Kegiatan

Pasar

Di mana pun produsen dapat mempertemukan barang produksinya dengan konsumen, itulah pasar. Tindakan utama yang menandai berupa transaksi. Barang berpindah melewati batas ruang. Ruang ini dibangun tidak hanya dengan sekat-sekat kasat mata, tapi juga yang tak kasat mata. Setiap pasar dibangun dengan konstruksi kongkrit dan konstruksi abstrak.

Konstruksi pasar berkembang secara evolusif, hingga seolah menciptakan kelasnya sendiri: yang tradisional dan modern. Pasar modern, misalnya, memiliki konstruksi abstrak yang lebih rumit; ada aturan tak tertulis dan sistem-sistem yang canggih, di samping konstruksi kongkritnya berupa bangunan yang dilengkapi teknologi terkomputerisasi. Sedang pasar tradisional lebih banyak bergantung pada konstruksi kongkrit, ruang di mana penjual dan pembeli bisa langsung melakukan tawar-menawar, dan sekaligus transaksi secara kontan. (Dalam pasar modern, pembeli sering tidak tahu siapa penjual dari produk yang dibelinya, dan bahkan tidak menyentuh uang sama sekali.)

Masing-masing juga memiliki nilai plus-minusnya. Pasar tradisional lebih memiliki romantisme ketimbang pasar modern yang efisien; yang romantisme itu harus dibayar dengan keletihan fisik saat menghadirinya. Sedang efisiensi pasar modern tidak mengajak pelakunya untuk saling berinteraksi secara personal. Pasar modern itu dingin dan individualistik.

Sejauh apa pun perbedaan kelas pasar ini, hanya konstruksinya saja yang menjadi faktor. Namun esensinya tetap sama: pertukaran.

Lukisan sebagai barang produksi dari pelukisnya juga diharapkan bertemu dengan konsumen, yaitu penikmat seni atau kolektor. Tak terhindar, pasar pun tercipta sekaligus bersama dengan kelasnya itu. Muncullah kemudian dikotomi pasar seni versus pameran.

Pasar seni sering dianggap sekelas dengan pasar tradisional di mana para seniman menjajakan langsung karyanya pada lapak-lapak yang disewakan. Sementara pameran telah memiliki konstruksi yang lebih mutakhir. Ada kurator di sana, yang membantu membahasakan ulang karya seniman kepada para pengunjung. Suasana yang tercipta antara keduanya juga berbeda: pasar seni tampak lebih riuh, sedang pameran terkesan eksklusif dengan kelengangannya. Namun sekali lagi, esensi keduanya tetap sama, yaitu pertukaran.

Berpegang pada esensi ini, saya tidak memandang perlu adanya dikotomi pasar versus pameran. Keduanya adalah ikhtiar seniman untuk menghidupi seni dan dirinya; upaya agar karya seni tuntas pada tujuan penciptaannya, yaitu dilihat dan dinikmati orang. Di saat yang sama, seniman dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya berkat transaksi yang terjadi, sehingga ia kemudian dapat berkarya lagi.

Sikap ini saya nyatakan dengan mengusung karya-karya saya–yang pada awal Februari lalu saya pamerkan dalam Pameran Tunggal Natura Esoterika–ke Pasar Seni Lukis Indonesia Surabaya. Dari pameran tunggal menuju pasar seni, bagi saya tidak ada bedanya. Saya ingin orang melihat karya saya, dan itu tidak akan terjadi jika saya membiarkan lukisan-lukisan itu tergantung saja di dinding kamar.

Pameran Tunggal

Cahaya dari lampu sorot pada atap tinggi itu sudah mendominasi ruang pameran, tak lagi dicampuri oleh sinar matahari yang lama terbenam. Masih ada tiga pengunjung yang mencermati lukisan sambil membaca puisi yang menyertai. Mereka adalah mahasiswi UGM yang mendengar kabar dari kawannya, bahwa ada pameran di Jogja Gallery. Saya tidak tahu apa embel-embel informasi yang mereka dengar, hingga membuat mereka begitu tertarik untuk datang. Mungkin karena pelukisnya tidak menggunakan tangan untuk berkarya.

Saya duduk di anak tangga yang ditempeli tanda larangan duduk, pada sisi barat ruang pameran. Dari sudut yang tinggi itu saya mendapatkan pemandangan yang luas dari pagelaran ini; pameran tunggal yang sudah lama jadi impian, pameran tunggal pelukis tanpa tangan pertama di Indonesia. Tapi waktu itu adalah menit-menit terakhir di hari kesepuluh. Saya belum rela untuk meninggalkannya. Batas akhir waktu yang disadari selalu menyodorkan perasaan berat.

Sepuluh hari serasa belum cukup. Seperti baru kemarin saja peristiwa ketika saya menyambut tamu-tamu yang datang di malam pembukaan itu. Saat itu senja telah lewat, pintu ruang pameran ditutup rapat, tenda di halaman galeri yang diterangi lampu sudah dipenuhi tamu. Buku katalog berpindah ke tangan-tangan pengunjung. Sebelum pejabat yang diundang untuk meresmikan hadir di tempat, semua tamu yang datang gasik adalah para penanti. Penantian saya dimulai dengan obrolan bersama Direktur Jogja Gallery, menyoal kehidupan yang menjadi tema utama dari pameran tunggal ini. Kemudian wartawan bergiliran mengisi waktu dengan wawancara, yang sesekali tersela oleh sapaan saya untuk menyambut tamu penting lainnya. Gurau dan canda bersama gadis-gadis among tamu yang berdandan cantik tak berbuah apa-apa, selain untuk menikmati momen yang datang sekali saja itu.

Tamu agung itu akhirnya tiba, dihantar dengan mobil Toyota Alphard. Ia mengenakan gaun kuning, melambangkan warna keemasan sesuai namanya; Hemas. Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Acara pun segera dimulai dengan sambutan-sambutan. Gusti Ratu dalam sambutannya–di antaranya–mengatakan, “… Pada malam hari ini kita bersama-sama merasa bangga karena Yogyakarta dipilih oleh mas Sabar Subadri yang akan melakukan pameran tunggalnya. Dan itu tentunya tidak mudah: mencapai pada tingkatan dihargai orang banyak. Itu tentu–saya rasa–perambatnya sangat panjang. Karena dari semua proses yang dilalui tentunya membuat kita merasa bersyukur. Khususnya bagi para penyandang cacat, sebenarnya bukan suatu halangan untuk berprestasi. Masyarakat Jogja sebenarnya sudah begitu terkenal untuk seni lukisnya, tapi ini adalah pameran lukisan–atau pameran seni lukis–yang sangat luar biasa.”

Usai rangkaian sambutan tersebut, pameran diresmikan dengan pemukulan gong oleh GKR Hemas. Pintu ruang pameran dibuka untuk dilewati pengunjung dan penikmat seni–tentu di belakang langkah Ibu Ratu. Tugas saya adalah menyertai permaisuri Sultan tersebut sembari memberi keterangan atas karya-karya yang menjadi perhatiannya. Ada kesempatan juga untuk secara simbolis menghaturkan satu karya kepada beliau.

Keagungan seorang Ratu tidak menghalangi GKR Hemas untuk bersedia duduk di lantai bersama para pelukis tanpa tangan, untuk turut memberikan goresan cat pada kanvas. Dan saat saya memperagakan cara mengaduk cat dan memindahkannya ke kanvas dengan kaki, beliau mengamati dengan ketakjuban; menunggui hingga cukup lama, sambil berbincang dengan setiap pelukis tanpa tangan yang turut hadir; yaitu Benjamin Tan (pelukis mulut), Agus Yusuf (pelukis kaki dan mulut), Salim Harama (pelukis kaki), dan Faisal Rusdi (pelukis mulut).

Saya berkali-kali harus meyakinkan diri bahwa ini adalah wujud nyata dari impian lama saya untuk menjadi pionir dalam pameran tunggal pelukis tanpa tangan di Indonesia; bahwa ada delapan pelukis mulut atau kaki lainnya di Indonesia–yang tergabung dalam AMFPA–yang belum sempat berpameran tunggal. Mestinya saya menikmati momen ini. Namun alih-alih larut dalam rasa bangga itu, saya masih menyisakan pikiran untuk memelihara yang terlewat. Proses persiapannya pun layak dikenang.

***

Persiapan pameran dengan mengumpulkan karya adalah kenikmatan. Seniman tidak akan menghindar dari pekerjaan seni. Melukis dan menulis puisi di malam-malam sunyi, dan bahkan menulis essai sepanjang dua puluh halaman tentang tema pameran, saya lakukan dalam keriangan. Nama Natura Esoterika, jauh sebelum pameran ini, telah saya gunakan untuk menamai studio lukis saya di Salatiga. Dengan Natura Esoterika saya bermaksud mengajak orang untuk mengapresiasi karya Sang Kehidupan, berupa alam, yang sering terabaikan. Saya ingin agar orang belajar dari gerumbul lumut, dari daun kering, atau sisa kepompong kosong, agar tidak terjebak pada pacuan hidup mengejar materi belaka. Dengan Natura Esoterika, saya melukis objek-objek alam sebagai tanda bahasa untuk menyampaikan maksud. Maksud yang masih tersamar itu lalu saya ungkap lewat puisi yang bakal menyertai setiap lukisan di ruang pameran. Dan praktek penandaan itu saya jelaskan dengan meminjam teori semiotika oleh Ferdinand deSaussure.

Rangkaian proses persiapan itu kian menggairahkan ketika saya berkenalan dengan praktisi sekaligus cendekiawan seni dari Institut Seni Indonesia, yaitu Dr. Hening Swasono, yang kemudian mempertemukan saya kepada Prof. Dr. M. Dwi Marianto MFA Ph.D. Kunjungan saya ke rumah mereka masing-masing di Jogja dibalas dengan kunjungan ke rumah saya di Salatiga, hingga sebanyak dua kali. Pertama untuk wawancara pengumpulan data sebagai bahan tulisan kuratorial. Yang kedua adalah pembuatan video untuk diputar sepanjang pameran berlangsung.

Bertemu dengan cendekiawan kala itu, mensyarati saya dengan dua hal: kebodohan harus ditinggalkan, dan ego harus ditanggalkan. Tiba di rumah Prof. Dwi, saya langsung disambut dengan jamuan makalah teori yang ditulis oleh V. S. Ramachandran dan W. Hirstein, dalam bahasa Inggis, setebal dua puluh satu halaman. Makalah berjudul The Science of Art, A Neurological Theory of Aesthetic Experience itu membahas delapan cara yang dapat dilakukan seniman untuk mempengaruhi rasa para penikmat seni. Salah satunya kemudian saya terapkan ke dalam karya yang masih akan saya buat untuk pameran tunggal itu, yaitu cara yang disebut peak shift effect.

Kesediaan saya untuk masih menerima masukan dari Prof. Dwi mengantar saya pada penciptaan karya yang ternyata berhasil menyita perhatian banyak pengunjung pameran, terutama dari GKR Hemas sendiri. Lukisan berjudul Pohon Kehidupan saya buat dengan mengabaikan sisi tak perlu sambil melebihkan bagian utama, atau yang menurut Ramachandran disebutkan sebagai discarding redundant information. Secara praktis, persiapan pameran itu sendiri adalah kuliah seni buat saya.

Dalam tulisan kuratorialnya, Prof. Dwi memberikan perhatian tidak hanya pada karya-karya yang saya buat, namun juga pada kehidupan pribadi saya. Ia menyoroti perjalanan karir seni saya dari awal, yaitu masa kanak-kanak yang suka mencorat-coret lantai dengan kapur, direkrut oleh AMFPA pada usia 10 tahun, belajar pada pelukis Amir Rachmad, dipengaruhi gaya lukis Rustamadji, hingga menggelar pameran tunggal ini. Prof. Dwi, melihat masa lalu saya didukung oleh banyak pihak, menyarankan agar saya balik mengangkat mereka lewat pameran ini. Salah satunya adalah dengan turut menampilkan karya alm. Amir Rachmad di ruang pameran. Saran Prof. Dwi ini sejalan dengan tujuan saya untuk berpameran tunggal, yaitu sebagai kontribusi balik terhadap dunia seni setelah lama memperoleh penghidupan dari dunia seni.

***

Saya menuruni anak tangga itu, sekaligus berpamitan pada pengunjung terakhir. Di luar, malam sudah meninggi sembunyikan sinar matahari. Rindu sang kegelapan sebenarnya tak pernah terpuaskan oleh kerlap-kerlip lampu jalanan. Dan esok siang ketika matahari tak lagi terhalangi, adalah sia-sia untuk menyalakan lagi lampu-lampu itu. Saya mungkin seperti sedang melakukan hal yang sia-sia tak berguna; menyalakan lilin di hadapan wajah matahari; menampilkan karya lukis di Yogyakarta yang sudah laksana pusat tata surya dari seni dan budaya. Namun tidak semua tindakan harus dibingkai dengan paradigma “untuk apa” atau “mendapatkan apa”. Saya melempar sebongkah garam ke lautan bukan karena mau mengasinkannya, tapi karena memang harus melempar.

Pohon banyan dulunya sebutir biji kesepian. Melanjutkan ada dirinya seperti tak bertujuan. Tapi kesediaan berkembang mengantarnya menjadi Pohon Kehidupan, penampung satwa dan flora yang butuh wahana tumbuh. Pohon banyan saya lukiskan, dan telah sepuluh hari tergantung di dinding Jogja Gallery. Ia masih punya kesempatan hingga esok hari sebelum diturunkan. Tapi saya sudah harus meninggalkan tempat yang bagi saya bersejarah itu. Sepuluh hari seperti belum sepadan dengan panjangnya persiapan. Tapi penutupan pameran memang bukanlah akhir dari kisah ini. Sebutir proyektil baru saja menumbuk papan domino.

Vakasi


Seperti famili jauh, laut akan terus dikunjungi oleh orang-orang gunung seperti saya; sebagaimana sungai juga akan tetap mengalirkan airnya ke sana. Cuacanya sudah pasti sangat berbeda; tetapi ibarat sebuah keluarga, kadang memang ada saudara yang berperangai tak sama, toh tak menghalangi juga untuk dijumpa. Panas dari cahaya terik itu terasa sekali pada timbunan pasir yang tebal dan luas. Kaki yang berani bertelanjang saat menapakinya akan digoreng hingga melepuh. Udara yang hangat terasa berat untuk dihirup karena partikel lembut garam ikut terbang bersamanya. Julurkan lidahmu barang semenit, kau akan merasakan asin saat lidah itu kembali ke rongga mulut.

Parangkusumo punya banyak cerita. Satu hari saja berada di pantai sebelah barat dari pantai Parangtritis ini mungkin sudah bisa menulis sebuah kumpulan cerpen berdasar apa yang terjadi di sana. Minggu yang masih gasik itu ratusan orang tampak berkerumun pada satu sisi dari pantai yang panjang itu; sebuah keluarga besar dari keraton Surakarta sedang melarung sedekah laut. Ratusan pengunjung lain bertebaran di banyak tempat, membuat ruang imajinernya masing-masing untuk dijadikan tempat bersenang-senang; membangun istana pasir yang sebentar hancur, atau mencumbui ombak laut hingga batas kecemasan, diiringi teriakan orang-orang tua yang mengingatkan cucu-cucunya agar tidak terlalu jauh mencebur ke dalam air.

Sebagaimana terjadi pada setiap keramaian, pasar akan terlahir di sana; tempat uang diharapkan berpindah tangan. Tenda-tenda yang menawarkan keteduhan tumbuh tak rapi di jajaran yang masih jauh dari jangkauan ombak. Keteduhannya memang tak seberapa, tetapi es degan yang disajikan dengan harga sewajarnya itu tentu punya efek lebih besar. Pasar seperti ini tumbuh dengan kehendaknya sendiri. Maka upaya pemerintah setempat untuk melokalisir mereka pada satu kumpulan lapak permanen yang mewah pun tak bersambut. Pasar bikinan pemerintah itu sepi penghuni. Seorang ibu pemilik warung tenda menegaskan bahwa ia ingin lebih dekat pada pengunjung, bukan menunggu dihampiri dari jarak yang jauh meski di bawah peneduh yang nyaman. Memang tak banyak uang bisa ia kumpulkan tiap harinya, tapi interaksi yang konstan adalah rejeki tersendiri. Terbukti dari bagaimana ia tidak memaksakan dagangannya untuk dibeli sambil merajuk, tapi ia justru memberi tahu sudut lain dari pantai yang panjang itu, yang menyediakan jajanan lebih lengkap. Ia menyebutkan pantai Depok.

Sekitar empat kilometer ke arah barat, sebelum tiba di muara kali Opak yang besar, adalah pantai Depok itu. Jalan menuju ke sana tak ubahnya panggung tempat drama alam dipentaskan, dengan kisah kemenangan heroik sang kesuburan melawan kegersangan. Timbunan pasir luas yang dulu nyaris menyerupai gurun itu kini berupah rupa menjadi hijau segar. Tumbuhan semak, yang entah apa istilah ilmiah dan sebutan lokalnya, tumbuh liar tak terbendung; menyerupai liarnya enceng gondok yang membalut permukaan kali Tuntang. Semak pasir ini menyimpan getah yang encer di dalam batangnya, yang akan segera mengalir deras ketika dipatah. Wataknya seperti kaktus yang berjuang keras melawan kebinasaan dengan menimbun bekal pertahanan hidup: air. Kesuburan juga diwakili dengan tumbuhnya pandan berduri yang berumpun-rumpun, serta pohon-pohon lontar yang menjulang tinggi dengan buah siwalan yang menyegarkan.

Pantai Depok adalah tempat dimana nelayan berani melabuhkan perahu. Entah apa yang membedakannya dari Parangkusumo dan Parangtritis. Mungkin unsur magisnya. Di sini pasar ikan dibangun, pengunjung bisa memilih hasil tangkapan nelayan yang masih segar itu, atau memilih untuk menyantapnya seketika di warung sana. Pada sebuah warung makan yang berjajaran dengan warung makan lain, saya berhasrat untuk mencicipi ikan barakuda dengan bumbu asam pedas, yang ternyata memang lezat. Minggu siang pengunjung membludak. Pelayanannya menjadi lambat. Penantian kami begitu lama hanya untuk makan siang semata. Tetapi gerutu dan sungut-sungut bakal merusak semua kesenangan yang dicari sejak dari rumah. Dan ada kalanya menunggu justru memberi kita kesempatan untuk merasa lebih menyatu dengan momen itu. Tanpa menunggu itu, perjalanan ratusan kilometer akan terasa hanya untuk yang sekedip mata saja.

Pelukis AMFPA di PSLI

Tahun ini adalah kali keempat Sanggar Merah Putih yang dipimpin pak Anis Mochamad memprakarsai kegiatan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Surabaya, tepatnya di gedung Balai Pemuda. Dan bagi saya, ini adalah kali kedua mendapat kesempatan untuk berpartisipasi di sana, setelah kesempatan pertama pada tahun sebelumnya.

Sejak dari kesempatan pertama itu, di tahun 2010, saya mendapati banyak hal begitu mengesankan. Ratusan pelukis berkumpul dalam satu area bersama ribuan karyanya, dan langsung berhadap-hadapan dengan para penikmat. Para penikmat itu mungkin hanya sekedar berwisata mental, menyerap keindahan rupa warna, atau menyukai suasana ‘pasar’ yang meriah. Tapi ternyata tidak sedikit pula yang benar-benar ingin mengoleksi benda-benda seni dua dimensi itu untuk dipajang di rumah, atau mungkin dijual lagi. Panitia PSLI melaporkan dalam situs resminya pasarsenilukis.com, bahwa volume transaksi lukisan di pasar tersebut meningkat dari tahun ke tahun; meski pada kesempatan partisipasi saya yang pertama itu tak ada lukisan saya yang terjual.

Partisipasi dalam PSLI 2010

“Belum ketemu jodoh,” kira-kira begitulah saya mengkonstruksi pikiran positif atas belum lakunya lukisan saya. Namun tujuan saya waktu itu memang bukan untuk menjual lukisan, melainkan hadir di tengah masyarakat seni sebagai sesama pelaku seni yang memiliki cara berbeda dalam berkarya namun dengan hasil yang setara. Public awareness, begitulah kira-kira istilahnya. Dan tujuan ini memang tercapai dengan sambutan antusias para jurnalis dari media televisi, cetak, maupun online, termasuk juga masyarakat pecinta seni yang datang berkunjung di stan untuk berkenalan dan berteman.

Dengan semangat yang lebih besar, saya kemudian mengajak rekan-rekan di Yayasan AMFPA untuk turut serta dalam kegiatan PSLI ini di tahun 2011. Setelah diskusi panjang sejak Februari, akhirnya pada waktu yang dijadwalkan saya bisa kembali hadir di tempat dan acara yang sama, dan kali ini bersama lima pelukis lain yang sama-sama berkarya dengan kaki atau mulut.

Pelukis AMFPA di PSLI 2011

Membuat drawing potret pengunjung

Panitia PSLI 2011 memberi kami kesempatan untuk menyewa dua stan di dalam gedung Balai Pemuda. Di sana kami berenam menggelar karya sebanyak kurang lebih 25, dan melakukan demo lukis yang praktis mengundang perhatian dari pengunjung serta jurnalis. Namun sayangnya kami hanya sanggup turut serta di sana selama tiga hari saja, karena faktor ketahanan fisik yang tentu tidak sama dengan peserta lainnya.

Terjual

Berbeda dari tahun sebelumnya, pada PSLI 2011 ini saya berkesempatan bertemu seorang pecinta seni yang berminat mengoleksi lukisan saya dengan apresiasi yang tinggi atas isi lukisan tersebut. Pak Roni Handoyo yang membeli lukisan menyatakan, “Saya langsung berhenti melihat lukisan ini, saya amat-amati dari jarak tiga meter, dan saya suka. Saya baru tahu kalau Mas Sabar ini pelukisnya setelah Mas Sabar muncul di stan.”

Detil peristiwa ini sangat penting bagi saya. Saat pak Roni pertama kali melihat lukisan yang berjudul Endless Flow itu, saya sedang meninggalkan stan untuk menikmati suasana pasar seni lukis yang luas. Artinya, saya tidak tampak ada bersama dengan lukisan saya. Dan saya baru kembali ke stan setelah ponsel saya dihubungi kawan yang menunggui di sana.

Perlu waktu agak lama untuk kembali ke stan nomor 80 itu dari posisi saya di depan gedung. Dalam rentang waktu itu pak Roni memiliki waktu cukup untuk membuat keputusan membeli. Seketika pak Roni melihat saya tiba di hadapannya, beliau segera tahu bahwa saya dan rekan-rekan lain adalah pelukis anggota AMFPA yang membuat kartu-kartu ucapan, dimana beliau secara rutin turut membelinya. Dengan demikian, apa yang diapresiasi oleh pak Roni sejak awal adalah murni objek lukisan saya itu, dan beliau membuat keputusan untuk membelinya karena apa yang ada di dalamnya, bukan karena merasa kasihan atau iba atas pelukisnya, lalu memutuskan untuk membeli.

Dan yang lebih membahagiakan bagi saya atas terjualnya lukisan itu adalah bahwa pak Roni selaku pembeli menangkap betul isi atau pesan yang saya sisipkan dari bentuk-bentuk visual dalam lukisan itu. Sehingga hasil jerih payah saya untuk mewujudkan satu karya tersebut tidak ada yang tercecer; seluruhnya dan seutuhnya, baik bentuk maupun isi, berpindah dari pelukis menuju kolektor.