Humaniora

Ruang Tunggu

Di ruang tunggu, orang lebih dibatasi dalam waktu meski dinding turut merapat di empat sisi. Kata ‘belum’ menjelaskan semua tindakan yang pasif saja itu. ‘Belum’ artinya apa yang diharapkan terjadi dibatasi dari saat sekarang. Lalu ada penantian; sebuah kebebasan yang justru meresahkan.

Gadget mendominasi tangan-tangan orang di sana. (Tak ada lagi lembaran koran yang dibentang di depan muka, sebagaimana pemandangan satu dasawarsa silam.) Benda-benda bersinar segenggaman tangan itu diberi kuasa untuk membawa pikiran pergi dari ruang yang sedang dihuni, tak lagi peduli dengan betapa mengkilapnya dinding kaca yang terus dijaga oleh petugas cleaning service. Kebersihan dihadirkan rupanya hanya untuk diabaikan, dan baru dicari-cari setelah kotor datang.

Dalam penantian ada yang melempar pandangan jauh-jauh, seperti hendak menyegerakan waktu dengan melompati ruang. Apakah berhasil? Banyak yang mulai menguap, dan sebagiannya menyerah dalam dengkur dengan volume yang sanggup memalingkan kepala orang-orang di sekitarnya.

Anak-anak lebih cerdik dalam mempertahankan senyum mereka. Gang-gang di antara deretan kursi adalah sirkuit menyenangkan untuk dikelilingi dengan tawa yang tak peduli akan dengkur yang terhenti karenanya. Setelah gravitasi mempertemukan tubuh mungil mereka dengan lantai yang keras, resah baru dirasakan anak-anak itu.

Di ruang tunggu–sayang tidak kita akui–kesadaran ternyata menjadi beban. Di sana kita ingin membunuh waktu, yang sebenarnya kita ingin membunuh kesadaran kita sepanjang penantian itu. Cara yang gampang kemudian adalah tidur. Banyak juga yang masih mempertahankan kesadarannya tapi tidak mau menyadari penantian itu sendiri. Sebab itulah pikiran dilempar jauh-jauh melalui gadget.

Saya juga di ruang tunggu itu; mengamati penantian.

Amben Kayu Lapuk

Bapak bukan tukang kayu, tapi ia tahu bagaimana merangkai kayu-kayu bekas menjadi balai-balai. Lembaran papan tipis ia jajarkan di atas rangka usuk. Lalu tikar mendong ia beri tugas untuk sedikit mengempukkan sekaligus menghias permukaannya. Tangguhkan dulu pertanyaan soal kenyamanan. Yang penting kelima anggota keluarga bisa hinggap di atasnya untuk mengerubuti nasi, sayur gori, dan sambal terasi bikinan emak. Begitu bertahun-tahun lamanya.

Petang hari adalah kesempatan anak-anak menguasai balai-balai itu. Kakak menjepitkan ujung selimut pada celah dinding kayu, dan membentangkan sisanya sedemikian rupa seperti layar perahu. Belum selesai ia mengembangkan layarnya, saya yang duduk di ujung balai-balai sudah tiba di tengah lautan. Debur ombak terdengar di rongga kepala, meredam derik jangkrik di seberang jendela. Ini tengah lautan, buat apa ada suara jangkrik? Geladak perahu mulai berayun-ayun diterjang gelombang, seiring bergoyangnya balai-balai itu–bukan karena ada mekanisme hidrolik, tapi karena salah satu kakinya lapuk dimakan rayap.

Kakak meraih dayungnya, mengayuh perahu menentukan arah. Lihat purnama dan bintang-bintang di angkasa hitam, cari tempat di mana ikan berkerumun. Saya melempar kail, dan satu per satu ikan terkumpul di dalam palka. Tapi hasil tangkapan itu hilang seketika, karena kakak perempuan menyalakan radio yang mulai menyiarkan sandiwara Saur Sepuh, dan bakwan goreng bikinan emak dihidangkan. Perahu itu lenyap digantikan balai-balai kayu lapuk, bulan purnama kembali mewujud lampu petromak, dan laut menjelma ruang berantakan di samping pawon penuh jelaga.

***

Balai-balai kayu lapuk harganya mungkin belum setara dengan timbunan rongsokan. Tapi sanggup mengantar saya ke ruang mana pun di dunia. Ia seolah memiliki daya magis, yang bahkan tak bisa ditandingi oleh sofa lembut di sebelah komputer tempat saya menulis blog ini. Dan komputer ini sendiri–meski bisa mensimulasikan rupa-rupa kehidupan–tetap tak sanggup menghantarkan romantika jaman balai-balai itu.

Balai-balai ataupun sofa keduanya benda mati. Tak ada kuasa pada mereka. Kecuali pikiran saya sendiri yang aktif bereaksi dan berpartisipasi atas keberadaan benda-benda itu. Ruang lingkup yang melatarbelakangi munculnya pikiran itulah yang berbeda. Balai-balai murahan dinikmati pada kondisi ignorant, lugu tanpa banyak pengetahuan. Pikiran lebih kuat untuk membuat gambar-gambar samar di kepala, yang tidak direcoki oleh pembanding fakta-fakta. Sedang sofa ini hadir bersamaan dengan berjejalnya pengetahuan, termasuk pengetahuan bahwa masih ada banyak sofa yang jauh lebih nyaman di toko-toko sana.

Di sini analogi gelas diisi air masih relevan. Seberapa pun air dituangkan ke dalam gelas, segitulah jatahnya. Ada yang harus dibuang untuk menampung yang baru. Pengetahuan tentang hidup datang menggantikan indahnya fantasi bebas tanpa beban. Ada kecerdasan yang menyingkir sebab datangnya pengetahuan, yaitu kecerdasan untuk ‘”membohongi” diri sendiri, untuk mengalahkan kenyataan pahit. Saya sekarang tidak bisa lagi berada di tengah lautan, kecuali harus benar-benar datang ke sana dengan seluruh raga. Apakah saya lebih pintar dari yang dulu, ataukah malah merugi?

Seperti anak-anak lain pada umumnya, saya dulu digiring orang tua ke sekolah untuk menjemput pengetahuan. Harapannya, dengan dipunyainya pengetahuan itu dunia akan bisa dikuasai. Namun sesungguhnya paradoks sedang diperagakan di sini, dunia yang hendak dikuasai itu justru bakal menguasai saya. Dunia dijemput sebagai permainan yang justru bakal memainkan pemainnya. Inilah benih lahirnya absurditas di tingkat individu. Atlas-Atlas kecil sedang dicetak untuk memanggul beban dunianya masing-masing. Semakin dewasa anak itu, semakin besar beban dunia di punggungnya. Hingga usia dewasa, tubuh yang dulu tegak akan membungkuk di bawah beban hidup.

Ada segelintir orang yang sanggup melihat absurdnya hidup ini, lalu menentukan pilihan lumrah. Mereka memilih jalan hidup asketis, yaitu para sufi, biarawan, atau bhiksu. Atau, mereka yang sudah kasep memanggul beban dunia akan menggidikkan pundak, hingga beban itu tergelincir. Lalu badannya bisa tegak kembali.

***

Saya masih berada bersama milyaran Atlas-Atlas bungkuk; sibuk menggubris dunia, nyeri dengan bebannya, sambil mencoba menangkap angin semilir untuk mengeringkan peluh. Memang pernah ada satu periode di mana muncul keinginan untuk menjalani hidup asketis, tapi bola dunia di punggung ini sudah kadung disematkan jauh sebelum keinginan itu, selagi masih kanak-kanak. Dan bobot massanya melampaui yang biasa disunggi oleh anak kebanyakan.

Saya sadar absurditasnya, tapi saya belum hendak menggidikkan pundak. Saya akan masih menjejalkan pengetahuan ke dalam pikiran–biarpun tumpah-tumpah juga–karena saya kadung menjadi pengharapan agar tak ada lagi saudara yang harus duduk di balai-balai kayu lapuk. Tunggu sebentar, hei… kesunyian di lereng Merbabu itu menggoda sekali.

Mencuci Kuas

Ada yang usai, meski mungkin bukan hasil karya, tapi kesadaran yang telah disapa kantuk atau bilangan penanda waktu yang berganti. Badan menuntut rehatnya dan pikiran menggagas perayaan. Tapi ada yang lebih mesti diperhatikan.

Kuas tak pernah mengeluh atas kerjanya. Saat bulu-bulunya kian tergerus dan tercerabut, tak ada juga pemberontakan. Hanya gumpalan cat saja yang membuatnya tak bersahabat untuk kerja, tapi itu bukan salah dia. Kuas juga mesti disayang, dimandikan agar tetap lembut, sehingga sanggup mengantar warna secemerlang gagasan di kepala, mengadakan lukisan bernilai tak bertara. Hingga kelak saat bulu telah tak bersisa, kuas akan mewariskan gagangnya untuk kerajinan rupa-rupa.

Adanya kita hingga di sini seperti sebuah lukisan. Berapa juta bulu kuas telah berjasa mengantar? Ada satu helai pribadi yang hanya mengirim senyum, yang lainnya mengemudikan mesin memindahkan badan, merubah beras menjadi nasi hingga terhidang di depan mulut, ada yang membencah pikiran menuai inspirasi, yang mencaci dan memuji, dan masih banyak lagi. Tapi seberapa peduli kita untuk mencuci semuanya?

Kita mungkin lupa bahwa yang paling berjasa adalah yang paling tidak kentara, dan adanya justru di depan mata.

Shugyosha

Pengembaraan Musashi telah lama dikuntit, sejak sebelum pertarungannya dengan Haiken. Langkah penguntit itu ringan tapi rikat, menandakan langkah milik seorang bocah. Musashi tak menggubrisnya seandainya tak ada topeng seram yang dibawa bocah itu. Bahkan duel dengan Haiken juga tak banyak menyita waktu dan energi. Pengembaraan itu nyaris tak terjeda, kecuali oleh seorang Bhiksu tua yang sanggup membuat Musashi berlutut sepenuh hati. Bhiksu itu menunjuk dengan telak di mana titik kelemahan Musashi, cukup dengan kata-kata; bukan pedang.

Sejak itu Musashi bertekad untuk selamanya menjadi shugyosha, seorang murid abadi, pencari ilmu, tanpa membatasi siapa yang bakal menjadi guru; tidak pula berhasrat menjadi samurai. Musashi yang ini telah mengalami proses pembelajaran yang lama. Tiga tahun sudah ia dikurung dalam kamar sempit di istana Himeji bersama teks-teks kebijaksanaan yang telah terjilid dalam buku-buku. Adalah pendeta Buddha bernama Takuan yang telah berjasa mengantar Musashi ke sana lewat jebakan yang manis. Tiga tahun itu, Musashi harus melewati hari-harinya hanya bersama lembaran tulisan, terpisah dari pedang dan lawan. Dan ia keluar dengan pribadi yang telah tertransformasi. Karena itu, nasehat Bhiksu tua di pinggir jalan bukanlah sekedar bunyi derau yang layak diabaikan.

Ketika kembara dilanjutkan, bocah penguntit itu memaksa mengajak bicara. Jotaro, demikian bocah itu memperkenalkan diri, telah ditinggal mati orang tuanya dalam perang besar. Ia lalu bertekad untuk menjadi samurai dalam sisa hidupnya yang masih panjang. Untuk itu ia perlu belajar ilmu pedang. Seorang guru telah ia tetapkan: Musashi dari Miyamoto, yang tak terkalahkan itu.

Bagaimana tanggapan Musashi? Mempunyai murid adalah sebuah godaan besar. Seseorang bisa saja berbangga diri dan menuntut kredit dari siapa pun atas pencapaian itu, “Hei, aku sudah menjadi guru! Aku seorang yang hebat!” Dan lalu proses belajar pun tersudahi, tak peduli berapa banyak ilmu masih belum terkuasai. Musashi agaknya sadar betul atas bahaya kepongahan semacam itu. Ia menolak Jotaro–dan siapa pun juga–untuk menjadi muridnya. Ia sendiri masih perlu banyak belajar.

Namun pada akhirnya Musashi menjadi guru juga, bukan semasa ia masih hidup, tapi setelah kematiannya. Ia menginspirasi banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan profesi lewat kitab lima gulungan yang sempat ia tulis. Kita mendapati paradoks di sini, bahwa seorang yang menolak menjadi guru justru menjadi guru besar sepanjang masa.

***

Menetapkan diri menjadi shugyosha (murid) berarti rela untuk tidak menyandang atribut kehormatan, rela tak menikmati privilese yang ada pada guru. Guru adalah orang yang bisa memandang murid-muridnya berada di level lebih bawah, demi adanya selisih pengalaman dan pengetahuan. Dan atas situasi seperti ini, guru justru berada pada kondisi yang rawan. Ia bisa merasa telah sampai pada puncak pencapaian, yang pada kenyataannya murid kelak malah bisa melesat lebih jauh melampaui gurunya. Menetapkan diri selamanya sebagai shugyosha saja, bagi Musashi adalah menghindari bahaya seperti ini.

Dalam sistem pendidikan modern, kita diperkenalkan pada atribut pencapaian akademis berupa gelar kesarjanaan. Saya menghindari gelar ini, sebab saya melihat bahwa gelar sarjana sering kali lebih menunjukkan akhir dari proses pencarian ilmu, alih-alih tanda dari terkuasainya ilmu. Kita bisa membuktikannya dengan bergaul cukup jenak bersama seorang penyandang gelar sarjana. Jika kita tidak mendapatkan pengetahuan lebih setelah pergaulan itu, kita tahu apa artinya.

***

Tiga tahun terkurung di istana Himeji bersama buku-buku mengantar Musashi pada transformasi diri. Seperti ini pulalah mestinya tugas mahasiswa dan sarjana di jaman sekarang. Empat tahun berkubang dalam teks seharusnya lebih dari cukup untuk menyulap diri menjadi lebih baik dan siap menghadapi dunia. Buku adalah kehidupan yang dipadatkan oleh para penulisnya. Mengutip dan menggunakan pemikiran mereka: Abraham Maslow, Alfred Adler, Ferdinand deSaussure, Levi Strauss, Ronggo Warsito, Joyo Boyo, dan lain-lain, adalah ikhtiar untuk menjalani hidup yang progressif, bukan sekedar pamer gudang pengetahuan. Teori-teori yang telah dipelajari mestinya bisa digunakan untuk membaca, memperbaiki, dan mengembangkan kehidupan, serta mengatasi masalahnya.

Adalah sungguh memprihatinkan saat kita jumpai sarjana yang lupa akan ilmunya, dan bahkan menuding bahwa berbicara berdasar semua ilmu itu adalah omongan teks-book yang bodoh.

Bukankah adalah tanggung jawab sarjana untuk mencerahkan dan menginspirasi masyarakat di lingkungannya, demi ilmu yang sudah dimiliki?

Tumasik

Ketinggian delapan lantai di balkon Hotel Marina Mandarin ini belum cukup membendung raungan kota di bawah sana. Deru mesin dan knalpot tak putus di sepanjang jalan, tersembur dari mobil-mobil mewah yang melaju dengan kecepatan rata-rata di atas 70 kilometer perjam. Audi, Mercedes, BMW, dan bahkan Ferrari mengalir deras tanpa hambatan meski bukan di jalan tol. Waktu adalah uang; mereka tak ragu mengungkapkannya.

Raungan itu sendiri sebenarnya sebentuk pembendung dari kebisingan yang lain; kebisingan yang sangat mengganggu bahkan untuk disimpan di rongga kepala sebagai ingatan. Yang telah lalu itu selayaknya dilupakan, karena perjuangan untuk mencapai perubahan sudah begitu mahal dibayarkan. Semua pengorbanan hanya akan sia-sia jika luka lama masih harus dikuak-kuak lagi.

Namun di antara luka-luka masa lalu itu, masih ada keindahan untuk diabadikan.

Nama Sir Thomas Stamford Raffles adalah salah satu keindahan itu. Pria Inggris visioner ini, pada 1819, berhasil menyulap Pulau Ujung yang kumuh dan tak bernilai ekonomis menjadi tempat penting bagi suksesnya perdagangan masyarakat Eropa, China, dan Arab. Kapal-kapal dagang yang hendak mengusung hasil bumi dari kepulauan Nusantara tak bisa tidak melewati pulau ini dalam rute pelayarannya. Raffles membangun pelabuhan di sana–setelah kerja sama politik yang manis dengan penguasa setempat–yang kemudian praktis merubah pola ekonomi masyarakat lokal, dari sekedar penjala ikan menjadi pedagang. Modernitas telah dilahirkan. Populasi segera meningkat, pulau ramai dihuni pendatang.

Kepemimpinan Raffles tak tertandingi. Dan itulah justru masalahnya. Setelah kepergiannya, luka-luka segera tergores di pulau yang baru saja mau bangkit ini. Perseteruan di tingkat bawah berdasar bentuk fisik mengacaukan segalanya; dan berlangsung lama. Luka yang lain tergores lagi ketika negeri dari Timur menginvasi wilayah kepulauan, pada Perang Dunia II. Kehancuran yang ditimbulkan perlu waktu yang lama untuk pemulihan.

Kemerdekaan di tahun 1965 belum serta merta membawa tatanan yang rapi, kecuali harus ada pemimpin lain lagi yang cukup berani berhadap-hadapan langsung dengan sumber kekacauan. Di saat inilah masyarakat membayar mahal untuk sebuah peradaban maju. Dan mereka berhasil bangkit bersama pemimpinnya, meninggalkan keterbelakangan peradaban di belakang waktu–untuk dilupakan.

***

Saya berada dalam rombongan pejalan kaki, menyeberangi Raffles Boulevard menuju Suntec City Auditorium. Sesungguhnya dalam rombongan sekitar seratus orang itu yang benar-benar berjalan dengan kakinya tak lebih dari separuh, karena sebagian besar duduk di dalam kursi rodanya masing-masing, didorong oleh orang yang menyayangi atau oleh mesin bertenaga aki.

Mobil-mobil dihadang oleh petugas. Mereka berhenti sejak lima belas meter dari titik penyeberangan kami; memberi ruang yang terasa sangat aman untuk memindahkan badan–yang meski tidak komplit. Setelah seluruh rombongan tiba di sisi lain dari jalan itu, mobil-mobil yang tertahan segera melaju kembali. Jangan tanya seberapa kecepatannya. Sikap buru-buru yang selalu didemonstrasikan tidak membuat masyarakat kehilangan semangat berbagi kesempatan.

Di belakang hotel adalah The Esplanade Concert Hall. Kompleks gedung pertunjukan ini–dan hampir setiap gedung lainnya–memberikan ruang bagi pejalan kaki untuk melintas dalam rute yang singkat–semacam short-cut, sehingga untuk tiba di bibir Marina Bay Reservoir tak perlu menempuh rute memutar. Setiap perjalanan terasa sangat nyaman, karena semua ruas jalan dibuat selalu bersahabat bagi pejalan kaki, dan bahkan pengguna kursi roda. Trotoar tak pernah dibangun dengan ketinggian mencapai sepuluh centimeter, karena semua menyadari bahwa kendaraan bermotor sudah memiliki lajurnya sendiri. Pohon-pohon trembesi yang ditata rendah adalah sahabat yang lain lagi. Daun yang rimbun pada ranting yang mengembang menahan sinar matahari, mengurangi hawa panas dari pulau yang tak memiliki gunung ini.

Di manapun tempat, hanya pohon yang boleh menyampah–dengan menggugurkan daun. Tangan manusia tak akan melakukan hal sama karena otak yang memerintah tangan itu sudah bersih wataknya, meski diawali dengan ancaman denda yang tak mengenal toleransi. Sekali lagi, di negeri ini hitung-hitungan uang bukan hal tabu.

***

Singapura lebih banyak menatap ke depan. Langkah-langkah kaki yang rikat, laju kendaraan yang kencang, sarana umum yang terotomatisasi, dan transportasi massa dengan kapasitas besar seperti MRT, sudah enggan melekat pada masa lalu yang suram. Sejarah ditulis dalam kisah manis di buku-buku yang diperuntukkan guna menyambut turis. Mereka memilih sebagian saja untuk dikenang, yang tak menggetirkan ataupun memupus semangat. Thomas Raffles, Lee Kuan Yew, dan Temasek–dari kata Tumasik yang tertulis dalam Kitab Negara Kertagama–adalah beberapa dari pilihannya.

Tapi… hanyut dalam gerak yang serba cepat dan otomatis itu, saya khawatir warga Singapura lupa untuk menikmati apa yang telah mereka bangun selama ini, tak sempat memandangi indahnya pakis di batang trembesi itu.

Pengrajin Sepatu

Kios yang hanya seukuran tiga kali tiga meter itu penuh dengan banyak perabotan. Sebuah meja diletakkan di sisi yang berseberangan dengan pintu. Permukaannya sudah tak kelihatan lagi karena botol dan kaleng lem berebut tempat bersama lembaran karet dan kulit yang sebentar lagi akan dipotong-potong. Gunting dan pisau lengkap dengan gerinda asahannya juga turut berjubelan di sana. Sedang di kolongnya, bertumpukan model kaki manusia yang terbuat dari kayu dengan berbagai ukuran. Sekilas melirik ke kolong itu, rasanya seperti menyaksikan film horor dengan adegan mutilasi.

Pada dinding sebelah kiri, sebuah etalase kaca diberi tugas untuk menampilkan koleksi hasil karya sang pengrajin. Meski tugas itu tampaknya tidak begitu berhasil karena sempat diganggu oleh kehadiran debu yang membekaskan warna tak terawat pada dinding kaca dan rangka alumuniumnya. Sedang di tengah ruang, terjepit oleh sesak, adalah mesin jahit bermerek Butterfly yang disambungkan ke motor listrik. Tampaknya lama tak terpakai; tak ada gulungan benang yang terpasang. Untuk sementara, permukaan rata dari mesin jahit itu masih bisa digunakan untuk meletakkan bekal makan siang, serta satu botol bekas kemasan air mineral yang diisi air rebusan dari dapur sendiri. Air itu kini tinggal sedikit tersisa.

Lantai tegel kusam di bawah memiliki fungsi selain sekedar alas, yaitu untuk menaruh benang-benang yang kelihatan kusut dan lusuh, tapi mungkin tetap terorganisir rapi di benak pemiliknya. Dua pasang sandal dari para pelanggan juga mengantri di sana untuk sekedar dilem atau dijahit lagi. Dinding yang catnya mulai banyak mengelupas memiliki satu-satunya hiasan, yaitu kalender triwulan yang belum disobek, masih menampilkan bulan kemarin. Mungkin karena gambar fotonya tampak lebih menarik.

Sebuah dingklik plastik disediakan di samping pintu sebagai bentuk keramahtamahan bagi pelanggan. Pengrajin itu sendiri duduk di dingklik lain, di dekat meja kerja yang nyaris tak menyisakan ruang lagi itu. Dengan otot tangannya yang berumur paruh baya, ia menusukkan jarum besi menembus alas sandal, lalu mengait benang melewati lubang yang terbentuk oleh jarum tadi. Sementara itu, tergeletak di atas meja pada tumpukan paling atas, sepotong karet sedang dikeringkan dari cairan perekat untuk nanti ditempelkan ke alas sandalku. Aku perlu menambah ketebalan sandal sebelah kiri agar jalanku tidak terlalu pincang.

***

Matahari sudah rendah di barat, teriknya kalah oleh mendung. Seorang pelanggan datang ketika sandalnya telah selesai dijahit. Tampaknya ia puas, sambil menyerahkan ongkos dua ribu rupiah. Pelanggan yang lain lagi membayar ongkos yang sama untuk jasa yang sama. Empat ribu rupiah dan dua kali ucapan terima kasih baru diterima oleh pengrajin itu pada hari yang sudah rendah. Tapi kupastikan bahwa itu bukan akhir kisah baginya untuk menutup hari. Masih ada sandalku yang belum dirampungkan.

Sembari pengrajin itu bekerja, kutanyakan masa lalunya. Ia pernah bekerja di sebuah pabrik pembuatan sepatu, di dekat ibu kota. Baginya, bekerja sebagai buruh kala itu bukan sekedar melanjutkan nafas dengan penghasilan, tapi juga untuk pembelajaran. Ia memastikan dirinya memahami betul apa yang dikerjakannya. Ia mempelajari teknik dan material pembuatan alas kaki. Ia bisa merekatkan dua bahan tanpa khawatir akan lepas lagi, karena ia tahu lem dan cairan kimia apa yang tepat untuk digunakan, serta bagaimana prosedurnya. Ia kuasai teknik dari membuat desain hingga mewujudkannya menjadi sepasang sepatu cantik. Selama bekerja di pabrik itu, ia menegaskan dirinya sebagai manusia yang memiliki alat kesadaran dan daya kreatifitas, bukan sekedar mekanisme produksi belaka.

Maka ketika guncangan ekonomi memaksa manajemen pabrik melakukan perampingan, ia bisa bertahan hidup di desa. Ia tahu apa yang mesti dilakukan sebagai tanggung jawab dari hidup yang masih dimilikinya. Sebelum kios itu, ia sudah lama merintis dari trotoar di pojok pasar. Perubahan akhirnya tercapai perlahan, asal rela memiliki gaya hidup yang sederhana saja.

***

Kios kecil dengan perabotan berserakan, sekilas tampak seperti tak ada kepastian. Pelanggan satu dua orang sehari, juga tak memastikan besaran rejeki. Tapi ada satu yang pasti di sana, bahwa pengrajin sepatu itu mencintai pekerjaannya. Dan itu memberinya rasa keterpenuhian dalam hidup.

Inspirasi

Di bibir kali, sendiri saja, pandangan seorang pemikir membentur seonggok batu berselimut lumut. Citra daun-daun lembut itu masuk ke dalam benaknya, dan mengunggah lebih banyak peristiwa yang mengiringi; dari batu yang dulu keras, hingga juntaian pakis yang mulai banyak tumbuh. Lalu, seperti cermin, semua itu menampakkan diri sang pemikir di dalam pandangannya sendiri, yang juga tengah berada dalam usaha melunakkan kekerasan. Kembali ke rumah, ia merancang solusi panjang untuk permasalahannya, sambil menggurat sepotong puisi dari pengalamannya di pinggir kali.

Puisi alam, beberapa stanza, seorang pelukis membacanya. Terperangah pada apa yang tak terpikirkan olehnya sendiri sebelum itu, ia membentang kanvas. Yang sudah terlukis indah dengan kata-kata, akan ia lukis lagi dengan warna. Kelak, tergantung pada panel pameran, lukisan itu dipandang terpaku oleh seorang penguasa, yang segera memerintahkan bawahannya untuk mempercantik kota dengan lebih banyak tumbuhan.

Kota yang adem dan teduh, anginnya tak lewat saja, tapi harus menerobos dedaunan. Berdesis. Seorang musisi mencuri dengar, dengan menghindari bising knalpot dan jerit klakson. Seketika bibirnya bersiul, menyusun melodi merdu, yang ia impikan bakal bisa diperdengarkan di panggung opera, dengan seperangkat instrumen musik yang megah.

Orang-orang dalam narasi ini terinspirasi. Mereka menyaksikan sesuatu–benda atau peristiwa–lalu mendapatkan gagasan dari sesuatu itu untuk diterapkan ke dalam konteksnya sendiri; sebagai solusi atau kreativitas.

Inspirasi terjadi manakala terdapat struktur yang sama antara sumber inspirasi dan permasalahan pada si terinspirasi. Struktur itu terpendam di dalam kulit-kulit fenomena, yang oleh si terinspirasi digali lewat intuisi. Tetapi meraih inspirasi bukanlah sepenuhnya laku fenomenologis Husserlian yang membutuhkan adanya epoche, yaitu semacam proses awalan berupa membersihkan pikiran dari konsep-konsep dan asumsi-asumsi. Meraih inspirasi jika diibaratkan mengisi gelas dengan air yang baru, gelas itu tidak perlu dikosongkan terlebih dahulu dari air yang lama, karena memang di sini hendak ditemukan sebuah larutan. Subjektivitas seorang pencari inspirasi berhak untuk dipertahankan adanya. Sementara informasi yang masuk lewat indera akan diolah-campur dengan subjektivitas itu.

Dalam contoh di atas, seorang pelukis tak perlu memblejeti kediriannnya sebagai pelukis saat membaca puisi. Dengan begitu, puisi tadi dapat dialih rupa menjadi lukisan. Puisi di hadapan pelukis tersebut bukan untuk dipahami secara objektif, agar lalu tetap bertahan sebagai puisi saja, tapi sebagai pemicu gagasan untuk kepentingan si pelukis sendiri.

Mencari inspirasi memang bukan sebuah upaya penelitian untuk menemukan kebenaran. Inspirasi lebih dekat pada tujuan praktis bagi si terinspirasi. Pencari inspirasi memahami sumber inspirasi dengan perspektifnya sendiri, dan boleh mengabaikan konteks yang ada pada sumber inspirasi. Tetapi inspirasi bukanlah proses penggandaan ataupun pemindahan objek secara utuh dari satu tempat ke tempat lain. Inspirasi beda dari plagiarisme, yang tak mau tahu tentang kerepotan itu. Terinspirasi itu bukan menjiplak.

***

Dalam inspirasi, si terinspirasi–atau objek penderita–secara aktif membangun arti atau makna dari subjek penginspirasi yang dihadapinya. Sementara subjek penginspirasi itu sendiri tidak secara aktif mempengaruhi lewat suatu tindakan komunikasi apa pun. Seonggok lumut hanya diam saja, tak bisa bicara. Tapi sang pemikirlah yang aktif menyematkan makna secara bebas ke dalam lumut itu setelah ia cukup lama berdiam memandangi. Lalu ke dalam makna yang sudah terbangun, sang pemikir menempatkan permasalahan dirinya. Makna dan permasalahan dapat sinkron menyatu karena ada struktur yang sama. Setelah terjadi penyatuan struktur, gagasan atau solusi permasalahan praktis dapat dibangun.

Dengan demikian, ketika kita mau menginspirasi, kita tidaklah melakukan tindakan mempengaruhi secara langsung, tetapi sekedar berbuat sesuai keperluan sendiri. Dan jika ternyata ada seseorang di luar sana yang kemudian terinspirasi oleh perbuatan kita, maka orang itulah yang memang sejatinya cerdas.

Tapi di tengah masyarakat dengan tingkat daya reseptivitas rata-rata, tidak semua tindakan dapat ditangkap sebagai inspirasi. Di sini seorang inspirator perlu dengan cerdik mengemas tindakannya sedemikian rupa agar tindakan itu dapat segera menarik minat yang besar. Tindakan itu juga perlu disederhanakan bentuknya, sehingga struktur rangkanya mudah ditemukan. Seketika struktur ditemukan, saat itulah sebuah tindakan bisa menjadi inspirasi. Sedang bentuk ide yang nanti terlahir pada si terinspirasi tidak pernah ditentukan oleh inspirator.

Banyak peristiwa atau benda di sekitar kita tapi sedikit yang bisa menjadi inspirasi. Menurut saya karena peristiwa atau benda itu hadir dalam tampilan yang biasa-biasa saja, sehingga dianggap tak punya makna; tak memiliki struktur esensial. Atau malah karena peristiwa ataupun benda itu melibatkan terlalu banyak elemen di luar strukturnya. Sedang menguliti elemen-elemen itu sendiri sudah merupakan kegiatan mental yang rumit, maka inspirasi bisa gagal ditemukan sebab strukturnya (esensinya) tak kunjung terkuak.

Dan akhirnya, conscience atau kemampuan mental untuk membedakan mana baik dan mana buruk adalah kunci operasionalisasi praktek memperoleh dan mengaplikasikan inspirasi. Banyak peristiwa di sekitar kita yang bisa ditiru, tapi penerapannya harus mempertimbangkan hal berikut: apakah bakal ada orang yang menderita akibat kelakuan kita?

Cermin

Kepada setiap cermin kuberikan kuasa untuk menampakkan wujudku apa adanya. Tapi mungkin kuasa itu belum sepenuh hati, karena nyatanya cermin hanya mau menampakkan diriku dalam wujud terbalik; kiri diganti kanan. Atau cerminnya yang belum keras berusaha? Mungkin sungkan juga?

Kuasa menampakkan citra diri itu kadang kurang tepat guna. Kebanyakan cermin begitu jernih saat pertama kali aku memandang ke dalamnya. Setelah lama kupakai, tebal juga debu melapisi. Diriku sudah tak tampak lagi seperti yang asli. Saat itulah aku harus turut membantu membersihkannya dengan lap pel, atau pemoles sekalian bila perlu.

Ada cermin yang bingkainya merangsek terlalu ke dalam, sehingga menutupi bagian yang dapat secara jujur memantulkan sisi buruk yang ada di badan. Dari sedikit cuilan di pojok bingkai, sebenarnya bisa kulihat borok yang belum tersembuhkan. Tapi ada saja debu di sudut cermin yang sedikit terbuka itu, seperti enggan jika aku merasa tidak nyaman dengan kenyataan.

Sedang cermin menyebalkan adalah serpihan beling. Ia sengaja menggores luka di mukaku dulu, agar nanti kulihat codet di wajahku sendiri, karena ia tak pernah rela jika aku adanya ini sebenarnya baik-baik saja.

***

Cermin adalah ia yang sanggup membawaku keluar dari diri, agar kemudian bisa kulihat adanya aku dari jarak sana. Cermin membawaku ke suatu tempat di mana aku melahirkan kembali diriku di dalam pikiran. Di sana aku adalah sekaligus yang mengamati dan yang diamati; lalu aku menjadi baik ada, ataupun sirna.

Tapi yang telah terlapisi debu tebal, cermin memisahkan aku dengan diriku sendiri; memaksaku keluar dan tak menemukan apa-apa, lalu kembali hanya bersama letih. Cermin retak mengokohkan akuku dengan menghadirkan kebingungan dan kemarahan; aku menjadi berdiri pongah menuntut jawaban, berteriak abai pada liyan.

Cermin-cermin, berlaku saja apa adanya, itu juga belum sempurna.

Menertawakan Diri


Kandungan cat dalam bulu-bulu kuas itu sudah habis. Guruku menuntun kuasnya ke dalam wadah minyak painting medium untuk menghisapnya dalam jumlah yang dikira-kira cukup. Lalu plototan cat pada papan palet segera dilumat, diaduk-aduk untuk menghasilkan warna campuran yang matang. Batang pegangan kuas yang terbuat dari kayu itu tampak lincah meloncat-loncat, seperti kaki-kaki flamingo yang mengaduk lumpur makanannya di pinggir telaga.

Warna yang diharapkan telah terbentuk; campuran dari sedikitnya tiga warna dasar. Guruku menuntun kembali kuasnya ke kanvas. Sampai di sana, kuas itu berhenti di dalam pegangan jemari yang mengapung diam di udara. Mata guruku tampak melirik ke sana ke mari, ragu-ragu untuk membuat goresan.

“Wah, lupa. Mana tadi?” gumamnya kemudian sambil meletakkan kuas itu di samping papan palet, lalu beranjak berdiri sambil tertawa. Aku ikut tertawa setelah memahami apa yang terjadi. Ia lupa bagian mana dari lukisan besar itu yang tadi sedang digarap; apakah gerumbulan daun di bagian latar, ataukah semak di depan. Asyiknya mengaduk cat di papan palet itulah yang membuat pikirannya lepas dari kanvas. Lupa.

Satu setengah dasa warsa berselang. Tak kusangka aku mengalami hal serupa. Setelah hampir tiga menit membuat kuasku menari-nari di atas gumpalan cat, aku tidak menemukan bagian yang sedang aku warnai di dalam kanvas. Tapi kali ini aku tidak bisa tertawa seperti guruku. Aku justru merasakan kegetiran; getir karena ketika pengalaman ini terjadi, aku sudah tidak ditemani lagi oleh guruku. (Semoga jiwanya bahagia.) Rasa getir juga disebabkan dari kepongahanku yang tak mau menerima kenyataan bahwa aku memang bisa menjadi dungu; tak sanggup berlaku seperti guruku yang tertawa saja. Tawa itu jelas menunjukkan sebuah kejujuran; penerimaan akan keadaan diri apa adanya.

***

Jika kau bertanya apa kemujuran terbesar dalam hidupku, akan kujawab bahwa aku selalu menemukan orang-orang hebat untuk dijadikan guru. Guruku yang kedua bukan guru melukis. Dengannya, aku juga punya cerita yang sama. Saat itu kami sedang menghabiskan sisa waktu usai kelas perkuliahan. Bersama beberapa pegawai kampus kami membicarakan hal-hal ringan yang bisa dibumbui guyonan. Obrolan itu sejenak terinterupsi dengan pembagian secarik kertas oleh pegawai keuangan kampus. Guruku juga mendapatkannya, dan segera membaca pesan pada kertas itu. Kuperhatikan pelan-pelan murung merampas keceriaan di wajahnya.

Aku menjadi ingin tahu, apa yang tertulis dalam kertas itu. Lewat bisik-bisik dengan pegawai kampus lain yang juga menerima kertas yang sama, aku mendapatkan jawaban. Kertas itu adalah memo yang meberitahukan penundaan pembayaran tunjangan pegawai untuk bulan tersebut. Itu artinya kabar buruk bagi mereka, terutama yang harus segera membayar tagihan ini dan itu. Suasana yang semula ceria menjadi ngelangut.

Tapi tiba-tiba guruku berseru, “Jangan salah! Ini adalah kartu kredit. Kita bisa menggunakannya untuk makan di warung pak Bambang. Nanti kalau ditagih, kita sodorkan saja memo ini.”

Tawa segera meledak di sana. Aku ikut tertawa sambil mencoba memahami bagaimana guruku dapat membalikkan kenyataan kecut itu menjadi sedemikian menggelikan. Bagaimana ia bisa dengan sangat cepat membuat analogi kartu kredit untuk menertawakan memo itu. Bagaimana ia bisa membangun realita positif dari fakta negatif, tanpa harus mengolok-olok siapa pun (kecuali dirinya sendiri, mungkin). Lalu aku berpikir, seandainya aku berada pada situasi yang sama, sanggupkah aku nanti menertawakan penderitaanku juga?

Sepertinya aku masih terlalu bodoh untuk bisa tertawa. Meski aku sudah menyadari bahwa tawa seperti yang dilakukan oleh kedua guruku itu adalah cara yang paling bijak untuk bersahabat dengan kenyataan.

Berpikirlah Selagi Senang

Suara anak kucing itu terdengar memelas, membuat kami bertiga mencoba mencari sumber suaranya. Akhirnya kami temukan ia terjebak di ruang kelas. Saat itu adalah hari setelah pembagian rapor, dan pintu kelas yang terkunci baru akan dibuka satu pekan kemudian, usai liburan. Kami pun berupaya menolong makhluk rentan itu agar bisa bertahan hidup selama itu. Kakakku bergegas ke rumah untuk mengambil nasi yang dilumat dengan ikan asin, yang tampak menggunung dalam pincuk daun pisang. Kemudian lewat celah pada jendela nako, sepincuk nasi ikan asin itu dimasukkan. Si anak kucing segera menyambarnya dengan lahap.

Aku terus memperhatikan bagaimana anak kucing itu memindahkan rejekinya ke dalam perut. Menggemaskan. Tapi mulai ada yang membuatku cemas. Seluruh nasi dalam pincuk itu dihabiskannya. “Kok dihabiskan, Pus? Kenapa tidak disisakan buat besok? Besok mau makan apa?” demikian protesku yang segera disambut tawa kedua kakakku. Mereka menjelaskan kalau percuma saja aku mengajak anak kucing itu bicara. Ah, kami hanya anak-anak, belum banyak mengerti.

Di tempat lain dalam selisih waktu yang jauh, seorang pekerja wiraswasta baru saja memperoleh bayarannya atas order yang sudah ia tuntaskan. Jarang ia memegang uang sebanyak itu. Atas pencapaiannya, ia tak mau lagi dibebani pikiran akan susah payah yang sudah ia lakukan sebelumnya, atau pikiran dalam bentuk apa saja. Kini saatnya perayaan, harus dijalani dengan sepenuh suka cita. Ia mulai membawa anak istrinya ke restoran, memilih menu apa pun berdasarkan rasa ingin dan suka. Selepas dari sana, toko elektronik disinggahi. DVD player lengkap dengan sound-system yang dahsyat segera resmi menjadi miliknya. Disinggahi pula toko busana untuk baju baru anak-anak, dan butik untuk gaun anggun sang istri. Untuk dia sendiri, beberapa kardus rokok tentunya. Puaskan saja. Sekali lagi, jangan sampai ada beban pikiran.

Belum lewat satu bulan, pria ini sudah mulai kelabakan mencari tahu jika saja ada job atau order yang bisa ia kerjakan, agar ia bisa membayar tagihan sekolah anaknya. Setelah jawaban ‘tidak ada’ ia terima dari mana-mana, ia baru mulai mempekerjakan otaknya, menghitung barang apa saja yang bisa dititipkan di kantor pegadaian hingga setara dengan angka-angka yang dibutuhkan. Berpikir.

Rupanya otak adalah organ tubuh yang digunakan hanya pada masa-masa sulit, masa dimana rasa tidak senang kadung membebani diri. Dalam perasaan negatif, dalam kecemasan dan kekalutan, sesungguhnya kerja otak tidak bisa optimal. Hormon kortisol penyebab stres sudah membanjir, menghambat kemampuan analisis.

Jika saja kawan kita tadi pada saat masih memegang uang banyak mau sedikit dibebani oleh pikiran, ia bisa berpikir lebih runut karena emosi positif turut mendukung dalam perasaan senang itu. Dalam rasa senang, otak memproduksi hormon dopamine yang merangsang kerja frontal-cortex, bagian otak untuk berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah. Ia bisa mengingat-ingat beban apa saja yang masih ditanggung, serta memperkirakan berapa kemungkinan biaya di masa depan yang harus dibayar, sehingga ia sadar bahwa harus ada uang untuk disisihkan.

Tapi masyarakat kita memilih jalan hidup yang beda. Pikiran selalu dianggap sebagai codet dari wajah agung permainan rasa. Pikiran dicurigai bakal mencuri kesenangan. Pikiran dilihat sebagai cela yang membawa bau busuk ke dalam harumnya kebahagiaan. Sehingga pikiran hanya boleh bekerja sebagai kawan dari derita, dari kecemasan dan tekanan. Tak ada apa itu yang disebut “pikiran yang indah” atau beautiful mind.

Benar saja, anak kucing yang terjebak tadi menghabiskan seluruh nasi ikan asin dalam pincuk itu, tak peduli berapa hari ia masih harus bertahan di ruang yang terkunci, karena anak kucing memang tidak bisa berpikir.