Lukis

Pameran Tunggal ke-2, Local Views

Telah lewat enam tahun sejak pameran tunggal yang pertama itu. Enam tahun yang terasa begitu cepat untuk mengumpulkan karya-karya baru dan membangun kesempatan. Dan tibalah kesempatan kedua ini.

Sebagaimana pameran tunggal pertama dulu, saya selalu menampilkan seniman lain dalam ruang yang sama. Kali ini adalah Nabyla, seorang murid binaan Sanggar Saung Kelir yang tekun menjalani latihan, mulai dari bimbingan seniman Uwar Esje dengan mempelajari teknik dasar, serperti memahami bentuk dan teknik pewarnaan dengan krayon. Dilanjutkan kemudian di bawah bimbingan Sogik Prima Yoga yang mempelajari teknik pewarnaan cat air dan cat minyak. Pada tahap inilah, saya terpesona dengan hasil yang dicapai demikian pesatnya. Nabyla menunjukkan suatu potensi.

Maka ketika Pemerintah Kota Salatiga lewat Dinas Pariwisata memberikan ruang buat saya untuk berpameran tunggal, Nabyla yang saya pilih untuk turut  serta. Terwujudlah gelar karya antara seniman lukis kaki anggota AMFPA Internasional bersama seorang seniman cilik kota Salatiga.

Berbarengan dengan Festival Kuliner ke-4 yang meriah, pameran ini dibuka oleh Walikota Salatiga, Bp. Yuliyanto S.E., M.M., pada tanggal 31 Juli 2019, dikunjungi para pejabat dari Kepolisian dan TNI, serta para pecinta seni dan jurnalis.

Satu bagian yang paling menggembirakan bagi saya adalah kehadiran murid-murid TK dan SD untuk mendapatkan semangat di awal fase kehidupan mereka. Dunia ini layak dijalani sebab keindahannya.

Pameran ini sekaligus menjadi satu peringatan hari jadi Saung Kelir yang jatuh pada tanggal 4 Agustus. Maka sebuah perayaan kecil menandai penutupan pameran sebagai rasa syukur atas semua perkembangan dan pencapaian yang ada.

 

Mistisisme Lukisan

Saya tidak hendak bicara tentang lukisan bertema dewa-dewa, atau lukisan berdasar kisah-kisah historis dari al-Kitab. Tidak pula tentang pilihan genre sahabat saya yang melukis demit (makhluk astral) di tempat-tempat seram. Saya hendak bicara sejauh pengalaman saya sendiri.

Ada aspek tidak ilmiah dalam praktek melukis; suatu aspek yang tidak terjangkau oleh analisis logis ataupun pendekatan empiris. Segala kalkulasi tentang dimensi, keseimbangan, dan harmoni itu belum menjangkau wilayah ini. Tidak pula penilaian proporsi, anatomi, dan perspektif.

Melukis adalah praktek penciptaan yang mana jiwa sang pelukis bakal merasuk ke dalam lukisan itu, ke dalam larutan cat pada bentangan kanvas. Lukisan adalah rekaman rasa sang pelukis sepanjang proses penciptaannya. Marah, cinta, nelangsa ataupun gembira bakal ditangkap oleh warna, disimpan, dan bahkan dipancarkan ulang ke ruang di sekitarnya.

Mungkin kita pernah memajang sebuah lukisan yang menggambarkan keceriaan, seperti taman bunga misalnya. Tapi entah kenapa suasana di ruangan itu berubah menjadi murung. Jika kita telusuri pada pelukisnya, kita bakal tahu bahwa bisa saja sang pelukis sedang merasakan kegalauan saat berkarya dulu.

Menyadari ini, saya berusaha menata pikir dan rasa setiap kali hendak dan sedang berkarya. Sebab saya tidak ingin menghembuskan energi negatif ke dalam ruang-ruang pribadi orang lain. Minimal, lukisan itu membawa muatan rasa optimis dan syukur atas kehidupan. Dengan alasan ini pula, saya tidak membuat lukisan atas dorongan sublimasi tekanan batin. Misalnya menumpahkan rasa kecewa atas suatu kegagalan menjadi lukisan. Seandainya pun itu saya lakukan sebagai sebuah terapi, lukisannya akan saya simpan sendiri dan tidak untuk dijual.

Bukti Pengalaman

Saya pernah menggelar pameran bersama di galeri saya yang menampilkan karya-karya dari sepuluh pelukis. Karena orientasnya adalah penjualan, saya membebaskan tema lukisan yang hendak dipajang. Tak bisa dihindari, tema-tema yang laris pun banyak dipilih, seperti panen raya. Dua lukisan yang menggambarkan petani memanen padi di sawah dari dua pelukis berbeda dipajang bersebelahan. Secara teknis tidak jauh berbeda, materialnya pun sama: cat akrilik. Pada malam pembukaan, satu dari dua lukisan panen itu dibeli pengunjung, sedang yang satu tetap bertengger di dinding itu hingga pameran usai. Belakangan saya tahu bahwa lukisan panen yang tidak laku itu dilukis dengan semangat balas dendam atas masalah pribadi sang pelukis.

Di ruang galeri saya, puluhan lukisan yang saya ciptakan digantung di dinding. Pengunjung datang silih berganti, dan saya mengamati aktivitas mereka saat berjalan perlahan, bergeser dari satu lukisan ke lukisan yang lain. Ada satu lukisan yang selalu membuat langkah pengunjung itu terhenti, dan kemudian terpaku di depannya. Lalu saya melakukan kilas balik atas pengalaman lampau ketika membuat lukisan-lukisan itu. Ternyata memang ada muatan rasa yang lebih kuat ketika menciptakan lukisan yang membuat langkah terhenti tadi. Saya ingat bagaimana saya bersemangat mengumpulkan objek-objek untuk referensi, seperti daun kering di pinggir jalan. Saya ingat bagaimana saya lupa dengan banyak aktivitas lain sebab merasuk ke dalam goresan-goresannya. SAya ingat pengalaman ekstasis (keluar dari diri sendiri) itu. Saya ingat bagaimana saya membangun harapan akan tersampaikannya makna yang saya sisipkan lewat gambarnya.

Lukisan auratik, demikian istilahnya, seperti memancarkan aura dan sanggup berbicara mewakili dirinya sendiri tanpa kehadiran sang pelukis dan pendampingan narasi panjang lebar.

Melukis sebagai Panggilan Jiwa

Saya tidak mau kelak meninggalkan hidup tanpa membekaskan jejak kebaikan yang menegaskan manfaat adanya saya di dunia. Dan sebagai pelukislah saya ingin dikenang oleh generasi esok yang tidak pernah sempat berjumpa.

Untuk itu saya harus mewariskan karya-karya terbaik sebanyak mungkin. Dan karya-karya itu juga harus dengan mudah dapat diakses oleh publik secara langsung.

Niatan seperti ini butuh energi besar untuk mewujudkannya. Suatu koleksi lukisan dalam jumlah yang memuaskan harus segera disediakan. Ruang untuk menampung dan memajangnya mesti layak untuk berbagai kunjungan. Dokumentasi dari perjalanan hidup segera ditata. Segalanya dipersiapkan untuk suatu masa di mana saya sudah tidak hadir lagi secara ragawi.

~o()o~

Saya tidak mau dalam hidup yang sedang saya jalani, tak ada peran yang saya sunggi untuk membuat saya punya arti. Menata warna pada kanvas untuk menghantar rasa indah ke hati orang, setipis apa pun rasa itu, telah membuang rasa sia-sia dari hati saya.

Menata garis dan bentuk, menyematkan makna-makna pada berbagai citra benda dan makhluk, sekalipun tidak mesti ada kesepahaman, telah membendung rasa tak berguna dari rongga dada.

Hari-hari yang berganti tak boleh terlewati tanpa satu goresan sekali pun, entah itu pada kanvas atau sekedar kertas usang. Dan meski nanti menumpuk bersama coretan-coretan lain.

Melukis bagi saya terlebih dahulu memenuhi kepuasan batin. Ini jauh mengawali hasrat-hasrat mengumpulkan materi, sebab itu bisa diserahkan pada hukum sebab-akibat yang pasti.

 

Melukis On The Spot

Tubuh bergumul langsung dengan cuaca; kulit marasai suhu tinggi yang dibawa oleh partikel-partikel cahaya, atau dalam kesempatan lain, pori-pori terpaksa mengerucut demi membendung dingin agar tidak merasuki organ dalam tubuh.

Plototan cat di papan palet menyerah pada sinar matahari, hingga mengkristal lebih cepat. Di kala hujan, air dari langit kerap kali melunturkan kembali susunan warna akrilik yang sudah indah di kanvas.

Tidak ada lagi temperatur normal sebagaimana di dalam kamar. Sementara pikiran harus segera mengurai paparan alam yang luas dan rumit ke dalam bentuk-bentuk sederhana. Batin mencerap rasa dan menyalurkannya melalui kuas bersama warna-warna. Lalu disatukan dalam kanvas selama tak lebih dari tiga atau empat jam.

Melukis alam langsung di tempatnya berarti membangun studio portabel tanpa dinding. Prinsip kesementaraan nyata sekali di sini. Pengaruhnya hingga ke dalam lukisan. Goresan yang terwujud bukanlah goresan halus dan detil, yang menyiratkan proses yang stabil dan konstan. Namun goresan-goresan spontan yang tampak sekali sedang berpacu dengan waktu.

Cahaya bergerak, bayangan berpindah. Setiap penundaan goresan hanya akan melewatkan kesempatan indah. Dalam pacu seperti itu pelukis hanya menangkap kesan-kesan sekilas dari apa yang dilihatnya. Maka hasilnya adalah lukisan impresionistik. Kelak penontonnya akan merasakan keindahannya lewat susunan warna-warna dalam garis-garis tak sempurna. Di situlah, lukisan benar-benar terasa sebagai lukisan.

***

Melukis on the spot bukanlah sekedar melukis di luar ruangan. Tapi menentukan objek nyata lalu melukisnya berdasar kontak mata langsung terhadap objek itu. Dan biasanya, objek terpilihnya adalah objek-objek natur atau kultur yang terbentang di luar sana (meski bisa juga objeknya ditata dalam studio sekiranya berukuran kecil seperti objek still life).

Dengan melukis di ruang terbuka, maka interaksi dengan publik pun niscaya terjadi. Mereka akan datang berkerumun, mengobati rasa ingin tahunya; bagaimana sebuah lukisan bisa dibuat. Respon yang kemudian mereka sampaikan pun tak terhalang dari penerimaan pelukis. Baik atau buruk, memuji atau mencemooh, akan langsung diterima.

Di sinilah pelukis berlatih dengan kekuatan morilnya; yang itu tak akan pernah terjadi hanya dengan bertahan di dalam studio yang nyaman.

Baca juga:

Momen Indah Lukisan

Saat seperti ini, jika saja lukisan-lukisan bisa bersaksi, adalah saat menggembirakan bagi mereka. Yaitu saat berpasang-pasang mata manusia menelusuri detil wajahnya yang mengekspresikan beragam pesan atau cerita. Lukisan kodratnya untuk dilihat, sehingga sebelum perjumpaannya dengan pandangan mata, mereka belum ada.

Tapi adanya lukisan tak pernah disadari oleh dirinya sendiri. Keindahan yang mereka bawa-bawa tak dirasakannya sendiri. Mereka ‘perlu’ manusia untuk memungkasi proses mengadanya.

Sebutlah satu lukisan yang sangat indah, sudah agak berapa lama usai dinamai senimannya. Ia tergulung tanpa bingkai, terkunci rapat dalam peti baja yang dikubur di kepadatan tanah. Tak lama kemudian, senimannya meninggal. Saya tidak tahu bagaimana keindahan–yang dalam kategori objektif itu–bisa disebut ada, sebab tak ada interaksi dengan subjek penikmat.

Lukisan terkubur itu mungkin–jika bisa bersaksi–akan menyesal kenapa pernah dibuat, tapi tak pernah punya kesempatan menampakkan diri.

Maka ruang-ruang presentasi mutlak diperlukan bagi karya rupa ini. Tak mesti sebuah galeri megah. Sekedar bengkel tempat bekerja pun cukup bila bisa menghadirkan tamu untuk bertandang dan memandang. Dan di saat itu, lukisan akan memancarkan segala perasaan seniman sewaktu berkarya dulu.

Apa Seni Itu

Tulisan berikut adalah hasil perenungan saya berdasar pengalaman di bidang seni lukis dan pengamatan sekilas terhadap praktek kesenian di sekitar saya. Saya tidak bermaksud menciptakan klaim definitif yang mutlak benar, tapi sekedar berbagi wacana kepada pembaca. Siapa pun boleh sependapat ataupun menolak.

Apakah seni itu, menurut saya? Manusia berproses, itulah seni. Definisi ini mengandung dua unsur. Pertama, manusia. Penegasan unsur manusia adalah untuk membedakannya dari unsur alam lain. Setiap hari saya merasa takjub dengan indahnya punggung gunung Merbabu yang tampak menjulang di luar jendela. Tapi gunung Merbabu tidak diciptakan oleh manusia. Dia bukan seni.

Unsur kedua adalah proses. Proses mengindikasikan adanya gerak dan perubahan, yang kemudian ada hasil akhir. Tapi ketimbang hasil akhirnya, proses adalah inti dari seni. Dan proses ini tidak terbatas pada hal-hal yang dirasa indah saja, sebagaimana awam cenderung mengartikannya demikian. Seni kontemporer banyak tampil dalam wujud buruk rupa. Tidak mengagetkan pula adanya frase ‘seni perang’. Perang di mana pun membawa kesengsaraan. Tapi perang disebut-sebut memiliki seninya. Yang dimaksud adalah seni sebagai strategi, teknik, taktik, dan metode. Singkatnya, seni itu proses.

Berdasar definisi ini, kita bisa menakar tinggi rendahnya nilai sebuah hasil karya seni. Yaitu dengan mengukur seberapa banyak campur tangan manusia sepanjang prosesnya, dibanding faktor non manusiawi yang turut dilibatkan.

Mengapa lukisan dinilai lebih mahal dibanding fotografi, meski keduanya sama-sama seni rupa dua dimensi? Fotografi itu seni, karena untuk menghasilkannya telah ada seseorang yang bersusah payah di belakang kamera. Tapi dibanding lukisan, kadar manusiawinya lebih banyak lukisan dalam proses penciptaannya. Sedang fotografi sangat didominasi oleh kekuatan teknologi. Karena itu tidak mengherankan jika seni lukis selalu dihargai jauh lebih mahal dibanding seni fotografi.

Bagaimana dengan benda-benda alam yang diolah manusia? Suiseki dan batu mulia adalah karya seni karena manusia telah melakukan pengolahan atas bebatuan yang dipungut dari alam. Tapi sebongkah batu belaka di ujung pematang sawah bukanlah karya seni. Apakah bonsai juga termasuk seni? Meski sebatang pohon tumbuhnya oleh kekuatan alam, tapi ketika manusia sudah ikut campur dalam mengarahkan bentuk pertumbuhannya, itu menjadi seni.

***

Bicara tentang hasilnya, karya seni ada yang melekat pada senimannya, ada yang terpisah. Seni peran dan pertunjukan adalah seni di mana pelakunya akan terus terbawa ke dalam hasil keseniannya. Kita tidak bisa menyaksikan seni tari tanpa melihat adanya manusia yang bergerak di sana. Lantunan lagu tak mungkin terdengar tanpa ada suara manusia yang menyanyikannya. Bahkan tak jarang sosok penyanyi itu tampak utuh di atas panggung atau dalam rekaman video, sehingga dapat langsung dikenali oleh publik penikmat.

Sedang seni rupa hasilnya terpisah dari pembuatnya. Sebuah lukisan di ruang pameran atau galeri tidak serta-merta menyertakan sosok senimannya. Kehadiran sang seniman (perupa) biasanya diupayakan lewat signature atau goresan nama di satu sudut karya itu. Tapi itu tidak menjamin langsung dikenalnya si perupa oleh publik tanpa adanya pewartaan di media lain yang mendukung.

Dengan fakta ini, adalah menjadi tantangan bagi pelaku seni rupa untuk berjuang lebih keras guna menghadirkan diri ke tengah publik. Kehadiran sosok seniman di samping karyanya bukan semata-mata soal popularitas atau ketenaran. Ini adalah untuk memberi bobot tambahan pada karya itu. Sudah menjadi standar berpikir manusia untuk mencari-cari sebab dari suatu yang ada. Maka ketika ditemukan suatu keindahan artistik, pasti akan muncul pertanyaan tentang sosok di balik keindahan itu. Tanpa ditemukannya sosok itu, keindahan tetap saja keindahan, tapi menyisakan pertanyaan. Dan umumnya manusia merasa resah di dalam tanya yang tak terjawab.

Tanpa Bingkai

Satu cara untuk mengemas lukisan tetap cantik tanpa beban pemasangan bingkai adalah dengan melukisi tepian kanvasnya. Dengan memasang staples di bagian belakang span-ram, sisi samping lukisan akan menyisakan ruang yang cukup luas untuk melanjutkan goresan dari permukaan depan.

Satu kesulitan tambahan–yang tidak cukup merepotkan–adalah saya perlu membolak-balik kanvas, hingga menyebabkan ruang di sekitar menjadi belepotan oleh cat yang belum kering. Tapi ini sepadan dengan hasilnya.

Lukisan tak berbingkai seperti itu–yang disebut sebagai lukisan panel–mengesankan sebuah sikap kemandirian. Ia hadir tanpa tergantung pada unsur lain. Tepiannya yang melanjutkan gambar depan seperti hendak mengatakan bahwa proses kreativitas tak mau diakhiri. Ketersediaan medium tak pernah cukup mewadahi pikir dan rasa seniman, hingga sisa ruang terkecil pun tetap disambut dengan ekspresif.

Ya, kira-kira begitu saja refleksi pengalaman saya untuk yang satu ini.

SAM_4626

Mengalami Langsung

Dogen muda, dalam perjalanan kembaranya mencari ilmu ke negeri China, bertemu seorang pria renta yang memanggul beban bertumpuk di punggung. Dogen yang kelak menjadi master Zen ini sejak muda memang memiliki jiwa welas asih. Ia menawarkan bantuan kepada pria renta itu untuk membawakan bebannya.

Tapi pria renta itu menolak tawaran baik Dogen. Ia menjawab bahwa pekerjaannya adalah seorang juru masak di sebuah wihara. Dan belanja bahan makanan ke pasar yang jauh, dengan melewati gurun pasir, adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai juru masak itu.

“Jika tugas-tugas memasak ini saya pasrahkan kepada orang lain, lalu bagaimana saya bisa membuat hidup saya berarti?” demikian pria renta itu mempertahankan bebannya di punggung.

Dalam dunia moderen, manusia yang populasinya membludak ini saling berbagi tugas. Seorang chef di dapur dapat mendelegasikan tugas belanja bahan makanan kepada orang lain, sementara ia sendiri bisa berfokus pada urusan memasak saja. Efisiensi adalah ciri utama modernitas.

Tapi sesungguhnya ada yang hilang di sini. Setiap individu kemudian terasing dari dunia luas. Chef yang hanya menunggu kiriman bahan makanan di ruang dapurnya tidak pernah mengalami suasana pasar tempat bahan makanan itu dipertukarkan, tidak tahu hawa udara perkebunan tempat sayur mayur ditumbuhkan.

Pria renta yang ditemukan Dogen di padang gersang itu jelas tidak mau tercerai dari luasnya dunia. Dan lebih dari itu, ia ingin hidupnya tetap berarti, meski–dalam pandangan mata orang moderen–tampak menderita.

~o()o~

Membuat lukisan adalah cara saya memberi arti dalam hidup. Banyak aspek yang harus saya delegasikan kepada orang lain. Namun seperti pria renta juru masak wihara yang dijumpai Dogen itu, saya akan merasa tak berarti jika sebagian tugas-tugas seorang pelukis harus ditangani orang lain, terutama yang berkenaan dengan proses pemwujudan lukisan.

Saya berbagi tugas dalam hal di luar proses pembuatan lukisan, seperti pemasaran dan pengorganisasian kegiatan. Namun urusan ide dan dalamnya kanvas, itu adalah otoritas saya. Meski di jaman sekarang dibenarkan adanya artisan, tapi bagi saya berkesenian itu seperti memainkan sendiri sebuah permainan, bukan menitipkannya ke pemain lain. (Jika saya mau lemak di tubuh ini terbakar, saya sendiri yang harus berolah raga, bukan menonton orang lain yang sedang senam.) Sedang berkarya secara kolaboratif tentu harus diikuti konsekuensi jujur dengan menunjukkan nama-nama yang terlibat di dalam karya itu.

Dalam pencarian referensi objek penunjang ide, jika memang bisa saya dapatkan secara langsung, saya akan hadir di sana. Saya perlu tahu seperti apa candi Borobudur tampak dari ketinggian itu. Maka ratusan anak tangga curam Suroloyo harus saya taklukkan. Jantung yang berdetak kencang, kepala yang pusing, dan akhirnya mual di rongga perut menyadarkan saya bahwa perjalanan separuh saja sudah cukup mewakili rasa dan pengalaman yang dibutuhkan. Karena toh, di puncak tertinggi sana, lensa kamera tele yang dibawa tetap tak menjangkau objek yang hendak dilihat.

Dan akhirnya di bukit Punthuk Setumbu, candi Buddha terbesar di dunia itu tampak jelas di kejauhan. Jika nanti saya melukisnya di dalam studio yang nyaman, saya tidak merasa terlalu asing dengan objek yang saya lukis itu. (Ini juga bagian dari eskalasi kesulitan sebagaimana pernah saya tulis dalam blog ini sebelumnya.)


Baca juga:

Galeri Sabar Subadri

Seperti bingkai yang mewadahi setiap lembar lukisan, galeri mewadahi koleksinya.

Saya hidup di saat ini, bukan kemarin atau esok. Tapi sesekali mengingat masa lalu itu perlu untuk menegaskan rasa syukur atas apa yang sedang dirasakan saat ini. Untuk menyadarkan diri bahwa telah ada perkembangan dalam hidup, sehingga lakon ini tidak sia-sia. Melongok masa depan yang kabur dalam bayangan, juga perlu untuk sedikit membantu menentukan arah.

Galeri, tempat lukisan-lukisan bertengger menunggu dipandang orang, sebenarnya sekaligus memperagakan aliran waktu dalam kesadaran kita. Apa yang sudah terekam dalam gambar, mengingatkan masa-masa lalu yang terlalu berharga untuk dilupakan. Sebagian gambar itu juga membicarakan harapan-harapan akan masa depan yang lebih baik.

Sedang kumpulan semua lukisan itu sendiri tetap bertahan dalam saat ini; menjembatani dua kutub waktu (yang sebenarnya cuma ilusi itu). Lukisan adalah upaya menangkap gerak waktu, dengan bahasa yang selalu relevan di jaman mana pun.

Pada sebuah galeri, gagasan dipertukarkan. Sebelum menyeberang ke rongga kepala orang lain, lukisan menjembataninya; menambah kaya ide yang sudah ada dengan gagasan-gagasan lain yang mungkin baru terpikirkan oleh penontonnya, lewat gambaran objek yang memancing objek lain lagi.

Pertukaran gagasan itu adakalanya tak perlu dengan perwakilan kata-kata terucap. Cukup menghadapi yang terpapar, sambil mengalirkan sedikit kafein dalam pembuluh darah.

Galeri Sabar Subadri telah diresmikan pada 4 Agustus 2015 oleh Wali Kota Salatiga, untuk mengajak warga memperkaya hidup dengan khasanah budaya. Selain galeri lukisan, ruang perpustakaan juga tersedia di lantai dua, dan galeri lukisan untuk para perupa lain di Salatiga.

Sebuah hadiah disampaikan pada kesempatan itu, dalam bentuk sebuah puisi oleh seorang dosen sastra, yang dalam tulisan lain di blog ini saya sebut sebagai guru. Inilah hadiah pertama untuk saya:

Galeri Sabar Subadri
Wahyu Seno Aji, 4 Agustus 2015

Larut malam, saat gerimis menahanku pulang,
Antara tegukan kopi, meluncur cerita peri dan nabi-nabi
Relung-relung rasa purba, menghampiri pikiranmu, lalu terbang-
Ke telingaku, seperti kupu-kupu meloncati bunga pagi.

Aneh sekali bahwa cerita lama itu kini memakai kata-kata kita,
Berbaur dengan suara hujan dan aroma kopi di galerimu,
Nenek-nenek dan kupu-kupu di kanvasmu, tak bertambah tua,
Sedang kita selalu tahu, siapa yang sebenarnya terbunuh waktu.

Hal-hal yang kita bicarakan dan kau gambar,
Suatu hari akan bermalam di pikiran dan kanvas orang.
Kita betul-betul cuma sebuah penginapan,
Kata-idea singgah, lalu bergegas meneruskan perjalanan.

Di masa depan, cerita dan goresan itu,
Mungkin, tak akan pernah mengaku,
Kala dulu mereka butuh berteduh,
Menempati ruang waktu rintik hujan.

Di galerimu; kanvas, kertas dan rak buku,
Di obrolan kita, atap bagi persoalan usang,
Yang lelah melewati jauh waktu-waktu,
Merangkak dari jaman ke jaman.

Galeri Sabar Subadri

Credits:

Terima kasih kepada Bp. Eddy Supangkat, Direktur CV. Griya Media, yang telah menjadi event organizer acara peresmian GSS. Terima kasih kepada Wali Kota Salatiga, Bp. Yulianto, yang telah berkenan meresmikan GSS. Terima kasih kepada AMFPA Internasional yang telah memberi saya pekerjaan sejak 24 tahun lalu.

Tak Akan Pensiun

SAM_2347

Seniman tak akan pernah pensiun. Kerja adalah hidupnya. Karya adalah penanda eksistensinya.

Saya masih ingat gambaran yang saya lihat di layar televisi seperempat abad silam, di mana seorang maestro lukis sedang menjelang hari-hari akhirnya. Ia–terbaring lemah di kasur–tampak menggerak-gerakkan tangannya di udara seolah masih terus melahirkan karya-karya masterpiece. Ia seperti hendak menyampaikan pesan pada dunia bahwa ia tak mau dipisahkan dari proses berkarya. Ia adalah Affandi.

Saya masih sangat muda waktu itu, bahkan masih anak-anak umur 11 tahun. Saya tidak bisa membayangkan masa tua saya kelak bakal seperti apa, dan apakah pelukis harus seperti itu.

Yang kini saya mengerti adalah setiap individu memiliki kisah hidupnya sendiri-sendiri. Tapi setiap seniman yang mempunyai devosi dan dedikasi pada dunianya akan bertekad untuk tetap berkarya, hingga raga sudah tak menyandang nyawa.

Dengan demikian, bagi seniman, kata pensiun tak akan pernah menjadi kata kerja dengan subjeknya diri sendiri. Status pensiun tak akan menempati ruang-ruang perencanaan. Seniman justru akan hadir untuk melayani para pensiunan dari profesi lain yang memiliki kebutuhan rasa estetis. Ketika jarak-jarak ruang sudah tak bisa ditempuhi, pikir dan rasa bisa diajak mengembara lewat rupa.

Namun tak bisa dipungkiri, bisa jadi sebelum hidup berakhir tubuh sudah menjumpai lemahnya. Mata rabun, tangan gemetaran, atau bahkan lumpuh, kerap saya saksikan pada seniman lain. Saya juga manusia yang bahkan sejak awal hadir dalam kehidupan ini sudah dengan tubuh yang lemah. Saya mengantisipasi kondisi terburuk itu dengan mempelajari teknik-teknik lukis sederhana. Kelak dalam sisa-sisa waktu dan energi itu, hidup tetap tak boleh sia-sia dengan berongkang kaki. Karya akan tetap tercipta meski dengan selisih rupa dari biasanya.

Tapi selagi masih bersama kekuatan, teknik detil yang sulit itu akan terus saya kerjakan.