Isu Terkini

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #10 Anak-Anak

Rasa iba saya sungguh besar bagi anak-anak yang sedang tumbuh di hari ini. Mereka belum lama hadir dan merasai hidup di dunia. Namun tiba-tiba mereka harus mendapati dunia ini, planet ini, adalah ruang yang tidak bersahabat untuk dihuni.

Direktur Eksekutif WHO Dr. Michael Ryan sudah menyampaikan sinyal bahwa virus Corona mungkin tidak akan bisa dibinasakan dari bumi. Sebelumnya memang banyak virus yang bertahan di planet ini dan terus menghinggapi beberapa orang, seperti yang mengakibatkan penyakit campak, polio, dll. Namun dampaknya pada kehidupan sosial tak seperti virus corona, yang menceraikan satu individu dengan lainnya.

Disinggung pula oleh Dr. Ryan tentang a new normal, yang saya tafsirkan bahwa manusia di seluruh dunia harus membentuk suatu cara hidup baru di tataran sosial, ekonomi dan budaya. Ini berarti mengindikasikan diskontinuitas atas segala cara, ilmu, dan teori yang sebelumnya cukup lama dihayati hingga tataran praksis.

Anak-anak mungkin masih bisa menerima kebaruan, sebab ingatan mereka akan masa lalu belum terlalu banyak, sehingga tak banyak pula kemelakatan akan kemapanan. Mereka masih mencari. Tapi apa yang hendak dicari dalam kecemasan? Mereka sudah membangun impian tentang masa depan, sebab para orang tua selalu mengajarkan begitu; tentang cita-cita. Kini baik mereka maupun orang tuanya sama-sama tidak mengerti jalan mana untuk mencapai cita-cita itu.

Virus corona kadung menyebar dan irreversible, tak bisa dikembalikan ke kondisi semula. Sebagaimana anak-anak kadung terlahir dan tumbuh sehingga tak mungkin dikembalikan ke dalam rahim. Maka adalah tanggung jawab kita meyakinkan mereka bahwa hidup ini layak mereka lanjutkan. Bahwa spesies manusia akan lestari lewat kesediaan mereka menghuni planet indah ini.

Meski dalam batin mungkin ada suara lain, bungkam rapat dari pendengaran mereka.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #8 Deus Ex Machina(?)

Aristoteles mewanti-wanti para sastrawan di jamannya agar tertib dalam menyusun alur drama tragedi. Setiap peristiwa haruslah mengarah pada peristriwa lain, termasuk peristiwa yang memungkasi cerita. Tidak boleh ada yang kebetulan untuk dijadikan pemecahan masalah, tidak boleh ada tokoh yang tiba-tiba dimunculkan dari antah berantah sebagai dewa penolong.

Begitulah drama dan fiksi diharapkan pada umumnya. Tidak boleh tidak masuk akal untuk memukau penonton.

Tapi kehidupan sering kali justru stranger than fiction. Hidup ini banyak yang tidak beralur. Keseharian kita layakkah dipentaskan di panggung drama? Ah, rasanya biasa-biasa saja. Tapi tiba-tiba ada tragedi yang sangat mencekam, yang kita benar-benar tidak memiliki kekuatan apa pun untuk berbuat sesuatu–sebagai bagian dari alur yang logis–untuk menuju pemecahan masalah.

Tragedi hidup nyata justru butuh dewa penolong dari antah berantah. Di panggung tragedi Yunani Kuno–yang bagi Aristoteles menyebalkan–adalah dewa penolong, yang disebut Deus ex Machina, yang dikerek dari atas panggung untuk membopong tokoh baik yang terdesak di ujung cerita. Pandemi ini bagi saya, dan mungkin termasuk pembaca pada umumnya, adalah tragedi hidup yang peristiwa dan alurnya di luar pengetahuan dan kekuatan kita. Kita tidak mengerti ilmu virologi. mikro-biologi, dan epidemiologi. Dan kita sudah digiring hingga ke dalam klimaks, tapi ketika menoleh ke adegan-adegan yang mendahului, tidak kita temukan tanda-tanda menuju penguraian masalah

Maka yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sambil mengerjakan apa saja yang mungkin bisa dikerjakan. Melampaui itu, bahaya sudah menghadang. Hari ini di kota kecil ini sudah ada 21 orang yang terinveksi; angka yang mengejutkan setelah cukup lama bertahan di angka 13. Sedang di seluruh negeri, grafiknya sangat tidak menggembirakan.

Deus ex Machina itu, yang akan membopong kita dari pandemi ini, entah bagaimana, dari mana dan kapan datangnya.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #7 Tunai

Masyarakat kita jika sudah benar-benar merasa terancam oleh krisis pangan akan meraih cangkulnya dan mulai melumat tanah di halaman, meski hanya secuil pun. Seperti semangat sebuah lirik lagu, sebatang kayu bisa berkembang menjadi tanaman dan akhirnya bisa dimakan.

Mungkin ini yang sedang terjadi secara serempak di tingkat bawah. Work from home memaksa orang lebih mengakrabi keadaan rumahnya, dan bisa melihat sisi-sisi yang selama ini terabaikan. Waktu luang bertambah. Dan kecemasan akan kebutuhan melengkapi dorongan untuk menciptakan sendiri bahan-bahan pangan, sejauh batas kemampuan. (Saya pun ikut merelakan bak mandi menjadi medium pemeliharaan ikan lele.)

Sementara itu petani di desa-desa tak terlalu mencemaskan persebaran virus ketika turun ke sawah ladangnya. Panen satu petak sawah bisa dikerjakan tak lebih dari lima orang. Mereka juga yakin tak ada di antara sesamanya yang terinveksi. Pekerjaan mereka tak terhenti oleh kecemasan orang kota.

Semua ini berpengaruh di pasar tradisional. Harga-harga kebutuhan pokok jenis tertentu justru menurun karena ada over supply, penawaran meningkat. Bulan lalu saya sempat membeli seekor ayam ras (masih hidup) seharga Rp 15.000,- per kilogramnya, padahal biasanya bisa mencapai Rp 30.000,- per kilogram. Sehingga setidaknya untuk ekonomi tingkat bawah, krisis yang kita hadapi bukanlah ketiadaan supply dan demand secara bersamaan. Namun hanya ketiadaan demand.

Bagaimana itu terjadi? Orang enggan mengeluarkan isi dompet karena takut tak bisa mengisinya kembali. Tiba-tiba uang terasa sangat langka, terlebih ketika tagihan-tagihan tak ditangguhkan, sementara pekerjaan sudah tidak beroperasi. Maka anggaran belanja rumah tangga mulai disusun dalam skala prioritas. Bahan pangan pun diupayakan sendiri dari halaman rumah agar tagihan tidak berubah menjadi ancaman terhadap ketenteraman.

Dengan segala batas pengetahuan saya tentang ekonomi, saya mencoba berpikir bahwa yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah bantuan tunai. Untuk jelasnya saya akan menggunakan contoh sederhana berikut. Haryadi adalah seorang pemilik toko sembako, yang juga memiliki hutang untuk segera dilunasi. Dan Haryanti adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki uang untuk membeli sembako, sehingga terancam oleh kelaparan. Solusi satu langkah untuk kedua masalah ini sekaligus adalah bantuan uang kepada Haryanti agar bisa membeli sembako dari Haryadi. Maka Haryadi pun bisa melunasi hutangnya setelah bertransaksi dengan Haryanti. Tetapi bagaimana jika solusi yang dilakukan adalah bantuan sembako untuk Haryanti? Tentu saja ia segera terlepas dari masalah kelaparan. Tetapi Haryadi tak pernah mendapatkan transaksi yang ia harapkan dan akhirnya tidak bisa membayar hutangnya. Kecuali jika bahan sembako untuk membantu Haryanti dibeli dari Haryadi, tapi ini bukan solusi satu langkah.

Nah, sekarang mari kita bayangkan Haryadi dan Haryanti bukanlah sepasang individu semata, melainkan kelompok masyarakat ekonomi yang luas. Maka bantuan uang kontan pada warga tak mampu berarti menggerakkan perekonomian di tingkat bawah. Rantai transaksi terjalin dengan meningkatnya demand sehingga tercapai kembali equilibrium, sebab supply bahan untuk bertahan hidup tetap ada di pasar.

Bagaimana jika ada pemikiran yang menilai bahwa bantuan tunai semacam ini tidak mendidik? Kita bisa balik bertanya, bukankah bahkan sekolah yang merupakan lembaga paling bertanggung jawab dengan urusan pendidikan pun sedang ditutup? Pandemi memaksa peradaban kembali pada naluri dasar; bertahan hidup. Jika kita bisa lepas dari pandemi ini dalam kondisi utuh pun kita sudah berprestasi sebab memiliki pengalaman yang sangat berharga, kita mampu selamat dari masalah besar. Bukankah itu pendidikan yang mahal?

Tapi, ah, seberapa sih yang saya mengerti? Ini hanya lamunan selama staying at home.

Istri saya sedang mengolah halaman untuk ditanami sayur.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #6 Jericho

Awan cendawan muncul di cakrawala, tampak dari sebuah kota kecil di negara bagian Kansas. Bom nuklir telah saja meledak di arah barat, kemungkinan di kota Denver, negara bagian Colorado.

Kepanikan muncul di kota kecil bernama Jericho ini. Terlebih setelah badai datang dari arah ledakan itu menuju timur. Hujan yang membawa radiasi akan menggulung kota dalam dua jam ke depan. Orang-orang segera membuat lobang-lobang perlindungan, ruang-ruang yang tidak boleh ada celah masuknya radiasi nuklir. Mereka akan bertahan di sana, sampai bahaya yang mengancam nyawa itu berlalu.

Untuk berapa lama?

Pertanyaan ini melahirkan kepanikan. Toko-toko diserbu. Bahan makanan diborong. Perkelahian sempat muncul sebelum akhirnya dilerai oleh yang berwenang. Kabar buruk datang; bus sekolah yang mengantar anak-anak TK sejak pagi belum kembali hingga petang. Ibu-ibu yang terpisah dari si kecil melabrak pejabat kota, mendesak agar bus rombongan itu ditemukan. Dua mobil patroli polisi segera diutus untuk tugas tersebut.

Jika semua kepanikan ini belum cukup menegangkan, masih ada lagi satu bus pengangkut narapidana terdampar di pinggiran kota, membuat dua penjahat kejam berhasil kabur, dan lalu membunuh dan membajak identitas polisi yang sedang mencari rombongan anak-anak TK tadi.

Demikianlah penulis cerita suspen sering menjadikan lolosnya tahanan sebagai klimaks dari kengerian cerita fiksi, seperti yang dikerjakan oleh Stephen Chbosky pada film serial berjudul Jericho ini. Penonton dibuat gemas sekaligus cemas, menunggu bagaimana akhir dari setiap kengerian itu. Tetapi terhadap semua fiksi, penonton cukup duduk diam untuk terus mengikuti alurnya. Akhir yang baik sudah disediakan.

Tetapi tidak dengan kengerian faktual. Di negeri ini beberapa waktu silam, cerita serupa ini bukan sekedar fiksi. Pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya ini sudah memaksa orang mencemaskan segala hal: kesehatan, ekonomi dan masa depan keluarga. Itu semua belum cukup memyempurnakan penderitaan. Narapidana pun dilepas ke tengah masyarakat yang sedang dilanda kesulitan.

Di saat yang sama tiba-tiba orang tak dikenal disebar ke tengah publik di malam hari, entah oleh siapa. Mereka yang tertangkap dan diinterogsi di berbagai tempat berbeda menunjukkan persona sebagai orang gila. Respon yang seragam, seperti sudah terprogram. Spekulasi pun berkembang bahwa ada sindikat kejahatan yang menunggangi situasi, menggaruk di air keruh. Masyarakat menanggapi semua ini dengan peningkatan kewaspadaan. Ronda malam dirutinkan, gang-gang ditutup bagi akses orang tak dikenal. Xenophobia menjadi pandemi virus baru. Inikah sasarannya?

~o()o~

Anjuran untuk menjaga jarak fisik demi memutus rantai penyebaran virus corona dimentahkan sendiri dengan kebijakan lain. Bagaimana bisa warga yang meronda di ujung gang, yang sedang mencemaskan keamanan lingkungan, harus tetap menjaga jarak dari sesamanya? Bisakah ronda malam disebut sebagai work from home? Haruskah virus yang katanya bertahan hidup di suhu dingin itu dijemput lewat ronda malam? Keselamatan siapa yang katanya diutamakan?

Saya tiba-tiba tidak mengerti dengan negeri ini.

20200509_221139

Saya menghampiri peronda malam yang mencoba mengejar orang yang dicurigai sebagai pencuri motor.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #5 Kritik Kebudayaan

Sering kali praktek kebudayaan telah tereduksi menjadi sekedar ritus presentasi seni di tengah publik, dianggap semacam pertunjukan atraktif di mana penonton secara otonom menangkap sendiri bagian menarik yang dikehendaki dan mengabaikan lainnya. Tingkat kesadaran dan pengetahuan penonton sangat berpengaruh pada sejauh mana presentasi itu tersampaikan. Dalam durasi dan ruang yang terbatas, kehadiran pengantar kuratorial sering kali tidak memungkinkan. Bahkan buku-buku katalog pameran lukisan oleh pembaca hanya dilihat gambarnya saja. Teks kuratorial yang susah payah dihadirkan selalu diabaikan.

Penanda-penanda budaya itu merentang dalam spektrum jaman; dari yang tradisional hingga yang pos-modern. Kebudayaan tradisional sering dikategorikan sebagai yang mendalam dan luas, yaitu penanda-penandanya merujuki nilai-nilai yang terus dihayati dalam keseharian. Sedang kebudayaan pos-modern* sudah terang-terangan menyatakan supremasi penanda; tak usah digali maksudnya, yang penting saat ini gembira. Publik audien agaknya terbiasa dalam paparan jenis yang belakangan ini. Mereka tidak mau repot dengan kedalaman. Dan itu berpengaruh pada jenis yang pertama. Presentasi kebudayaan tradisional diperlakukan dengan respon yang sama.

Maka bagi masyarakat awam, praktek kebudayaan kemudian hanya merupakan tindakan menangkap penanda-penanda dari presentasi kesenian yang mereka jumpai. Tak ada kesadaran yang terakses dari wujud-wujud yang kentara itu, sebab mereka pun tidak mau dipusingkan dengan narasi yang mengutarakan maksud. Mereka hanya mau disentuh rasa dangkalnya lewat penanda yang memukau indera. Ini seperti dua orang yang keluar dari gedung bioskop, salah satu bertanya pada yang lain, “Tadi filmnya tentang apa, sih?” Dijawab, “Mana aku tahu?”

~o()o~

Virus mewabah, memaksa semua orang mundur ke dalam ruang-ruang aman, menjauhi sesamanya. Presentasi kebudayaan ditangguhkan hingga mengalami hibernasi. Penanda-penanda budaya itu tak lagi dijumpai. Jika penanda selama ini dipenggal dari petanda dan sekaligus realitanya, maka tak ada lagi yang tersisa dalam masa pandemi ini.

Di masa-masa wajar, manusia telah merasa puas hanya oleh kulit. Di masa sulit saat kulit itu harus disembunyikan, manusia kesepian dalam kebudayaan sebab tak pernah menggenggam isi. Gejalanya bisa dikenali dari tidak betahnya mereka untuk bertahan di dalam rumah, dan mulai memadati lagi ruas-ruas jalan aspal, memapar diri pada resiko dengan berbagai dalih yang sebenarnya untuk melepas rasa haus akan penanda-penanda.

Kecuali mereka yang menjangkarkan penanda-penanda itu pada nilai-nilai idealis dan fakta-fakta realis, akan bertahan dengan sibuk merakit kembali penanda-penanda baru, dan mempresentasikannya dalam medium yang berbeda. Idea itu permanen, sedang kulit boleh terus disusun ulang. Dengan keutuhan penanda dan petanda, tanda dan realita, kulit dan isi, sekaligus pikir dan rasa, maka hakikat bisa dicapai.

Mereka yang menggenggam hakikat akan selalu merasa penuh dalam kesendirianya.

__________
*Tidak semua kebudayaan pos-modern saya prasangkai, banyak pula yang layak diapresiasi bahkan dihayati.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #4 Cara Betah

Satu-satunya jalan menuju luar adalah masuk.

Karena meninggalkan rumah beresiko terpapar virus yang mungkin saja diusung orang yang tampak sehat, maka cara menjelajahi luasnya dunia adalah dengan masuk ke dalam kanvas.

Teman-teman pelukis pasti mengerti pengalaman serupa ini, yaitu saat kesadaran meninggalkan tubuh dan mengembara bersama objek yang sedang dilukis. Ada istilah untuk menandainya: ekstasis.

Sebab ekstasis yang bisa dialami ini, beberapa lukisan meminta waktu lebih lama untuk dirampungkan. Jangan pernah usai bila perlu, sebab setiap goresan mengantar sejauh puluhan kilo meter. Dan setelah kuas diletakkan, seketika ruang studio menjelma, mengingatkan himpitan dinding di empat penjuru dengan bahaya wabah yang mengintai di seberangnya.

Tapi setiap kanvas tentu memiliki akhir episodenya sendiri. Dan lebih ekonomis jika cat yang tersedia digunakan pada kanvas yang baru. Karena itu lukisan lain pun tercipta lagi dengan kenikmatan proses seperti sebelumnya.

Piknik yang menemukan bentuk alternatifnya ini berdampak positif pada produktifitas. Dan ini konsisten dengan apa yang telah lama saya nyatakan di media sosial, bahwa kerja dan liburannya pelukis itu terjadi serempak.

Pandemi tentu saja membawa perbedaan, yaitu terenggutnya kesempatan presentasi seni ke tengah publik. Gelar pameran atau demonstrasi melukis tak akan mengundang orang yang harus menjaga jarak. Tapi ini pun masih bisa disiasati dengan media online. Video proses melukis yang dihias musik instrumental yang bisa diunduh gratis di youtube, bisa menarik perhatian kawan-kawan dalam jaring pertemanan. Citra karya dan proses pembuatannya pun tersampaikan ke publik.

Tujuh pekan sudah saya bertahan di dalam rumah. Jumlah korban terinfeksi di kota kecil ini terus bertambah. Terakhir kali saya cek, ada 11 orang yang dinyatakan positif, tujuh di antaranya berhasil disembuhkan. Empat korban meninggal justru dari pasien yang dinyatakan negatif. Hasrat keluar pun semakin ditekan. Tapi jalan aspal yang melintang di depan sudah dirayapi kendaraan yang mengangkut orang-orang bosan. Saya memilih untuk tetap di sini, sebab masih banyak untuk dikerjakan dengan gerak tubuh maupun pikiran.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #3 Teori Kritis

Modernitas yang dihayati di Barat telah menciptakan generasi yang sakit. Perombakan cara berpikir pun dilakukan. Ilmu pengetahuan yang objektif dan netral dianggap tidak berkontribusi pada kehidupan masyarakat. Lahirlah mazhab Frankfurt pada tahun 1930-an dengan teori-teori kritisnya.

Teori kritis menyatakan ketidakpuasan pada objektifitas ilmu pengetahuan yang seolah hanya bertindak sebagai deskripsi sosial dalam bentuk tanpa isi, ilmu yang berkembang demi ilmu itu sendiri. Teori kritis menghasrati ilmu yang memiliki kontribusi praktis untuk mengubah keadaan ‘saat ini’ menjadi semakin lebih baik. Dengan demikian teori kritis juga akan merombak struktur pemikirannya sendiri suatu saat nanti. Tak ada yang abadi di luar sana.

Dunia pendidikan kita masih dibanjiri ilmu-ilmu objektif. Pelajar bertanya-tanya kenapa mereka diajari ini dan itu, yang tampaknya tak akan pernah mereka gunakan dalam hidup ke depan, sampai mati sekalipun. Sarjana berbelok arah, menekuni pekerjaan yang tidak ada relasinya dengan gelar akademis yang dirampungkan. Saya bertanya-tanya, sejak kapan saya butuh menganalisis klausa dan frasa pada tiap kalimat setiap kali membaca buku, sementara kerepotan menggubris bentuk semacam itu menjadi kewajiban kurikuler.

Indonesia masih belum mentas dari modernisme, belum menghayati teori-teori kritis, belum siap berubah, masih ingin mapan dalam objektifitas ilmu pengetahuan, masih menggumuli sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. Sampai akhirnya virus menyebar ke tengah masyarakat dan menantang semua kemapanan, sambil mempertanyakan ulang segala ilmu yang ada.

Zona nyaman berupa komunalitas di luar sana sedang diobrak-abrik, berapa banyak cabang ilmu telah dipatahkan? Transaksi tidak berjalan, pembeli tidak mendatangi penjual, berapa banyak skema berpikir harus direkonstruksi?

Teori kritis berlanjut dengan pemikir-pemikir yang mengajarkan metode berpikir lateral dan kreatif. Yang terakhir ini yang sekarang kita butuhkan untuk menggagas suatu struktur kemapanan baru, yang sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan.

Di luar sana memang banyak yang harus siap berubah, seperti air bersedia menyesuaikan bentuknya dengan yang mewadahi. Dan jika semua itu melelahkan–meski itu keniscayaan–maka mungkin kita bisa melangkah ke dalam, menuju yang mutlak. Berdamai di sana saja.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #2 Bertahan

Tinggal di rumah dalam jangka waktu lama menjadi ujian bagaimana kita mewujudkan semboyan “rumahku istanaku”. Sejauh mana ruang kita berteduh ini menjadi perlindungan tubuh dan jiwa, yang ketika setiap lantai, dinding dan atapnya menghimpit di enam sisi, kita tidak menghasrati ruang lain di seberangnya.

Rumah bertambah fungsinya menjadi benteng pertahanan; satu tambahan tugas dibebankan padanya: menahan datangnya sesuatu yang tak kasat mata, yang menunggangi manusia sebagai kendaraan. Maka orang lain di luar rumah itulah yang dihadang. Kodrat sosial dipertahankan dengan moda interaksi berbeda. Saluran komunikasi pun diupayakan melalui jaringan internet. Benteng itu hanya akan membatasi tubuh biologis.

Gerak jasmaniah yang menjadi syarat interaksi sosial berkurang. Banyak orang mulai mencemaskan massa tubuhnya yang berkembang. Di saat yang sama saya justru mendapati angka-angka pada timbangan digital itu menurun. Ada beberapa ons yang hilang.

Social distancing ini secara praktis mengurangi berbagai bentuk distraksi yang tidak perlu. Dengan pikiran yang fokus, saya lebih produktif dalam berkarya. Jadwal perkuliahan yang sejak semester pertama dulu dilakukan secara online juga sedang berlangsung di semester keempat. Energi mental turut diperas. Sebuah tantangan dari Asosiasi untuk memvideokan proses melukis juga saya sambut dengan gembira. Melukis yang direkam membutuhkan tambahan energi fisik dan psikis demi keindahan sinematik, selain kindahan lukisannya.

Covid-19 itu sendiri adalah barang baru yang untuk menempatkannya di luar pengetahuan bakal beresiko pada keselamatan jiwa. Paling tidak, cara kerja virus ini pada tubuh manusia dan cara persebarannya harus diketahui dalam pemahaman yang cukup. Orang biasa cemas berada di zona ketidaktahuan. Satu lagi energi mental perlu dialokasikan.

Waktu luang seperti dihadiahkan bagi warga negara. Tapi bagi saya sama saja. Seniman selalu menentukan sendiri kapan mau bekerja, dan kapan beristirahat. Ketika masa presentasi seni ke publik sedang ditangguhkan, inilah saatnya menggenjot produktifitas, seperti petani yang semakin rajin turun ke ladang sampai panen tiba. Dan jika hasil panen itu masih belum bisa dikirim ke pembeli, masih ada lumbung untuk menyimpan dengan aman.

Saat wabah ini nanti berakhir, saya mau keluar sebagai pemenang.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #1 Dunia Seni

Lima pekan lebih kami tempuhi hidup dengan mendekam di dalam rumah, melakukan semua kewajiban profesional di tempat sendiri, sambil mengesmpingkan kodrat sosial manusia. Kami semula mengira jika setelah dua pekan, semua akan kembali normal. Tapi ternyata pembatasan sosial ini berlarut-larut. Virus ini selalu menemukan jalan kelestarian eksistensinya lewat manusia-manusia gamang.

Les melukis di galeri yang biasa diramaikan anak-anak dan remaja dengan bimbingan dua seniman telah lama tidak aktif berbarengan dengan diliburkannya lembaga-lembaga pendidikan pada pertengahan Maret lalu. Galeri lukis yang merupakan tempat interaksi orang dengan benda seni seketika sepi.

Dalam situasi normal, seni sudah ditempatkan dalam lapis ketiga atau bahkan keempat dalam kebutuhan; sebagai kebutuhan tersier atau kuartener. Dalam hirarki kebutuhan Maslow, seni menempati kebutuhan aktualisasi diri melampaui rasa aman dan harga diri. Banyak sekali anak tangga untuk ditapaki hingga orang tiba pada keputusan untuk memperindah hidupnya. Bahkan saya menyaksikan mustahilnya mewujudkan kebersihan di lingkungan terdekat oleh masyarakat. Di masa pandemi ini pun, melalui CCTV saya masih melihat ada orang kampung yang dengan enaknya membuang ingus di trotoar setiap kali melintas di jalan.

Wabah ini seketika memerosotkan kebudayaan dalam hibernasi, dan manusia dalam kebutuhan instingtif. Setiap tindakan dilakukan dalam pertimbangan untuk tetap hidup. Kesampingkan dulu soal estetika, yang penting perut terganjal. Oleh karena kemandegan semacam ini, seni akan mendapat giliran pertama untuk mati.

Dalam masa pos-pandemi nanti, seni akan mendapat giliran terakhir untuk beranjak bangkit, setelah manusia memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar dan rasa amannya, terutama di bidang ekonomi. Berapa lama pemulihan ekonomi itu berlangsung? Jangan dulu pertanyaan ini, sedangkan kapan wabah ini selesai pun tak ada yang bisa menjawab.

Dikunjungi Gubernur

Pengalaman pada 20 Mei 2015 silam di Studio 6 Emtek City Daan Mogot, Jakarta, rupanya sangat berkesan bagi bapak Ganjar Pranowo. Saat itu beliau membeli satu karya lukis saya dalam acara lelang, yang merupakan bagian dari rangkaian acara malam anugerah Liputan6 Awards SCTV.

Satu setengah tahun telah berlalu, namun Pak Ganjar dengan segala kesibukannya sebagai gubernur itu masih ingat siapa seniman yang lukisannya telah menghias ruang tamunya.

Lalu pada Minggu pagi tanggal 12 Februari 2017 ini, tiba-tiba saya–selagi masih menikmati sarapan bersama istri–didatangi seorang pria berbadan tegap yang memperkenalkan diri dengan santun sebagai staf gubernur. Saya meminta frasa ‘staf gubernur’ itu diulang untuk meyakinkan diri saya sendiri, dan ternyata saya tidak salah dengar. Gubernur Jawa Tengah akan singgah di galeri saya.

Di saat yang sama, pak Ganjar yang sejak pagi menempuh perjalanan dari Semarang dengan sepeda itu masih menemui para penyandang disabilitas kota Salatiga di selasar Kartini (trotoar Jalan Kartini yang menjadi ruang publik). Saya masih memiliki waktu untuk berbenah sekitar satu jam sebelum kedatangannya yang tampak biasa saja, layaknya rombongan tour sepeda pada umumnya.

Biasanya, saya sebagai rakyatlah yang harus sowan ke istana para pimpinan negara dengan melewati aturan protokoler yang ketat. Itu pun jika ada keberuntungan dalam bentuk undangan. Tapi kali ini dengan tak terduga justru saya yang didatangi. Kehadiran pak Ganjar didampingi pula oleh Plt Walikota Salatiga, Bp. Achmad Rofai, Kapolsek Sidomukti, dan Ketua Satpol PP Salatiga.

Ada semacam reuni singkat dalam kunjungan pak Ganjar ini. Beliau menceritakan apa yang membuatnya ingin berkunjung ke galeri saya selagi masih di kota Salatiga. Lukisan burung gereja hinggap di pohon murbei yang beliau beli dari saya satu setengah tahun silam itu telah menjadi bahan motivasi untuk setiap tamu-tamunnya. Maka perlulah kiranya dicari tahu, di manakah pelukisnya tinggal, kira-kira demikian jika saya mencoba merekonstruksi alur pikiran beliau.

“Oo, di sini to, kamu tinggal,” begitu kalimat yang diucapkan pak Ganjar selagi melangkah ke dalam ruang galeri saya.

Kunjungan beliau yang sudah pasti kehormatan besar bagi saya ini saya pastikan tidak sia-sia. Saya menghaturkan satu buku memoar saya, yang disambut dengan memborong beberapa eksemplar tambahan. Semoga buku itu dapat menjadi bahan motivasi yang lain lagi.