Humaniora

Seniman di Bawah Ancaman Revolusi Industri 4.0

Perkembangan teknologi, khususnya infotek, telah mencapai revolusi yang mencengangkan. Setiap individu terintegrasi dengan segala hal melalui infotek. Zaman baru yang datang menggempur ini ditandai dengan istilah Revolusi Industri 4.0. Istilah ini pun menjadi mantra untuk diucapkan setiap orang agar tampak tidak tertinggal dalam arus zaman. Tak jarang dalam setiap pidato dan ceramah selalu diperdengarkan istilah Revolusi Industri 4.0 agar terkesan forum tersebut berkemajuan dan visioner.

Benarkah kesan kemajuan yang dibalut 4.0 (four point O) ini mengusung substansi yang juga berkemajuan? Kita perlu sejenak melongok sejarah yang belum terlalu lampau.

Pada dekade 60-an, para pemikir Jerman berkumpul di Frankfurt untuk mengembangkan gagasan kritis yang mengungkap penyakit sosial di Barat–dan dunia–akibat dua revolusi industri sebelumnya, sebagai hasil dari penemuan mesin uap, alat-alat produksi massal sarana transportasi dan telekomunikasi. Penyakit sosial tersebut diidentifikasi oleh Herbert Marcuse dengan istilah manusia satu dimensi. Karakteristiknya adalah manusia menjadi terasing dari dunianya, bahkan dari dirinya sendiri. Manusia melebur ke dalam sistem total untuk hanya ditempatkan sebagai elemen-elemen kecil. Ilmu pengetahuan tidak membawa pada kesadaran, sebab demi objektivitasnya, ilmu mesti berkembang tanpa unsur kepentingan manusia. Kebutuhan bukan lagi soal keberlangsungan hidup dan pemberdayaan melainkan demi terjualnya barang produksi. Bahasa sebagai alat komunikasi dan akses pada kebenaran juga dibatasi agar manusia tidak berkelit dari situasinya yang diatur oleh dunia industri. Media turut mengkampanyekan benda-benda tadi agar seolah menjadi barang wajib demi keberlangsungan hidup melalui citra-citranya yang memukau.

Gerakan intelektual yang disebut mazhab Frankfurt ini hanya berhasil dalam mendeskripsikan masalah manusia modern, tanpa bisa menawarkan obatnya. Namun tiba-tiba revolusi datang lagi dalam gelombang ketiga dengan dikembangkannya mode komunikasi internet dan seluler mulai dekade 70-an. Dan kini alat-alat komunikasi itu melekat pada diri setiap individu untuk revolusi keempat.

Agaknya, perkembangan infotek tidak akan cukup berhenti sebagai alat. Infotek akan dikembangkan hingga memiliki kecerdasannya sendiri. Potensi-potensi yang dimiliki manusia, dari kecerdasan hingga emosi, akan dikodekan ke dalam algoritma yang kemudian ditanam ke dalam mesin. Maka saat itu mesin akan merenggut tugas-tugas manusia. Sebuah software yang dinamai EMI (Experiments in Musical Intelligence) yang ditulis oleh David Cope, Profesor Musikologi Unversitas California, telah sanggup menggubah lagu tanpa campur tangan seniman. Lagu hasil ciptaan mesin yang bebas dari unsur manusia ini diperdengarkan ke publik yang seketika merasakan keindahannya, tanpa menyadari bahwa lagu tersebut ciptaan mesin.

Jika software telah berhasil menggubah lagu, maka tidak mustahil dia juga akan menciptakan lukisan. Pelukis jelas dalam ancaman besar, bahkan sebelum teknologi sempat ditanami kecerdasan buatan sekalipun. Pelukis poster bioskop kehilangan pekerjaan ketika poster bisa dicetak dengan cepat dan berbiaya murah. Bisnis kartu ucapan gulung tikar, setelah orang merasa cukup dengan mengirim pesan pendek lewat ponsel. Buku-buku cetak kehilangan peminat karena soft copy-nya sudah beredar di smartphone. Dan dengan ditanamnya kecerdasan buatan, aktor dan aktris terancam menganggur karena citra animasi bisa menghadirkan sosok Bruce Lee yang sudah lama meninggal, dan software bisa melafalkan/membunyikan huruf menjadi dialog.

Konsekuensi berikutnya adalah menjelmanya individu-individu sebagai organisme tak berguna, sebab kualitasnya telah dilampaui oleh mesin. Banyak pekerjaan akan direbut dari kuasa manusia, hingga manusia kehilangan satu metode penting dalam aktualisasi diri. Teori Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan menyatakan bahwa aktualisasi diri menempati puncak dari segala kebutuhan. Kebutuhan ultimat ini pasti datang kepada setiap manusia, untuk menjadi penegas akan eksistensinya sebagai subjek berkesadaran. Namun dengan terenggutnya pekerjaan oleh mesin beralgoritma maka manusia akan gagal, atau paling tidak terhambat, dalam penegasan eksistensi. Krisis psiko-sosial pasti akan muncul sebagai konsekuensinya, entah dalam bentuk apa.

Sisa nilai yang masih dikandung manusia saat itu hanyalah sebagai konsumen. Maka kritik Jean Baudrillard tentang manusia konsumsi menjadi semakin relevan, yaitu manusia menciptakan kelas-kelasnya lewat barang-barang yang dikonsumsi. Namun pertanyaan besarnya adalah dari mana konsumen memperoleh alat tukarnya untuk barang konsumsi itu jika mereka tidak lagi bekerja. Siapa yang sanggup membeli produk-produk artifisial itu? Atau, untuk siapa barang-barang tadi diciptakan? Jika untuk semua kalangan, apakah mode ekonomi turut berubah? Jika jawabnya iya, maka pasti akan muncul revolusi gelombang kelima, keenam, dan seterusnya hingga manusia dibuat terseok-seok melayani perubahan-perubahan mendadak yang tidak perlu. Hidup kita akan dihabiskan hanya untuk mengejar dunia.

Dengan asumsi masyarakat pada umumnya menjadi pengangguran setelah pekerjaannya dirampas oleh mesin-mesin berkecerdasan, dan barang-barang teknologi tinggi hanya bisa dibeli elit tertentu, maka polarisasi sosial pasti muncul. Di satu ujung adalah kaum elit yang dilayani oleh mesin-mesin, merasa terpesona oleh benda seni tanpa jiwa, dan tidak butuh layanan dari sesama manusianya. Di sisi lain adalah para pengangguran yang akan kembali pada mode ekonomi pra-modern dengan melayani sesamanya tanpa kehadiran teknologi yan telah berkhianat. Polaritasnya akan tampak mencolok secara kasat mata.

Pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020 ini patut dicurigai sebagai akselerasi pelucutan kualitas manusia itu, entah oleh siapa. Manusia dipaksa segera mencicipi suatu kondisi terasing dari sesamanya lewat social distancing yang dikukuhkan sebagai protokol jika hidupnya mau selamat. Selanjutnya mesin-mesin beralgoritma segera disorokkan ke ruang-ruang privat untuk mengambil peran dalam interaksi. Manusia dipaksa bersentuhan dengan mesin untuk menjaga keutuhan sosialnya.

Sebagai seniman saya selalu menyatakan hidup kita ini adalah seni. Hidup itu seni, terutama karena ada proses yang dikerjakan. Namun ketika pekerjaan tidak lagi tersedia, tak ada lagi apa-apa untuk diproses, maka hidup ini akan menjadi tidak layak dijalani. Apa lagi jika pekerjaan seni secara spesifik turut direnggut oleh algoritma, sebagaimana EMI bisa menggubah lagu. Maka pertanyaan besarnya adalah apa yang bisa diupayakan oleh seniman dalam menyikapi revolusi ini.

Strategi Bertahan dalam Gempuran Revolusi 4.0

Pemikiran kritis ini tidak saya harapkan berhenti pada diagnosis masalah belaka, namun saya mencoba mengusulkan gagasan strategis. Kedatangan revolusi ini tak bisa dibendung, mesin-mesin infotek telah merambahi kehidupan sehari-hari. Saya pun turut membeli smartphone dan memasang jaringan internet. Perubahan saya ikuti namun dengan tetap membuka wawasan kritis, bukan semata-mata latah tergopoh-gopoh memberi sambutan hangat. Arus revolusi ini bukan sama sekali kabar gembira, melainkan bencana.

Dunia seni ke depan bukan lagi semata-semata tentang proses penciptaan, melainkan akan pula disusupi upaya kompetisi melawan kekuatan yang melampaui kemampuan manusia.

Dalam rangka bertahan dari ancaman ini, yang bisa dilakukan seniman adalah menguatkan narasi tentang keunggulan manusia. Lukisan yang digores oleh tangan pasti lebih bernilai dibanding hasil print-out. Nilai lebihnya adalah sebab lukisan itu sanggup merekam jiwa sang seniman saat berkarya. Perasaan suka ataupun duka yang menemani proses penyaluran cat ke atas kanvas akan turut bersemayam ke dalam lukisan itu, dan selanjutnya dipancarkan ke ruang sekelilingnya. Perekaman emosi ini tidak akan terjadi jika penghantar cat itu adalah mesin yang nir-jiwa.

Manusia diciptakan dengan kelengkapannya: tubuh, perasaan dan pikiran. Ketiga-tiganya harus dikembangkan sebagai bukti apresiasi dan rasa syukur terhadap Pencipta. Mesin beralgoritma hendak menumpulkan daya fisik kita, dengan memaksa kita mendekam statis di satu tempat tanpa beranjak demi interaksi sosial. Jika ini terjadi maka evolusi manusia ke depan akan mengalami pengembangan/pembesaran di bagian kepala, dengan tubuh yang menyusut, sebab hanya otak yang difungsikan untuk bekerja, tanpa perlu menggerakkan badan. Robot sudah mengambil alih tugas fisik itu. Dalam situasi seperti itu, spesies manusia sedang menuju ke ambang kepunahannya.

Narasi-narasi semacam ini harus digaungkan seluas-luasnya ke tengah publik. Seperti film Terminator 2 yang mengisahkan penghancuran perusahaan bernama Cyberdyne System yang memproduksi mesin-mesin berkecerdasan lewat projek Skynet. Cyberdine diledakkan karena di masa mendatang mesin-mesin ciptaannya itulah yang akan memusnahkan spesies manusia. Sebagai sebuah alegori atau kiasan, fiksi ilmiah ini layak direnungkan.

Kemudian terhadap kehadiran tak terbendung dari perangkat-perangkat cerdas itu seniman harus mampu menungganginya untuk menghasilkan karya yang lebih bernilai, sambil terus mengkampanyekan kualitas kemanusiaan. Seperti yang saat ini saya lakukan: memanfaatkan infotek untuk menyuarakan kebernilaian manusia.

Alih wahana, atau saya lebih suka istilah multi-wahana sebab tidak berkonotasi meninggalkan wahana sebelumnya, merupakan satu strategi yang layak dilakukan. Sebongkah emas boleh diusung dengan gerobak ataupun mobil ataupun pesawat, tapi emas itu tidak boleh diganti. Emas dalam metafora ini saya maksudkan sebagai nilai-nilai luhur kemanusiaan yang diwariskan dari nenek moyang. Nilai itu harus lestari meski situasi, peradaban, dan perangkat-perangkat telah berubah dan berkembang beraneka ragam.

Multi-wahana mengisyaratkan bahwa seorang seniman tidak cukup menggunakan satu medium saja untuk menumpahkan pikir dan rasa, sebab kandungan pikir dan rasa itu selalu melimpah dan terus berkembang dalam substansi dan bentuknya. Bentuk yang beraneka ragam ini mungkin tidak bisa diwadahi oleh medium jenis tertentu, namun bisa dengan medium lain. Dalam praktek multi-wahana ini misalnya saya menjadikan media sosial sebagai ruang presentasi kesenian alternatif secara virtual, di samping ruang pameran yang konvensional. Saya bisa berkunjung ke situs wisata secara jasmaniah untuk melukis pemandangan di sana, namun saya juga membuat siaran langsung via facebook ataupun direkam dalam video untuk diunggah di youtube. Pada momen saya melukis on the spot, situasi mungkin sepi dari perhatian publik sebab pandemi. Sedang di dalam media sosial, perhatian itu riuh. Meski demikian perlu tetap dicatat bahwa mengapresiasi lukisan paling efektif adalah berdiri langsung di hadapan lukisan itu, bukan lewat kaca bersinar.

Prinsip multi-wahana juga mendorong saya untuk merambahi dunia sastra, sebab gagasan saya atas kehidupan sering kali tidak cukup disalurkan secara visual. Medium verbal sanggup menyalurkannya, sebelum medium lain bisa dipertimbangkan. Namun pada akhirnya nanti, sekeras apa pun seniman meluaskan medium ekspresinya, mesin-mesin berkecerdasan juga akan melakukan hal serupa dengan kemampuannya yang lebih canggih. Karena itu, seniman harus mempertahankan hirarkinya di atas mesin-mesin berkecerdasan. Seniman harus bisa menempatkan pesaingnya itu dalam posisi pelengkap yang mendukung, bukan sebagai sentra presentasi.

Pada akhirnya kita semua harus bersepakat bahwa mesin, secerdas apa pun nantinya, hanyalah instrumen, alat untuk memudahkan hidup manusia, tanpa boleh diprioritaskan setara atau bahkan lebih mulia dari manusia. Sebab dalam jiwa manusia, sifat-sifat Tuhan bersemayam. Kemudahan hidup juga harus dalam keterukuran. Jika seluruh proses kehidupan menjadi mudah–bahkan instan–maka hidup ini pasti tidak layak dijalani.

Pemajuan Kebudayaan

Saya patur bersyukur sebagai pelaku seni yang tinggal di kota Salatiga, sebab kota ini berusaha memajukan kebudayaannya dengan merancang peraturan daerah atas inisiatif DPRD tentang pemajuuan budaya daerah.

Secara garis besar penyelenggaraan pemajuan kebudayaan ini dilaksanakan dalam empat langkah penting, yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan, yang masing-masing diuraikan lebih rinci.

Yang patut saya apresiasi lebih dari rancangan Perda ini adalah disebutkannya beberapa term seperti: kebebasan berekspresi, reinterpretasi, pengayaan keberagaman, inovasi, dan adaptasi menghadapi perubahan.

Sebagai pelaku seni, saya memahami berdasar pengalaman bahwa proses utama dari kebudayaan adalah produksi tanda. Di sini, entah disadari atau tidak, disiplin yang digunakan adalah semiotika. Tanda-tanda diciptakan oleh pelaku budaya yang dalam prosesnya membutuhkan kebebasan berekspresi. Tanda tersebut diupayakan memiliki kekhasan. Kekhasan tanda oleh Saussure dinyatakan dalam rumus bahwa kebernilaian tanda itu sebab pembedaannya dari tanda yang lain. Sifat distingtif ini secara logis melahirkan konsekuensi adanya keberagaman. Semakin produktif seniman berproses, semakin kaya keberagaman itu.

Tanda itu kemudian dipertukarkan kepada sesama. Pihak penerima berupaya mengurainya dalam upaya memahami agar komunikasi berjalan efektif. Di sini disiplin ilmu berkembang lagi dalam hermeneutika. Penerima tanda bisa saja memiliki pemahaman lain atas tanda itu, berbeda dari maksud si pembuat dan atau si pengirim tanda. Pergeseran makna sangat mungkin terjadi karena penerima tanda juga sudah memiliki pengalaman kognititfnya sendiri, yang menjadi konteks baru dalam proses pemaknaan tanda itu. Maka tidak bisa tidak, reinterpretasi atas produk kebudayaan pasti terjadi.

Suatu teks boleh saja dipahami berbeda di antara dua individu. Perbedaan lebih mungkin terjadi antar generasi. Bermunculannya perangkat sehari-hari yang baru dan berkembangnya infrastruktur pasti berpengaruh terhadap cara pandang atas kehidupan. Dengan perspektif yang berbeda, maka pemaknaan atas suatu tanda budaya pasti bergeser pula. Karena itu adaptasi atas perubahan harus disiapkan. Termasuk di antaranya kerelaan generasi terdahulu untuk diproduksinya wacana baru oleh generasi yang datang sesudahnya. Pengoperasi android tentu memiliki wacana sendiri dalam praktek kehidupan yang berbeda dari pengoperasi mesin ketik.

Ketidakrelaan diproduksinya wacana yang mengikuti perkembangan jaman, patut dicurigai sebagai upaya mempertahankan hegemoni kekuasaan. Hanya saja kekuasaan dalam konteks ini adalah senioritas. Michel Foucault menengarai bahwa mereka yang sudah menduduki kekuasaan (baca: senior) akan selalu berupaya memproduksi imu pengetahuannya sendiri demi tetap dalam posisinya. Sebanding dengan itu, produksi ilmu pengetahuan baru dari kalangan tak berkuasa (baca: generasi muda) juga akan dihambat. Lalu pan optikon atau mata-mata pengawas yang mencemaskan akan dipasang menyoroti generasi baru tadi, agar tidak mencoba memproduksi ilmu pengetahuannya sendiri (jangan sembarangan, durhaka, nanti kualat). Jadilah kemudian kemandegan budaya. Agar ini tidak terjadi, saya mendukung rancangan peraturan daerah tersebut untuk disyahkan menjadi Perda.

Didi Kempot

Dari lagu-lagu Didi Kempot saya sempat mengerti–secara satire–bahwa asmara itu berbanding lurus dengan derita; setidaknya itu yang saya rasakan selama hidup melajang dan dalam pencarian. Asmara selalu berurusan dengan perpisahan dan kekecewaan, sehingga melodi-melodinya disusun sendu mendayu. Lagu-lagu ini mungkin hasil sublimasi, tapi bukan mesti dari pencipta dan penyanyinya sendiri. Setidaknya sublimasi dari tekanan jiwa kolektif; semua orang memilikinya.

Oleh karena itu lagu-lagu Didi Kempot yang berkarakter etnik itu menjadi populer, yang artinya sangat berterima dengan khalayak ramai, khususnya masyarakat Jawa. Konser amalnya lewat media online yang sukses menggalang dana besar dan rencana konser di GBK November nanti menunjukkan bahwa lagu-lagunya sudah menembus batas etnisitas. Masyarakat penutur bahasa selain Jawa bisa turut menikmati.

Dengan demikian Didi Kempot secara tidak langsung membuktikan bahwa ada struktur pusat dalam kebudayaan yang dari sana terhubunglah penanda-penanda yang beragam dan individual itu. Seperti digambarkan oleh Carl G. Jung dengan pulau-pulau yang seolah terpisah oleh air laut namun sebenarnya menyatu di kedalamannya.

~o()o~

Rencana konser di ibu kota itu tak pernah terwujud. Didi harus berpulang lebih cepat dari rencananya. Seniman selalu lebih nyaring dalam karya justru setelah kematiannya. Mungkin ini yang terbaik bagi alur hidup sang legenda; meninggal pada saat-saat ia dicinta sedemikian besarnya.

Dan ijinkan saya sedikit mengekspresikan rasa kehilangan ini dengan melukis potret Almarhum, untuk menyatakan bahwa ada yang abadi darinya.

Dibungkam

Jika pada postingan sebelumnya saya sebutkan bahwa dunia akademis diasingkan dari penghayatan hidup sehari-hari, kini saya mau mengungkapkan secara lebih blak-blakan tentang fakta sosial di sekitar saya.

Upaya emansipasi penyandang cacat dimandulkan.

Telah cukup lama saya bersikap kritis terhadap istilah “penyandang disabilitas” dan “difabel” yang disematkan untuk orang-orang dengan tubuh tidak genap. Saya berargumen bahwa dua istilah yang telah dilembagakan oleh negara tersebut justru merugikan kami, sebab ada prasangka bahwa kami adalah orang-orang yang dilekati oleh ketidakmampuan. Kami tidak pecus.

Atas dua istilah yang stigmatis ini saya melakukan pembuktian terbalik. Saya melatih diri menembus ketidakmampuan, sehingga saya patut bertanya, apa yang disable di sini?

Lebih jauh dengan menggunakan dalil-dalil filosofi Habermas tentang komunikasi kesetaraan, saya menuntut agar penyandang cacat benar-benar diperlakukan sebagai subjek. Dalam konteks dua istilah stigmatis tadi, saya minta agar penyandang cacat diberdayakan terlebih dahulu dengan berbagai disiplin ilmu, seperti linguistika, epistemologi, dan semiologi, untuk kemudian ditanya apakah bersedia menyandang istilah disabilitas. Sehingga istilah itu bukan sekedar pemberian yang tak bisa direspon secara aktif, seolah kami ini bayi yang tidak bisa memilih namanya sendiri.

Sikap dan tuntutan saya berujung tuduhan dan kecurigaan bahwa saya sedang mencari panggung sendiri. Tuduhan tersebut dilontarkan justru oleh aktivis bertubuh normal yang mengurusi para penyandang cacat. Sementara saya adalah subjek yang berada di seberangnya, yang bersama subjek lain yang biasa dia urusi. Semestinya dia mendengar dan mengakomodir pemikiran dari perspektif kami, bukan berlagak sudah tahu apa yang kami butuhkan. You are not me, in fact.

Sementara penyandang cacat lain, karena sikap mereka yang manis dan menerima, akan dijunjung-junjung. Sikap menerima itu tidak lain adalah konsekuensi dari ketidakberdayaan yang melekat permanen.

Jadilah tetap lemah dan tak berdaya agar terus disayang. Dan yang disayang itu adalah objek yang menyenangkan.

Saya memilih menjadi subjek. Karenanya saya menolak menjadi lemah.

Kampus Masih Dijauhkan dari Kehidupan

Saya sempat merasa kasihan pada mahasiswa. Mereka demikan bersemangat mempelajari teori-teori hasil pemikiran orang-orang cerdas di berbagai masa; mencermati perkembangan cara pandang atas kehidupan yang berubah dan berganti di setiap jaman.

Mereka di kampusnya mempelajari, misalnya, klasifikasi kesadaran dalam teori kritis yang pada tingkat tertinggi harus memiliki kesadaran kritis dan transformatif, yaitu untuk menemukan yang tidak beres dari apa yang sedang terjadi, dan lalu berupaya melakukan perubahan. Mereka mengiyakan dan mengamini kata-kata Jurgen Habermas bahwa setiap individu mesti menjadi subjek yang aktif, agar jangan sampai diobjekkan oleh liyan hingga hanya bisa diam menerima. Demikian juga sebaliknya.

Lalu ada di antara mahasiswa itu yang yakin dapat mengubah dunia setelah keluar dari kampus nanti dengan ilmu yang sudah dimiliki, sebab mereka sudah lama melihat ada yang tidak beres di lingkungan hidupnya yang luas.

Tapi apa yang kemudian mereka jumpai?

Teori-teori itu tiba-tiba menjadi tumpul dan tak berlaku di lapangan kehidupan. Cita-cita mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah susah payah dicari pun binasa seketika. Ilmu itu lumpuh di hadapan bias-bias kekuasaan, birokrasi, dan mayoritas.

Kesadaran kritis mereka berhenti di situ tanpa beranjak menuju transformasi, sebab perubahan akan dicurigai sebagai subversi. Perubahan dianggap penentangan atas kesepakatan lembaga-lembaga negara, yang sesungguhnya belum tentu benar dan mengerti. Upaya mereka untuk menjadi subjek tak terwujud barang secuil, sebab kewajiban mereka adalah patuh menerima dengan punggung yang tertekuk.

Lalu para mahasiswa yang telah menjadi sarjana itu pun melakukan refleksi ke masa lalunya yang belum begitu jauh. Ilmu, teori, metode yang diajarkan di kampus dulu ternyata hanya sebagai barang mewah yang dipajang dalam etalase megah, dengan kaca pelindung yang tebal. Semuanya bisa dilihat, menggoda, mengagumkan, tapi tak bisa dimiliki untuk diwujudkan; sebab kebenaran di lapangan kehidupan tetap saja milik kekuasaan.

Mereka pun bertanya, apa gunanya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Cukup Aku Saja

Saya pernah berdoa, semoga saya menjadi manusia terakhir yang terlahir cacat di muka bumi ini.

Doa ini tidak pernah terkabul. Hingga kini masih saja ada bayi-bayi terlahir dengan struktur biologis tidak sewajarnya, yang sekaligus mengurangi fungsi-fungsi motorik bahkan mentalnya. Apakah saya kurang serius dan tulus dalam berdoa?

Ini masalah misterius kehidupan yang masuk ranah kepercayaan. Maka saya tidak akan berlam-lama di sana. Beda agama, menyajikan beda narasi. Satu bicara takdir, satu lagi tentang perputaran. Ini soal kecocokan pribadi.

Tapi yang ingin saya tekankan adalah, saya benar-benar dengan sepenuh hati berharap tidak ada orang melanjutkan/menggantikan situasi yang saya alami. Maka saya tidak setuju dengan model perjuangan untuk menuntut kemudahan aksesibilitas melalui penanaman pikiran bahwa siapa pun bisa menjadi cacat.

Orang Jawa punya istilah ngalup, yaitu pengharapan buruk untuk terjadi di masa depan. Kata ini hanya bisa dipahami lewat rasa. Dan siapa pun yang menjumpai rasa itu akan berhati-hati dengan pikiran dan kata terucap maupun tertulisnya.

“Kalau aku tidak kamu tolong, kamu akan mengalami seperti aku.” Betapa dunia ini penuh kekerasan dengan diplomasi seperti ini. Saya tetap bertahan dengan doa yang tak terkabul itu, “Semoga tidak ada lagi bayi terlahir cacat, ataupun orang yang mengalami kecelakaan dan harus diamputasi. Akhirnya, biarkan saya sendirian dalam kondisi ini, dan bahkan menjadi minoritas dalam minoritas.”

Hasratmu, Deritamu

Apa yang menjadi keinginanmu itu adalah apa yang bakal menjadi bebanmu.

Saya tidak hendak menganjurkan orang agar memberangus asa dan cita-citanya. Saya tidak mengajak orang agar memilih hidup asketis di hutan-hutan, sehingga absen dari peradaban.  No, not at all.

Tapi saya hendak mengingatkan bahwa hasrat, cita-cita, asa, atau apa pun istilahnya (sekarang disebut mimpi, saya bingung dengan istilah ini), adalah tanggung jawab dari yang menumbuhkannya sendiri di rongga kepala dan dadanya. Dialah yang wajib berjuang untuk pertama kali, dengan segala kerepotan dan susah payahnya, agar cita-citanya itu terwujud.

Jika tiba-tiba muncul keinginan pada diri saya untuk menyeberangi kali yang melintang di depan, maka sayalah yang harusnya terbebani oleh rasa ingin itu. Saat itu pilihan saya ada dua, segera bersusah payah menyeberangi kali dengan cara apa pun–kesot, jalan terpincang-pincang, meloncat-loncat–hingga tiba di seberang sesuai keinginan itu; atau saya memupus hasrat itu dan bertahan saja di tempat semula; toh di sini baik-baik saja.

Pilihan kedua itu lebih bijak jika ternyata langkah awal saya adalah meneriaki orang yang tidak berkepentingan agar menggendong tubuh saya ke seberang.

***

Alfred Adler menyarankan orang untuk bersikap realistis atas kenyataan dirinya, di antara kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Wujud sikap realistis ini adalah kerja sama di antara makhluk sosial itu, sebab tidak ada manusia super yang menyelesaikan urusan hidupnya seorang diri. Kerja sama bagi saya mengisyaratkan adanya keuntungan dua arah (mutual benefit).

Maka dalam contoh kasus menyeberangi sungai tadi, pertanyaan saya adalah “Apa yang bisa saya berikan pada orang lain yang mau membawa saya ke seberang?” Tentu bukan semata-mata materi jawabnya, bisa apa saja sejauh kemampuan yang ada pada diri saya. Tapi yang jelas, mengalirkan keringat liyan untuk memenuhi hasrat sendiri bagi saya tidak elok. Apa lagi saya belum menunjukkan–paling tidak pada diri sendiri–satu upaya apa pun.

Bagaimana Anda sendiri menyikapi hasrat yang muncul dalam diri Anda?

 

Tumbuh Saja

Jika harus berpikir pragmatis, untuk apa buah nangka kecil ini memaksa tumbuh di ranting yang rapuh? Nanti ketika buahnya membesar, tidakkah ia akan membebani pohon yang belum sanggup menopang bobotnya? Bisa diduga bahkan, bakal buah ini akan gugur sebelum sempat masak.

Ternyata dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak terikat oleh tujuan. Sesuatu tumbuh karena memang perlu tumbuh. Proses itu sendiri bergeser menempati posisi hasil.

Sedang umumnya manusia cenderung tidak sanggup menanggung rasa kehampaan, bahwa suatu kejadian tidak harus memiliki tujuan. Fakta bahwa ada yang memang harus sia-sia itu sangat membebani rasa.

Tapi jika kita ingat dulu pernah berlarian di bawah derasnya guyuran hujan, tanpa bermaksud pada apa-apa, kita tidak merasa nelangsa. Jadi seharusnya kita tidak apa-apa juga jika sekarang dihadapkan pada ketidakjelasan proyeksi masa depan.

Namun ingatan lama itu tadi rupanya tidak cukup mengobati. “Itu kan dulu, waktu masih kanak-kanak, serba belum tahu.”

Lalu kita membuat tujuan-tujuan kita sendiri, untuk menutupi beban rasa tadi. Dan agar lebih menghibur serta dramatis, kita beri istilah merdu: “mimpi”. Dan lelaplah kita dalam hidup yang tidak senyatanya.

***

Ketika kita percaya pola sebab-akibat sebagai narasi besar kehidupan, kita bisa merasa cukup dengan berbuat di saat ini. Berbuat adalah mengelola sebab-sebab. Sebab adalah dimensi di mana kita punya kuasa di dalamnya. Kita berkuasa atas tindakan kita, sebelum kita dikuasai oleh akibat-akibatnya.

Maka sekedar tumbuh saja, atau berproses saja, tidaklah serta-merta itu hampa akan tujuan. Tujuan sejati itu bukan dari kita, tapi dari Kuasa Agung. Ia punya agenda besar yang melingkupi banyak pihak. Demi pihak lain, kadang kita perlu merelakan hasrat-hasrat kita sendiri. Sementara itu, kita tidak henti dari berbuat baik, sebab kelak Kuasa Agung akan mengirimkan akibat-baiknya pada kita, sesuai skema-waktu-Nya sendiri.

Menyerahkan akibat itu bukan meminta-minta. Setiap permintaan selalu diawali oleh hasrat yang intinya adalah keakuan. Sering kali kita sejatinya mengedepankan keakuan, tapi lalu membalutnya dengan selimut religius. Yaitu saat kita menyerukan hasrat-hasrat, lalu menyebut nama Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang dibebani untuk mewujudkan hasrat itu. Sesungguhnya kita telah memperalat Tuhan untuk ego kita sendiri. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!” begitu retorikanya.

Sedang orang yang benar-benar percaya akan kuasa Tuhan, justru tidak banyak menghitung-hitung akibat nanti, tapi menyerahkan itu di luar kuasa pribadinya. Sebab tanggung jawabnya adalah berbuat baik dalam dimensi sebab. “Biarlah Tuhan yang mengirim akibatnya, jika aku memang berhak.”

Bersyukur itu menghargai dan menikmati apa yang sedang tersaji, alih-alih menghasrati apa yang tidak dimiliki.

***

Harus saya akui bahwa bicara seperti ini dalam tataran intelek sangatlah mudah. Tapi manakala saya diceburkan dalam praktek atau pengalaman, mungkin saya akan terseok-seok juga menjalaninya. Ketika saya harus menyesuaikan diri dengan skema waktu Tuhan, ketika saya bertanya-tanya apakah layak untuk balasan atas tindakan yang dulu, semua ini menguras energi karena jawabannya bertahan lama dalam misteri.

Namun hidup yang nyata itu toh tidak di mana-mana, kecuali di sini saat ini. Dan saat ini selalu ada yang untuk dikerjakan dengan gembira, di samping getir-getir yang ada. Setidaknya, memperhatikan buah nangka tadi cukup menggembirakan dan dapat membawa pada perenungan panjang ini. Dengan demikian buah nangka itu akhirnya tiba pada tujuannya, yaitu untuk menjadi inspirasi yang mencerahkan.

Buah nangka kecil yang bakal segera gugur itu tidak sia-sia juga.


SAM_4735

Membaca Buku

Scripta manent, verba volant –demikian bunyi sebuah kutipan dari jaman Romawi kuno. Apa yang tercatat akan selalu lekat, sedang yang sekedar terucap mungkin bakal lenyap. Secara empiris saya melihat kebenarannya, dengan membandingkan tradisi di jaman ini terhadap tradisi lampau yang belum terlalu jauh.

Saya masih ingat di suatu malam yang mulai merambat naik, saya bersama dua kakak belum juga diserang kantuk, sedang nenek ada bersama kami. Perempuan yang melahirkan Bapak itu mulai menuturkan satu dongeng untuk menghibur cucu-cucunya yang akan merasa gembira dengan kisah apa saja. Sampai dongeng itu selesai, tiga cucunya ini belum juga tidur. Sial bagi Nenek. Esoknya kami minta didongengi lagi, bahkan dengan cerita yang sama.

Sekarang jika saya bertanya pada dua kakak saya tentang isi dongeng masa kecil itu, keduanya tidak lagi ingat. Sayang sekali, dan lebih patut disayangkan adalah kebiasaan mendongeng itu tidak diteruskan, di keluarga mana pun. Maka jika kita hitung, berapa banyak dongeng lisan sudah hilang dari kebudayaan kita? Di sinilah kita merasa perlu adanya budaya menulis, sebagai upaya pengabadian cipta pikir manusia.

Namun di saat yang sama sebuah ironi sedang terjadi. Media untuk menulis dibuka lebar. Setiap orang kini bisa dengan mudah menumpahkan isi pikirannya dalam tulisan yang juga mudah dibaca orang lain. Ada praktek pengabadian pikiran secara massive. Tapi dampak yang muncul justru kesementaraan yang semakin nyata terasa. Apa yang sudah ditulis bakal segera diabaikan karena mengantisipasi apa yang akan ditulis lagi kemudian. Sedang tulisan yang mempunyai buntut panjang hanyalah yang berperkara hukum dan membuat kegaduhan. Setidaknya itulah yang saya dapati di media sosial.

Buku memiliki fenomena yang berbeda.

Buku akan mengajak pembacanya meresap ke dalam waktu. Ia tidak mendorong orang terburu-buru. Ia akan semakin bersahabat ketika dibawa ke sudut yang sunyi. Setiap tema akan menempati sampul yang berbeda, sehingga menandai keunikannya masing-masing, seperti pribadi setiap manusia yang juga berbeda.

Pembaca buku memang tidak bisa serta merta memberikan respon langsung kepada penulisnya. Jika memang respon bisa disampaikan, ada penundaan dari waktu pembacaan. Pernah saya katakan, penundaan adalah ruang misteri di mana kita bisa turut mengisinya sendiri secara bebas. Penundaan itu justru memerdekakan. Keberadaan penulis yang tersembunyi atau tak dikenali itu memberi kesempatan pada pembaca untuk tidak terikat pada konteks pemikiran penulis. Pembaca dapat mereproduksi arti dari teks yang dibacanya sesuai pemahaman pembaca.

Usai membaca buku, kita bisa mengambil waktu untuk menelaah isinya. Kita tidak dikejar oleh kedatangan buku berikutnya, sebab terbitnya sebuah buku juga membutuhkan waktu yang panjang. Jeda-jeda ini memberi kesempatan setiap pemikiran untuk dicerna hingga terhisap sari patinya. Atau, pembaca dapat mengolah lebih jauh isi buku itu tanpa membuat kegaduhan di sekitarnya.

Membolak-balik halaman buku, kita serasa dituntun mewujudkan kasih sayang lewat belaian yang lembut. Lembar-lembar tipis itu mengingatkan kita akan hari-hari yang kita hidupi, sedang huruf-huruf yang tercetak di dalamnya seperti nafas yang kita hirup dan hembuskan setiap saat. Ada, penting, tapi sering terabaikan. Lalu kita jadi ingat dan menghargainya. Dengan bergumul bersama buku kita akan merasa hidup kita sendiri yang bersinar, bukan melulu apa yang ada dalam genggaman tangan.

Fisik buku yang sudah terbaca tidak membuat kita merasa risau atas keberadaannya. Dinding rumah yang menjemukan dapat dihias menjadi cantik dengan jilid-jilid buku dalam rak bertingkat. Buku bekas tidak pernah menjadi bangkai. Pemilik berikutnya pun akan sangat senang menyimpannya. Bahkan satu buku dapat berkelana antar banyak pemilik. Sehingga setiap buku itu sendiri dapat menjadi sebuah cerita, di samping cerita yang tertulis di dalamnya.

Memusnahkan buku tidak pernah semudah menekan tombol. Ada energi besar dibutuhkan, yang kemungkinan dibarengi oleh perlawanan. Sementara itu isi buku yang terlanjur musnah masih akan bisa ditulis ulang oleh yang pernah membacanya.

Scripta manent, yang tertulis itu lebih abadi. Saya kira buku menjadi media paling tepat untuk mewujudkan prinsip pengabadian cipta pikir manusia.

***

Memperingati hari buku internasional ini, ada satu catatan masam perlu saya tambahkan. Ternyata, bagaimanapun juga, buku lebih dicintai daripada manusia. Ini terjadi ketika Anda meminjamkan buku pada orang lain, maka tidak butuh waktu lama Anda akan segera dilupakan, karena buku itu tidak akan direncanakan untuk kembali. Oh, kecuali si peminjam itu benar-benar bertanggung jawab, yang tentu saja langka adanya.

Putaran Tambahan

Waduk Kedung Ombo sudah tampak dari luar jendela sebelah kiri, melewati hamburan awan putih tipis yang mengapung tenang. Pemandangan indah itu perlahan lenyap ke bawah seiring badan pesawat yang miring ke kanan ketika mengambil putaran balik. Saat tabung besi raksasa itu sudah kembali seimbang, pesawat telah menghadap ke barat. Di depan bawah sana adalah bandara Adi Soemarmo. Tapi kemiringan kembali terasa. Ke kanan. Rupanya pesawat berbelok lagi. Danau biru tadi itu pun kembali menampak dari jendela kiri.

Pikiran para penumpang mulai sibuk bertanya-tanya, kenapa pesawat ini berputar-putar saja di udara, tak segera menghampiri landasannya. Pertanyaan tak terucap ini segera disambut oleh suara kapten pilot yang terdengar lewat speaker di atap kabin. Disampaikanlah pengumuman bahwa lalu lintas di Bandara Adi Soemarmo sedang padat, sehingga pendaratan harus tertunda sekitar sepuluh menit. Penjelasan ini seharusnya cukup menenangkan. Tapi wajah-wajah cemas dan gerutu masih bertahan. Pikiran membangun prasangka, menyakiti diri sendiri.

Orang-orang yang sama, dua puluhan tahun silam, diantar orang tuanya ke pasar malam. Di sana mereka merengek-rengek agar dinaikkan ke atas komidi putar. Kegembiraan memenuhi rongga dada ketika keinginan itu terwujud. Tapi saat bunyi desis panjang yang menandai akhir putaran terdengar, mereka sedih dan berharap akan mendapat putaran tambahan dari operator komidi. Sepuluh putaran sudah setimpal dengan harga tiket yang dibayarkan. Mereka harus turun, atau merajuk lagi pada orang tuanya masing-masing.

Tapi di kabin pesawat ini, ketika sang pilot dengan baiknya memberikan putaran tambahan, penumpang justru menggerutu; kecewa dengan jadwal yang tertunda, cemas jika sebenarnya ada masalah dengan pesawatnya, atau yang lain lagi.

Rupanya yang disebut orang dewasa itu adalah orang yang dibelenggu oleh tujuan-tujuan dan kecemasan-kecemasan. Orang dewasa adalah yang sudah lupa cara untuk menikmati momen saat ini.

***

Dulu kita memaksa orang tua merogoh sakunya dalam-dalam agar kita bisa menambah koleksi mobil-mobilan yang sudah berjejalan di kotak mainan. Lalu kita menggelarnya di seluruh lantai kamar, merasa takjub dengan keindahannya. Kini jajaran mobil kita lihat di jalanan, bergerak pelan menunggu uraian kemacetan. Mobil yang sebenarnya, bukan mainan. Apa kabar kegembiraan yang dulu itu?