Lukis

Bukan di Menara Gading

Objek-objek alam sejak dulu dipinjam untuk dijadikan penanda dari maksud seorang seniman. Citra wujudnya diambil untuk mewakili suatu pesan, atau sekedar dicipta ulang sebagaimana tampak apa adanya. Sedang keberadaan mereka tetap terhampar di luar sana; merunduk lesu di bawah terik matahari atau bergembira ketika berhias embun sisa malam. Sebagian lagi telah kehabisan waktu dan akhirnya lebur ke dalam debu.

Sementara itu di manakah senimannya berada?

Seniman sering dikira bermukim saja pada puncak menara gading; hanya bermain dengan warna dan bayangan indah di rongga kepala. Pengetahuan dan inspirasinya dicomot dari sumber lain, atau lewat input dari tim yang bekerja terpisah. Ia sendiri tetap bekerja di ruang sejuk, lalu hadir ke tengah publik untuk menerima sambutan histeris dan hujan pujian. Sejenak saja di sana, lalu kembali ke zona nyamannya. Mungkin dengan ditambah dugaan seperti ini, Plato akan menyebut seniman sebagai penjiplak kelas tiga, atau bahkan empat, dan seterusnya.

Seniman tidak selamanya begitu. Ia tidak hendak bercerai dari alam yang menjadi mahagurunya. Kerinduannya lekas hadir dalam jarak yang tak jauh. Dalam sua itu, seniman akan menyerap eksistensi alam lewat rasa, dan juga pemahaman struktur materialnya. (Yang belakangan ini dipraktekkan sungguh-sungguh oleh Leonardo da Vinci.) Pada saat seperti itu seniman rela bergumul dengan debu, lumpur, dan duri; menyapa serangga yang malu berada di bawah paparan langit. Ia hendak menyatu bukan berjarak, sebab jarak ada gilirannya sendiri.

Jarak mewujud ketika karya seorang seniman telah dikoleksi orang; yaitu jarak ruang antara seniman dengan karyanya–bukan jarak emosional. Saat ini sang seniman justru tidak dikenali lagi. Kemunculannya ke tengah publik tak ubahnya daun-daun semak, yang terlihatnya dari ujung mata saja. Tapi ia menikmati situasi seperti itu, sebab segala ketenaran sudah ia titipkan untuk karyanya; seperti orang tua yang duduk di deret bangku belakang sedang menyaksikan anaknya dalam barisan wisuda. Sambil mulutnya terkatup rapat, batinnya mengucapkan harapan agar karyanya selalu baik-baik saja.

***

Catatan di Hari Pendidikan Nasional ini: mendidik diri itu bukan sekedar menjejalkan pengetahuan ke dalam rongga kepala, tapi juga dengan berlatih lewat laku di luar sana.


Baca juga:

Da Vinci

Bicara tentang Leonardo da Vinci dominannya bicara tentang kejeniusan sang maestro. Kisah hidupnya berkali-kali dituturkan, bahkan dengan bumbu-bumbu mitos dan konspirasi. Karya-karyanya dijadikan sumber inspirasi karya seni dalam berbagai genre berbeda; tak jarang pula direproduksi–sebagaimana saya juga pernah merepro Monalisa pada tahun 2002 silam untuk koleksi pribadi. Monalisa bahkan menjadi ikon dari dunia seni di tingkat global. Tapi di sini saya mau menyoroti satu kelemahan Da Vinci, bukan untuk mencemoohnya, atau menganggap diri saya lebih hebat, melainkan mengambil pelajaran agar tidak terjebak dalam masalah yang sama. Tulisan ini saya buat tetap dengan rasa kekaguman yang besar pada sang maestro dari Italia itu. Dan saya tetap menyadari, saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. (Apa lagi jika mengingat Verocchio–sang guru–yang memutuskan untuk tak pernah lagi memegang kuas setelah mendapati goresan muridnya jauh lebih indah dari goresannya!)

Kelemahan Da Vinci yang saya maksud adalah tentang begitu seringnya ia tidak merampungkan karya yang telah ia mulai. Dalam sebuah serial fiktif yang ditulis oleh David S. Goyer, berjudul Da Vinci’s Demons, ada satu dialog antara Lorenzo de Medici dengan sang seniman enerjik itu, di mana Da Vinci mengakui beberapa alasan mengapa banyak pekerjaan yang tidak selesai. “Aku terlalu bergulat dengan detil, mudah bosan. Ya, sebut saja sebagai cacat sifat,” demikian bunyi dialog itu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Serial ini sejak awal diakui sebagai fiksi, karenanya saya tidak akan menjadikannya sebagai bahan rujukan yang serius.

Salah satu analisis yang cukup mendalam dibuat oleh Sigmund Freud, tertulis dalam bukunya berjudul Leonardo da Vinci, A Memory of His Childhood, tahun 1910. Jika saya rekonstruksi analisis Freud atas permasalahan Da Vinci tersebut, kira-kira begini: Da Vinci sering tidak menyelesaikan karyanya karena ia terseret oleh hasrat penelitian ilmiah atas objek-objek dari lukisannya. Saya bayangkan, jika sang maestro sedang melukis pohon, ia akan berhenti karena merasa perlu tahu apa itu pohon. Lalu ia pun pergi ke luar sana, menjumpai pohon yang sebenarnya, lalu “membedahnya”. Ia akan amati tekstur kulit pohon itu, ia amati lapisan kambium di dalam batangnya, ia teliti struktur tulang-tulang daunnya, dan seterusnya. Lalu tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya jatuh di batang pohon itu. Ia mendapati cahaya itu memiliki peran penting atas adanya si pohon. Maka ia akan mulai meneliti cahaya. Ia akan temukan spektrum yang membentang dari merah hingga ungu, ia akan perhatikan bagaimana cahaya dapat dipantulkan, bagaimana dibiaskan, dan seterusnya. Pada saat meneliti cahaya, Da Vinci menganggap masih sedang meneliti pohon. Pada saat meneliti pohon ia menganggap masih sedang melukis. “He no longer able to tear it out from that great connection of which he knew it formed part,” –ia tidak sanggup mencopot proses melukis itu dari segala yang berkaitan, yang proses melukis itu hanyalah satu bagian kecil saja–kurang lebih begitu simpulan Freud.

Saya mengerti perlunya seorang pelukis untuk mengenali objek yang ia lukis. Keperluan itu pun saya penuhi dalam praktek berkesenian saya. Akan ada semacam kesiapan bertanggung jawab secara intelektual atas karya sebab pelukis memahami objek lukisannya. Pelukis juga dapat menambahkan narasi yang relevan di seputar lukisan itu, sebagai bagian dari proses pengenalannya nanti ke publik. Tapi dalam kasus Da Vinci, hasrat penelitian itu sudah kebablasan. Kegiatan penelitiannya telah mengambil alih tugas melukis. Perannya sebagai keran air yang mestinya sibuk mencari ember penampung, berubah menjadi spon tebal yang menghisap cairan apa pun. Pengetahuannya yang terus bertambah tidak dibarengi satu pengetahuan lain, yaitu tahu kapan merasa cukup, berhenti, dan kembali pada pekerjaan.

Untuk menghindari sikap kebablasan ini, mungkin seorang pelukis–khususnya yang beraliran naturalis-realis–perlu membuat batasan sejauh apa pengetahuan dibutuhkan untuk mendukung gambar yang akan dituangkan di atas selembar kanvas. Ketika batas itu telah tersentuh, pelukis mesti kembali kepada kanvasnya. Setiap penelitian dilakukan sembari terus mengingat bahwa ujung capaiannya adalah karya lukis.

Dilihat dengan perspektif pemikiran Kant–dan pemikiran para filsuf selanjutnya hingga post-modern–upaya memburu pemahaman objektif itu bisa dianggap nyaris sia-sia. Menurut Kant, manusia tidak dapat memahami suatu objek an-sich, kecuali melibatkan dirinya ke dalam objek itu. Selalu ada partisipasi subjek dalam upaya pemahaman. Dalam dunia lukis, partisipasi subjek terbesar tidak lain adalah melukis itu sendiri. Lewat tindakan melukis, subjek merekonstruksi objek berdasar minat, rasa, dan pemikiran lain menurut tujuannya.

Bahkan di dalam lukisan, saya pikir, tetap perlu ada ruang yang tersisa untuk kehadiran misteri; tempat di mana pelukis itu sendiri tidak merepotkan diri untuk tahu, ataupun memberi tahu. Pada sedikit ruang ini nanti penonton masih akan dapat bermain-main dengan imajinasinya, berpartisipasi untuk membangun lukisan itu lebih lanjut di dalam pikirannya. Itulah mengapa dalam corak lukisan oriental (Tiongkok dan Jepang) selalu ada bidang-bidang yang dibiarkan tak tersentuh oleh kuas.

Dengan energi besar untuk melakukan riset seperti yang dimiliki Da Vinci, ditambah kebijaksanaan Kant, saya yakin bisa terlahir seniman hebat yang lebih produktif. Da Vinci tercatat hanya menciptakan tiga puluhan lukisan jadi, yang dikerjakan sendirian oleh sang maestro (termasuk yang hilang). Dan beberapa lagi adalah karya kolaborasi.1 Agaknya memang terlalu sedikit. Padahal yang sedikit itu selalu memukau siapa pun yang memandangnya.

Bagi Da Vinci, tidak merampungkan banyak lukisan mungkin tidak begitu menjadikan masalah pada dirinya. Proses melukis yang terseret ke dalam penelitian objek setidaknya dapat disublimasikan menjadi karya ilmiah. Da Vinci masih bisa menghasilkan sesuatu dari gangguan yang ia alami–jika boleh saya sebut gangguan. Karir berkeseniannya pun ditapaki dalam berbagai patronase. Ia berpindah dari patron pertama–yaitu keluarga Medici–ke patron berikutnya, hingga beberapa kali.

Leonardo da Vinci memang tidak bisa diatributkan secara khusus ke dalam dunia lukis saja, tapi ia adalah keseluruhannya; ya pelukis, ya peneliti, ya penemu itu. Hidupnya telah tuntas. Ia bermukim dalam sejarah. Artinya, ia tidak bisa diandai-andaikan lagi. Pengandaian yang relevan adalah pada pelukis yang masih hidup. Karenanya saya patut bertanya, bagaimana jika pelukis sekarang–yang tidak dalam sebuah patronase–mengalami masalah tidak bisa merampungkan karya? Sedangkan gangguan yang umum terjadi sekarang ini bukanlah karena ada hasrat penelitian ilmiah yang bermanfaat itu, melainkan lebih berupa gangguan yang remeh sifatnya namun besar dampaknya, seperti rasa malas dan mampetnya inspirasi. Padahal hidup sebagai pelukis itu seperti petani; tidak merampungkan karya itu sama dengan panen yang gagal.

Sedang pelukis dalam patronase di jaman ini pun dapat dihinggapi gangguan dalam bentuk lain. Ia bisa saja keasyikan menikmati honor yang diterima, atau malah bermain-main dengan honor itu untuk bisnis pribadi yang menyita seluruh waktu, alih-alih berkarya sesuai kewajiban yang disepakati.

Akhirnya masalah ini kembali pada pribadi masing-masing individu. Siapa yang hidupnya didorong oleh prinsip kesenangan (principle of lust) semata, dan siapa yang hendak mencapai aktualisasi diri. Kita baru saja melihat diri aktual seorang Da Vinci yang unik dan kompleks itu. Dan tidak selayaknya kita menjadikannya alasan dari tidak produktifnya kita. Da Vinci itu beda.


__________

1 http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_works_by_Leonardo_da_Vinci

Dua Guru

Sebatang pohon telah rampung saya lukiskan pada sisi kanvas sebelah kiri. Pohon itu berhasil menambah dimensi ruang pada lukisan pemandangan yang tengah saya garap. Saya berharap ada apresiasi dari guru saya yang akan datang keesokan harinya.

Tapi guru yang baik tak akan murah memberikan pujian pada pekerjaan si murid. Ia akan terus mendorong murid untuk mengembangkan diri dengan mengeksplorasi potensi-potensi yang belum tersentuh. Gambar pohon itu tak memuaskan hatinya, “Wah, Sabar kalau melukis pohon kok lurus-lurus saja. Coba bikin pohon yang cabangnya berkelok-kelok.”

Ia lalu melanjutkan dengan membahas filosofi lukisnya. Salah satu tujuan melukis–menurut dia–adalah untuk merangsang rasa penonton, dan itu kurang bisa dilakukan dengan melulu menampilkan objek-objek yang sudah kerap dijumpai di sekitar. Kanvas adalah ruang kebebasan, tempat seniman dapat menghadirkan imajinasi yang selama ini terperangkap saja di rongga kepala.

Sejak itu, setiap kali saya bertemu pohon banyan, pandangan saya tak lepas melekat pada sulur-sulur akar hawa yang bergelantungan, yang sebagian lagi melilit batang utama, atau bahkan menjadi batang yang baru itu. Pohon banyan–yang selalu tampak melenggok bak penari–menjadi representasi tepat dari petuah sang guru.

***

Guru adalah seseorang yang terus mengalirkan inspirasi, di mana murid bebas menyerap dan mengembangkannya lagi tanpa ketergantungan permanen atas keberadaan sosoknya. Karena inspirasi adalah benih bagi setiap praktek berkesenian, maka penting untuk selalu menemukan guru di saat kapan pun. Sekalipun setiap guru mengusung prinsipnya yang berbeda-beda, seperti guru saya berikutnya yang justru banyak menaruh perhatian pada objek yang biasa-biasa saja.

Ia melukis dengan kata-kata. Apa bedanya? Apakah ketika kita menggambar sesuatu dengan kata-kata, lantas beda dengan warna? Kata dan warna adalah sama-sama perwakilan yang keduanya merujuk dulu ke kesadaran yang tersimpan di kepala, lalu melesat lagi menuju objek nyatanya di dunia.

Dengan kata-kata, guru saya menyodorkan hal-hal biasa, yang karena saking biasanya, mereka cenderung luput dari perhatian. Ternyata menghadirkan kembali debu, lalat, atau sarang laba-laba ke tengah perhatian sanggup mengaduk-aduk perasaan. Kita seperti tersentak sadar, bahwa kita telah terlalu abai dengan kehidupan. Bahwa seremeh apa pun objek-objek itu, keberadaan kita tak luput dari mereka. Bahkan ada mereka di dalam kita.

Di antara dua guru, dengan prinsip yang berlawanan, apakah membingungkan bagi saya? Satu kata kunci masih saya pegang: sintesis.

Museum Blanco

Tidak sampai satu jam untuk tiba di Ubud, dari kota Gianyar tempat saya menginap di Bali. Perjalanan itu terlalu singkat bagi saya untuk menikmati keindahan di sepanjang tepian jalan. Perkampungan tradisional, pohon-pohon kamboja kuning, galeri-galeri penuh dengan benda seni, semua memikat pandangan. Tapi gerbang menuju museum itu tiba-tiba sudah menyambut. Saya segera memasuki sebuah sintesis kebudayaan.

Blanco Renaissance Museum adalah sintesis antara Barat dan Timur, Eropa dan Bali. Namun sintesis di sini bukanlah lewat dialektika Hegelian yang mendongkel itu, melainkan percampuran dua kebudayaan yang hadir bersama-sama dengan karakteristik masing-masingnya yang utuh. Filosofi Hindu Bali mengambil porsi pada keseluruhan struktur bangunan museum, sedang budaya Eropa hadir lewat detil ornamen bergaya rococo-nya.

Di samping ketinggian datarannya, tumbuh-tumbuhan di komplek museum ini memberi kontribusi pada hawa sejuk. Saya tidak buru-buru memasuki bangunan utama. Di luar pun banyak yang untuk diapresiasi. Persahabatan dengan alam jelas didemonstrasikan di sini lewat pohon-pohon besar yang dirambati tumbuhan epifit hingga tanaman hias yang rimbun. Sedang kolam pancuran di tengah halaman mengingatkan pengunjung pada kali dan lautan sebagai bagian dari semesta.

Museum adalah puncak pencapaian dari seorang seniman. Sebagai puncak pencapaian, museum dibangun di atas undakan yang menyimbolkan proses menuju pencapaian itu. Sedikitnya ada lima belas anak tangga sebelum tiba di pintu masuk (meski sedikit tidak bersahabat bagi pengguna kursi roda). Di atas tangga itu adalah gapura besar berbentuk otograf sang meastro lukis: Don Antonio Maria Blanco.

Bangunan museum itu sendiri bertingkat tiga, dengan kubah bulat di puncaknya. Tapi saya hanya sempat menjelajahi dua lantai saja, itu pun harus dengan terengah-engah menapaki 26 anak tangga spiral. Waktu juga adalah masalah utama bagi saya, tak bisa berlama-lama mengapresiasi setiap lukisan itu karena jadwal penerbangan kembali ke Jawa sudah mepet.

Karya Antonio Blanco, dalam pandangan saya, adalah semacam ledakan dari kemampatan energi. Blanco sudah mengelilingi dunia, melakukan studi, dan mempertajam keahliannya di bidang anatomi. Namun dengan semua itu ia harus menghadapi kekecewaan saat ditolak oleh Walt Disney untuk bekerja sebagai kartunis di industri film besar itu. Hingga ia kembali pada ingatan masa kecilnya saat menyaksikan foto-foto Bali dalam buku berjudul Island of Bali karya Miguel Covarrubias yang beredar di Eropa. Ia sempat terpesona dengan keindahan yang tergambar dalam buku itu. Dalam kekecewaannya kini–sekaligus kesadarannya untuk menjadi seniman lukis–ia menaiki kapal “Le Marseille” menuju Asia Tenggara agar bisa menyaksikan langsung keindahan Bali dengan dua matanya sendiri.

Di Ubud ia menemukan keterpesonaannya. Keahlian yang sudah lama ia runcingkan akhirnya menemukan objeknya untuk diolah. Seperti seorang chef yang dimasukkan ke dalam dapur penuh bahan makanan, ia berkarya dengan passion yang tinggi. Kegairahannya berkarya layak mendapatkan hadiah istimewa dari orang istimewa juga. Raja Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati, menganugerahkan sebidang tanah pada Blanco untuk dijadikan tempat berkarya, menjadi studio lukis, dan daya tarik Bali ke seantero jagad. Di kemudian hari berdirilah museum megah itu di sana.

Karya-karya lukis Antonio Blanco yang realis impresionis menyiratkan ledakan energi sang seniman. Figur perempuan menegaskan identitasnya, sedang goresan spontan dan dinamis itu adalah luapan kerinduan. Seolah Blanco sedang berkejaran dengan detak jantungnya sendiri saat berkarya. Semua yang berkelebatan di rongga kepala harus secepatnya dipindah ke bidang kanvas. Ia percaya pada gerakan, dan mewujudkannya sekalipun itu pada gambar di bidang yang statis. Penyematan nama pada pojok lukisan juga bukanlah akhir dari proses kekaryaannya. Masih ada hal lain yang harus dikerjakan. Setiap lukisan harus dibalut dengan bingkai yang berbeda; tak ada pengulangan.

***

Selepas dari museum, langkah saya diarahkan menuju studio lukis yang bersebelahan. Studio ini memberi banyak inspirasi. Pada lantai di tengahnya terdapat ceruk sedalam setengah meter, tempat sang maestro bisa duduk seperti di kursi, sembari tangannya bekerja menguaskan warna pada kanvas yang ditegakkan dengan sebuah easel. Benda-benda di sana tertata sebagaimana ketika sang maestro masih ada; kuas-kuas, tube-tube cat, papan palet dengan sisa gumpalan cat yang mengering, lukisan-lukisan, termasuk objek-objek yang bisa dijadikan model lukisan tak banyak berpindah dari tempatnya sedia kala. Keberadaan pelukis besar itu seperti hendak diabadikan lewat suasana.

Banyak orang bilang, mengalami sendiri adalah sumber pengetahuan terbaik. Saya pun meminta ijin untuk duduk pada ‘singgasana’ itu. Dan tiba-tiba ada hasrat untuk ikut berkarya, seandainya saja …

***

Setiap museum seperti hendak menyampaikan pesan, bahwa ada keagungan di masa lalu. Yang dulu itu selalu layak untuk dirayakan dan dikenang, dan juga menjadi tantangan bagi yang sekarang untuk melampaui keagungannya.

Sekaligus memperingati hari lahir Don Antonio Blanco pada 15 September.

Kaki yang Melukis

Kaki yang Melukis

Apakah pelukis itu? Sebutkan satu definisi, dan kita akan tertinggal bersamanya. Mengartikan kata pelukis adalah sama seperti melukis itu sendiri; proses penciptaan yang suatu saat sempat tiba pada pencapaian, tapi akan disusul lagi oleh proses penciptaan yang lainnya. Ahli bahasa mengatakan bahwa tanda bahasa itu memiliki sifat diakronis, berkembang artinya seiring waktu.

Siapakah pelukis itu? Mungkin kita bisa memulai jawabannya dari orang-orang purba yang membekaskan tapak tangannya pada dinding-dinding goa–entah apa tujuannya, hingga mereka yang ingin mewarnakan pikiran dan rasa, atau sekedar hendak bilang, “Hei, aku butuh makan.” Daftar ini tak akan berhenti di sini, dan semuanya tidak salah selama prosesnya tidak didelegasikan ke orang lain.

Bagaimanakah melukis itu? Pertanyaan inilah yang paling tidak ingin dibatasi oleh jawaban. Bahan apa yang digunakan, alat apa yang dipilih, anggota tubuh mana yang dipercaya mengantar pikiran; setiap orang memiliki kebebasan pada pilihannya. Setelah ribuan tahun manusia menggunakan tangannya untuk melukis, sebagaimana untuk pekerjaan yang lain, pada pertengahan abad dua puluh–dimulai dari Eropa–orang-orang yang hidup tanpa fungsi tangan menegaskan bahwa mulut dan kaki pun bisa digunakan untuk melukis.

Organisasinya dibentuk hingga mendunia, dan masuk Indonesia pada 1989, saat saya masih berumur 10 tahun dan sudah dipersiapkan untuk menjadi anggotanya. Dalam organisasi ini, Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA), keberagaman dari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas juga terasa, di samping satu semangat yang sama untuk tidak menjadi beban bagi masyarakat.

Setelah lebih dari 20 tahun bekerja di AMFPA, dan terbebas dari belenggu ketergantungan sebab ketiadaan tangan, saya merasa kini saatnya untuk turut berkontribusi pada dunia lukis dengan menambahkan pertanyaan filosofis–beserta jawabannya–seputar kesenilukisan. Untuk apa lukisan itu?

Setiap pertanyaan boleh disambut ribuan jawaban. Dan saya mempersiapkan satu jawaban lewat pameran tunggal yang akan digelar pada awal Februari 2013. Jawaban ini tidak bermaksud memberi batasan, justru untuk mengundang jawaban-jawaban lainnya. Untuk apa lukisan itu, menurut saya?

Kami mengundang pembaca sekalian untuk hadir dalam Pameran Tunggal Lukisan Natura Esoterika, di Jogja Gallery Jl. Pekapalan no. 7, Alun-Alun Utara Yogyakarta, tanggal 1 hingga 10 Februari 2013.

Cinta Kerja

Demo lukis telah saya rampungkan, bukan karena lukisannya jadi tapi karena jatah waktu untuk demo itu sudah habis. Pengunjung disuguhi pertunjukan lain. Saya mempunyai kesempatan untuk melihat-lihat kerajinan yang dipamerkan di aula itu. Setelah letih berjalan, saya duduk di sebelah seorang laki-laki, yang sebelumnya telah memperkenalkan diri sebagai pengukir. Saya masih sangat belia dan pemalu untuk bercakap-cakap dengan orang yang berumur jauh di atas saya. Karena itu saya lebih banyak diam.

Tak berapa lama kemudian pria itu berkata, “Sejak tadi aku memandangi kaki meja itu,” ia menganggukkan kepala ke arah meja tak jauh di depan kami duduk. Saya tahu pria itu memang terus memandangi meja tempat barang kerajinan ditata, saya menangkap gerak-geriknya dari sudut mata. Saya kira hanya kebetulan, tapi ternyata memang ada kesengajaan.

Saya tolehkan kepala ke arahnya sebagai isyarat untuk menunggu kata-kata berikutnya. Ia pun melanjutkan, “Dan rasanya aku mau pulang untuk mengambil perkakas kerjaku, lalu aku ukir kaki meja yang polos itu.”

Saya memberi tanggapan dengan senyuman dan kerutan alis sebagai wujud rasa penasaran. Tak sampai dua detik untuk menunggunya melanjutkan kalimat. “Setiap kali aku melihat kayu yang polos seperti itu, aku selalu merasa gatal ingin mengukirnya. Rasanya sayang banget kalau harus membiarkannya tanpa dipercantik. Pasti kamu juga begitu; setiap kali lihat kanvas kosong, pasti kamu ingin melukisinya.”

Kalimat yang terakhir ini bagi saya terdengar lebih seperti pertanyaan ketimbang permintaan kesetujuan. Saat itu saya baru mau beranjak remaja, yang masih ingin bersenang-senang saja dalam hidup. Pekerjaan saya lakukan lebih karena tuntutan, belum ada dorongan dari dalam. Lalu kata-kata pengukir tadi seperti mempertanyakan sikap saya terhadap pekerjaan yang telah saya lakoni. Apakah saya mencintainya? Apakah saya menikmatinya? Apakah saya mensyukurinya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berlanjut, dan terhimpun dalam satu pertanyaan besar: apakah kelak saya juga akan tiba pada situasi seperti pengukir itu?

Sekarang di umur saya yang sudah berbilang 33 ini saya bisa memberikan jawaban “iya” untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Ternyata perlu proses yang melekat pada waktu yang panjang untuk tiba pada situasi ini. Tapi untuk meringkasnya saya akan menyebutkan dua kata kunci, yaitu savoring dan reflecting.

Savoring

Ketika sesendok tumis kangkung sudah masuk ke rongga mulut, kita akan segera merasakan sekian macam cita rasanya; asin, gurih, sedikit manis, atau bahkan sedikit pedas, dan lain-lain. Kita rela berlama-lama menyediakan waktu untuk mengunyah makanan lezat. Tapi bagaimana dengan pekerjaan?

Kita sering berlaku tidak adil, yaitu melakukan pekerjaan dengan sikap ‘asal cepat rampung, pokoknya nanti dapat bayaran’. Sikap seperti ini membuat kita terasing dari pekerjaan itu, dan konsekuensinya, hasil pekerjaan itu bermutu rendah. Jika sudah demikian, tak perlu waktu lama bagi siapa pun untuk segera menyadari bahwa kita sebaiknya tidak dipercaya lagi untuk memegang jenis pekerjaan tadi.

Savoring atau menikmati–seperti saat mengunyah makanan–mestinya juga terjadi pada saat kita bekerja. Savoring berarti ada keterlibatan erat antara diri kita dengan proses pekerjaan itu. Keterlibatan ini adalah dalam bentuk kesadaran pada tingkat detil dari yang kita kerjakan, dan lalu mengapresiasinya hingga memunculkan emosi yang positif.

Saat saya melukis, saya memperhatikan setiap goresan cat yang muncul pada kanvas. Kemudian saya merasa takjub dengan kekuatan alam yang disebut adesivitas, atau tarik-menarik antara molekul yang berbeda, yang mengijinkan cat itu berpindah dari kuas menuju kanvas dan lalu lekat di sana selamanya. Rasa takjub ini membuat saya ingin terus mengulang proses itu, dan secara keseluruhan membuat saya merasa betah dengan apa yang saya kerjakan. Demikian juga saat saya mendapati warna yang berganti saat saling bercampur, dan aspek-aspek lain dalam seluruh proses melukis.

Setiap jenis pekerjaan selalu memiliki bagian tertentu yang jika kita perhatikan dengan seksama akan kita temukan keasyikannya. Menemukan keasyikan, inilah kunci awal untuk mencintai pekerjaan, seperti menemukan rasa lezat dari sesendok tumis kangkung tadi. Seorang tukang kayu boleh saja merenungi sebatang kayu yang bersedia dipotong-potong, pasrah di mata gergaji. Bagaimana jika kayu itu menolak untuk dipotong?

Savoring bukan berarti bahwa setiap proses harus dikerjakan dengan perlahan-lahan. Tangan, kaki, dan seluruh badan bisa saja bergerak cepat untuk bekerja. Tapi ketika pikiran juga bekerja lebih cepat lagi–untuk menyadari dan mengapresiasi proses itu–maka gerak tubuh yang cepat pun bisa terasa seperti dalam slow motion. Ini seperti teori relativitas, di antara dua objek yang sama-sama melaju, objek yang lebih cepat akan tampak bergerak relatif terhadap objek yang lambat. Almarhum Affandi mengandalkan kecepatan untuk mencipta sebuah karya, dan ia tetap menikmati proses itu. Tampak dari hasil karyanya, kan?

Savoring mengisyaratkan keutuhan diri yang terdiri dari badan, roh, dan jiwa. Badan dan roh yang hadir di tempat kerja tetap didampingi oleh jiwa di tempat yang sama. Pikiran tidak memberontak untuk lari menuju tempat lain, tempat di mana badan tidak sedang berada. Dengan demikian perasaan turut bertahan di sana.

Reflecting

Suatu ketika, belasan tahun silam, ada seseorang yang merekam saya saat sedang melakukan demo lukis, dengan handycamnya. Beberapa bulan kemudian saya berkesempatan melihat rekaman video itu. Saya bukan seorang narsisistik yang suka memandangi citra diri dalam sebuah video, tapi ketika saya menyaksikan diri saya sedang bekerja, menggoreskan warna-warna, tiba-tiba saya ingin bergabung di sana untuk ikut melukis. Ini perasaan yang aneh, karena saya sendiri merasa jenuh saat melukis dan direkam itu.

Dalam banyak film, saya sering mendapati adegan orang-orang yang sibuk bekerja. Di film itu aktivitas bekerja tampak begitu menarik. Demikian juga ketika dituturkan seorang penulis di dalam novel. Tapi di ruang-ruang kerja yang nyata, saya dapati orang-orang dengan wajah muram dan seperti hendak kabur dari tempatnya.

Semua ini memberi saya pelajaran bahwa ketika kita mengambil jarak dari suatu aktivitas, melihat diri sendiri yang sedang bekerja dari luar sana, dapat memberi kita perasaan positif terhadap aktivitas itu. Tindakan seperti ini disebut berefleksi. Berefleksi tidak harus menggunakan teknologi video, ataupun cermin. Tapi secara cerdik kita bisa menggunakan kata-kata seperti para penulis novel bekerja. Misalnya pada saat saya bekerja, saya bisa berkata pada diri sendiri dalam batin, “Batang kuas yang kupegang terasa seperti menyambut jari-jariku. Ia tunduk mengikuti arahanku untuk mengaduk tiga warna berbeda si papan palet, menghasilkan warna baru yang cantik. Tugas yang kuberikan sekarang adalah memindahkan warna itu ke wajah kanvas yang rata.”

Membuat narasi seperti ini, yang mengikuti gerak kerja, dapat membantu menciptakan mood yang baik untuk terus bekerja. Dengan bernarasi seperti itu, saya melahirkan diri saya kembali di dalam pikiran, lalu saya menarik diri menjadi pengamat atas diri saya yang sedang bekerja itu. Saya mengambil jarak dari aktivitas justru untuk lebih menyatu dengannya. Ini memang paradoksal. Jarak yang dilahirkan lewat sebuah refleksi berguna untuk memisahkan saya dari rasa jemu dan tekanan lainnya. Dari kejauhan itu, saya dapat memilih untuk memberi perhatian pada yang positif saja, sambil mengaburkan yang buruk.

Jika membuat narasi seperti contoh di atas tidak cukup berhasil melahirkan jarak, yang saya lakukan kemudian adalah tidak berpikir saat beraktivitas, membiarkan badan bekerja sendiri. Ini terdengar lebih sulit atau bahkan mustahil. Tapi para praktisi meditasi tentu bisa memahami maksud saya.

***

Reflecting memiliki watak yang berbeda dari savoring. Reflecting mengambil jarak dari kegiatan, sedang savoring merangsek ke dalamnya untuk mencari titik-titik keasyikan. Keduanya, bagi saya, terbukti mengantar pada rasa cinta terhadap pekerjaan. Dan pekerjan yang dilakoni dengan cinta, somehow, bakal memberikan hasil balik lebih dari sepadan, berupa peningkatan mutu, prestasi, dan yang paling utama: kebahagiaan. Saya patut berbagi kabar gembira, bahwa dengan kesungguhan saya bekerja sebagai pelukis di Yayasan AMFPA, saya berhasil menapaki jenjang kedua pada tahun 2011 kemarin, yaitu Associate Member; setelah dua puluh tahun lamanya berjuang dalam jenjang pertama, Student Member. Perjuangan 20 tahun itu, sekali lagi, adalah dengan savoring dan reflecting dalam berkarya.

Dengan savoring, saya memasuki masa romantisistik di usia remaja. Perasaan yang meledak-ledak, dan haus akan sensasi itu mencoba mencari pelampiasan. Melukis sebagai satu-satunya kemampuan saat itu menjadi pilihan. Saya melukis gunung meletus, terdorong dan terinspirasi oleh dahsyatnya film Volcano dan Dante’s Peak. Selama proses pembuatan lukisan itu saya sambil berimajinasi berada dalam lingkungan yang saya lukis, juga membuat bunyi-bunyian layaknya suara ledakan dan gemuruh. Untuk sekarang tentu saja saya akan merasa seram dan takut membayangkan diri berada di bawah serbuan wedhus gembel, tapi saat itu saya merasa seru dan penuh tantangan. Memang seperti itulah romantisisme.

Merapi's Peak

Merapi’s Peak, 1997

Puas dengan proses dan hasil dari lukisan gunung meletus itu, saya segera menyadari bahwa melukis memberi saya keasyikan dalam hidup. Melukis bukan sekedar tuntutan pekerjaan yang menjemukan, tapi justru menjadi wisata batin. Kesadaran seperti ini mendorong saya untuk lebih meningkatkan keterampilan dalam melukis. Eksperimentasi teknis dan penjelajahan ide saya lakukan.

Masa romantisisme saya masih berlanjut hingga paruh pertama umur dua puluhan, namun bukan lagi dalam emosi yang meledak-ledak, melainkan mellow. Lukisan saya berganti objek, berupa gadis yang berdiam sunyi di kebun bunga.

Spring Solitude, 2004

Spring Solitude, 2004

Enam tahun terakhir ini saya berubah menjadi seorang realis. Lukisan saya bukan lagi luapan perasaan, yang ketika mengerjakannya membawa rasa keasyikan. Lukisan seorang realis adalah lukisan yang mengambil jarak dari perasaan pelukisnya. Pelukis realis tidak hendak mengantarkan diri lewat lukisannya, tapi mengantarkan objek lain kepada audien lewat lukisan itu. Karena itu, melukis bagi seorang realis adalah bekerja dengan berefleksi, mengambil jarak dari diri sendiri.

Melukis bagi saya saat ini bukanlah ekspresi diri–seperti masa remaja dulu, tapi komunikasi. Saya hendak menyampaikan sebuah realita di luar sana dengan bahasa visual. Citra rupa dalam lukisan adalah tanda bahasa. Dan karena saya tidak ingin membuat orang bingung dalam menangkap pesan yang saya sampaikan, saya memilih tanda bahasa yang mudah dan sama-sama dimengerti, yaitu objek-objek alam.

Endless Flow, 2010

Endless Flow, 2010

***

Bekerja dengan berefleksi memang lebih meredam aspek emosi. Tapi bukan berarti tidak ada gairah dalam proses pengerjaannya, bukan berarti tak ada rasa cinta terhadap hasil karyanya. Hanya pikiran analitis yang lebih mendominasi. Seperti pengukir itu tidak benar-benar pulang untuk mengambil pahat dan mengukiri kaki meja milik orang, karena ia tetap menggunakan nalarnya.

Karya yang Bicara*

Your works will speak for yourselves,” demikian Presiden AMFPA menegaskan dalam konferensi itu, Jumat 4 Mei, di Singapura. “Karyamu yang akan bicara mewakili dirimu.” Kalimat singkat ini juga berbicara lebih banyak dari kata yang diucapkan. Seorang seniman tak perlu merajuk terlalu mengenaskan agar karyanya diapresiasi. Ia juga tak perlu menggembar-gemborkan diri sebagai seseorang yang bukan dirinya untuk memunculkan kesan seolah ia sudah tiba pada pencapaian. Kualitas karya adalah realita dari diri seniman itu sendiri.

Ketika seorang pelukis tidak sanggup mempercayai karyanya sebagai perwakilan diri, sebagai medium ekspresi dan atau komunikasi, ia akan mulai membangun hiperrealitas lewat omongan. Ia akan bicara keras-keras untuk mengalihkan perhatian orang dari lukisannya, agar perhatian itu lebih tertuju pada dirinya. Ia akan terus bertanya dalam kesempatan tanya jawab, ia akan bermonolog dalam setiap diskusi, dan ia akan berceloteh pada saat bunyi goresan kuas yang seharusnya hanya terdengar. Ia ingin hadir mendahului lukisannya, karena bawah sadarnya merasa lukisannya belum layak diapresiasi. Ia enggan untuk menaruh lukisan itu di depan karena ia tidak tahu bagaimana membuat karyanya menjadi layak dikedepankan.

Dua puluh tahun silam, mendiang guru saya bercerita. Ia pernah mendengar tudingan keras dari para kolektor dan pemerhati seni bahwa karya-karya lukis dari para pelukis di daerah asalnya hanya memburu kuantitas. Sedang kualitasnya hanya sekelas barang industri. Guru saya merasa perlu melakukan pembelaan. Tapi alih-alih beradu mulut, ia mengurung diri di dalam kamar kosnya selama tujuh hari berturut-turut, dan hanya keluar untuk kebutuhan dasar. Pada hari kedelapan, ia mengakhiri pengurungan diri itu dengan membawa keluar sebuah lukisan. Satu pekan penuh itu ia gunakan untuk berkarya, membuat lukisan yang nilai artistiknya tak bisa lagi disangkal oleh para pengkritik itu. “Ini baru karya!” begitu guru saya menirukan komentar orang-orang yang dengan takjub melihat lukisannya.

Dari kisah ini saya belajar bahwa seorang pelukis harus mendelegasikan kepercayaan kepada setiap karya yang dibuatnya sebagai juru bicara. Lukisan yang berbobot, bagus dalam teknik maupun isi, akan serta merta menunjukkan jati diri pelukisnya. Sehingga kemudian pelukis itu tak perlu lagi repot-repot membuat mulutnya berisik agar kepala setiap orang berpaling ke arah dirinya. Kalaupun ia harus bicara, ia akan bicara tentang lukisan itu untuk menyelami kedalamannya, bukan malah menampakkan kedangkalan diri sendiri.

***

Biarlah karya yang bicara. Prinsip ini diberlakukan dengan tegas dalam komunitas pelukis mulut dan kaki. Jenjang karir di dalam AMFPA Internasional hanya bisa ditapaki lewat setiap peningkatan mutu lukisan, yang penilaiannya dilakukan oleh para juri yang independen dan objektif, yang terdiri dari para praktisi dan akademisi, yang tidak akan gampang terpukau oleh gebyar dan manisnya diplomasi persuasif, apalagi oleh guyonan perempatan jalan.


Konferensi Anggota AMFPA di Singapura

* Ungkapan ‘karya yang berbicara’ di sini tidak hendak saya oposisi binerkan dengan perlunya pelukis untuk berbicara tentang gagasannya dalam berkesenian. Jika saya punya prinsip bahwa lukisan dengan sendirinya bakal berujar banyak tentang nilai instrinsiknya, maka blog ini pun tidak akan saya buat.

Artis dan Manajer

Craig Schwartz harus menerima tonjokan keras di mukanya, hingga terjerembab ke belakang. Bibirnya pecah, mengeluarkan darah. Pastinya sakit. Pemuda berambut gondrong itu sebenarnya adalah artis yang berbakat. Tangannya sangat cekatan menggerakkan boneka wayang dengan tali. Berkat tangannya, boneka-boneka itu bergerak luwes dan lembut layaknya polah manusia sesungguhnya. Tapi tonjokan menyakitkan di wajah itu dia terima justru sebagai hadiah dari bakat artistiknya.

Apa yang salah?

Menjadi puppeteer (pemain boneka wayang) memang keahlian Craig. Tapi ia tidak memiliki kemampuan dalam hal menjual keahlian artistik itu secara efektif. Malah dengan sembrono ia berpentas di trotoar–sebuah tempat terbuka–untuk menampilkan adegan-adegan dewasa dengan boneka wayangnya. Seorang ayah yang hendak melindungi putrinya takkan membiarkan tontonan dewasa itu dipentaskan di pinggir jalan.

Kesialan yang diterima tokoh bernama Craig Schwartz dalam film Being John Malkovich ini adalah gambaran tentang betapa sulitnya menjalani hidup sebagai seniman yang harus mengusahakan segala yang diperlukan seorang diri; ketika artis harus me-manage keartisannya sendiri, atau pontang-panting menjual keahlian dan karyanya sendiri. Sementara sesungguhnya ada jenis profesi lain di dunia ini yang sanggup menanggung tugas-tugas itu, tapi sang artis tidak mendapat kesempatan bekerja sama.

Profesi lain ini kita kenal dengan istilah manajer. Manajer memiliki kemampuan untuk merubah sesuatu menjadi bernilai komersial. Sehingga keahlian atau karya seorang seniman ketika digarap oleh manajer akan berbuah baik; karya seni itu akan tiba di depan audien yang tepat, dan senimannya akan memperolah imbalan finansial yang setara dengan nilai karyanya untuk melanjutkan hidup berkeseniannya. Bersama manajer yang terpercaya, seniman dapat memfokuskan diri pada bidangnya saja; bidang keartisan itu, yaitu merubah sesuatu menjadi bernilai keindahan.

Artis dan manajer adalah pasangan yang sempurna; dua tipe pekerjaan yang saling melengkapi. Kunci keberhasilannya adalah integritas, seniman berkarya sepenuh hati, dan manajer tidak mengingkari tanggung jawab dan kepercayaan.

***

Pada salah satu adegan di awal film, Craig berbicara pada seekor Simpanse–sebenarnya lebih pada dirinya sendiri, “Kau makhluk beruntung karena tak mempunyai kesadaran. Kesadaran itu adalah kutukan terburuk bagi manusia. Berkat kesadaran aku jadi berpikir, merasakan dan akhirnya menderita.” Penderitaan Craig dalam konteks sebagai seniman menurut saya adalah ketika tak ada manajer terpercaya di sandingnya.

Dengan tiadanya manajer itu, seniman harus menyangga semua fungsi atau tugas pada pundaknya sendiri, hal mana adalah ciri-ciri sistem kerja primitif. Emile Durkheim (1858 – 1917), sosiolog Prancis yang menggelorakan modernisasi, mengisyaratkan pembagian tugas untuk dunia yang lebih maju. Kehidupan modern tidak ditandai dengan kerja keroyokan, atau sebaliknya, seorang individu yang dikeroyok oleh banyak jenis pekerjaan. Pembagian tugas atau division of labor in society menjadi semakin tak terelakkan ketika populasi manusia sudah semakin membludak seperti sekarang ini. Masalah pengangguran yang kemudian muncul bisa diatasi dengan pendelegasian tugas–tentu pada mereka yang memang sudah membekali diri dengan kapabilitas dan integritas.

Dunia lukis tak jauh berbeda. Jika pelukis dapat memodernkan sistem kerjanya, yaitu berbagi tugas dengan orang terpercaya untuk urusan di luar lukisan, maka pelukis dapat berfokus dalam upaya meningkatkan kualitas lukisan, mengeksplorasi lebih jauh kemampuan artistiknya, dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perkembangan dunia lukis itu sendiri.

Melukis di Keramaian

Kuas terus bergerak mengikuti perintah kakiku, berpindah dari papan palet menuju kanvas, sebentar mencelup ke botol minyak dan kembali mengaduk di papan palet sebelum ke kanvas lagi.

Dua orang berdiri di belakang, menyaksikan. Tentu aku tak melihatnya karena pandanganku terpaku di kanvas dan yang lainnya tadi. Aku tahu kehadiran mereka setelah salah satunya berbisik pada yang lain, menyampaikan rasa penasarannya atas apa yang ia lihat di depannya. Tanggapan pun disampaikan dengan bisikan pula: jawaban tidak tahu.

Kutolehkan kepala, menyapa, menanyakan identitas paling umum. Percakapan terlahir meriah sejenak kemudian, antara mereka denganku yang tetap bekerja dengan kuas.

Kita sering berpikir bahwa ketika pelukis sedang bekerja, sebaiknya tidak diajak bicara. Mungkin pelukis itu seperti sopir bus yang harus melekatkan pandangan di jalanan depan. Tapi sebenarnya tidak demikian. Tidak ada resiko bagi pelukis untuk mengalihkan perhatiannya dari kanvas. Setidaknya seperti itu pengalamanku.

Inspirasi bukan sesuatu yang cepat musnah, ia tersimpan dalam memori dan masih mungkin dikembangkan secara kreatif. Mood tidak begitu saja rusak hanya oleh obrolan ringan atau wawancara. Konsentrasi dalam proses melukis adakalanya justru perlu dicairkan.

Namun bukan berarti tidak ada yang bisa mengganggu sama sekali. Bunyi keras seperti knalpot rusak atau dikebut jelas mengganggu, rasanya seperti ketika seseorang tiba-tiba menjitak kepala kita. Bunyi keras menjitak kelenjar hipofisis hingga menyemburkan hormon kortisol penyebab stres. Ini terjadi pada setiap orang. ‘Jitakan’ yang diterima pelukis saat bekerja dapat membuyarkan konsentrasinya, dan menuntut waktu lama untuk kembali pada keadaan semula.

Gangguan lain yang lebih besar sebenarnya justru bersumber dari pikiran si pelukis sendiri. Pikiran dalam pandangan Cartesian bisa disebut sebagai alat pengada, alat kesadaran yang darinya seorang individu menjadi eksis. Namun sebagai alat, pikiran ini seperti memiliki kehendaknya sendiri. Ia terus bekerja di setiap saat; tak pernah diam, tak pernah hening, selalu ramai.

Pikiran yang bising dalam proses melukis sanggup membuat si pelukis melempar kuasnya dan tak lagi memungut kuas itu hingga berbulan-bulan. Pikiran sangat suka menghadirkan masalah-masalah di masa lalu, menampilkan potensi petaka di masa datang, yang semua itu menghalangi pelukis dari kanvas di depannya. Sekalipun pelukis itu sudah memilih waktu bekerja di malam yang paling sunyi, keramaian tidak benar-benar meninggalkannya.

Jadi, pelukis mana yang sebenarnya tidak melukis dalam keramaian?

Melukis di trotoar Malioboro


Melukis Sebagai Tanggung Jawab Sosial

Sebagian kawan pelukis pernah mengaku pada saya bahwa mereka tak bisa berkarya ketika ada orang lain memperhatikan proses kerjanya. “Aku ora isa nggambar nek diperhatekne wong liya. Apa meneh neh sing merhatekne si Sabar.” Walah… saya sendiri sebenarnya masih belajar.

Meski demikian, bagi saya melukis di hadapan orang banyak adalah ritual wajib, sebagai pembuktian bahwa karya-karya itu memang benar-benar dilukis dengan kaki ini, bukan meminjam tangan orang lain. Tapi jika kemudian ditemukan selisih nilai kualitas, mohon dipahami sebagai efek dari perbedaan lamanya proses. Melukis dengan batas waktu hanya setengah jam, tentu beda dari melukis dengan rentang waktu satu bulan.

Ditambah lagi faktor kecemasan yang ditimbulkan dari tak terkendalinya keramaian penonton, yang kebanyakan adalah anak-anak, praktis berdampak pada goresan di kanvas itu. Kita tahu, anak-anak masih sangat bergairah terhadap kehidupan, hasrat kuriusitasnya besar sekali, gerak mereka sungguh di luar antisipasi. Dalam jeda waktu tertentu mereka bisa diam anteng memperhatikan, lalu tiba-tiba berbalik badan dan lari menghambur ke temannya, mengguncang lantai panggung yang labil. Setelah itu, dalam jarak tiga meter saja dari kanvas, mereka memperagakan adegan smack down sambil berteriak kegirangan.

Melukis di hadapan anak-anak, selelah apa pun, adalah tanggung jawab sosial yang harus saya kerjakan. Anak-anak itu harus tahu bahwa kehidupan ini menyambut kehadiran mereka lewat semangat dan keindahan. Bahwa mereka layak meneruskan hidup mereka, terlepas dari penderitaan yang pasti kelak bakal menyertai juga. Mereka harus diyakinkan, “Hei, hidup ini baik lho, ayo jalani dengan cara yang baik pula.”

Selagi anak-anak itu terbuka dengan segala input, tidakkah lebih baik memperkenalkan keindahan pada mereka? Dengan demikian keindahan yang tertanam dalam diri mereka itu pula yang kelak akan mereka reproduksi dalam kehidupan. Saya sendiri sebenarnya tidak representatif sebagai yang indah itu, saya tidak cukup ceria untuk dihadirkan di hadapan anak-anak, tak seramah dan sekebapakan almarhum pak Tino Sidin, misalnya. Namun sedikit saja interaksi dan senyum kepada mereka apa sulitnya?