprihatinkan saat kita jumpai sarjana yang lupa akan ilmunya, dan bahkan menuding bahwa berbicara berdasar semua ilmu itu adalah omongan teks-book yang bodoh.

Bukankah adalah tanggung jawab sarjana untuk mencerahkan dan menginspirasi masyarakat di lingkungannya, demi ilmu yang sudah dimiliki?