Kegiatan

Memajukan Peradaban dari UPH

Ketika satwa dan pohon pun telah menjadi subjek hukum, majulah peradaban dari sebuah negeri.

Penyandang disabilitas–yang adalah manusia juga–ketika masih masuk dalam kelompok marginal maka tak terbayang kapan seekor satwa dapat “membela dirinya” dalam sebuah peradaban.

Di sini, dalam kegiatan tahunan bertajuk Satu Ruang, para mahasiswa Fakultas Desain Interior Universitas Pelita Harapan secara aktual mengangkat kaum marginal dari kalangan disabilitas untuk dapat turut menjalani hidup sosialnya dengan mengakses ruang publik secara lebih mudah. Dalam periode ketiga ini, diambil tema aksesibilitas di stasiun kereta api.

Dengan penuh apresiasi, saya hadir di sana untuk turut memberikan sudut pandang sebagai pihak yang sedang diperjuangkan. Di samping apresiasi itu, saya secara pribadi tetap menyampaikam semangat pribadi saya yang tidak mau terlalu merepotkan liyan sebelum berkeringat terlebih dahulu.

Sebagai praktek dari semangat ini adalah dengan memamerkan karya-karya lukis, sekaligus mendemonstrasikan proses pembuatannya, agar tampak bahwa orang-orang dengan tubuh yang tidak genap itu tidak selamanya menjadi beban sosial.

 

Hadir di Ulang Tahun AMFPA ke-60 di Barcelona

Perjalanan ke luar negeri kali ini tidak seperti sebelumnya. Ini adalah tantangan. Ibu saya, yang saya daftarkan sebagai pendamping pada Agustus 2016, mengalami kecelakaan tepat dua pekan sebelum keberangkatan. Ia mengalami cidera patah di pergelangan kaki. Pendamping pengganti sudah tidak mungkin diupayakan, mengingat prosedur yang rumit dan panjang.

Saya bisa saja memutuskan untuk absen dari acara konferensi AMFPA Internasional ini, dan sekaligus melewatkan perayaannya yang ke-60 di Barcelona. Tapi saya bertekad tetap berangkat bersama Ibu, yang saya yakin kondisinya cukup baik setelah menjalani operasi. Ia akan duduk di kursi roda sepanjang kegiatan.

Sebelum perjalanan itu dimulai, pikiran ini tak sanggup merangkai gambaran bakal seperti apa jadinya ketika dua orang disable bepergian bersama sejauh belasan ribu kilometer, menyeberangi samudera melalui angkasa. Hanya keyakinan bahwa semua bakal baik-baik saja yang menjadi bekal keberangkatan itu.

Dan ternyata, semua memang baik-baik saja. Perayaan ulang tahun AMFPA Internasional ke-60 itu saya hadiri dengan kegembiraan, bertemu kawan seniman dari berbagai negara, mengikuti seremoni pembukaan pameran bersama di Museum Maritim, dan mengunjungi tempat-tempat eksotis di kota pantai yang dingin itu.

Barcelona adalah kota yang sudah terbangun dengan sangat baik. Pengguna kursi roda tak banyak menemui kesulitan untuk menyusuri jalan-jalannya. Bahkan, medan yang bersahabat itu sering digunakan oleh warga setempat untuk bermain skate-board atau sepeda. Mereka tampak tidak risau oleh terik matahari yang menyorot begitu terangnya, sebab itu masih tak membendung suhu dingin yang dihantar oleh angin.

Saya bersyukur, di kota indah ini saya bisa untuk satu kali lagi menyenangkan hati Ibu, terlepas dari kondisinya yang berat.

Berbagi Gagasan dan Semangat

Undangan yang saya terima dari Politeknik Negeri Bali tahun 2015 lalu tidak bisa saya hadiri karena semua penerbangan ke Denpasar dari Jogjakarta dibatalkan bersamaan dengan meletusnya gunung Raung. Sedang pada undangan tahun ini, saya bertekad untuk menghadirkan diri ke tengah-tengah mahasiswa yang pasti sudah lebih bersemangat untuk menyambut saya.

“Motivasi dan Pelatihan Minat Bakat #2”, demikian acara yang saya hadiri sebagai narasumber pada 23 Juli itu. Saya berkeyakinan bahwa audiens yang saya hadapi telah memiliki semangatnya masing-masing. Sehingga apa yang saya sampaikan di atas panggung itu bukan untuk mendorong-dorong mereka, tapi sekedar memantik sekilas cahaya kecil di depan jalan kehidupan mereka, agar bisa untuk menambah laku meski satu langkah saja.

Minat dan bakat mungkin belum terungkap bahkan hingga bilangan usia sudah tidak bisa lagi dibilang sedikit. Ini seperti menyusuri lorong tanpa cahaya–tak tahu mau ke mana. Dalam situasi seperti ini yang diperlukan adalah cahaya yang menerangi ruang di depan untuk ditapaki, bukan sekedar dorongan dari belakang.

Terhambatnya pengungkapan minat sering kali karena seseorang sudah terlanjur digerujug dengan fasilitas. Ia mengira apa yang membuatnya senang adalah minatnya. Tapi jika kesenangan itu tidak bisa disublimasikan menjadi karya, itu hanya hura-hura. Fasilitas yang memudahkan hidup juga berpotensi membutakan seseorang dari kekuatan yang dibawanya sejak lahir, yaitu bakatnya.

Mengingat generasi sekarang begitu dimanjakan dengan sarana kemudahan hidup yang canggih, saya menantang para peserta seminar untuk–dalam satu hari saja, entah kapan–menjalani hidup rutinnya dengan tiga pilihan keterbatasan. Pertama, mengikat kedua tangan di punggung untuk menghambat fungsinya, kedua menutup dua mata hingga tak bisa melihat, dan terakhir menekuk lutut dan berjalan dengan dua tangan. Pilihan keterbatasan ini harus dilakukan dalam waktu seharian penuh dengan kegiatan rutin seperti biasa.

Dengan bentuk tantangan ini saya bermaksud agar seseorang bisa membongkar rutin yang mudah menjadi sulit, hingga tercetus gagasan untuk menciptakan cara atau alat bagi mereka yang hidupnya memang benar-benar terbatas. Kemudian muncul rasa syukur akan keadannya yang selama ini sudah dijalani. Tantangan seperti ini akan saya ajukan pada siapa pun yang ingin mendobrak tembok pembatas.

***

Konon sepeda roda dua tercipta akibat letusan gunung Tambora yang nyaris melumpuhkan kehidupan penghuni planet bumi. Langit di benua Eropa tertutup abu vulkanik hingga berbulan-bulan. Rerumputan tak bisa tumbuh. Kuda-kuda penarik kereta mati kehabisan bahan pangan. Sementara manusia masih butuh perpindahan ruang; mobilitas. Lalu terpikirlah oleh Baron Carl von Drais untuk membuat ‘kuda elok’ berupa dua roda yang dipasang pada kerangka yang ditumpangi manusia dan dikayuh dengan kaki.

Tanpa letusan gunung Tambora yang kejam itu, mungkin planet ini belum akan segera diperkenalkan pada sepeda roda dua. Demikianlah, penemuan dan gagasan cemerlang itu sering kali terpercik dari keterhimpitan.

Kolaborasi

Musim liburan kali ini saya jalani dengan kerja, karena kerja tak ubahnya liburan juga.

Sempat saya menulis bahwa ruang di dalam kanvas adalah otoritas senimannya. Dalam tulisan yang sama, juga saya singgung tentang kolaborasi yang mesti diikuti kejelasan informasi tentang siapa saja yang turut berkarya di dalamnya.

Untuk pertama kalinya, saya membuat lukisan kolaborasi bersama pelukis lain. Ini bukan tentang satu kanvas yang dibagi dalam ruang-ruang kecil, lalu masing-masing dilukisi dengan tema berbeda. Ini tentang satu tema yang dibuat bersama-sama.

Harus saya akui, ini bukan pekerjaan mudah. Untuk menjelaskan kesulitannya, saya perlu mengisahkan peristiwa yang terjadi pada setengah milenium lalu, di Italia, sebagai ilustrasinya.

Adalah Andrea del Verrocchio, seorang seniman dan guru lukis yang saat itu sedang membuat lukisan pembaptisan Kristus. Karena sibuknya, Verrocchio harus memberi instruksi pada salah satu muridnya untuk melanjutkan bagian yang belum rampung. Seorang bocah yang masih berumur belasan tahun, bernama Leo, melaksanakan tugas itu. Leo melukis sosok malaikat berjubah biru dengan wajah yang manis dan ekspresif.

Melihat hasil pekerjaan muridnya, Verrocchio tercengang, karena ternyata muridnya itu jauh lebih piawai daripada ia sendiri. Efek ketakjubannya tidak berhenti di situ. Ia merasa sudah tidak pantas lagi menjadi guru dari muridnya, dan bahkan ia merasa sudah tidak layak lagi menjadi pelukis. Semenjak itu ia tak pernah menyentuh cat lagi! Itu gara-gara ia telah berkolaborasi dengan Leo, yang nama lengkapnya Leonardo da Vinci.

Dalam kolaborasi seperti itu, ada pertarungan ego antar seniman yang berpartisipasi dalam satu karya. Demi keberhasilan, masing-masing seniman harus meredam egonya; merelakan sisa pekerjaannya dilanjutkan seniman lain. Entah jadinya nanti seperti apa. Jika kurang bagus, harus terima. Jika lebih bagus, mungkin akan seperti Verrocchio.

Kesulitan kedua adalah penyeimbangan teknis. Setiap pelukis memiliki corak goresannya sendiri-sendiri. Corak yang berbeda akan menghasilkan satu karya yang janggal, yang tidak konsisten pada bagian-bagiannya. Karenanya kemudian masing-masing pelukis perlu menjajaki corak goresan kolaboratornya. Ini berarti juga diperlukan adanya kesediaan untuk sejenak meninggalkan kebiasaan, dan lalu menempuh cara liyan.

***

Kolaborasi yang baru saja saya lakukan adalah dengan pelukis Salatiga yang sudah cukup beken, Isworo. Kesempatannya dilakukan dalam acara pameran dan demo bersama di Laras Asri Resort and Spa, Salatiga, pada penghujung tahun 2015 kemarin, selama enam hari. Masing-masing mengawali lukisannya di dua kanvas terpisah, dari bagian atas. Setelah hari ketiga, dua lukisan yang setengah jadi itu ditukar untuk dilanjutkan di bagian bawahnya. Satu lukisan lagi dikerjakan bergantian, sebagai respon dari goresan Wali Kota Salatiga dalam acara pembukaan.

Proses awal Proses lanjutan

Kami berhasil merampungkan pekerjaan ini hingga membubuhkan nama masing-masing pada pojok lukisan bagian bawah. Satu lukisan dua nama. Dan hasilnya–masih dengan segala kekurangan yang ada karena pengalaman pertama kali–kemudian dilelang pada malam tahun baru untuk disumbangkan ke panti asuhan.

Dari pengalaman ini, bertambahlah pengetahuan saya tentang menata pikir, rasa, dan gaya dalam praktek berkarya yang lebih kompleks. Sebuah pelajaran yang sangat berharga. Usai semuanya, saya kembali pada otoritas penuh atas setiap kanvas yang saya lukisi.

Saya mrengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung. Pak Isworo kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bagian bawah.

Saya mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung.
Pak Isworo kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bawahnya.

Pak Isworo mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung. Saya kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bagian bawah.

Pak Isworo mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung.
Saya kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bawahnya.

Liputan 6 Awards SCTV 2015

Dalam penerbangan dari bandara Adi Soemarmo itu, saya seperjalanan dengan ibu Rusmiyati. Hanya saja saya baru bertemu dengannya setelah tiba di bandara Halim. Pada acara makan malam yang singkat di seberang terminal kedatangan, saya berkesempatan untuk berbincang. Ibu Rusmiyati adalah seorang yang menggerakkan perempuan-perempuan di lereng Merapi untuk lebih berdaya guna. Ia mengajarkan teknik pengolahan hasil bumi di lingkungan sekitar menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah, seperti membuat aneka kue dari sayur dan buah.

Dari bandara Halim kami dijemput oleh tim dari SCTV menuju penginapan, di Best Western Hotel. Seketika saya masuk kamar hotel, saya tidak keluar lagi hingga esok paginya. Setelah sarapan, saya berkenalan dengan bapak Muarif yang berjalan menggunakan tongkat penyangga untuk menambah kekuatan pijak bagi kaki kanannya yang cacat. Senyumnya lebar dan lepas, dan pelukan tangannya terasa bersahabat di punggung saya. Pak Muarif, menjawab beberapa pertanyaan saya, hanyalah lulusan SMA. Tak ada proses belajar di perguruan tinggi yang ia jalani. Ia tidak mengerti teori. Tapi ia menjadi guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang umumnya disisihkan oleh institusi pendidikan formal. (Dalam ungkapan saya: tidak dipelihara oleh negara*.) Pak Muarif merintis sendiri sekolah khususnya ini. Ia kelola sendiri manajemennya, ia ajar sendiri murid-muridnya, ia kepalai sendiri lembaga pendidikannya, bahkan ia jemput dan antar pulang murid-murid itu dari rumah mereka masing-masing.

“Kalau tidak dijemput, mereka tidak akan belajar.”

Untuk akomodasi antar-jemput itu, pak Muarif menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa ia operasikan sesuai kondisi tubuhnya. Perlahan-lahan datanglah bantuan dari pemerintah dan orang-orang yang hendak mengabdi secara suka rela menjadi tenaga pengajar. Saya bertanya kemudian tentang karakter anak didiknya. Seperti apakah yang paling menguras energi? Dijawabnya tentang seorang anak hiperaktif, yang selang waktu sebentar sudah berdiri di atas meja, ditinggal berpaling sebentar lagi tiba-tiba sudah nangkring di atas lemari. Para tenaga pengajar yang turut bekerja di bawah kepemimpinan pak Muarif tidak sanggup mengatasi anak hiperaktif ini, bahkan sekalipun mereka jebolan perguruan tinggi, menyandang gelar sarjana, dan hafal banyak teori. Lalu bagaimana pak Muarif sanggup mengatasi anak hiperaktif?

“Saya menggunakan hati. Saya yakin setiap orang pada tingkatan hati itu semua sama. Tubuh dan pikiran beda, tapi hati sama. Saya menyejajarkan gelombang hati saya dengan anak itu. Biarpun dia lagi usil, kalau saya sudah datang dia langsung nurut.”

Pada akhir percakapan, pak Muarif mengaku belum pantas untuk mendapatkan penghargaan apa pun, karena ia merasa masih bergerak di tahap awal. Ia baru membangun lembaga pendidikannya di dua kecamatan, sementara targetnya adalah seluruh kabupaten Mojokerto, dan lebih luas lagi. Ia benar. Ia belum memenangkan Liputan 6 Awards ini, tapi ia memenangkan hati saya. Di akhir acara, saya memberikan penghargaan saya sendiri.

***

Kegiatan di tanggal 20 itu sungguh padat. Kami semua, para kandidat peraih penghargaan, ada 30 orang disertai pendamping masing-masing. Tak banyak waktu untuk bisa berkenalan satu per satu. Setelah usai acara Liputan 6 Siang, kami makan bersama di sebuah ruang di lantai sembilan gedung SCTV Tower. Saya menyapa seorang pria paruh baya yang tampaknya dari kalangan intelektual. Saya tidak salah. Ia adalah Profesor Agus Pakpahan yang pernah mengajar di IPB. Sambil menyantap makanan ia menceritakan buah karyanya. Ia beternak lalat untuk dijadikan petelur. Telur-telur itu kelak setelah menetas menjadi larva akan digunakan sebagai pengolah limbah organik, yang selama ini tidak mendapat penanganan khusus.

“Jadi sisa-sisa makanan seperti ini,” Prof. Agus menunjuk ke makanan yang sedang ia santap, “yang akan dikonsumsi oleh larva tadi.” Tidak tampak sedikitpun adanya perubahan selera makan di wajahnya, meski sedang bercerita tentang ulat-ulat pemakan limbah.

“Apakah lalat bukan serangga yang berbahaya bagi kesehatan manusia?” tanya saya berikutnya. Lalat yang diternak Prof. Agus adalah jenis lalat yang bersih. Tubuh lalat jenis ini pipih dan memiliki bagian-bagian mulut yang berbeda. Tentu hanya yang berpengalaman yang tahu lalat mana yang dimaksud. Lalu larva yang telah membersihkan limbah organik itu sendiri juga memberikan banyak manfaat.

“Kalau kita bisa beternak larva ini dalam skala besar, kita tidak perlu menjaring ikan di laut. Karena kebutuhan protein dan lemak sudah dipenuhi oleh larva-larva ini,” demikian Prof. Agus menjelaskan dengan semangat.

Turut dalam diskusi yang asyik ini adalah pak Asriyadi dari Kalimantan Barat. Pak Asriyadi sendiri berjuang memberdayakan masyarakat di sekitarnya agar melek informasi, dan mengurangi hingga menghentikan sepenuhnya kegiatan perambahan hutan. Dulunya pak Asriyadi pernah menjadi jurnalis. Ia menyaksikan adanya kepunahan suku-suku asli yang diakibatkan justru oleh campur tangan modernitas. Ia menuturkan tragedi suku Sawang di Babel yang dulunya adalah penghuni laut. Mereka membangun pemukimannya di atas lalut. Sejak industrialisasi muncul di sana, orang-orang suku Sawang didaratkan, dipaksa tinggal di atas tanah. Karena menempati habitat yang bukan asli milik mereka, orang-orang ini tidak bisa bertahan hidup lama. Umurnya hanya mencapai kisaran empat atau lima puluh tahun saja.

***

Kegiatan di Tower SCTV telah usai, dan kami dibawa ke studio di Jalan Daan Mogot. Tenda-tenda telah dibangun di pelataran parkir. Satu tenda disiapkan untuk ruang transit, berganti pakaian atau berdandan. Saya belum bisa bersahabat dengan suhu udara Jakarta. Bahkan duduk di depan kipas pendingin di dalam tenda itu pun tak mencegah keringat merembes dari pori-pori kulit. Seketika ada pengumuman bahwa studio acara bisa dimasuki, saya bergegas ke sana. Udara dingin itu saya dapatkan kembali.

Di sela-sela acara gladi bersih, saya bercakap-cakap dengan pak Limin Buntung. Kata Buntung sebagai nama belakang itu saya kira adalah sebuah penanda tambahan yang semula disematkan oleh orang-orang, dan akhirnya terinstitusionalisasi pada diri pak Limin. Pak Limin tidak memiliki dua kaki, sedang tangan kanannya sebatas siku saja. Ia adalah pimpinan dari sebuah grup lenong yang mempekerjakan tiga puluh orang seniman. Salah satu skenario pertunjukannya, yang selanjutnya ditampilkan di panggung, menggambarkan perjalanan karir keseniannya, dan sekaligus proses pembalikan olok-olok yang sering diterimanya menjadi bahan guyonan untuk menghibur pengolok-olok itu. Ia menyublimasikan tekanan yang ia terima menjadi karya lewat sikap penerimaan atas realita.

Usai gladi bersih di studio, kami dijamu makan malam di tenda. Sembari menunggu antrian prasmanan, saya disapa oleh Syarif, pemuda dari Kalimantan Barat yang mengembangkan sarana pembantu para penyandang buta warna agar dapat melihat objek lebih jelas. Prinsip teknologi yang ia kembangkan adalah penambahan intensitas gradasi pada jenis-jenis warna tertentu, yang bagi penyandang buta warna tampak sama semua. Dengan lensa yang telah dibubuhi zat organik tertentu, seorang buta warna dapat membedakan warna lewat skala gradasi yang dimunculkan lensa itu. Syarif bersama dua rekannya mengembangkan alat ini karena ada dua orang di lingkungannya yang menyandang buta warna, dan mereka berniat membantu mengurangi keterbatasan itu.

***

Untuk kembali memasuki studio, kami harus melewati metal detektor yang dijaga oleh Paspampres. Wakil Presiden, Bp. Jusuf Kalla dijadwalkan hadir dan menganugerahkan salah satu penghargaan. Beberapa menteri dan pejabat juga akan turut menyaksikan malam penganugerahan ini.

Kembali di dalam, saya duduk di samping Safrina Rovasita. Ia bicara pelan-pelan untuk mengatur artikulasinya agar lebih jelas terdengar. Ada masalah dengan syaraf motoriknya akibat cerebral palsy yang ia sandang. Safrina sudah lama menamatkan studi S1-nya, dan sekarang sedang sibuk dengan tesis masternya di bidang pendidikan. Karena itu ia belum sempat menulis cerpen lagi, sedang sisa waktu yang ada tetap ia gunakan untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di Yogyakarta. Tulisan-tulisan non-fiksinya telah berkali-kali terbit di majalah Diffa, tapi cerpen yang ia kirim ke sebuah harian belum mendapat respon. Jika memang tidak diterima oleh harian itu, saya mau menerbitkannya bersama tulisan teman-teman komunitas Narata Karia dalam sebuah antologi, lewat self publishing.

Di sebelah kiri saya adalah pak Mulyana, peraih gelar juara dunia paralympic cabang renang. (Dilahirkan tanpa tangan kanan dan kaki kanan.) Ia membawa semua medali yang ia raih, dan semuanya berwarna kuning, tak ada yang putih atau kemerah-merahan. Saya mencoba memegang salah satunya, dan untuk pertama kalinya saya tahu bahwa medali emas itu memang berat. Pak Mulyana memiliki alur hidup seperti saya; mencapai keberhasilan lewat bentukan eksternal. Mulyana kecil pernah diceburkan ayahnya ke sebuah danau di Purwakarta sana, dipaksa bertahan hidup dan berenang. Suatu penderitaan bagi anak-anak yang dihantar oleh orang yang harus mengasihi. Dan sering kali kasih sayang itu memang memiliki muka seram dan membencikan. Orang-orang seperti saya dan pak Mulyana hanya bisa menerima apa yang diberikan Sang Kehidupan; tak perlu repot mencari-cari, tapi harus setia pada apa yang telah dijatahkan itu. Dan hanya kesetiaan yang bisa mengantar menuju pencapaian.

***

Acara penganugerahan dimulai dengan penampilan band Kotak dan penari legendaris Didik Nini Thowok. Setengah jam kemudian saya sudah duduk di pojok panggung untuk menyelesaikan lukisan yang akan dilelang di akhir acara, bersama dua lukisan lain yang saya bawa dari rumah. Tiga orang penting di republik ini akhirnya memberikan penghargaan yang tinggi untuk tiga lukisan itu, yaitu Bapak Henry Yosodiningrat (anggota DPR RI), Bapak Gandjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), dan Bapak Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta). Sebagian hasil lelang itu saya sumbangkan untuk program Jembatan Asa SCTV, dan sebagian lagi saya hadiahkan khusus kepada Yayasan Fajar Sidik Muarif yang dipimpin pak Muarif, pria bertopang tongkat dan bersenyum lebar itu. Semoga lembaga pendidikan yang dibangunnya terus berkembang di Kabupaten Mojokerto, dan perjuangannya menginspirasi Muarif-Muarif baru di daerah lain.

Sepanjang acara itu saya tidak bisa memberikan banyak perhatian pada apa yang terjadi di panggung karena fokus pada kanvas di depan saya. Begitu banyak kandidat disebutkan, dan saya tidak hapal masing-masingnya, terlebih jika belum berkesempatan untuk berbincang-bincang.

Pada penutup acara, lima orang penyandang disabilitas dengan prestasi di bidang yang berbeda-beda dihadirkan ke tengah panggung untuk masing-masing mendapatkan anugerah penghargaan yang sama. Kelimanya adalah Getun, gadis cilik tanpa tangan dengan banyak kemampuan; Limin Buntung, pemimpin grup lenong; Mulyana, jawara renang di tingkat dunia; Safrina Rovasita, penyandang cerebral palsy yang mendidik anak-anak berkebutuhan khusus, dan saya sendiri. Penyampaian penghargaan dilakukan oleh Menkominfo, Bapak Rudi Antara, mewakili Presiden Republik Indonesia. Saya ucapkan terima kasih pada tiga orang yang telah mengapresiasi karya saya dengan bersedia mengoleksinya. Terima kasih juga terhatur untuk dua orang tua saya, Ibu dan almarhum Bapak, pada guru-guru di sekolah dan guru privat, serta para reporter, wartawan, jurnalis dan awak media lainnya. Mereka membentuk jalan hidup saya menjadi pelukis. Dan terima kasih sebesar-besarnya pada AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artists) dengan seluruh publishernya di berbagai negara di dunia, yang telah secara nyata menjadikan saya sebagai pribadi yang mandiri dan mencapai aktualisasi diri. Last but not least, terima kasih pada Liputan 6 SCTV yang telah melihat kegiatan rutin saya sebagai sesuatu yang bernilai perjuangan dan inspirasi.

***

Esok pagi, di hotel Best Western pada acara makan pagi, kami masih memiliki sedikit kesempatan untuk saling bertegur sapa sesama orang-orang hebat itu, bertukar nomor, memberi ucapan selamat, atau foto bersama. Husnul, kandidat dari Aceh menghampiri saya dan mengajak foto bareng. Ia membangun komunitas belajar di lingkungan tempat tinggalnya. Sedangkan Aprillyani dari Pati memiliki prestasi dengan mengolah kulit buah randu menjadi obat pembasmi jamur pada tumbuhan cabe. Pak Sumbodo Malik cukup mengherankan bagi saya. Pekerjaan sehari-harinya menatap layar monitor, tapi ia tidak mengenakan kaca mata. Ia merintis kampung blogger di Magelang. Dan kejutan terbesar bagi saya adalah hadirnya Arfian Fuadi yang tidak lain tetangga saya sendiri dalam satu kota. Arfian pernah menghebohkan negeri ini karena mengalahkan insinyur jebolan Oxford University dengan memenangkan lomba “3D Printing Challange” yang digelar oleh General Electric. Dengan demikian ada dua warga Salatiga yang ikut ajang Liputan 6 Awards SCTV ini. Saya agak getun (menyesal) karena belum menyapa Getun yang struktur fisiknya mirip saya; tanpa dua tangan itu.

Perjalanan pulang dijadwalkan pada tengah hari dengan pesawat Citilink. Dan saya kembali seperjalanan dengan Ibu Rusmiyati yang didampingi suaminya, Bapak Gunarhadi. Solo masih berjarak puluhan kilometer dari Salatiga. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil. Dua hari itu sangat melelahkan. Tapi saya masih memaksa diri untuk membuat tulisan ini, sebelum semua keindahan di sana itu rontok satu per satu dari ingatan.


__________
* Negara yang saya maksud termasuk seluruh representasinya seperti guru-guru sekolah negeri.

Menatap Hofburg

Musik instrumental terdengar sejak dari jarak puluhan meter, dibawakan oleh sebuah grup marching band yang personilnya berseragam ala militer. Musik itu menjadi bagian dari acara penyambutan para pelukis tanpa tangan yang datang dari seluruh dunia untuk meresmikan pameran lukisan bersama. Terompet, saxofon, dan flute ditiup mengikuti arahan konduktor; tak henti sebagaimana juga gelas-gelas minuman yang tersaji. Air putih murni, yang berkarbonasi, yang dicampur daun mint semriwing, aneka jus, hingga anggur terus mengalir bagi siapa pun yang menghendaki. Sementara itu, kartu-kartu nama berpindah antar saku sebagai gestur dari pernyataan, “Hai, aku mau lebih mengenalmu.” Ritual perkenalan masih berlangsung di hari keempat itu, karena ratusan orang tak mungkin seketika bertegur sapa di hari-hari sebelumnya. Di bawah siraman sinar matahari di musim panas itu, selain dengan kawan-kawan pelukis anggota AMFPA, saya juga berkenalan dengan istana Hofburg yang bisu tapi menyimpan ribuan kata.

Wina membangun dirinya dengan gedung-gedung yang memiliki ketinggian hampir sama. Keseragaman ini membuat setiap gedung nyaris sulit untuk unjuk diri sebagai entitas yang unik. Tapi Hofburg, jantung dari Wina ini, segera menyita pandangan mata lewat kekhasannya. Bagian utama yang dinamai Neue Burg memiliki struktur melengkung, membedakan diri dari kebanyakan gedung lain yang kubistik. Batu-batu persegi menyusun dindingnya. Pada balkon lantai dua, pilar-pilar bulat bergaya korintian menyangga konstruksi di atasnya. Keunikannya membuat Neue Burg dijadikan ikon dari keseluruhan komplek istana Hofburg, meski bagian ini adalah perluasan yang dibangun menyusul, lewat pertengahan tahun 1800-an, atau setelah empat abad dari pembangunan pertama oleh dinasti Habsburg.

Tepat di hadapan Neue Burg adalah lapangan luas bernama Heldenplatz. Lapangan ini sendiri menyimpan kisah penting, saksi dari berakhirnya kekuasaan Napoleon sang penakluk yang tak terkalahkan itu. Sembari membelakangi istana menghadap lapangan, berdiri patung Pangeran Eugene menunggangi kuda. Patung perunggu ini sudah berumur hampir 200 tahun, dan warnanya didominasi hijau. Pangeran Eugene adalah komandan militer yang mengabdi pada dinasti Habsburg di abad XVII dan XVIII.

Di depan sayap Festival Hall saya memperhatikan ornamen yang menghias eksterior istana. Patung-patung yang menggambarkan figur mitis tampak mengakhiri tingginya dinding, yang dinding itu sendiri sudah berhiaskan relief. Rasa penasaran menyeruak, seperti apa di dalam sana. Pesta penyambutan itu pun berakhir dan saya mengikuti langkah orang-orang memasuki sayap yang menghadap arah matahari terbenam itu. Kami digiring masuk ke ruang pertemuan yang disebut Zeremoniensaal atau Ceremonial Hall. Ruang ini menempati level mezzanin yang berada di atas lantai bawah. Untuk mengaksesnya terdapat lift dengan kapasitas yang sanggup menampung empat kursi roda sekaligus.

Tiba di Zeremoniensaal suasana gothik segera terasa. Pilar-pilar korintian dari marmer berjajar rapi di tepian ruangan seluas 575 meter persegi itu. Seluruh pilar berjumlah 24 buah, menjulang ke atas dan disambut atap berornamen floral. Lampu-lampu kandelar segera mendominasi pemandangan bagian atas dengan gebyar cahayanya. Dibutuhkan 26 set kandelar untuk menerangi seluruh ruangan, yang tiap setnya bertingkat dengan jumlah lampu sebanyak 54 buah. Sebelum bola lampu ditemukan di benua seberang, kandelar ini betul-betul untuk menempatkan lilin. Di samping kandelar-kandelar itu, sumber cahaya juga didapatkan dari jendela-jendela kaca yang memasukkan sinar matahari dengan mudah karena ukuran besarnya. Tapi saat itu, semua jendela ditutup dan dilapisi panel untuk men-display lukisan. Ini waktunya pameran.

Meski demikian luas, Zeremoniensaal masih belum cukup untuk memajang karya-karya lukis seniman AMFPA yang berjumlah lebih dari 200 karya. Dibutuhkan satu lagi ruangan yang tepat bersebelahan dan dihubungkan dengan dua pintu besar. Ruangan ini jauh lebih kecil daripada Zeremoniensaal, seluas hanya 150 meter persegi. Satu kandelar saja sudah menerangi ruang bernama Marmorsaal ini. Di sinilah saya menemukan karya saya sedang berunjuk diri bersama lukisan lain dengan tema yang sama.

Satu Sudut Schottenring

Di ufuk barat matahari terbenamnya landai ke utara, memberikan pengalaman panjang bagi senja untuk dinikmati. Tapi cahaya kuningnya tak banyak terhambur di langit, tak menghantarkan sentimentalisme milik orang-orang tropis. Dingin saja. Pucat. Dan pelan.

Sementara itu, kuning yang lain sedang dilahirkan. Tepian daun-daun norway maple sudah tak hijau lagi. Mereka bersiap menyambut musim gugur. Kelak, tak terlalu jauh di waktu depan, jalanan ini akan menyala oleh runtuhan daun yang tak lagi sanggup memasak makanan itu. Lalu, ranting-ranting telanjang bakal menceruat ke angkasa. Saya hanya sanggup membayangkan gambarannya, tapi tak ada kesempatan menyaksikannya langsung.

Warna mencolok memang patut dirindukan di ruas jalan ini, karena bangunan-bangunan yang mengapit dibalut dengan warna pastel yang lembut. Kecuali gedung bursa efek di seberang utara itu, dengan jingganya yang menarik perhatian. Satu lagi warna yang mencolok, adalah merah kereta trem yang melintas rutin setiap lima menit sekali. Alat transportasi masal itu nyaris tak pernah terlambat, kecuali saat sebuah bus terpaksa nangkring pada lintasan rel karena mengantri parkir bus yang lain, yang sedang menurunkan penumpang-penumpang berkursi roda–termasuk saya–untuk kembali beristirahat di Hilton Vienna Plaza. Trem itu tampak rela mengalah. Entah penumpang di dalamnya.

Pada satu persimpangan, tampak beberapa pejalan kaki terdiam dari langkah-langkahnya. Mereka menghadap tegak lurus dengan arah lalu-lintas, jelas mereka hendak menyeberang. Ruas jalan itu sendiri lengang, tak banyak mobil melintas, lebarnya hanya sekira tujuh atau delapan meter saja. Mestinya mereka sudah bisa segera memindahkan badan. Tapi ada yang mencegah mereka melakukan itu. Rambu penyeberangan menyala merah. Dan orang-orang itu–juga setiap warga–patuh pada ketertiban. Saya merasa iri melihatnya.

Sebuah bus kota melintas di lajur lambat jalan Schottenring, dan berbelok ke jalan Hohenstaufengasse. Jam sibuk sudah berlalu. Tikungan itu sepi. Tapi sopir bus itu tetap mengerem kendaraannya tepat sebelum berbelok. Ia tidak mengambil untung dari situasi sepi dengan kebut-kebutan. Sekali lagi, saya merasa iri dengan kepatuhan orang-orang di sini, hal mana masih langka di tanah air saya sendiri.

***

Wina adalah kota yang sudah jadi. Seumpama papan catur, jumlah kotaknya sudah memadai untuk permainan, tak perlu ditambah lagi. Tinggal bidak-bidaknya bergerak saja di atas papan itu sesuai aturan. Meminjam istilah pemikir besar, Wina telah mencapai akhir dari sejarah. Namun sebelum akhir itu, yang sudah tercatat sangatlah panjang. Gedung-gedung bernilai arsitektur tinggi itu adalah bukti dari perkembangannya selama berabad-abad.

Ia dulu adalah tempat para raja memimpin sebuah negeri dengan banyak perseteruan dengan negara-negara tetangga, sebagaimana kultur di seluruh benua saat itu. Hingga akhirnya terjadi perubahan struktur politik di dalamnya. Rakyat menuntut kuasa, dan jadilah negeri ini republik untuk pertama kalinya pada 1918. Republik ini harus menjalani ujian beberapa kali, yaitu dengan bercokolnya kuasa fasisme dan pendudukan Nazi yang memancing perang dunia itu. Kemapanan mulai terwujud setelah republik didirikan kembali untuk kedua kalinya pada 1945.

Kini kemapanan benar-benar terasa, yang justru menghilangkan banyak kisah-kisah hidup dramatis. Adrenalin tidak banyak tersembur oleh masalah sehari-hari, dan sebagai gantinya adalah wahana tower swing di area wisata Schweizerhaus yang tetap ramai dikunjungi pada hari-hari biasa. Dalam kemapanan, laku hidup seolah mekanistik belaka, dan terprediksi. Seorang diplomat berkata pada saya, bahwa apa yang bakal terjadi di Wina sepuluh tahun ke depan pun bisa diramalkan. Namun bagi saya pribadi yang tidak terlalu menginginkan drama di jalan kehidupan, kota seperti ini mestinya lebih cocok untuk ditinggali.

Kembali ke tanah air, saya tergagap-gagap dengan kekacauannya. Tapi ini adalah satu-satunya pilihan yang saya punyai.

Pasar

Di mana pun produsen dapat mempertemukan barang produksinya dengan konsumen, itulah pasar. Tindakan utama yang menandai berupa transaksi. Barang berpindah melewati batas ruang. Ruang ini dibangun tidak hanya dengan sekat-sekat kasat mata, tapi juga yang tak kasat mata. Setiap pasar dibangun dengan konstruksi kongkrit dan konstruksi abstrak.

Konstruksi pasar berkembang secara evolusif, hingga seolah menciptakan kelasnya sendiri: yang tradisional dan modern. Pasar modern, misalnya, memiliki konstruksi abstrak yang lebih rumit; ada aturan tak tertulis dan sistem-sistem yang canggih, di samping konstruksi kongkritnya berupa bangunan yang dilengkapi teknologi terkomputerisasi. Sedang pasar tradisional lebih banyak bergantung pada konstruksi kongkrit, ruang di mana penjual dan pembeli bisa langsung melakukan tawar-menawar, dan sekaligus transaksi secara kontan. (Dalam pasar modern, pembeli sering tidak tahu siapa penjual dari produk yang dibelinya, dan bahkan tidak menyentuh uang sama sekali.)

Masing-masing juga memiliki nilai plus-minusnya. Pasar tradisional lebih memiliki romantisme ketimbang pasar modern yang efisien; yang romantisme itu harus dibayar dengan keletihan fisik saat menghadirinya. Sedang efisiensi pasar modern tidak mengajak pelakunya untuk saling berinteraksi secara personal. Pasar modern itu dingin dan individualistik.

Sejauh apa pun perbedaan kelas pasar ini, hanya konstruksinya saja yang menjadi faktor. Namun esensinya tetap sama: pertukaran.

Lukisan sebagai barang produksi dari pelukisnya juga diharapkan bertemu dengan konsumen, yaitu penikmat seni atau kolektor. Tak terhindar, pasar pun tercipta sekaligus bersama dengan kelasnya itu. Muncullah kemudian dikotomi pasar seni versus pameran.

Pasar seni sering dianggap sekelas dengan pasar tradisional di mana para seniman menjajakan langsung karyanya pada lapak-lapak yang disewakan. Sementara pameran telah memiliki konstruksi yang lebih mutakhir. Ada kurator di sana, yang membantu membahasakan ulang karya seniman kepada para pengunjung. Suasana yang tercipta antara keduanya juga berbeda: pasar seni tampak lebih riuh, sedang pameran terkesan eksklusif dengan kelengangannya. Namun sekali lagi, esensi keduanya tetap sama, yaitu pertukaran.

Berpegang pada esensi ini, saya tidak memandang perlu adanya dikotomi pasar versus pameran. Keduanya adalah ikhtiar seniman untuk menghidupi seni dan dirinya; upaya agar karya seni tuntas pada tujuan penciptaannya, yaitu dilihat dan dinikmati orang. Di saat yang sama, seniman dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya berkat transaksi yang terjadi, sehingga ia kemudian dapat berkarya lagi.

Sikap ini saya nyatakan dengan mengusung karya-karya saya–yang pada awal Februari lalu saya pamerkan dalam Pameran Tunggal Natura Esoterika–ke Pasar Seni Lukis Indonesia Surabaya. Dari pameran tunggal menuju pasar seni, bagi saya tidak ada bedanya. Saya ingin orang melihat karya saya, dan itu tidak akan terjadi jika saya membiarkan lukisan-lukisan itu tergantung saja di dinding kamar.

Pameran Tunggal

Cahaya dari lampu sorot pada atap tinggi itu sudah mendominasi ruang pameran, tak lagi dicampuri oleh sinar matahari yang lama terbenam. Masih ada tiga pengunjung yang mencermati lukisan sambil membaca puisi yang menyertai. Mereka adalah mahasiswi UGM yang mendengar kabar dari kawannya, bahwa ada pameran di Jogja Gallery. Saya tidak tahu apa embel-embel informasi yang mereka dengar, hingga membuat mereka begitu tertarik untuk datang. Mungkin karena pelukisnya tidak menggunakan tangan untuk berkarya.

Saya duduk di anak tangga yang ditempeli tanda larangan duduk, pada sisi barat ruang pameran. Dari sudut yang tinggi itu saya mendapatkan pemandangan yang luas dari pagelaran ini; pameran tunggal yang sudah lama jadi impian, pameran tunggal pelukis tanpa tangan pertama di Indonesia. Tapi waktu itu adalah menit-menit terakhir di hari kesepuluh. Saya belum rela untuk meninggalkannya. Batas akhir waktu yang disadari selalu menyodorkan perasaan berat.

Sepuluh hari serasa belum cukup. Seperti baru kemarin saja peristiwa ketika saya menyambut tamu-tamu yang datang di malam pembukaan itu. Saat itu senja telah lewat, pintu ruang pameran ditutup rapat, tenda di halaman galeri yang diterangi lampu sudah dipenuhi tamu. Buku katalog berpindah ke tangan-tangan pengunjung. Sebelum pejabat yang diundang untuk meresmikan hadir di tempat, semua tamu yang datang gasik adalah para penanti. Penantian saya dimulai dengan obrolan bersama Direktur Jogja Gallery, menyoal kehidupan yang menjadi tema utama dari pameran tunggal ini. Kemudian wartawan bergiliran mengisi waktu dengan wawancara, yang sesekali tersela oleh sapaan saya untuk menyambut tamu penting lainnya. Gurau dan canda bersama gadis-gadis among tamu yang berdandan cantik tak berbuah apa-apa, selain untuk menikmati momen yang datang sekali saja itu.

Tamu agung itu akhirnya tiba, dihantar dengan mobil Toyota Alphard. Ia mengenakan gaun kuning, melambangkan warna keemasan sesuai namanya; Hemas. Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Acara pun segera dimulai dengan sambutan-sambutan. Gusti Ratu dalam sambutannya–di antaranya–mengatakan, “… Pada malam hari ini kita bersama-sama merasa bangga karena Yogyakarta dipilih oleh mas Sabar Subadri yang akan melakukan pameran tunggalnya. Dan itu tentunya tidak mudah: mencapai pada tingkatan dihargai orang banyak. Itu tentu–saya rasa–perambatnya sangat panjang. Karena dari semua proses yang dilalui tentunya membuat kita merasa bersyukur. Khususnya bagi para penyandang cacat, sebenarnya bukan suatu halangan untuk berprestasi. Masyarakat Jogja sebenarnya sudah begitu terkenal untuk seni lukisnya, tapi ini adalah pameran lukisan–atau pameran seni lukis–yang sangat luar biasa.”

Usai rangkaian sambutan tersebut, pameran diresmikan dengan pemukulan gong oleh GKR Hemas. Pintu ruang pameran dibuka untuk dilewati pengunjung dan penikmat seni–tentu di belakang langkah Ibu Ratu. Tugas saya adalah menyertai permaisuri Sultan tersebut sembari memberi keterangan atas karya-karya yang menjadi perhatiannya. Ada kesempatan juga untuk secara simbolis menghaturkan satu karya kepada beliau.

Keagungan seorang Ratu tidak menghalangi GKR Hemas untuk bersedia duduk di lantai bersama para pelukis tanpa tangan, untuk turut memberikan goresan cat pada kanvas. Dan saat saya memperagakan cara mengaduk cat dan memindahkannya ke kanvas dengan kaki, beliau mengamati dengan ketakjuban; menunggui hingga cukup lama, sambil berbincang dengan setiap pelukis tanpa tangan yang turut hadir; yaitu Benjamin Tan (pelukis mulut), Agus Yusuf (pelukis kaki dan mulut), Salim Harama (pelukis kaki), dan Faisal Rusdi (pelukis mulut).

Saya berkali-kali harus meyakinkan diri bahwa ini adalah wujud nyata dari impian lama saya untuk menjadi pionir dalam pameran tunggal pelukis tanpa tangan di Indonesia; bahwa ada delapan pelukis mulut atau kaki lainnya di Indonesia–yang tergabung dalam AMFPA–yang belum sempat berpameran tunggal. Mestinya saya menikmati momen ini. Namun alih-alih larut dalam rasa bangga itu, saya masih menyisakan pikiran untuk memelihara yang terlewat. Proses persiapannya pun layak dikenang.

***

Persiapan pameran dengan mengumpulkan karya adalah kenikmatan. Seniman tidak akan menghindar dari pekerjaan seni. Melukis dan menulis puisi di malam-malam sunyi, dan bahkan menulis essai sepanjang dua puluh halaman tentang tema pameran, saya lakukan dalam keriangan. Nama Natura Esoterika, jauh sebelum pameran ini, telah saya gunakan untuk menamai studio lukis saya di Salatiga. Dengan Natura Esoterika saya bermaksud mengajak orang untuk mengapresiasi karya Sang Kehidupan, berupa alam, yang sering terabaikan. Saya ingin agar orang belajar dari gerumbul lumut, dari daun kering, atau sisa kepompong kosong, agar tidak terjebak pada pacuan hidup mengejar materi belaka. Dengan Natura Esoterika, saya melukis objek-objek alam sebagai tanda bahasa untuk menyampaikan maksud. Maksud yang masih tersamar itu lalu saya ungkap lewat puisi yang bakal menyertai setiap lukisan di ruang pameran. Dan praktek penandaan itu saya jelaskan dengan meminjam teori semiotika oleh Ferdinand deSaussure.

Rangkaian proses persiapan itu kian menggairahkan ketika saya berkenalan dengan praktisi sekaligus cendekiawan seni dari Institut Seni Indonesia, yaitu Dr. Hening Swasono, yang kemudian mempertemukan saya kepada Prof. Dr. M. Dwi Marianto MFA Ph.D. Kunjungan saya ke rumah mereka masing-masing di Jogja dibalas dengan kunjungan ke rumah saya di Salatiga, hingga sebanyak dua kali. Pertama untuk wawancara pengumpulan data sebagai bahan tulisan kuratorial. Yang kedua adalah pembuatan video untuk diputar sepanjang pameran berlangsung.

Bertemu dengan cendekiawan kala itu, mensyarati saya dengan dua hal: kebodohan harus ditinggalkan, dan ego harus ditanggalkan. Tiba di rumah Prof. Dwi, saya langsung disambut dengan jamuan makalah teori yang ditulis oleh V. S. Ramachandran dan W. Hirstein, dalam bahasa Inggis, setebal dua puluh satu halaman. Makalah berjudul The Science of Art, A Neurological Theory of Aesthetic Experience itu membahas delapan cara yang dapat dilakukan seniman untuk mempengaruhi rasa para penikmat seni. Salah satunya kemudian saya terapkan ke dalam karya yang masih akan saya buat untuk pameran tunggal itu, yaitu cara yang disebut peak shift effect.

Kesediaan saya untuk masih menerima masukan dari Prof. Dwi mengantar saya pada penciptaan karya yang ternyata berhasil menyita perhatian banyak pengunjung pameran, terutama dari GKR Hemas sendiri. Lukisan berjudul Pohon Kehidupan saya buat dengan mengabaikan sisi tak perlu sambil melebihkan bagian utama, atau yang menurut Ramachandran disebutkan sebagai discarding redundant information. Secara praktis, persiapan pameran itu sendiri adalah kuliah seni buat saya.

Dalam tulisan kuratorialnya, Prof. Dwi memberikan perhatian tidak hanya pada karya-karya yang saya buat, namun juga pada kehidupan pribadi saya. Ia menyoroti perjalanan karir seni saya dari awal, yaitu masa kanak-kanak yang suka mencorat-coret lantai dengan kapur, direkrut oleh AMFPA pada usia 10 tahun, belajar pada pelukis Amir Rachmad, dipengaruhi gaya lukis Rustamadji, hingga menggelar pameran tunggal ini. Prof. Dwi, melihat masa lalu saya didukung oleh banyak pihak, menyarankan agar saya balik mengangkat mereka lewat pameran ini. Salah satunya adalah dengan turut menampilkan karya alm. Amir Rachmad di ruang pameran. Saran Prof. Dwi ini sejalan dengan tujuan saya untuk berpameran tunggal, yaitu sebagai kontribusi balik terhadap dunia seni setelah lama memperoleh penghidupan dari dunia seni.

***

Saya menuruni anak tangga itu, sekaligus berpamitan pada pengunjung terakhir. Di luar, malam sudah meninggi sembunyikan sinar matahari. Rindu sang kegelapan sebenarnya tak pernah terpuaskan oleh kerlap-kerlip lampu jalanan. Dan esok siang ketika matahari tak lagi terhalangi, adalah sia-sia untuk menyalakan lagi lampu-lampu itu. Saya mungkin seperti sedang melakukan hal yang sia-sia tak berguna; menyalakan lilin di hadapan wajah matahari; menampilkan karya lukis di Yogyakarta yang sudah laksana pusat tata surya dari seni dan budaya. Namun tidak semua tindakan harus dibingkai dengan paradigma “untuk apa” atau “mendapatkan apa”. Saya melempar sebongkah garam ke lautan bukan karena mau mengasinkannya, tapi karena memang harus melempar.

Pohon banyan dulunya sebutir biji kesepian. Melanjutkan ada dirinya seperti tak bertujuan. Tapi kesediaan berkembang mengantarnya menjadi Pohon Kehidupan, penampung satwa dan flora yang butuh wahana tumbuh. Pohon banyan saya lukiskan, dan telah sepuluh hari tergantung di dinding Jogja Gallery. Ia masih punya kesempatan hingga esok hari sebelum diturunkan. Tapi saya sudah harus meninggalkan tempat yang bagi saya bersejarah itu. Sepuluh hari seperti belum sepadan dengan panjangnya persiapan. Tapi penutupan pameran memang bukanlah akhir dari kisah ini. Sebutir proyektil baru saja menumbuk papan domino.

Vakasi


Seperti famili jauh, laut akan terus dikunjungi oleh orang-orang gunung seperti saya; sebagaimana sungai juga akan tetap mengalirkan airnya ke sana. Cuacanya sudah pasti sangat berbeda; tetapi ibarat sebuah keluarga, kadang memang ada saudara yang berperangai tak sama, toh tak menghalangi juga untuk dijumpa. Panas dari cahaya terik itu terasa sekali pada timbunan pasir yang tebal dan luas. Kaki yang berani bertelanjang saat menapakinya akan digoreng hingga melepuh. Udara yang hangat terasa berat untuk dihirup karena partikel lembut garam ikut terbang bersamanya. Julurkan lidahmu barang semenit, kau akan merasakan asin saat lidah itu kembali ke rongga mulut.

Parangkusumo punya banyak cerita. Satu hari saja berada di pantai sebelah barat dari pantai Parangtritis ini mungkin sudah bisa menulis sebuah kumpulan cerpen berdasar apa yang terjadi di sana. Minggu yang masih gasik itu ratusan orang tampak berkerumun pada satu sisi dari pantai yang panjang itu; sebuah keluarga besar dari keraton Surakarta sedang melarung sedekah laut. Ratusan pengunjung lain bertebaran di banyak tempat, membuat ruang imajinernya masing-masing untuk dijadikan tempat bersenang-senang; membangun istana pasir yang sebentar hancur, atau mencumbui ombak laut hingga batas kecemasan, diiringi teriakan orang-orang tua yang mengingatkan cucu-cucunya agar tidak terlalu jauh mencebur ke dalam air.

Sebagaimana terjadi pada setiap keramaian, pasar akan terlahir di sana; tempat uang diharapkan berpindah tangan. Tenda-tenda yang menawarkan keteduhan tumbuh tak rapi di jajaran yang masih jauh dari jangkauan ombak. Keteduhannya memang tak seberapa, tetapi es degan yang disajikan dengan harga sewajarnya itu tentu punya efek lebih besar. Pasar seperti ini tumbuh dengan kehendaknya sendiri. Maka upaya pemerintah setempat untuk melokalisir mereka pada satu kumpulan lapak permanen yang mewah pun tak bersambut. Pasar bikinan pemerintah itu sepi penghuni. Seorang ibu pemilik warung tenda menegaskan bahwa ia ingin lebih dekat pada pengunjung, bukan menunggu dihampiri dari jarak yang jauh meski di bawah peneduh yang nyaman. Memang tak banyak uang bisa ia kumpulkan tiap harinya, tapi interaksi yang konstan adalah rejeki tersendiri. Terbukti dari bagaimana ia tidak memaksakan dagangannya untuk dibeli sambil merajuk, tapi ia justru memberi tahu sudut lain dari pantai yang panjang itu, yang menyediakan jajanan lebih lengkap. Ia menyebutkan pantai Depok.

Sekitar empat kilometer ke arah barat, sebelum tiba di muara kali Opak yang besar, adalah pantai Depok itu. Jalan menuju ke sana tak ubahnya panggung tempat drama alam dipentaskan, dengan kisah kemenangan heroik sang kesuburan melawan kegersangan. Timbunan pasir luas yang dulu nyaris menyerupai gurun itu kini berupah rupa menjadi hijau segar. Tumbuhan semak, yang entah apa istilah ilmiah dan sebutan lokalnya, tumbuh liar tak terbendung; menyerupai liarnya enceng gondok yang membalut permukaan kali Tuntang. Semak pasir ini menyimpan getah yang encer di dalam batangnya, yang akan segera mengalir deras ketika dipatah. Wataknya seperti kaktus yang berjuang keras melawan kebinasaan dengan menimbun bekal pertahanan hidup: air. Kesuburan juga diwakili dengan tumbuhnya pandan berduri yang berumpun-rumpun, serta pohon-pohon lontar yang menjulang tinggi dengan buah siwalan yang menyegarkan.

Pantai Depok adalah tempat dimana nelayan berani melabuhkan perahu. Entah apa yang membedakannya dari Parangkusumo dan Parangtritis. Mungkin unsur magisnya. Di sini pasar ikan dibangun, pengunjung bisa memilih hasil tangkapan nelayan yang masih segar itu, atau memilih untuk menyantapnya seketika di warung sana. Pada sebuah warung makan yang berjajaran dengan warung makan lain, saya berhasrat untuk mencicipi ikan barakuda dengan bumbu asam pedas, yang ternyata memang lezat. Minggu siang pengunjung membludak. Pelayanannya menjadi lambat. Penantian kami begitu lama hanya untuk makan siang semata. Tetapi gerutu dan sungut-sungut bakal merusak semua kesenangan yang dicari sejak dari rumah. Dan ada kalanya menunggu justru memberi kita kesempatan untuk merasa lebih menyatu dengan momen itu. Tanpa menunggu itu, perjalanan ratusan kilometer akan terasa hanya untuk yang sekedip mata saja.